
Mata Anjani tertuju ke sebuah pintu yang ada di sudut ruangan itu, ‘itu ruangan apa’ batin Anjani penasaran, ia kemudian melangkah ke arah pintu itu, dan ketika ia hendak menarik gagang pintu itu, pintu utama ruangan Arya itu tiba-tiba terbuka,
“kamu sedang apa?” tanya Arya yang mendapati Anjani hendak membuka kamar kecilnya itu.
Anjani segera menarik tangannya karena kaget dengan kedatangan Arya, “tidak, aku tidak sedang apa-apa, aku hanya sedang menilai interior ruangan mu ini” ucap Anjani dengan nada datarnya.
Arya menatap panjang ke arah mata Anjani, ia mencoba menilai apakah gadis itu memiliki maksud tertentu datang ke kantornya, namun sepertinya ia memang bukan laki-laki yang ahli menghadapi perempuan, ‘tuh kan, perempuan sulit dimengerti’ batinnya yang masih terbawa suasana di rumah sakit tadi.
Sementara Anjani yang membalas tatapan mata Arya kembali melihat sosok Indra di sudut mata itu, ia segera mengalihkan pandangannya agar tidak terbawa rasa rindunya pada Indra.
“ada perlu apa kamu kesini?, apa masih ada masalah dengan desainnya?” tanya Arya dengan santai menuju kursi kerjanya, ia segera merapikan beberapa dokumen yang masih berserakan di meja kerjanya.
Anjani bergedik kesal memperhatikan Arya yang sedang membereskan mejanya. “kamu mau main-main denganku?” ucap Anjani dengan sedikit menaikkan nada suaranya dan menyipitkan matanya dengan sinis pada Arya.
“apa maksudmu?”
“aku minta nomor ponselmu, kenapa kamu malah memberikan nomor sekretarismu itu kepadaku.” ucap Anjani dengan kembali menaikan nada suaranya. Arya melepas nafas panjang mendengar ucapan Anjani.
“kenapa aku harus memberikan nomor ponselku kepadamu?, apa ada hal yang harus kita bicarakan di telfon?” tanya Arya yang membuat rahang Anjani semakin mengeram marah. Ia tak mau lagi gagal mendebat Arya seperti sebelumnya.
“Aku akan membangun 3 hotel tahun ini, aku tadi ingin mengabari kontrak kita telah di tanda tangani dan aku ingin membahas tentang rancangan hotelku selanjutnya” ucap Anjani dengan nada kesalnya, ia melepas nafas panjang dengan kecewa. Tadinya ingin marah-marah kepada Arya karena masalah nomor ponsel itu, tapi ntah mengapa sekarang ia malah kalah berdebat dengan laki-laki itu.
“Jika kamu ingin rancangan yang selanjutnya, kamu bisa urus sesuai prosedur yang ada, bukankah rancangan kemarin juga begitu, semua sesuai prosedur di perusahaan ini” ucap Arya dengan santai sembari membuka dokumen kerjanya tanpa memperhatikan Anjani.
“Arya, kita sudah saling mengenal, apa salahnya jika aku meminta langsung kepadamu, masalah prosedur bisa diurus oleh sekretarisku, aku hanya ingin membuat rancangan hotel yang sesuai dengan keinginanku” ucap Anjani menahan rasa kesalnya dengan sikap Arya.
__ADS_1
Arya melihat ke arah Anjani, ia kemudian menarik nafas panjang dan melepaskannya, Anjani yang sedari tadi melihat Arya, kembali menemukan Indra disana ketika mata Arya melihat ke arahnya yang membuatnya langsung menelan salivanya.
“Jika kamu ingin membuat rancangan yang sesuai dengan keinginanmu, kamu bisa berkoordinasi dengan tim ku yang lain, jika kamu ingin mengubah rancangan yang aku buat, kamu bisa bertemu dengan timku tidak perlu menemuiku seperti kemarin dan datang seperti ini ke kantorku,” ucap Arya dengan nada tegas pada Anjani.
Anjani mendengar itu seperti merasakan sesuatu di hatinya, rasa marahnya benar-benar hilang, yang ada saat ini adalah rasa kecewa. Entah mengapa laki-laki di depannya itu membuat perasaannya yang biasa keras, sekarang seolah menjadi rapuh.
“aku kemarin meminta nomor ponselmu, lalu kenapa kamu berikan nomor sekretarismu? apa sulitnya menjawab pertanyaan itu” ucap Anjani yang sekarang mengembalikan topik pembicaraan mereka pada tujuan kedatangannya ke kantor Arya.
Arya kembali melepas nafas panjang, ia sudah merasa lelah menghadapi sikap perempuan dari tadi.
“aku Cuma hafal nomor sekretarisku, lagi pula hubungan kita hanya masalah pekerjaan, akan lebih baik kamu berhubungan dengan sekretarisku, itu lebih efektif untuk memperlancar hubungan kerja kita” jawab Arya yang kembali meneruskan pekerjaannya. Anjani benar-benar kecewa mendengar itu semua, ia kemudian berdiri dan berjalan ke meja Arya.
“apa aku harus punya hubungan pribadi dulu denganmu agar aku bisa mendapatkan nomor ponselmu” ucapnya dengan nada liciknya.
Arya menatap ke arah Anjani dengan tatapan kesalnya mendengar itu semua. “kamu ingin apa? katakan saja jelas-jelas” ucap Arya dengan nada kesal. “nomor ponselmu, aku ingin menelfonmu malam ini” ucap Anjani jelas dan tegas terdengar di telinga Arya.
“apa kamu tidak bisa bersikap baik kepada perempuan?” ucap Anjani sembari duduk di tepi meja kerja Arya sementara Arya mengalihkan pandangannya ke sisi arah dinding kaca agar tidak melihat lekuk tubuh Anjani yang menggoda itu.
Sesuatu dirasakan Arya di dalam hatinya ketika Anjani duduk di dekatnya seperti itu, perasaan sebagai seorang sahabat sekarang dapat ia rasakan, Anjani adalah teman masa kecilnya, orang yang paling dekat dan paling banyak menghabiskan waktu bersamanya sebelum peristiwa kelam itu terjadi.
“jangan bersikap seperti ini, duduklah kembali di sofa” ucap Arya menurunkan nada bicaranya.
“berikan dulu nomor ponselmu” ucap Anjani tidak mau mengalah, Arya melepas nafas kasar, ia kemudian berdiri dan melangkah ke arah dinding kaca ruangannya itu, ia menatap panjang gedung-gedung pencakar langit ibukota.
Anjani ikut melepas nafas kasar dan mengikuti langkah Arya, ia berdiri disamping Arya dan menatap ke arah yang sama dengan Arya, Ketika mereka berada di posisi itu, perasaan Anjani kembali merasakan sosok Indra ada di sisinya. Dan pikiran mereka sama-sama melayang ke masa lalu.
__ADS_1
FB
Indra sedang menatap panjang ke arah luar jendela kamarnya, dari sana ia dapat melihat taman bunga yang begitu indah, taman yang di rawat oleh Naina dengan sepenuh hati.
Walaupun suaminya pengusaha besar yang memiliki banyak kesibukan, Naina lebih memilih menjadi ibu rumah tangga seperti istri kebanyakan, ia tidak ingin hidup seperti ibu-ibu sosialita seperti istri pengusaha kebanyakan. Ia menyelesaikan pekerjaan rumahnya seorang diri, memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan juga merawat Indra, ia lakukan dengan senang hati, baginya tidak ada ibadah yang lebih besar daripada tugas seorang istri itu.
Di sela waktu luangnya yang begitu banyak sebagai ibu rumah tangga, ia merawat taman bunga yang begitu indah di samping rumahnya itu, taman bunga nan indah dan banyak di puji-puji oleh setiap tamu yang datang ke rumah mereka, Taman yang berhadapan langsung dengan jendela kamar Indra.
“Ibumu suka dengan bunga ya” tanya Anjani kecil pada Indra sembari berdiri di sisi Indra dan menghadap keluar jendela, melihat taman yang sama dengan Indra.
“Iya, ibu sendiri yang menanam bunga-bunga itu, ibuku sangat suka dengan bunga-bunga indah itu”
“kenapa ibumu sendiri yang menanam bunga-bunga itu?, kan dia bisa nyuruh orang untuk merawatnya, seperti di rumahku, ada tukang kebun yang merawat taman kami” ucap Anjani dengan polos.
“ibuku suka dengan hal-hal seperti itu, ia tidak suka kalau ada orang lain yang merawat taman itu selain dirinya, dulu ayahku menawarkan pembantu untuk ibu merawat taman itu, tapi ibu malah marah-marah sama ayah” jawab Indra yang masih mengingat seperti apa marah ibunya kepada ayahnya.
“ibu mu aneh, kalau bisa bayar orang, kenapa haru dikerjakan sendiri, padahal ibumu bisa pergi belanja tiap hari seperti ibuku, pergi ngumpul-ngumpul arisan, pergi ke salon,” ucapan Anjani lagi yang membayangkan kegiatan ibunya yang pernah ia lihat.
“Kata ibuku keindahan alam ini adalah ciptaan Tuhan yang tidak terhingga nilainya, dan ia ingin menjadi bagian atas keindahan ciptaan Tuhan itu, untuk itu ibuku ingin menciptakan keindahan taman bunga itu dengan tangannya sendiri” ucap Indra tersenyum sembari menatap taman bunga yang bertambah indah dengan kehadiran kupu-kupu disana.
FB end
“Kata ibu sahabatku, keindahan alam ini adalah ciptaan Tuhan yang tidak terhingga nilainya, dan ia ingin menjadi bagian atas keindahan ciptaan Tuhan itu” Ucap Anjani tersenyum, ia kemudian menoleh ke arah Arya yang berdiri di sampingnya, sementara Arya menelan salivanya mendengar itu, ia kemudian menoleh pada Anjani dan pandangan mereka bertemu disana.
“kamu sama dengan ibu sahabatku itu, menjadi bagian atas keindahan ciptaan Tuhan yang tercipta di dunia ini, dengan rancanganmu yang indah dan unik itu, kamu menjadi bagian atas keindahan ciptaan Tuhan itu” ucap Anjani penuh arti sembari menatap dalam mata Arya, dan ia benar-benar merasakan ada Indra disana.
__ADS_1
Arya segera mengalihkan pandangannya dari mata Anjani, ia kembali menatap panjang ke arah gedung pencakar langit itu, ia terdiam tidak tahu harus berkata apa, karena di hatinya masih ada rasa takut dengan keadaan, ia masih sadar bahwa Anjani yang sekarang bukanlah Anjani yang dulu yang menjadi sahabat dekat dimasa kecilnya, tapi Anjani yang sekarang adalah Anjani yang berada di pihak musuhnya, yang jika mengetahui siapa dirinya sebenarnya akan membuatnya dalam posisi bahaya.
“kamu bertanya aku ingin apa?, aku ingin menjadi sahabatmu, karena kamu sangat mirip dengan sahabatku itu, untuk itu aku meminta nomor ponselmu agar aku bisa menghubungi sebagai sahabatmu” ucap Anjani dengan nada sendunya.