Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Baru Sebatas Perjodohan


__ADS_3

Sebuah mobil mewah memasuki area gedung perkantoran milik Hardi corp. Satpam di depan gedung langsung memberi hormat dan membuka palang pintu tanpa bertanya maksud kedatangan 2 mobil mewah itu.


Mobil mewah itu melaju kencang menuju depan Loby perusahaan besar itu, semua orang yang berdiri disana langsung menghentikan langkah mereka dan memberikan hormat pada 2 orang paruh baya yang turun dari mobil mewah itu.


2 laki-laki paruh baya itu langsung masuk menuju loby hotel diikuti 4 pengawal mereka dan setiap orang yang mereka temui memberi hormat kepada laki-laki paruh baya itu, karena mereka tahu, setiap direksi dari perusahaan laki-laki itu berasal sama harus dihormati seperti mereka menghormati pimpinan perusahaan mereka.


Anjani yang baru datang ke kantor dan sedang berada di loby sejenak melihat 6 orang yang memasuki lobi kantornya itu, dan kemudian ia langsung berjalan menghadang langkah laki-laki paruh baya itu, ia kemudian memberi hormat kepada laki-laki itu dan tersenyum ramah kepadanya. “pagi om, apa om ingin bertemu dengan ayah saya?” tanya Anjani dengan ramah, ia adalah calon pemimpin untuk perusahaan itu, sudah selayaknya ia menunjukkan diri pada siapa pun utusan dari perusahaan besar seperti Adinata group yang datang ke kantornya untuk memberikan pengaruh dirinya di dunia bisnis sebagai pengganti ayahnya.


“apa kamu putri Hardi yang baru pulang dari Amerika itu?” tanya Rahman dengan nada ramahnya pada Anjani.


“iya om, saya Anjani, putrinya ayah Hardi” jawab Anjani Ramah dengan mengangkat tangannya kepada Rahman.


“Saya Rahman, salah satu direksi dari Adinata group, senang bertemu denganmu Anjani, apa ayahmu sekarang ada di ruangannya?”


“aku senang juga bertemu dengan om hari ini, ayahku sudah ada di ruangannya, dia sedang mempersiapkan rapat penting hari ini” jelas Anjani pada Rahman.


“ok, terima kasih Anjani, saya ada keperluan penting dengan ayahmu, saya harus segera bertemu ayahmu sekarang” jawab Rahman sembari meninggalkan Anjani menuju pintu lift karena ia sudah tahu dimana ruangan Hardi berada, sementara Anjani tersenyum sinis melihat kepergian Rahman, ‘sepertinya tidak akan mudah menggantikan posisi ayah’ batinnya.


Anjani segera menuju lift yang ada disebelah lift yang digunakan Rahman, ia ingin segera menyusul Rahman ke ruangan ayahnya, sementara kegiatan di Loby itu telah kembali normal setelah Rahman dan Anjani masuk ke dalam lift.


Rahman langsung menuju pintu ruangan Hardi, dengan sedikit perbincangan dengan sekretaris Hardi, Sekretaris Hardi itu langsung membuka pintu dan mempersilahkan Rahman masuk, sementara Anjani hanya bisa bergedik kesal, ia tahu bahwa ia tidak akan bisa masuk ke ruangan ayahnya setelah melihat 4 pengawal Rahman berdiri di depan pintu ruangan ayahnya, memastikan tidak ada yang masuk dan mendengar selama percakapan Rahman di dalam.

__ADS_1


Hardi melihat sinis pada Rahman yang memasuki ruangannya, ia kemudian berdiri untuk menghormati dua orang itu dan meninggalkan sejenak dokumen yang akan ia bahas di rapat dewan direksi perusahaannya hari itu.


"Rahman,,,, sudah lama rasanya kita tidak bertemu berdua seperti ini, ayo silahkan duduk” ucap Hardi sembari mempersilahkan Rahman duduk di sofanya.


Rahman tersenyum sinis pada Hardi dan kemudian ia bersama laki-laki paruh baya yang merupakan asisten pribadinya itu duduk di sofa Hardi tanpa bersuara.


“jadi ada perlu apa kamu kesini?” tanya Hardi dengan nada santai sembari duduk di sofanya yang berseberangan dengan posisi Rahman duduk.


“bukankah kamu sudah tahu maksud kedatanganku kesini Hardi” ucap Rahman tidak kalah santai.


“apa itu berarti desas desus itu benar adanya?, apa kamu ingin menjatuhkan Aliando sekarang, dan kamu ingin aku ada di pihakmu?” tanya Hardi masih dengan nada santainya.


“aku ingin kamu tetap ada di posisimu sekarang menjadi musuhku dalam pertarungan ini” jawab Rahman yang merubah suaranya menjadi nada sinis.


“apa kamu tidak tahu alasan dibalik peperangan ini?, alasan di balik beberapa dewan komisaris ingin melakukan rapat pemegang saham,” ucap Rahman bertanya balik pada Hardi,


“Apa anak Gibran masih hidup dan kamu sudah menemukannya, kalian ingin segera mengembalikannya sekarang dengan rapat pemegang saham, apa karena dia akan menjadi pemegang saham terbesar sehingga kamu tidak membutuhkan dukunganku?” lanjut Hardi yang benar-benar penasaran saat itu.


“Hardi,,,Hardi, apa kamu tidak tahu gejolak apa yang terjadi di Adinata group atas ulahmu itu?”,


“apa maksudmu Rahman?, ulahku apa maksudmu?” tanya Hardi mulai merasa tak nyaman dengan percakapan itu.

__ADS_1


“perjodohan anakmu itu sudah membuat gejolak besar di perusahaan, apa kamu tidak sadar sama sekali?, atau kamu sedang memainkan peranmu sekarang di depanku” ucap Rahman pelan dan penuh penekanan sembari menatap tajam pada Hardi.


Sementara Hardi menelan salivanya mendengar itu semua, ia tidak menyangka Rahman sudah mengetahui rencana perjodohan itu, padahal ia sendiri belum memutuskan sikapnya untuk menerima atau menolak tawaran Aliando itu. “ini baru perjodohan Rahman, aku masih belum memikirkan ini semua akan berlanjut pada pertunangan dan pernikahan” jawab Hardi yang mulai merasa tidak senang dengan ucapan Rahman, ia masih menimbang langkah catur yang sedang ia ambil, untuk itu ia mengatakan kepada Anjani tidak akan memaksa anak satu-satunya itu untuk menerima perjodohan itu.


“Apa itu berarti kamu mengambil langkah yang ragu-ragu?, tapi sepertinya sekarang kamu sudah masuk ke lubang keraguanmu itu sendiri, semua pemilik saham di Jakarta sudah tahu itu semua, bukankah mereka juga memiliki saham di perusahaanmu ini” Ucap Rahman tertawa sinis pada Hardi.


Sementara Hardi kembali menelan salivanya untuk itu semua, ia paham sedang berhadapan dengan siapa sekarang.


Pertarungan dengan orang-orang yang setia dengan Gibran bukanlah pertarungan yang mudah, ia sadar bawah orang-orang yang setia dengan Gibran adalah orang-orang pintar dan cerdas yang telah ia lihat kinerjanya sejak Adinata group berdiri dan menjadi besar seperti sekarang.


“Apa kamu sudah mengatakan hal yang tak pasti ini pada mereka semua?” tanya Hardi menahan rasa marahnya, perjodohan yang sedang ia pertimbangkan itu tak bisa dibatalkan lagi, karena ini pastikan akan berpengaruh pada martabat dan kehormatan dirinya dimata pemegang saham, pemegang saham pasti akan menilai buruk dirinya jika membatalkan perjodohan dengan anak CEO Adinata group.


“Kamu adalah orang pertama yang harus aku buang dari sisi kami, selama ini kami masih merasa kamu berada di pihak kami, tapi ternyata kami salah, sejak kamu menjual saham tuan Gibran di perusahaanmu, kami sudah tahu kamu hanyalah manusia bermuka dua yang tidak bisa kami percaya, dan sekarang kami harus memaksamu menjadi teman Aliando atas kesalahanmu sendiri, aku sengaja menyebarkan informasi itu agar kamu tetap berada di sisi Aliando hingga kehancurannya” jelas Rahman lagi yang kali ini membuat Hardi kesulitan menelan salivanya.


“aku benar-benar telah meremehkan kalian dengan rencana ini, ini baru sebatas perjodohan, tak seharusnya kamu menyebar info yang tak pasti seperti ini kepada para pemegang saham” jelas Hardi yang tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Rahman.


“sekarang aku ingin lihat seberapa beraninya dirimu untuk bertarung dengan kami, apa kamu akan segera melaksanakan pertunangan itu sebelum rapat pemegang saham atau sesudahnya, apa pun yang kamu lakukan, tidak akan berpengaruh dengan posisi kami” jelas Rahman sejenak menghentikan kalimatnya. Ia menatap tajam mata Hardi yang sedang menahan marah kepadanya.


“tapi yang jelas anak Aliando tidak akan pernah menjadi CEO, dan anakmu tidak akan pernah mendapatkan kepercayaan para pemegang saham seperti yang kau harapkan, niatmu sudah ku baca, aku kira kamu ingin mendapatkan Adinata group ke tanganmu ternyata tidak, aku sudah bertemu dengan anakmu tadi, dan aku tahu dia bukan pebisnis seperti dirimu” Jelas Rahman yang kemudian berdiri, ia kemudian tersenyum sinis pada Hardi,


"aku rasa aku sudah memberi tahumu jalan yang harus kamu pilih sekarang, jangan salahkan kami atas ini semua, karena kamu sendiri yang memulainya terlebih dahulu” ungkap Rahman sebelum meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Hardi memukul keras meja kaca sofanya itu hingga retak, ia merasa telah melakukan sebuah kesalahan, keraguannya diawal pembahasan perjodohan itu membuatnya berada pada posisi yang tak aman sekarang.


Rahman sudah mengetahui apa yang ia inginkan dari perjodohan itu, dan sekarang ia seperti melangkah pada jalan yang salah, ‘sial, dia benar-benar tidak bisa ku duga, sekarang aku benar-benar tidak dapat mengelak lagi untuk menjodohkan Anjani dengan anak Aliando dan memastikan anak itu jadi CEO Adinata, atau kalau tidak, Anjani akan membawa perusahaan ini pada kehancuran’ batinnya mengeram marah.


__ADS_2