
Setelah beberapa hari berlalu, hari yang direncanakan dewan komisaris akhirnya datang juga, semua pemilik saham sudah berkumpul di Jakarta. Pemilik saham dari luar negeri pun juga ikut hadir, baik yang datang langsung maupun yang diwakilkan oleh ahli waris mereka.
Acara rapat umum pemegang saham tersebut diadakan di sebuah hotel mewah di Jakarta, para tamu dilayani dengan pelayan terbaik tamu VVIP, menggambarkan betapa besarnya Adinata group.
Semua tamu sudah berkumpul sebelum acara dimulai. Mereka asyik berbicara berbagai topik bisnis, baik itu masalah bisnis mereka, maupun perkembangan Adinata group selama ini.
Di bandara, Haris tengah menunggu kedatangan seseorang. Sudah hampir 1 jam ia menunggu, barulah orang yang ia tunggu menampakkan wajahnya.
Haris tersenyum senang melihat Rena sudah keluar dari terminal kedatangan luar negeri. Perempuan itu keluar bersama suaminya beserta 2 anak mereka yang masih SMP dan SD.
"akhirnya kalian datang juga" ucap Haris ketika Rena dan keluarganya menghampiri Haris.
“kamu benar-benar menungguku Ris” Ucap Rena sembari mengangkat tangan untuk bersalaman dengan Haris,
“memang inikan yang harusnya aku lakukan,” jawab Haris dengan singkat, ia pun juga bersalaman dengan suami Rena yang berdiri disamping Rena.
“ayo, kita langsung menuju rapatnya” ajak Haris pada sepasang suami istri itu.
"antar aku ke rumah dulu ya, aku mau naruh barang sekalian anak -anak dan suamiku bisa istirahat." ucap Rena pada Haris.
"ok, nggak masalah," jawab Haris dengan tersenyum.
Mereka kemudian melangkah ke arah pelataran terminal bandara itu dan masuk ke mobil yang telah Haris siapkan. Perjalanan mereka akan cukup lama karena macetnya jalanan, “apa mobil ini aman Ris?” tanya suami Rena.
“Kamu tenang saja, ini mobilku, orang -orangku yang mengawasi mobil ini,” jawab Haris dengan singkat.
“aku benar-benar kaget dengan kabar tentang Rahman, padahal ketika ia ke luar negeri, ia sempat singgah di kantorku” gumam Rena dengan pelan, matanya berkaca-kaca mengingat lagi kondisi sahabatnya itu.
Haris yang duduk di samping sopir melihat ke arah wajah Rena di kursi belakang melalui cermin di atas dashboard mobilnya, “ini pengorbanan Rahman Ren, kita harus memenangkan persaingan ini, jangan jadikan perngorbanannya dan juga pengorbanan sekretaris Arjun sia-sia” ucap Haris yang di sambut Rena dengan tarikan nafas panjang.
“aku tidak pernah berpikir sedikit pun akan terlibat dalam masalah ini Ris” gumam Rena. yang membuat suaminya meliriknya dengan rasa khawatir.
Suaminya paham, jika yang dilawan istrinya bukanlah orang sembarangan.
__ADS_1
*
Sementara itu, di kediaman Aliando, Aliando yang baru saja keluar dari kamarnya sudah bersiap menuju lokasi acara. Dengan setelan jas hitam dan kemeja abu-abu di dalamnya, ia memakai dasi biru muda untuk menyempurnakan penampilannya.
Dari arah tangga, sekretaris Aliando datang mendekatinya dengan memberi hormat, “semuanya sudah menunggu anda tuan,”
Aliando menarik nafas perlahan untuk menikmati setiap udara yang masuk ke tubuhnya, “seperti inikah rasanya udara kemenangan” imbuhnya dengan pelan, ia kemudian berjalan turun ke lantai satu, disana Arnes sudah menunggunya.
“apa ayah sudah siap?”
“sudah, aku harap kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan baik” ucap Aliando yang tengah melangkah menuruni anak tangga. Ia kemudian melewati Arnes tanpa melihat wajah anaknya yang menunggunya di bawah tangga.
“ayah tenang saja, aku sudah menemui semua pemilik saham dan memberi penawaran terbaik kepada mereka, ditambah lagi pertunangan kemarin benar -benar jadi pembicaraan publik, mereka pasti sudah tahu harus berpihak kepada siapa” jawab Arnes.
Aliando tersenyum sinis mendengar ucapan Arnes, ia berjalan tegas menuju teras rumahnya, istri dan putrinya sudah menunggunya disana.
Di pelataran rumahnya, sudah siap 2 mobil mewah keluaran pabrikan Jerman, mobil itu berwarna hitam mengkilat. Kedua mobil itulah yang akan mengantar mereka ke hotel tempat rapat pemegang saham diadakan.
“kamu sudah siap mas?” tanya istri Aliando.
Istri Aliando melihat datar ke arah wajah suaminya yang tampak berbinar senang. “saham Gibran akan dilepas ke publik, perusahaan itu tak benar-benar menjadi milik kita”
“kamu tenang saja, aku bukan orang bodoh, aku sudah siapkan cara lain agar saham itu jatuh kepada kita, setelah aku menang nanti, posisiku sebagai CEO takkan di bayang -bayangi lagi oleh nama Gibran, aku memimpin perusahaan secara utuh” jelas Aliando.
"aku hanya bisa berharap semuanya akan lancar mas"
“jangan meragukanku,,,, ayo kita berangkat, semuanya sudah menunggu kita disana” Aliando mengakhiri pembicarakan mereka, mereka segera masuk ke dalam mobil dibantu para pengawal perusahaan yang membukakan pintu untuk mereka. 2 Mobil itu pun segera melaju menuju lokasi acara.
*
Hotel tempat rapat umum pemegang saham group Adinata diramaikan oleh wartawan dari berbagai media, para wartawan berdiri di depan pintu hotel yang dikhususkan bagi tamu Adinata group.
Semua tamu yang melewati pintu itu adalah para pemegang saham dalam negeri, serta beberapa pihak dari pemerintah dan pengusaha yang diundang. Sementara pemegang saham luar negeri menginap di hotel tersebut dengan pelayanan terbaik.
__ADS_1
Di dalam ruangan lokasi rapat, juga ada area khusus wartawan yang meliput. Rapat pemegang saham group Adinata akan menjadi santapan hangat bagi para pebisnis besar sekalipun mereka tidak memiliki saham di Adinata group. Hasil rapat tersebut akan mempengaruhi arah strategi bisnis pengusaha lainnya.
Berita rapat tersebut dengan cepat tersebar ke seluruh negeri, masuk ke dalam rumah -rumah masyarakat melalui tv, radio dan media on-line di berbagai aplikasi smartphone. Tak terkecuali rumah Rita dan juga apartemen Arya. Termasuk juga rumah Pak Susanto dan ibu Annisa. Serta juga ke dalam ponsel milik pak Sarman yang tengah terbaring di rumah sakit.
Rita menatap datar ke arah ibunya yang tengah melihat berita rapat pemegang saham tersebut di tv, ‘apa yang dipikirkan ibu melihat berita itu?’ batinnya. Rita yang baru saja selesai sarapan menghampiri ibunya yang tengah menggendong anaknya di ruang tengah.
“ibu” gumam Rita,
Ibu Tya tersentak kaget mendengar suara Rita, ia kemudian melihat ke arah Rita yang tengah berdiri menatapnya. “kenapa sayang?”
“apa ibu memikirkan sesuatu melihat berita itu?” tanya Rita sembari mengambil anaknya dari gendongan ibunya. Ia ingin bermain sebentar dengan putrinya itu sembari menunggu Harun yang masih sibuk di meja makan.
Mata ibu Tya berkaca kaca mendengar ucapan putrinya, ia sejenak menarik nafas panjang agar dadanya terasa lebih lapang.
“ibu hanya sedih sayang, sebenci apa pun ibu pada tuan Gibran, tetap saja ibu tidak rela semua fitnah itu ditujukan pada tuan Gibran” ucap bu Tya yang berusaha menahan sedih di hatinya.
“bu,” gumam Rita lagi.
Bu Tya menggeleng, rasa hormatnya tidak pernah luntur pada Gibran dan Naina, hanya saja rasa bencinya yang jauh lebih besar dari rasa hormat itu.
“Semua orang bersedih di hari kematian mereka termasuk ibu, kita kehilangan orang sebaik dan setulus mereka" ucapan bu Tya sejenak terhenti, ia menahan gejolak kesedihan ketika mengingat lagi hari duka itu.
"ayahmu tak berhenti menangis sepanjang hari, ia menyalahkan dirinya sendiri, ia sekretaris tuan Gibran tapi ia tidak tahu apa yang terjadi malam itu, ayahmu bahkan sering menangis sebelum tidur karena rasa bersalahnya sampai berbulan -bulan" gumam bu Tya yang tak mampu menahan tangis air matanya.
“hanya karena melihat ayahmu hancur oleh rasa setianya pada tuan Gibran, sampai sekarang ibu membenci tuan Gibran, apa lagi saat ayahmu dipenjara karena masih setia pada tuan Gibran, ibu semakin membencinya sampai sekarang” lanjut bu Tya mengingat lagi kesulitan keluarganya.
Nafas Rita terasa tercekat mendengar penjelasan ibunya. Rita mengusap bahu ibunya dengan lembut dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih menggendong anaknya.
"ibu bahkan tidak mau bertemu Arya karena ia mirip dengan mereka, padahal anak itu sudah menolong hidup kita, bahkan karena dia kita bisa hidup berlebih seperti sekarang" ucap bu Tya lagi.
'ya Tuhan, jadi ini alasan ibu tidak mau bertemu Arya selama ini, ibu melihat Arya mirip dengan tuan Gibran dan Nyoya Naina' batin Rita menahan sedih, lidahnya terasa kelu saat itu.
'apa ibu akan benci pada Arya jika tahu semuanya?, apa ibu tidak akan pernah mau bertemu dengan Arya sampai kapanpun?' batin Rita.
__ADS_1
“bu, seandainya tuan Indra masih hidup, apa ibu akan benci dan marah sama dia seperti ibu benci pada tuan Gibran?” tanya Rita pada ibunya.
'aku juga benci pada mereka bu, tapi aku sadar, apa yang terjadi pada ayah bukanlah kesalahan mereka'