
Arya merebahkan tubuhnya di kamar hotel, ia melepas lelahnya hari itu dengan sejenak memejamkan matanya, Sementara Mila duduk di sofa untuk membuka cadarnya dan dan juga merapikan pakaiannya yang serba tertutup itu.
Mila sejenak melihat ke arah Arya yang sedang berbaring di ranjang, “Arya, kamu ngapain tidur duluan, mandi dulu sana, ntar kasur bau lagi” ucap Mila dengan santai pada Arya.
Arya kemudian bangkit, dan duduk di sisi ranjang, ia kemudian menatap lekat wajah istrinya yang telah melepas cadar itu, “kamu cantik Mil” ucap Arya dengan pelan.
Mila kemudian tersenyum mendengarnya, "iya aku tahu, ayo mandi sana, aku juga mau mandi” ucap Mila dengan singkat dan kembali merapikan bajunya.
“bukannya lebih baik kita mandi nanti setelah melakukannya Mil?” tanya Arya tanpa beban yang membuat wajah Mila memerah seketika. ‘ya Tuhan, kenapa Arya polos sekali sih mengatakannya’ batinnya menahan malu.
“duh Arya, mandi dulu sana, jangan pernah sentuh aku jika kamu belum mandi, badanmu bau” ucap Mila dengan nada kesalnya.
“bau dari mana Mil, aku sudah biasa keringatan, nggak ada orang yang dekat denganku mengeluh badanku bau, baru kamu saja yang mengeluh seperti ini” jawab Arya sembari bangkit dari ranjangnya, ia kemudian menarik carriernya dan mengeluarkan satu persatu pakaian yang mereka bawa.
“iya aku tahu, badan kamu nggak bau kok, tapi kan kamu keringatan, pasti badanmu lengket-lengket” lanjut Mila mulai melepas jilbab yang ia pakai, sejenak tangannya terhenti ketika ia hendak melepas hijabnya itu, ada rasa bimbang yang ia rasakan, ‘kenapa aku masih merasa malu untuk melepas jilbab ini di depan Arya?, padahal Arya sudah melihat seluruh tubuhku, apa ini yang namanya iman itu?’ batin Mila.
Tanpa Mila sadari Arya sudah duduk di sampingnya, “kenapa?, kok nggak jadi dibuka?” tanya Arya menatap pada Mila, Mila menarik nafas panjang dan melepas jilbabnya.
“aku kok masih merasa malu melepas ini di depanmu Arya?” tanya Mila dengan polos.
“kalau kamu malu, nggak usah dibuka Mil, tapi ketika kita melakukannya, ya kamu harus bukakan” ucap Arya dengan santai.
Mila seketika memukul perut Arya dengan kesal “ih kamu ini benar -benar mesum, udah mandi sana, atau kalau nggak kamu nggak bakalan ku kasih sekarang” ucap Mila dengan kesal.
“kalau kamu nggak mau, ya aku paksa” ucap Arya setengah bercanda sembari masuk ke kamar mandi yang membuat Mila bergerdik kesal, 'awas saja kalau di memaksaku' batinnya.
Mila kemudian melepas nafas panjang setelah Arya masuk ke kamar mandi, ia kemudian mengambil ponselnya dan segera menelfon kakeknya.
*
Suasana hari itu terasa santai di ruang kerja Aliando, Aliando dengan setelan jas elegan duduk santai di sofa ruangannya, di hadapannya sudah duduk Hardi juga dengan setelan elegan, disanalah mereka sekarang, 2 pimpinan perusahaan besar di Negara ini tengah duduk saling berhadapan -hadapan untuk membahas suatu masalah yang genting bagi mereka.
__ADS_1
“akhirnya pertemuan ini bisa terealisasi dengan cepat, aku benar-benar hampir frustasi karena perkembangan yang terjadi Hardi” ucap Aliando dengan santai.
“aku tak mau berbasa basi padamu, pembahasan ini baru sebatas perjodohan, kenapa sekarang infonya sudah beredar pada semua pemilik saham?, apa kamu sudah menjebakku disini?” ucap Hardi dengan sinis pada Aliando.
“tenang Hardi, aku tahu kamu sudah memikirkan cara untuk lepas dari ini semua, sehingga pertemuan ini baru bisa dilakukan sekarang, sekarang apa hasil pemikiranmu itu,?” tanya Aliando masih dengan nada santai.
Ucapan Aliando itu seketika membuat Hardi mengeram marah, dia sudah memikirkan cara terbaik untuk keluar dari permainan itu, bukan hanya untuk melindungi anaknya, tetapi juga untuk tidak terlibat pertarungan dengan orang -orang Gibran.
Namun pikirannya sudah sangat buntu dibuat oleh permasalahan itu, pilihan yang bisa ia ambil adalah memutuskan perjodohan itu dengan resiko buruk kehilangan kepercayaan para pemegang saham di perusahaannya, apa lagi hal ini melibatkan perusahaan sekelas Adinata group, pemilik saham bisa saja menarik saham mereka dari Hardi corp.
“Aku tahu kamu tidak punya pilihan lain sekarang, apa lagi Rahman sedang berada di luar negeri, mungkin pemilik sahammu disana juga akan kehilangan kepercayaan kepadamu jika berani memutuskan ini semua secara sepihak.” ucap Aliando dengan tenang.
“aku mendirikan Hardi corp bertahun-tahun dengan susah payah, dan sekarang kamu telah membawaku ke jalan kehancuran,” ucap Hardi menahan rasa marahnya.
“ini bukan masalah main -main Hardi, ini mengenai siapa penerus Hardi corp dan Adinata group, jika kamu main -main, kepercayaan kepada putrimu yang akan jadi taruhanmu, kamu pikir siapa yang akan percaya kepada putrimu itu jika dia memutuskan secara sepihak pertunangan dengan anak CEO Adinata group, itu akan menjadi sebuah pengkhianatan besar bukan” jelas Aliando lagi yang berusaha mengiring pikiran Hardi agar berada di pihaknya.
“aku tahu kamu sedang merencanakan banyak proyek besar sekarang, bisnis perhotelan, ekspansi pasar luar negeri hingga projek tambang baru, kepercayaan investor dan pemegang saham sangat kamu perlukan untuk itu semua, sekarang mari kita susun strategi yang tepat untuk ini semua, menyelamatkan keluargaku dan juga nama baik dirimu” lanjut Aliando lagi.
‘Anjani, maafkan ayah, ayah harus mengorbankanmu disini, ini salah ayah yang terbujuk rayu laki -laki brengsek ini’ batinnya.
“apa rencanamu sekarang?” tanya Hardi dengan dingin pada Aliando.
“Dewan komisaris sudah merencanakan rapat pemegang saham, aku ingin pertunangan ini terjadi sebelum rapat itu, jika itu bisa terealisasi, bisa saja rapat itu dibatalkan atau paling tidak kekuatanku akan jauh lebih besar karena pertunangan itu” jelas Aliando lagi.
“jangan berpikir yang lain lagi Hardi, kekuatan mereka sangat kecil, pertunangan itu akan membuat mereka hancur di rapat pemegang saham, dan setelah itu aku akan membersihkan seluruh orang -orang Gibran dari perusahaan ini, semua akan aman sesuai rencana kita” lanjut Aliando.
“apa kamu pikir mereka sedang bunuh diri dengan rapat itu?, mereka orang -orang yang cerdas, mereka pasti punya rencana lain dari rapat itu” ucap Hardi pada Aliando.
“Tapi kenyataannya mereka tak punya apa -apa sekarang, yang mereka perjuangankan hanya orang yang sudah mati. Aku sudah mencurigai beberapa orang yang masih setia pada Gibran, aku sebenarnya sudah lama mencurigai Rahman, dan ternyata dugaanku benar, seharusnya aku sudah menyingkirkannya lebih awal." jelas Aliando yang sejenak terhenti
"Masih ada beberapa orang lagi yang sedang ku awasi, dan setelah rapat itu, akan kusapu bersih semuanya, anakku akan jadi CEO dan anakmu akan mendapat kepercayaan besar dari pemilik sahammu, bukankah itu sudah cukup setimpal untuk kita” lanjut Aliando.
__ADS_1
“aku ingin lebih dari itu, ini pertaruhan besar bagiku, aku juga harus untung besar, aku ingin kamu memberikan dana untuk bisnis hotel putriku, dan juga aku ingin Adinata group membeli saham perusahaanku yang ada di Filiphina, dan juga Thailand, nama Adinata group disana akan mendatangkan para pemegang saham lainnya di perusahaanku, aku benar-benar ingin bisnisku dapat besar di luar negeri seperti bisnis Adinata group” tawar Hardi.
“aku setuju saja, jika nanti aku menang saat rapat, maka putraku akan bisa jadi CEO untuk rapat selanjutnya, dan kekuasaannya akan jauh lebih besar dariku, aku masih dibayang -bayangi kekuasaan Gibran yang sudah lama mati, jadi tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu, bukankah jika kita nanti jadi besan maka kamu juga bisa mengendalikan Adinata group melalui putraku, kamu akan untung besar untuk itu” jelas Aliando untuk menekan Hardi agar benar-benar berada di pihaknya.
Hardi sejenak menarik nafas kasar, “anakmu bisa saja tidak menuruti kata -kataku nanti,” ucap Hardi singkat.
“dia tidak mungkin seperti, dia pasti sadar kalau kamu dan anakmu adalah jaminan posisi CEO nya, sekarang mari kita tentukan kapan pertunangan ini dilakukan” ucap Aliando dengan santai.
“tentukan saja olehmu, aku harus menjelaskan ini dulu kepada Anjani agar ia mau menerima ini semua” ucap Hardi bangkit dari duduknya.
“kalau begitu seminggu dari sekarang, aku akan persiapkan pesta pertunangan semewah mungkin untuk menyenangkan hati putrimu” ucap Aliando dengan sinis, Hardi kemudian berjalan keluaf tanpa menanggapi kalat Aliando.
*
Mila masih meringkuk di bawah selimut tidurnya, tubuhnya masih terasa lelah, sehabis sholat shubuh, ia kembali memilih tidur setelah harus begadang hingga malam, belum lagi Arya sudah membangunkannya pukul 3 pagi, membuat tubuhnya benar-benar lelah saat itu.
Arya yang baru saja membeli sarapan sudah sampai kembali dikamar mereka. Ia menaruh bubur yang ia beli di atas meja kamarnya itu. Ia kemudian mendekat pada Mila, dan menatap wajah cantik istrinya.
Untuk kemudian ia mengecup kening istrinya hingga Mila menggeliat disana, “Arya, aku masih ngantuk” ucap Mila memelas manja pada Arya. “iya sayang, ayo bangun, makan dulu, nanti kamu bisa tidur lagi” ucap Arya memandang lekat wajah istrinya.
Mata Mila langsung terbuka dan membulat mendengar ucapan Arya, ia mengangkat kepalanya melihat wajah Arya. “kamu bicara apa tadi?” tanyanya dengan nada terkejutnya.
Dan cup,, Arya langsung mencium bibir istrinya untuk waktu yang cukup lama, Mila berusaha untuk menolaknya, namun tenaganya kalah jauh dari Arya yang menahan tubuh dan tengkuk Mila untuk tetap menciumnya, Mila akhirnya hanya bisa pasrah dan mencengkram erat kaos yang digunakan Arya.
Setelah Arya melepaskan ciuman itu barulah Mila dapat sedikit bernafas lega, “kamu benar -benar mesum, ini masih pagi, atau jangan -jangan kamu belum puas dengan yang semalam ya?” kesal Mila masih sembari mengusap bibirnya yang basah.
“bibirmu masih bau Mil, sebaiknya ke kamar mandi dulu sebelum sarapan” ucap Arya dengan santai, dan seketika saja Mila langsung melempar Arya dengan bantal yang ia pakai.
“kamu ini kenapa?, kita sudah terbiasa seperti ini, kenapa masih marah begitu?“ ucap Arya dengan santai.
Mila hanya diam, ia kemudian bangkit dan masuk ke kamar mandi. 'dia itu kenapa selalu bikin aku kesal sih?,' batin Mila menahan kesal.
__ADS_1
'tapi tadi dia benar -benar memanggilku sayangkan?'