
Arya baru saja membereskan semua barangnya di kamar Mila, ia sekarang tersandar di depan lemari Mila untuk melepaskan rasa lelahnya sejenak.
Mila yang telah melepaskan cadarnya tersenyum pada Arya, ia kemudian membuka pintu lemarinya dan mengambil jas yang dulu ia beli bersamaan dengan gaun pengantinnya. Arya memperhatikan apa yang dilakukan Mila dengan rasa penasarannya.
Mila kemudian memberikan jas itu pada Arya.
“ini kado pernikahan dariku untukmu” ucap Mila, ia mengurai senyum manisnya pada Arya.
“jas ini?, ini jas siapa?” tanya Arya bingung,
“ini aku beli bersamaan dengan gaun pengantinku, gaunku dan jas ini couple lan, jadi saat itu aku harus membeli jas ini untuk membeli gaun itu” jelas Mila pada Arya, Arya melepas nafas panjang mendengar itu semua.
“astaga Mil, jas itu telah membuatku salah paham padamu” ucap Arya yang membuat Mila memejamkan matanya. dugaannya ternyata benar, Arya telah salah paham karena jas itu ada di lemarinya.
“ini mirip sekali dengan punyaku” jawab Arya sembari mengambil jas pemberian Mila,
“iya mirip, benar-benar mirip, aku bahkan heran kenapa kamu bisa memakai jas yang sangat mirip dengan jas ini di hari pernikahan kita, aku bahkan mengira kamu menyurinya di lemariku” jawab Mila yang sekarang duduk di samping Arya, Arya tersenyum mendengar ucapan Mila.
“besok kamu pakai ya, untuk ke kantor”
“baik, aku akan memakainya, untukmu” jawab Arya singkat, mereka berdua kemudian saling menatap dan tersenyum satu sama lain, hingga ponsel Arya berbunyi yang membuat Mila melengus kesal karena momen tersebut terganggu.
“assalamualaikum Rita” jawab Arya yang membuat Mila meringis kesal mendengar nama tersebut.
“Apa istrimu itu tidak memberi tahu jika aku menelfonmu tadi?” tanya Rita dengan nada kesalnya.
“Dia memberi tahuku, tapi aku yang terlalu sibuk, maaf ya, aku belum sempat menelfonmu, ini saja aku baru selesai beres-beres” jawab Arya santai sembari duduk di kursi meja rias Mila, sementara Mila telah berpindah ke ranjangnya dan memperhatikan Arya yang sedang menelfon.
“berarti ini salahmu kan?, aku sudah menyusun jadwal pertemuanmu dengan orang Hardi corp di jam makan siang besok, kita akan makan siang di luar” ucap Rita langsung pada inti pembicaraannya.
Mata Arya membelalak kaget mendengar itu semua, ‘Hardi group?, om Hardi?, apa ini? apa mereka tahu tentangku?’ Kenapa harus bertemu denganku?’ batin Arya yang mulai merasa takut, ia tahu bahwa Hardi adalah pemilik saham terbesar kedua setelah ayahnya di Adinata group, sekalipun ia tahu Hardi dan ayahnya berteman dekat, begitu pun ibunya dan istri Hardi juga bersahabat lama, tapi tetap saja semua hubungan itu telah berakhir 22 tahun lalu, dan bisa saja Hardi adalah orang yang menjadi musuhnya saat ini dan juga sedang mengincar nyawanya.
__ADS_1
Arya bahkan tidak tahu siapa lawan dan siapa musuh di dalam group Adinata, bahkan dia tidak tahu apakah masih ada orang-orang yang masih setia pada ayahnya setelah 22 tahun berlalu. Yang Arya tahu adalah, ia harus menghindari semua hal yang berhubungan dengan Adinata group, karena bisa saja semua orang di perusahaan itu mengincarnya, untuk itu ia memilih menjadi arsitektur dan berada di belakang kursi kerjanya tanpa harus pergi kesana kemari menemui banyak orang. Semakin sedikit ia berinteraksi dengan para pebisnis, itu akan jauh lebih baik untuknya dalam menyembunyikan diri, karena ia paham betul sebesar apa pengaruh group Adinata di Negara ini.
Arya kemudian melihat ke arah Mila, dan pandangan mereka bertemu yang membuat Mila tergugup karena Arya menatapnya dengan tatapan takut, ‘Arya kenapa?, kenapa ia tampak takut begitu?’ batin Mila.
“ada apa mereka menemuiku Ta?” tanya Arya dengan nada tenangnya, Ia tidak boleh terdengar takut oleh Rita, karena memang, seperti apa pun ancaman yang harus ia hadapi, ia harus selalu tampak kuat agar musuh tidak meremehkan dirinya.
“Ini sudah 3 minggu Arya, mereka sudah 3 minggu mendesakku untuk bertemu denganmu, mereka ingin mendiskusikan masalah desain yang kamu buat”
“diskusi?, bukankah itu bagian Ari dan Arbi, kenapa harus aku?”
“karena mereka ingin bertemu dengan Arsitekturnya langsung, jangan mempersulit lagi Arya, perusahaan benar-benar kacau karena kamu pergi terlalu lama, kita butuh kontrak ini untuk memperbaiki finansial kita, dan satu lagi, orang dari Hardi corp itu sangat sibuk, ini sudah untung kita dapat bertemu mereka besok” jelas Rita.
Arya memejamkan matanya untuk menahan gugup. Ia menelan salivanya karena rasa takut. ‘semoga ini hanya kebetulan saja’ batinnya.
“baik Rita, kerjakan yang menurutmu baik, maaf, selama 3 minggu ini pasti kamu sangat sibuk di kantor, aku benar-benar menyusahkan kamu lagi” ucap Arya dengan menguatkan dirinya.
“jangan begitu Arya, apa yang aku lakukan ini belum sebanding atas apa yang kamu lakukan untukku dulu” jawab Rita, yang membuat Arya melepas nafas panjang mendengarnya.
Setelah Arya menutup telfonnya, ia langsung duduk di sebelah Mila dan menatap dalam mata Mila yang masih memandangnya dengan wajah heran. Mila benar-benar heran kenapa Arya tampak ketakutan seperti tadi.
“ada apa?” tanya Mila pelan.
“kamu yakin tidak memberi tahu siapa pun tentang Indra kan?” tanya Arya pada Mila dengan tatapan penuh ketakutannya.
“Tidak, apa ada masalah dengan itu” Arya menggeleng lemah mendengar jawaban Mila,
‘jadi ini benar hanya kebetulankan, hanya Tomy, Mila, paman dan bibi yang tahu masalah ini, tidak mungkin om Hardi tahu masalah ini' batin Arya untuk menenangkan hatinya.
“Arya, apa kamu tidak ingin menceritakan semuanya padaku?”
“nggak Mil, nggak ada yang perlu diceritakan, seperti yang aku bilang, Indra sudah terkubur di masa lalu, kita tidak perlu membicarakannya lagi pada siapapun” Arya melepas nafas panjang sejenak.
__ADS_1
‘aku harus hati-hati, bisa saja om Hardi memanfaatkanku untuk mendapatkan keuntungan jika ia tahu semuanya,’
“tapi kenapa kamu ketakutan gitu jika orang lain tahu soal Indra?”
“apa aku tampak ketakutan?, kenapa kamu tidak memelukku seperti tadi?, mungkin dengan itu aku tidak ketakutan lagi” goda Arya pada Mila untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Wajah Mila memerah mendengar itu semua, ia benar-benar malu atas apa yang telah ia lakukan tadi pagi.
“Mil, pelukkan kamu enak lo, apa kamu tidak mau melakukannya lagi?” goda Arya yang makin membuat Mila memanas dan wajahnya semakin memerah.
“Arya,,” ucap Mila setengah berteriak, tangannya kemudian mencubit Arya dan ia segera berbaring membelakangi Arya menahan rasa malunya.
Arya tersenyum melepas nafas lega, setidaknya malam itu pembahasan tentang Indra sudah tidak diteruskan lagi.
Arya kemudian bangkit untuk keluar dari kamar, menyadari hal itu, Mila kemudian ikut bangkit dan melihat ke arah punggung Arya yang sudah ada di dekat pintu.
“kamu mau kemana?” Mila masih merasa takut laki-laki itu akan pergi meninggalkannya lagi, perasaan yang akan selalu membayanginya jika Arya tidak ada disisinya.
“aku mau minum”.
“jangan tidur di luar lagi atau dikursi itu, tidurlah di ranjang bersamaku” ucap Mila sembari menunduk, sekali lagi ia harus merendahkan diri untuk meminta Arya agar mau tidur bersamanya, dan Arya tersenyum mendengarnya.
'jangan tolak lagi Arya, aku mohon, ini sudah kesekian kalinya aku meminta ini padamu,'
“apa aku akan aman tidur di ranjang itu?” tanya Arya dengan senyumnya.
“apa maksudmu aman?”
“kamu lupa, dulu kamu memeluk dan menciumku, dan tadi pagi kamu tidur dengan memelukku, aku tidak tahu apa yang terjadi nanti malam padaku jika aku tidur di ranjangmu” ucap Arya lagi yang membuat Mila kembali meringis menahan malu, Mila langsung mengambil bantal yang ada di ranjangnya dan melemparnya sekuat tenaga ke arah Arya, “Arya,,,,,” ucapnya setengah berteriak.
Arya tersenyum menangkap bantal yang dilempar Mila ia kemudian melempat bantal itu ke ranjang, “tunggu aku ya, jangan tidur dulu, biar kamu bisa puas meluk aku nanti” ucap Arya sembari keluar dari kamar Mila, sementara Mila segera naik ke ranjangnya untuk segera tidur. ‘aku harus tidur lebih dulu, kalau nggak nanti dia malah macam-macam” batin Mila.
__ADS_1