Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Tidak Mau Menyakiti


__ADS_3

“ini apa Mil?” tanya Arya sembari menghentikan kerjanya dan mengambil kertas yang diberikan Mila untuk dibacanya, ia kemudian menyipitkan matanya membaca surat itu dan melihat ke arah Mila.


“surat peringatan?” tanyanya dengan bingung.


“iya Arya, banyak wali murid yang tidak nyaman jika anak mereka belajar denganku” ucap Mila dengan nada pelannya.


Arya kemudian membaca lagi surat peringatan itu dan mencoba mencerna apa yang terjadi disana, dia kemudian menatap ke arah Mila.


“emang kamu sejak kapan pakai cadar,?, kenapa baru mendapat surat peringatannya sekarang?” tanya Arya dengan penuh selidik pada Mila


Nafas Mila tercekat seketika, wajahnya memias, dan bibirnya memucat, perasaan takut itu kembali merasuki hatinya lebih dalam,


“ituuu, akuu,,,” ucapnya tergugup, Mila sejenak menelan salivanya dan menarik nafas panjang untuk memberikan keberanian pada dirinya untuk menjawab pertanyaan Arya. Ia kemudian mengambil surat itu dari tangan Arya dan meletakkannya di atas meja, kemudian ia mengenggam tangan Arya dengan erat.


“kamu sudah janji akan menggenggam tanganku dengan erat kan Arya?” tanya Mila dengan berusaha menenangkan dadanya yang terasa sesak dan jantungnya yang berdetak kencang.


Arya kemudian membalas genggaman Mila dengan erat dan menatap dalam manik mata Mila, “dan sekarang aku sedang melakukannya” ucap Arya dengan pelan.


“cadar ini,,,,,,” ucap Mila yang sejenak terhenti, tanpa ia sadari satu tetes air matanya lolos dari pelupuk mata kirinya.


“cadar ini aku pakai untuk membatalkan pernikahan kita dulu” ucap Mila dengan terisak tak tahan dengan perasaan sedih bersalahnya itu. Arya sejenak menarik nafas dalam mendengar itu semua.


“maaf Arya, aku kembali mengecewakanmu, aku memakai ini hanya agar kamu menolakku dulu, kata bang Arnes kamu pasti menolakku karena cadar ini, karena saat ini masalah cadar sangat dekat dengan isu teroris” jelas Mila yang berusaha menahan air matanya agar tak jatuh lagi.


Arya kemudian bangkit dan memeluk Mila dengan erat untuk mengurangi kesedihan istrinya itu, ia juga dapat mengerti bahwa butuh keberanian besar bagi Mila untuk berbicara sejujur itu kepadanya, “apa ada hal lagi yang ingin kamu jelaskan padaku?” tanya Arya dengan pelan,


“kesepakatan itu juga permintaan bang Arnes Arya, agar kamu segera menceraikanku karena kamu tidak mendapatkan hakmu sebagai suamiku” ucap Mila menumpahkan semua kesedihannya dengan memeluk erat suaminya itu, dan Arya kembali menghirup nafas panjang mendengar itu semua, darahnya seakan sedang naik ke ubun-ubun menahan amarahnya, ia benar-benar merasa murka mendengar betapa liciknya laki-laki itu untuk merebut Mila darinya.

__ADS_1


Arya sejenak mengusap bahu Mila yang sedang dipeluknya, ‘sepertinya dia lawan yang cukup berat bagiku untuk mempertahankan Mila’ batin Arya.


“apa ada lagi Mil?” tanya Arya lagi, “maaf Arya,, semua nafkah yang kamu berikan tidak pernah aku gunakan, karena aku ingin mengembalikannya kepadamu setelah kita bercerai” jelas Mila lagi yang semakin menumpahkan semua kesedihannya di pelukkan Arya.


“kalau itu aku tahu Mil” jawab Arya pelan.


“maksudmu?” tanya Mila sedikit mengangkat kepalanya dan melihat manik mata Arya yang tampak lembut memandangnya.


“aku setiap hari kerja di meja ini, apa kamu pikir aku tidak pernah membuka laci meja ini?” ucap Arya dengan mengusap air mata di pipi istrinya itu. Mila menelan salivanya, rautnya wajah meringis menahan rasa bersalahnya.


“apa kamu marah Arya?” tanyanya dengan nada lemah.


“waktu di bukit aku pernah bilang sama kamu kalau aku tidak berhak menghakimi hidupmu sebelum mengenalku, aku tidak akan marah atas apa yang kamu lakukan itu, tapi aku akan marah jika kamu melakukannya lagi setelah ini” jawab Arya yang menatap dalam mata istrinya dengan mengelus lembut pipi Mila yang terus basah karena air mata bersalahnya.


Mila mengangkat tangannya dan mengelus lembut juga pipi Arya, “kenapa kamu memiliki hati seperti ini Arya?, kenapa Tuhan memberimu hati seperti ini?, aku benar-benar berdosa karena telah menyakiti hati selembut ini” ucap Mila yang masih belum bisa menghentikan air matanya.


“benarkah, aku juga tidak tahu Mil, sepertinya sekarang aku jauh lebih tenang ketimbang sebelum berangkat ke Sulawesi,” jawab Arya dengan tersenyum pada Mila.


Arya tersenyum pada Mila, ia sudah terlalu lelah rasanya terus mengikat janji-janji seperti itu, “kenapa kamu terus mengulang hal-hal seperti ini Mil, aku sudah mengatakan ini tadi pagi kepadamu” ucap Arya lagi.


“tapi aku ingin medengarnya lagi” jawab Mila dengan masih menatap dalam mata Arya sembari tersenyum pada sikap Arya kepadanya.


“aku janji kita akan bersama sampai ke surga, sekarang mari kita pikirkan masalah malaikat kecil untuk kakekmu” ucap Arya dengan senyum tipis pada Mila.


“malaikat kecil untuk kakek?” ucap Mila dengan heran.


“Mil, kamu tidak sadar telah membangkitkan hasratku sekarang” jawab arya dengan polos.

__ADS_1


Mila menelan salivanya lagi, dan sadar bahwa tubuhnya menempel pada tubuh Arya walaupun mereka tidak saling berpelukan lagi, Mila segera menjauh dari tubuh Arya dan memalingkan wajahnya karena malu.


“kamu selalu saja berkata mesum kepadaku, tapi kamu malah menuduh aku yang mesum kepadamu, kamu juga sering berkata ingin menyentuhku tapi sampai sekarang kamu tidak melakukannya” ucap Mila dengan nada datar melawan rasa malunya mengatakan itu semua, tapi ia juga ingin tahu alasan Arya tidak menyentuhnya walaupun hubungan mereka sudah membaik dan mereka sudah tidur seranjang.


“apa itu artinya kamu ingin aku melakukannya untukmu?” ucap Arya yang kembali menggoda Mila.


“kamu tidak menjawab pertanyaanku, tapi malah terus menggodaku seperti ini” ucap Mila dengan kesal dan segera menuju ranjangnya.


Arya tersenyum melihat tingkah Mila, ia kemudian mematikan laptopnya dan menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai itu dan segera menyusul Mila yang berbaring membelakanginya di ranjang.


“Mil, apa kamu sudah siap melakukannya untukku?” tanya Arya dengan pelan dengan memperhatikan punggung Mila. Mila sejenak menelan salivanya, tiba-tiba saja jantungnya berdetak cepat mendengar pertanyaan Arya.


“Apa kamu menginginkannya sekarang?” tanya Mila dengan pelan sembari memegang dadanya yang terasa tak karuan.


“jika kamu belum mau, aku tidak akan memaksamu” ucap Arya dengan pelan.


“kenapa kamu tidak mau memaksaku?, bukankah laki-laki tidak bisa menahan hasratnya itu” jawab Mila sembari memutar badan dan menatap mata Arya penuh selidik.


“aku sudah biasa menahannya dari dulu, kamu pikir aku hanya tergoda melihatmu saja” ucap Arya dengan singkat.


“maksudmu, banyak perempuan lain yang membuatmu tergoda untuk menyentuh mereka”


“kamu tahu sendirikan seperti apa perempuan berpakaian di luar sana, aku sudah biasa menahannya agar jauh dari dosa itu, gini-gini aku lebih ingin surga di akhirat daripada surga dunia loh Mil,” ucap Arya lagi.


“tapi kamu benar-benar menggodaku sejak aku melihatmu ketika pulang dari mendaki itu Mil, aku benar-benar tak percaya masih bisa menahan ini sampai sekarang” lanjut Arya dengan penuh arti pada Mila.


“lalu kenapa kamu tidak melakukannya jika kamu memang sudah tergoda oleh tubuhku?” tanya Mila masih penuh selidik.

__ADS_1


“aku tidak mau menyakiti hatimu Mil, kamu pasti ingin memberikannya pada orang yang kamu cintai” jawab Arya lagi yang membuat sesuatu kembali menusuk hati Mila, entah mengapa dosa itu masih memberinya rasa bersalah seperti itu, ‘dia menahan haknya yang seharusnya ia dapat dariku hanya untuk menjaga perasaanku, ya Tuhan, aku tidak tahu lagi seperti apa dia sebenarnya, aku benar-benar tidak tahu seluas apa hatinya itu’ batin Mila dengan mata berkaca-kaca menatap Arya.


“jika kamu belum mau melakukannya untukku, aku tidak akan memaksamu Mil” ucap Arya sembari membaringkan tubuhnya membelakangi Mila.


__ADS_2