Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Dia Kembali


__ADS_3

Ceklek, pintu ruangan pak Sarman terbuka, 2 gadis cantik itu kemudian masuk menemui pak Sarman, kehadiran mereka mampu menumbuhkan senyum gembira di wajah bu Saniah dan juga pak Sarman. Vanessa segera menghampiri pak Sarman dan Bu Saniah, mereka mencium tangan mereka secara bergantian, Vanessa memeluk hangat pak Sarman di sisi kanan pria tua itu dan Mila duduk disisi kirinya sembari mengusap wajah kakeknya.


“apa Arya tidak ikut kesini?”


deg,deg, pertanyaan pak Sarman membuat Mila pias, ia terhenyak tidak tahu harus menjawab apa.


“Arya lagi sibuk kek” jawab Vanessa yang tahu dengan kondisi Mila, ia sadar Mila masih terbawa perasaan sedih ketika berada di depan ruangan Tomy tadi.


“sepertinya dia benar-benar bekerja keras untuk mu sayang” ucap pak Sarman sembari mengelus lembut tangan Mila.


Sementara bu Saniah melihat Vanessa dan Mila secara bergantian, ia seolah menyadari ada masalah disana. ‘sepertinya aku sudah lama tidak ke rumah, aku harus memastikan lagi tidak ada masalah disana’ batin bu Saniah.


“kakek gimana?, kapan kakek bisa pulang?” tanya Vanessa dengan manja pada pak Sarman, hanya keluarga itu yang satu-satunya ia punya, dan ia tidak ingin kehilangan kasih sayang dari pak Sarman dan juga bu Saniah.


“doakan kakek cepat pulang ya sayang, kakek juga kangen sama rumah” jawab pak Sarman sembari membelai lembut kepala Vanessa.


‘ya Allah, aku tidak tahu seperti apa keadaan kakek nanti jika tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena dosa-dosaku aku harus menanggung semua sakit ini, sakit hati ketika semuanya mencaciku, apa sekarang aku harus menanggung rasa sakit dibenci oleh kakek dan ibu’ batin Mila sedih dengan keadaan dirinya.


*


Suasana siang itu cukup cerah di langit Sulawesi selatan, Ari baru saja menyelesaikan makan siangnya yang terlambat 2 jam dari jam makannya biasa, ia melahap makanan dengan perasaan kesal, sudah 2 hari ia berkeliling beberapa desa disana, namun Arya belum juga ditemukan, ia hanya bisa menemukan jejak Arya yang sebenarnya masih samar, apakah itu benar Arya atau bukan.


“sial, ini sudah 2 hari, besok aku harus balik lagi ke Jakarta” kesalnya.


“anggotamu yang lain gimana?” tanya Ari pada laki-laki tegap yang sudah 2 hari itu menemaninya.

__ADS_1


“masih nihil bos” jawabnya dengan menunduk.


“kerjaan di Jakarta lumayan banyak, apa lagi kondisi perusahaan sedang turun sejak Arya menghilang, aku tidak bisa berlama-lama meninggalkan Jakarta” ucap Ari masih dengan kesal


Setelah selesai makan, Ari dan laki-laki itu segera pergi, mereka kemudian memasuki mobil yang mereka sewa, si laki-laki tegap duduk di depan menyetir mobil, sementara Ari duduk di kursi belakang sembari memainkan ponselnya untuk mengontrol pengerjaan yang ia tinggalkan.


Baru 30 menit mobil itu berjalan, tiba-tiba saja mobil itu mati, “kenapa?” tanya Ari marah dengan keadaan, “sepertinya mogok bos” jawab laki-laki, itu ia kemudian keluar untuk mengecek mobil itu, dan Ari juga keluar dengan marah. "mobil apa sih yang dia sewa, masa bisa mogok gini" kesal Ari lagi ia benar-benar benci dengan keadaannya saat itu.


Keadaan mulai ribut, karena mobil itu berhenti di sisi jalan yang membuat jalanan yang lumayan ramai itu menjadi macet, sebuah bis besar yang berjalan berlawanan arah dengan mobil Ari berusaha merangsek masuk melewati mobil Ari, ia melirik ke bis itu dengan wajah yang bertambah kesal, ‘dasar, orang-orang Negara ini, tidak ada yang sabaran,’ kesalnya, sementara laki-laki tegap yang menemaninya sibuk meminta maaf kepada beberapa pengendara yang menggurutu kesal dengan mobil yang ia kendarai itu.


“bawa mobil yang benar dong” teriak sopir bis pada laki-laki berbadan tegap itu, “iya pak, maaf pak” jawab si laki-laki itu, walaupun ia sebenarnya adalah orang kejam dan bengis, namun itu hanya akan digunakannya pada orang-orang yang menjadi musuh bosnya saja, sementara pada orang lain, laki-laki berbadan tegap itu akan bersikap ramah dan sopan.


‘sial’ kesal Ari mendengar ucapan sopir bis itu, ia kemudian memalingkan wajahnya dari bis itu menahan perasaannya yang marah dengan keadaan, Jika saja Ari melihat ke arah bis itu, ia mungkin dapat melihat Arya yang sedang tertidur sembari menyandarkan tubuhnya ke arah kaca jendela bis itu.


Bis tersebut hendak menuju ke Makassar, dan Arya telah merencanakan pulang ke Jakarta hari itu juga untuk menyelesaikan semua masalahnya, Arya tidur sembari mengenggam erat sebuah kotak kecil berwarna kuning, kotak yang diberikan neneknya yang ia kenal disana.


*


Mila baru saja pulang dari sekolahnya, setelah selesai makan ia kemudian masuk ke dalam kamar, ia duduk menatap dalam wajahnya yang sudah tidak dibaluti oleh cadar di cermin hiasnya. ‘Mil, kamu cantik kok, Arya pasti suka sama kamu, sekarang kamu yang harus menjaga hatimu untuknya, dia pangeran yang selalu kamu tunggu itu’ ucap Mila yang sedang berbicara dengan bayangannya sendiri.


Mila kemudian memejamkan matanya, entah mengapa, perasaan cintanya pada Arnes masih ada, terkadang ia masih merasakan rasa tidak percaya pada cerita orang-orang tentang Arnes, dan setiap kali Arnes mengajaknya bertemu, ia lebih memilih menolaknya, ia tidak tahu siapa yang sedang mengawasinya, ia menduga orang-orang Ari masih ada di sisinya untuk menjaganya dari Arnes, selain takut Arnes akan di pukuli lagi, ia juga merasa takut jika Arnes akan berlaku kurang Ajar kepadanya.


Namun Mila sadar, rasa cintanya pada Arnes masih sangat besar, setiap kali ia mengatakan aku tidak bisa pada ajakan Arnes, rasa bersalah dan kecewa muncul di dalam hatinya. Sejenak Mila teringat betapa cintanya Arnes padanya, bahkan Arnes memintanya agar bisa menjaga dirinya dari Arya agar Arya tidak menyentuhnya, permintaan yang dengan senang hati ia turuti saat itu, lalu dengan percaya dirinya ia membuat kesepakatan yang merenggut banyak hak Arya sebagai suami, ia masih ingat betul ketika Arya duduk di kursi yang sedang ia duduki dan ia menulis setiap butir kesepakatan yang ia buat secara sepihak saat itu.


‘mungkin benar, sekarang aku harus memilih, jika tidak, aku akan terus menyakiti Arya, tapi bagaimana aku bisa memilih, aku masih mencintai bang Arnes dan aku juga sangat takut kehilangan Arya, aku bahkan tidak bisa memilih diantara mereka berdua' batinnya kebingungan

__ADS_1


Mila kemudian membuka lacinya, ia melihat amplop dari Arya yang masih belum ia buka, ia kemudian mengeluarkan dua kotak perhiasan yang telah hampir 4 bulan ini ia simpan, Mila kemudian mengeluarkan cincin kawin dan mahar pernikahannya.


‘kakek sangat mempercayai Arya, ia bahkan memberikan benda yang paling berharga dalam hidupnya kepada Arya’ batinnya, ia kemudian memasangnya,


Mila kemudian mengeluarkan perhiasan pembelian Arya, ia melihat dalam perhiasan itu, ‘ini semua pasti mahal, dan ternyata hati Arya jauh lebih mahal dari perhiasan ini, bahkan untuk menginginkannya kembali, aku harus menerima banyak ocehan yang menyakitkan hati dari orang-orang itu’ batin Mila, ia kemudian memasang semua perhiasan itu.


Ia kembali melihat pantulan dirinya di kaca, ‘sekarang aku harus memakai ini semua, aku harus bisa meyakinkan Arya jika aku sungguh-sungguh ingin menjadi istri yang baik untuknya’ batin Mila.


*


Dokter Karina sedang duduk di kursinya, hari sudah sangat malam, namun ia harus tetap di rumah sakit karena sedang bertugas malam. Di depannya sekarang ada segelas kopi panas yang baru diantarkan oleh seorang suster untuknya. Ia sejenak membuka ponselnya, untuk melihat media sosial miliknya, setelah puas dengan itu semua, ia kemudian melihat aplikasi chatnya, tidak ada yang menarik dari itu semua, kecuali sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang, chatnya pada Arya telah tercentang biru, berarti Arya telah membaca chatnya yang tidak henti-hentinya ia kirim setiap hari sejak Arya hilang tanpa kabar.


Dokter Karina segera menghubungi nomor Arya, dan akhirnya nomor yang selama ini berkali-kali ia hubungi tidak pernah masuk itu, sekarang dapat ia dengar panggilannya telah masuk ke ponsel Arya.


Namun berkali-kali ia mencoba menelfon Arya, panggilan itu masuk namun tidak diangkat sama sekali, Dokter Karina kemudian melepas nafas kecewa, ‘apa Arya sudah tidur ya?’ ia kemudian melirik jam tangannya, jam sudah lewat dari pukul 12 malam, ‘sepertinya sudah, tapi itu berarti dia sudah kembalikan' batinnya penuh harap.


Dokter Karina kemudian menaruh ponselnya diatas meja, ia mengenggam gelas kopinya yang masih panas itu, ia ingin merasakan hangatnya gelas kopi itu untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa dingin di terpa angin malam.


Ceklek,,, baru sebentar ia menggenggam gelas kopi itu, pintu ruangannya terbuka tanpa ada yang mengetuk terlebih dahulu,


Dokter Karina sejenak mendengus kesal pada orang yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu,


Namun rasa kesalnya langsung berubah karena perasaan kaget dengan laki-laki yang tengah berdiri di depannya, bahkan perasaan kagetnya membuat gelas kopinya sedikit terguncang dan setitik kopi panas mengenai tangan putihnya, “aduh panas” gumamnya pelan,


Dokter Karina masih tersentak, ia kemudian berdiri, ia masih tidak percaya orang yang selama ini ia khawatirkan dan tidak bisa dihubunginya, sekarang telah datang kepadanya dan berdiri tepat dihadapannya.

__ADS_1


'dia kembali' batin Dokter Karina sembari melepaskan senyumnya dengan perasaan lega.


__ADS_2