Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Alur Orang Lain


__ADS_3

"kapan kita pindah kesini dek?” tanya Vanessa yang baru saja selesai memandang dapur barunya, ia sudah berdiri di dekat pintu kaca balkon itu dan melihat Mila dan Arya yang tengah bersantai menatap laut utara Jakarta.


Arya kemudian melihat ke arah Vanessa yang juga tengah melihat ke arahnya. “besok atau lusa kak, aku minta Rita untuk mengurus dulu semua pembayarannya, baru kita pindah kesini” jawab Arya.


“enak ya kalau ada sekretaris, nggak perlu ribet -ribet, ada sekretaris yang ngurus semuanya” ucap Vanessa setengah bercanda pada Arya, ia kemudian ikut duduk di sebelah Mila dan melihat pemandangan laut Jakarta, pemandangan yang sedikit terganggu oleh sebuah gedung tinggi di depan mereka.


“aku malas mengurus masalah surat -surat begituan kak, jadi aku serahkan semuanya pada Rita, lagi pula dia cukup cekatan menyelesaikan masalah seperi itu,”


Mila melepas nafas panjang mendengar ucapan Arya, ada sesuatu yang menelisik hatinya mendengar nama Rita.


“lebih cepat lebih baik kita pindah kesini, kemarin kakak lihat ada mobil bang Irman di lantai dasar apartemen yang kita tempati sekarang” ucap Vanessa yang membuat Arya dan Mila menelan saliva mereka bersamaan.


Sementara Vanessa memejamkan matanya, berusaha menahan rasa sakit dihatinya setelah melihat suaminya bermain gila dengan perempuan lain dengan matanya sendiri.


“kakak yakin kak?” tanya Arya dengan khawatir, ia menatap lekat mata Vanessa yang masih terpejam.


“iya dek, tapi kamu tenang saja, kakak bisa ngehindarin dia dari Mila kok,” ucap Vanessa melepas nafas panjang.


‘Aku harus tanya sama Ari dimana saja apartemen bang Irman, dia sudah menyelidiki bang Irman, dia pasti tahu, kalau aku pindah ke apartemen yang sama dengan dia, malah membuat pikiranku makin kacau lagi nanti’ batin Arya.


*


Arya tengah sibuk membuat desain terminal bandara untuk projek di Vietnam, ia sudah mendapatkan detail projek itu dari Arbi yang tengah berada di London. Arya menggunakan Kertas A3 untuk mencoba membuat gambaran kasar rancangan itu, sembari di layar laptop kerjanya tersedia berbagai bentuk terminal bandara ternama di dunia. Ia menjadikan gambar terminal bandara di laptop itu sebagai referensi untuknya membuat desain yang bagus.


Di tengah kesibukannya, Tomy dan Ari masuk ke dalam ruangannya, mereka berdua hendak membahas masalah pertemuan Tomy dan Haris kemarin, sementara Rita juga masuk setelah diminta oleh Ari ketika saat Ari akan masuk ke ruangan Arya.

__ADS_1


Arya segera berdiri dari kursinya dan merapat ke sofa mengikuti para sahabatnya itu, “jadi apa yang akan kita bahas hari ini?” ucapnya dengan santai.


Tomy menarik nafas panjang dan kemudian melihat ke arah Ari, Arya dan Rita bergantian.


"dengarkan ini baik-baik dan jangan menyelaku” ucap Tomy dengan datar, Ia kemudian menceritakan masalah Adinata group yang ia dapatkan dari Haris tanpa tertinggal satu pun. Ari melihat bingung ke arah Tomy, karena di dalam ceritanya, Tomy juga menyinggung nama Anjani, salah satu klien perusahaannya.


“Jadi gimana rencana selanjutnya?” tanya Arya.


“kata om Haris kita harus tunggu dulu sampai rapat pemegang saham itu selesai, dia akan mengurus semua proses pengalihan saham ayahmu atas namamu, termasuk juga pengalihan kepemilikan perusahaan menjadi milikmu, mungkin itu akan memakan banyak waktu, dan mungkin juga selama proses itu dia akan tahu siapa kamu Arya” jelas Tomy yang membuat Ari mengernyitkan dahinya.


“bukannya rapat pemegang saham itu yang akan menentukan posisi Arya nanti?” tanya Ari dengan heran pada Tomy.


“aku juga berpikir begitu Ri, tapi sepertinya mereka punya rencana lain” jelas Tomy.


‘ini tidak akan selesai dalam waktu cepat Tom, tuan Indra akan kita kenalkan ke depan publik menjelang ulang tahu group Adinata, saat ulang tahun nanti, tuan Indra akan kita kasih kesempatan berpidato sebagai pewaris dan pemilik perusahaan, ini akan membuat namanya melambung di mata publik, dengan begitu kekuatannya akan semakin besar, dan kekuatan musuh akan semakin mengecil’ ucap Haris pada Tomy saat menjelaskan rencananya bersama pak Abdul, pak Budi dan pak Ilham pada pertemuan mereka kemarin.


Tomy menarik nafas panjang “kita ikuti saja permainan mereka Ri, aku rasa mereka sudah merencanakannya dengan matang”.


“aku nggak mau, aku nggak suka ngikuitn alur main orang lain, dan juga masalah Anjani, dia bertunangan dengan laki-laki itu, apa itu berarti dia juga musuh kita disini?” tanya Ari.


“dia nggak tahu apa-apa masalah ini Ri, dia hanya jadi alat permainan ayahnya” jelas Arya yang membuat Rita, Ari, dan Tomy menarik nafas panjang tak percaya.


“dia itu orang cerdas lo Arya, lulusan Amerika dan juga sudah berpengalaman kerja disana, apa kamu pikir dia akan semudah itu diperalat oleh kepentingan ayahnya” ucap Ari yang tidak percaya pada ucapan Arya.


“tapi itu kenyataannya Ri, lo kan udah pernah bertemu dan bicara dengannya, seharusnya lo udah tahu sejauh mana kemampuannya, sebaiknya jangan terlalu dekat dulu dengan dia, posisi ayahnya di pihak mereka dan posisi dia masih abu-abu” ucap Arya membalas ucapan Ari.

__ADS_1


Ari mengusap kasar wajahnya mendengae itu semua. ‘pantas saja Arya ingin membatalkan kontrak hotel Anjani waktu itu’ batinnya.


“jagi gimana?, kita ikutin alur mereka atau kita tentuin jalan kita sendiri?” tanya Arya yang kembali fokus pada pembahasan mereka.


“posisi Arya tidak menguntungkan jika kita memaksa menunjukkan jati dirinya menjelang rapat itu yang sekitar 10 hari lagi, dan juga nanti malam pertunangan Anjani, semua mata akan tertuju pada keluarga musuh kita, om Haris bilang kita butuh momen yang tepat untuk memunculkan Arya agar ia mendapat kekuatan yang besar dari pemegang saham, dan momen yang tepat adalah saat ulang tahun Adinata group, mereka sudah siapkan strategi untuk itu, sekarang bukan momennya untuk Arya, tapi momen bagi musuh kita untuk unjung gigi” jelas Tomy lagi.


Ari kemudian bangkit dari duduknya dengan wajah datar, “gue nggak suka ikut alur orang lain, Ta tolong atur jadwalku dengan orang itu, kamu bisa hubungi sekretarisku untuk mengaturnya, kalau bisa dalam 3 hari ini, aku juga harus set up jadwal survey projek kita di daerah” ucap Ari yang kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.


Setelah Ari keluar dari ruangan itu Tomy kemudian melihat ke arah Arya yang tampak berpikir panjang. “kamu dipukul sama laki-laki itu Arya?” tanya Tomy dengan singkat. Arya menatap Tomy dengan heran, ia bingung kenapa Tomy tahu masalah itu, begitu pun dengn Rita yang juga bingung mendengar ucapan Tomy.


“kamu tahu darimana?”


“om Haris, dia bilang begitu” jawab Tomy.


“untung kamu nggak bilang di depan Ari, emosi dia akan naik jika tahu masalah itu, masalah penusukan kamu aja masih mendendam dihatinya, apa lagi tahu masalah ini”


Tomy tersenyum mendengar ucapan Arya, Ari dari dulu memang selalu seperti itu, melindungi teman -temannya dengan semua kekuatan yang ia miliki. “kalau dia tahu, yang jadi korban istrimu Arya, usahakan saja agar masalah ini tidak melibatkan Mila, bisa jadi runyam nanti jika masalah perasaan ikut terlibat” ucap Tomy.


“ngomong-ngomong, Ari belum menyuruh orangnya untuk menjagamu?” tanya Tomy.


“kayaknya belum Tom, projek di daerah masih banyak, apa lagi belakangan ini jumlah klien juga meningkat, tapi kamu tenang saja, Ari pasti udah punya planning lain untuk itu” jelas Arya.


Arya kemudian melihat ke arah meja kerjanya, kertas A3 masih terbuka lebar disana, pekerjaannya juga harus ia kejar sesuai deadline klien, belum lagi klien yang kadang suka nggak sabaran menunggu deadlinenya.


“Ta, kamu susun jadwal rapat nanti siang ya, aku harus bagi-bagi kerja lagi buat ngejar deadline klien kita” ucap Arya pada Rita.

__ADS_1


__ADS_2