
Hari itu cuaca mendung menyapa ibu kota, Mila ditemani Vanessa tengah berada di rumah sakit untuk memeriksa kandungannya. Sementar Arya tidak bisa menemani istrinya karena pekerjaannya cukup menumpuk. Beberapa investor baru mempercayai 3A Sahabat untuk projek mereka. Keberhasilan menang di perusahaan besar asal London, Bian corp, membuat nama perusahaan itu melambung di mata para pemilik modal. Beragai projek silih berganti masuk ke dalam perusahaan 3A Sahabat.
Setelah selesai pemeriksaan di rumah sakit, Mila dan Vanessa menyempatkan diri untuk berkeliling di pusat perbelanjaan, membeli beberapa barang sebagai hadiah untuk paman dan bibi mereka yang akan kembali ke kampung sore itu. Tak berlama-lama disana, keliling 20 menit di lantai 1 dan 2, mereka sudah membeli beberapa kemeja dan batik untuk pak Susanto, serta gamis untuk bu Annisa. Mila juga membeli kemeja, dasi dan jas baru untuk suaminya.
Saat perjalanan pulang Mila melihat toko jam yang cukup besar dan mewah, ia teringat di tangan suaminya tidak ada jam sama sekali, “kak, bisa kita singgah di toko jam itu” tunjuk Mila di toko jam yang ada di sisi kiri jalan mereka.
“boleh dek, kamu membelikan Arya jam?”
“aku lihat ia tidak pernah memakai jam sama sekali kak” gumam Mila dengan pelan.
Vanessa tersenyum, ia sadar betul akan hal itu. Sejak ia mengenal Arya ketika menikah dengan Mila, keseharian laki-laki itu cenderung casual, tak banyak gaya, dengan baju kaos polos dan celana katun kesukaannya. Hanya sesekali Arya terlihat memakai celana gunung yang sedikit menambah nilai penampilannya. Apa lagi saat rambutnya sedikit panjang, tampilannya benar-benar tak menggambarkan penghasilannya yang mampu membeli apartemen bagus dan mobil mewah dalam waktu satu hari.
"dia benar-benar nggak tahu ya cara menghias dirinya sendiri" gumam Vanessa.
"kakak menghina suamiku?" rutu Mila seketika.
Vanessa tersenyum, "yang kakak bicarakan memang benarkan?"
Mila masuk ke dalam toko jam dan melihat-lihat beberapa jenis jam di lemari kaca. Pengunjung toko jam itu tidak terlalu ramai, hanya hitungan jari saja. Seorang pelayan toko datang menghampiri Mila dan Vanessa yang sedang melihat-lihat beberapa model jam disana.
“permisi mbak?, ada yang bisa kami bantu”
“ehh, iya mas, ini aku mau cari jam buat suamiku” ucap Mila dengan pelan.
“suaminya biasa pakai jam seperti apa mbak?” tanya pelayan tersebut.
Mila menarik nafas dalam, ia masih memperhatikan beberapa jam tangan disana, “dia nggak pernah pakai jam tangan mas, makanya aku beliin” jawab Mila dengan sopan.
Sementara Vanessa mendengarnya dengan tetap melihat jam-jam disana. Ia mencoba menilai jam seperti apa yang cocok untuk Arya.
“Memang suami mbak pria seperti apa?, mungkin nanti saya bisa bantu cariin” tawar pelayan laki-laki itu kepada Mila.
“orangnya sederhana Mas, pakaiannya biasa casual gitu, kaos sama celana katun, tapi kalau kerja dia biasa pakai jas” jelas Vanessa.
Pelayan itu sejenak berpikir, ia kemudian melihat beberapa model jam tangan disana, “kalau yang ini gimana mbak, yang ini juga bisa” ucapnya menawarkan jam dengan nilai mahal disana.
Vanessa dan Mila melihat jam itu, dan membayangkan Arya memakainya. “nggak mas, keliatan tua kalau suami saya memakainya” gumam Mila.
“memang suaminya mbak kulitnya kayak gimana?” tanya laki-laki itu lagi.
“emang laki-laki memakai jam itu tergantung warna kulit juga ya?” tanya Vanessa.
Pelayan itu melepas nafas kasar, “sebenarnya lebih kepada selera masing-masing orang mbak” ucap pelayan tersebut. “tapi karena suami mbak nggak pernah pakai jam, berarti dia memang nggak suka memakai jam, jadi kita memilih sesuai fisiknya saja mbak, kalau orang kulit gelap lebih bagus memakai jam tangan warna keemasan dari pada putih atau perak, kalau kulit putih bebas sih mbak, warna apa pun cocok, kalau suaminya mbak kurus, warna putih atau perak nggak cocok, tapi kalau gemuk, bagusnya sih warna yang hitam”
Mila sejenak berpikir, ia berinisiatif mengeluarkan ponselnya, ia kemudian memperlihatkan foto Arya yang tengah menikmati air terjun bersamanya. Foto itu menjadi wallpaper ponselnya.
“ini suami saya mas” ucap Mila, “menurut mas jam tangan seperti apa yang cocok untuknya?”
Pelayanan itu memperhatikan dengan seksama foto Arya, ia kemudian tertawa tipis setelah ingat bahwa foto laki-laki di ponsel Mila itu membanjiri media sosial dan aplikasi berita di ponselnya sejak kemarin.
“yakin suaminya mbak?” ucap pelayan itu setengah meledek, penampilan Mila dan Vanessa sama sekali tidak memperlihatkan keluarga elit sekelas Adinata.
“itu pemilik Adinata group kan?” ucapnya lagi.
“bukan, dia suami saya” jawab Mila dengan tegas.
Vanessa tersenyum, sikap Mila ia rasa cukup tepat. Jika mengatakan iya, bisa saja mereka ditawari jam tangan ratusan juta. Bisa habis uang mereka berdua hanya untuk sebuah jam tangan.
__ADS_1
“masa sih mbak, itu yang tampil di tv kemarin lo” gumamnya lagi melihat foto Arya di ponsel Mila. Namun Mila dengan cepat menutup ponselnya itu.
“bukan mas, tolong carikan saja jam tangan yang cocok untuk suami saya, mas udah lihat fotonya kan” ucap Mila dengan pelan. Ingin sekali ia berkata ketus pada pelayan itu, namun ia juga harus menjaga sikapnya yang memakai pakaian serba tertutup.
“tunggu sebentar ya mbak” ucap Pelayan tersebut, ia kemudian mengeluarkan beberapa jenis jam tangan yang ia rasa cocok untuk Arya. Ia menaruhnya di sebuah meja yang tak jauh dari posisi Mila dan Vanessa.
“coba lihat yang ini dulu mbak” ucap pelayan tersebut memanggil Mila dan Vanessa.
Mila dan Vanessa kemudian mendekat, ia melihat beberapa jenis jam tangan yang ada di meja. “ini bagus mas” gumam Mila mengangkat jam tangan berwarna keemasan.
“ini dari Jerman mbak, kualitasnya dijamin, barang Ori” ucap pelayan itu dengan singkat.
“berapaan mas?” tanya Vanessa.
“ini kelas standar mbak, 25 jutaan, ada sertifikat sama garansinya” ucap pelayan itu dengan enteng.
Mila dan Vanessa serentak menelan salivanya, “yang murah aja nggak ada mas?” tanya Mila dengan pelan.
“kalau pemilik perusahaan itu cocoknya yang ini mbak” ucap pelayan itu menyodorkan jam tangan berwarna perak dengan latar berwarna granit di jam tersebut. “ini Cuma satu di toko ini, mungkin juga di Negara ini” ucap pelayan tersebut.
“berapaan mas?” tanya Mila yang juga tertarik melihat jam itu, ia sudah membayangkan Arya memakainya.
“150 jutaan mbak” ucap pelayan itu yang membuat Mila dan Vanessa melongo.
“yang lebih fashionable juga ada mbak, itu disana” tunjuk pelayan itu ke arah sebuah jam tangan yang disimpan di dalam sebuah bingkai kaca khusus.
“itu lebih mahal lagi ya mas?” tanya Vanessa.
“itu juga ori mbak,” pelayan itu kemudian melihat ke arah Vanessa “barangnya ekslusif langsung dikirim ke kami dari Negara asalnya, orang yang punya di Negara ini cuma hitungan jari, harganya 500 jutaan, nah yang disebelahnya itu merek ternama mbak, kualitas platinum sekitar 800 jutaan harganya” jelas si pelayan.
“mahal sekali mas” gumam Vanessa.
Mila menggelengkan kepalanya, “tampang kami kayak orang kaya ya mas?” ucap Mila yang mulai kesal dengan pelayan tersebut.
Gajinya sebagai guru saja tidak akan mampu membeli jam dengan harga sebesar itu. Apa lagi saat itu ia hanya mengandalkan sisa tabungannya dulu untuk membeli jam.
Pelayan itu menarik nafas kasar, “foto suami mbak tadi kan pemilik perusahaan besar, ya jam tangannya sekelas ini lah mbak” ucap pelayan itu dengan santai.
“dia bukan pemilik perusahaan mas, cuma arsitek biasa” jelas Mila dengan pelan.
“jam tangan yang dibawah 1 juta ada nggak mas, kalau ada yang dibawah 500 ribuan juga bagus mas" ucap Mila dengan pelan.
“Ya elah mbak, kalau nyari jam tangan murah cari aja di toko online, disini barang ori semua mbak, nggak ada yang harganya segitu, kalau mbak mau bisa cari di pasar, atau toko jam lain, jangan toko jam yang kelasnya kayak kami gini” ucap pelayan itu dengan kesal.
Mila melepas nafas panjang, ‘aduuhh,, kenapa kerasa jadi orang miskin kalau disini?’ batinnya.
“maaf mas, jangan ngerendahin orang ya mas” ucap Vanessa dengan tegas.
Pelayan itumelepas nafas panjang, ia kemudian berdiri, "tunggu bentar ya mbak, saya cariin barang lain” ia kemudian berjalan ke belakang dan beberapa saat kemudian kembali membawa beberapa kotak jam lagi.
“ini yang dibawah satu jutaan mbak” ucap pelayan itu yang kembali duduk di kursinya tadi, "nggak kami pajang, soalnya nggak ori, kami ngeluarinnya jika ada yang minta aja, untuk jaga image toko kami ini. Kalau orang lihat barang kw kayak gini, langsung jatuh pamor toko kami mbak” jelas pelayan tersebut.
Mata Mila berbinar melihat jam murah dengan tampilan yang tak kalah bagus, ia kemudian menarik salah satu kotak jam disana. “ini berapa mas?”
“300 ribu mbak,” ucap pelayan itu, ia kemudian menyodorkan satu jam ke depan Mila, “ini 900 mbak, lumayan ok, walaupun bukan Ori” jelas si pelayan.
“kalau barang ori yang harga segini juga ada, rata-rata produksi lokal, tapi kami nggak ada menjualnya” lanjut pelayan toko jam tersebut.
__ADS_1
Mila melihat ke arah Vanessa dengan lemah, “kalau Arya makai barang murah atau kw, nanti dia malah diledek sama rekan bisnisnya kak, apa lagi mulai sekarang dia akan bertemu banyak orang-orang besar”
Vanessa melepas nafas panjang, apa yang dikatakan Mila benar adanya. Tapi mereka juga tak punya uang lebih, apa lagi Vanessa sejak keluar dari rumah tidak mendapatkan kiriman uang lagi dari suaminya.
“jadi mbak benar istrinya tuan Arya pemilik Adinata group yang muncul di tv kemarin?” tanya pelayan itu menatap lekat mata Mila. “Tuan Arya benar-benar jadi omongan banyak orang lo mbak”
Mila tertegun, tadi di rumah sakit dan di mall juga banyak orang yang membicarakan Arya dan Adinata group. Teori konspirasi kematian Gibran dan Naina kembali jadi perbincangan banyak orang setelah konferensi pers kemarin.
“kalau untuk sekelas tuan Arya bagusnya yang itu mbak, produksinya tiap tahun dibatasi, limited edition, jadi harganya sangat tinggi, ya mewah dan ekslusif, elegan juga” tunjuk pelayan itu ke salah satu jam tangan yang juga disimpan di bingkai kaca khusus. Letaknya berada pada posisi paling atas “1,2 M, cocok buat orang sekelas tuan Arya”
Mila menunduk lemah, ’1,2M itu aku ngajarnya berapa tahun baru bisa membelinya’ batin Mila.
"masa istri pemilik perusahaan sebesar Adinata group nggak sanggup membelinya mbak, 1 M itu apalah artinya buat kalian, mungkin sama dengan uang 100 bagi orang seperti kami" ucap pelayan tersebut berusaha membujuk Mila untuk membeli.
"masa tuan Arya makai jam tangan 3 ratus ribu mbak, nggak level" lanjutnya lagi memanasi calon pembelinya itu.
Mila tertunduk lesu, ia tak ingin menanggapinya. Sisa nafkah Arya masih ditabung oleh Mila, jumlahnya juga lumayan banyak, namun belum sampai untuk membeli jam yang harganya 70 jutaan, apa lagi 900 juta sampai milyaran. ‘itukan nafkah dari Arya, lagian aku menyimpannya juga untuk jaga-jaga buat lahiran nanti, sama untuk rencana kami ke Paris’ pikir Mila sejenak.
Mila dan Vanessa akhirnya pulang dengan tangan kosong. Mereka hanya bisa menatap lesu jalan yang mereka lalui, “1,2 M mil, kamu nyari uangnya dimana?” gumam Vanessa dengan pelan.
“ntah lah kak, aku tadi mikirnya cuma beli jam murah, ya paling mahal 2 jutaan lah” ucap Mila “tapi setelah aku pikir-pikir, Arya nggak mungkin memakai jam murah, apa lagi kw, masa pemilik Adinata group makai jam kw, yang ada aku malah buat dia malu nanti dihadapan rekan bisnisnya”
“ya udah, nggak apa-apa Mil, tadi kamu juga udah beli kemeja, jas, sama dasi untuknya, itu saja dia pasti udah senang” ucap Vanessa menenangkan adik iparnya.
“susah juga ya kak jadi istrinya pengusaha, gengsi juga harus dijaga” gumam Mila dengan sendu.
Sementara itu, di rumah sakit tempat pak Sarman di rawat. Pintu kamar pak Sarman tiba-tiba saja terbuka tanpa ada yang mengetuknya. Pak Sarman dan bu Saniah seketika saja kaget melihat tamu yang tak diundang masuk ke ruangan itu.
“kamu” ucap pak Sarman menatap tajam kepada tamunya itu.
pintu ruangan yang terbuka segera ditutup oleh 2 pengawal Adinata group yang masuk ke dalam ruangan pak Sarman menemani Aliando.
“senang rasanya bertemu dengan anda lagi pak” ucap Aliando dengan santai.
“apa yang kamu inginkan dariku? kenapa tiba-tiba kamu kesini?” ucap pak Sarman dengan dingin.
“saya mencari sebuah jawaban” ucap Aliando, “anda mendukung saya saat rapat kemarin, tapi selama ini anda menyembunyikan anak Gibran di rumah anda, dan menikahkannya dengan cucu Anda, apa yang anda rencanakan sebenarnya?” lanjut Aliando dengan tajam.
“saya tidak tahu apa-apa," Pak Sarman melepas nafas kasar, "bukan saya yang datang ke rapat itu, saya menikahkan Arya dengan cucu saya disaat ia masih menyimpan jati dirinya, saat itu saya juga tidak tahu bahwa dia adalah anaknya Gibran,
"seharusnya kamu cari tahu sendiri siapa dewan direksi yang berkhianat kepadamu, termasuk juga para pemegang saham dan dewan komisaris” jawab pak Sarman dengan sinis.
Aliando tersenyum tipis, “karena dia suami cucumu, tentu tidak akan sulit bagimu untuk menyingkirkannya bukan,?” ucap Aliando dengan datar.
Mata bu Saniah dan pak Sarman membulat, rasa marah seakan membakar ubun-ubun mereka. “lebih baik anda yang menyingkirkannya, jika saya turun tangan, cucu anda pun akan jadi korban” lanjut Aliando tanpa beban.
Pak Sarman menarik nafas kasar, “kamu yang membunuh Gibran, aku sudah duga semua itu, kamu bukan manusia, tapi iblis” ucap pak Sarman penuh amarah.
Aliando tertawa tipis, “seharusnya anak Gibran juga mati malam itu, tapi entah kenapa orang-orangku tidak menemukannya”
Aliando menatap tajam kepada pak Sarman, “berani-beraninya kalian mengusik kekuasaanku, aku akan membunuh semua orang yang mengganggu jalanku, anak itu akan ku habisi, lebih baik kamu menyerahkannya kepadaku baik-baik dari pada cucumu ikut menjadi korban"
"manusia laknat kamu Aliando, orang sepertimu pantas dineraka" ucap bu Saniah penuh emosi.
Aliando hanya tersenyum sinis mendengarnya, "pilihan ada di tangan kalian, kalian sudah tahu seperti apa aku mencapai tujuanku, menghabisi Arya dan cucumu itu bukanlah hal sulit bagiku"
"anggap saja ini sebagai awal persahabatan kita, dan Arya adalah mahar dari kalian untuk kita berhubungan baik untuk ke depannya"
__ADS_1
Aliando kemudian segera pergi untuk meninggalkan ruangan pak Sarman, ia sudah tahu kalau keluarga Rakarsa tidak ada dipihaknya, melainkan ada di pihak musuhnya.
'selanjutnya Dokter itu, aku harus singkirkan mereka satu persatu' batin Aliando.