
“ayah,, ibu,,,” Indra keluar dari dalam lemari tempat ia bersembunyi, ia kemudian berlari ke arah ibunya yang telah bersimbah darah ia mengusap wajah ibunya yang memucat, dan tangisannya tidak mampu lagi dibendungnya, tidak jauh dari sana ia melihat sang ayah yang juga bersimbah darah dengan pistol di tangan kanan ayahnya itu.
Indra bangkit untuk melihat ayahnya, namun tangannya di tahan oleh Naina yang sedang sekarat dengan nafas yang hampir habis, Indra melihat ke arah ibunya yang masih hidup dan segera memeluk ibunya dengan erat.
“la,,,,ri,,,,la,,,,ri” ucap Naina tak bisa lagi mengeluarkan suaranya, ia hanya mampu menggerakkan bibirnya secara perlahan, Indra terisak menahan tangis melihat kondisi ibunya, “ibu,,,,” ucap Indra terisak tak bersuara.
“la,,,,ri” ucap Naina lagi di antara penggalan nafasnya yang hampir habis, Naina pun menutup matanya didalam pelukkan Indra,
“ibu,,,ibuuu,,,ibuuuuu” teriak Indra masih memeluk tubuh ibunya yang mulai terasa dingin, teriakan itu juga menjadi teriakan Arya yang keras dalam tidur siangnya itu.
Mila membuka matanya dan terbangun dari tidur siangnya karena suara Arya, ia segera bangkit mendengar suara Arya yang terus berteriak histeris memanggil ibu, kemeja yang Arya pakai tampak basah karena keringatnya, dahinya tak henti mengeluarkan bulir-bulir keringat, “ibu,,,,ibu,,”teriak Arya lagi dengan histeris yang membuat Mila langsung menangis seketika.
“Arya bangun,, bangun Arya” ucap Mila dengan nada sesak tak kuasa mendengar suara histeris Arya, ia mengoyangkan bahu Arya berkali-kali agar suaminya itu terbangun.
“Arya bangun,,, aku mohon” ucap Mila lagi dengan suara yang lebih keras dengan masih menggoyang-goyangkan bahu Arya dengan keras. “ibu,,,” teriak Arya sembari membuka matanya, ia melihat langit-langit kamar yang masih baru itu untuknya, Ia kemudian bangkit dan melihat sekitaran kamar itu dengan nafas masih tersengal-sengal, Mila langsung memeluk Arya dan menangis di dada suaminya itu, ia benar-benar takut mendengar suara histeris Arya yang seperti orang menjerit ketakutan itu.
Arya sejenak memejamkan matanya saat kesadarannya sudah kembali sempurna, ia kemudian memeluk Mila dan melepaskan semua rasa takutnya di dalam pelukkannya pada Mila. Arya dapat mendengar suara isakan Mila ketika kepalanya bersandar di bahu kecil istrinya itu.
“kamu menangis Mil?” tanya Arya pelan.
“Kamu kenapa Arya?, aku benar-benar takut jika terjadi sesuatu kepadamu tadi” ucap Mila dengan nada pelan.
“nggak apa-apa kok Mil, ini sudah sering terjadi kepadaku” jawab Arya dengan masih bernada pelan.
Mila mengeratkan pelukkannya kepada Arya, “apa kamu masih belum mau cerita tentang apa yang terjadi pada ibumu?” tanya Mila.
__ADS_1
“Mil, semuanya telah terkubur lama, semuanya hanya akan tetap menjadi mimpi burukku seperi ini” jawab Arya singkat, ia kemudian melepaskan pelukkannya pada Mila, sementara Mila masih memeluk erat dirinya.
“Mil, bisa kamu melepaskanku sekarang, aku harus mandi dulu, sholat, dan setelah itu aku harus ke rumah sakit menemani Tomy” ucap Arya pada Mila.
Mila kemudian dengan berat hati melepaskan pelukkannya pada Arya, “aku boleh ikut melihat Tomy Arya?” tanyanya pelan ketika Arya berdiri dari ranjang mereka.
“aku mau menginap lagi di rumah sakit Mil, nanti kamu pulang sama siapa?” ucap Arya sembari melepas kancing lengan bajunya.
“aku bisa pulang sendiri, atau kita juga bisa mengajak kak Vanessa, mungkin nanti kami bisa menjenguk kakek juga sekalian” jawab Mila dengan masih memperhatikan wajah Arya.
Arya sejenak berpikir, kemudian dia mengangguk pelan, “ya sudah, nanti setelah aku mandi, kamu langusng mandi juga ya” ujar Arya sembari pergi masuk ke kamar mandi.
Mila menarik nafas dalam melihat Arya yang melangkah ke kamar mandi, ia kemudian menurunkan kakinya ke lantai, dan pandangannya tertuju pada jas dan dasi Arya yang berada di lantai tepat di depan lemarinya.
'dasar, dia kan yang mesum sama aku, dia menciumku duluan tadi, dia juga tidak sempat merapikan jas dan dasi untuk tidur memelukku, tapi malah aku yang di tuduh mesum’ gerutu Mila pada Arya.
*
Arya, Mila dan Vanessa sudah ada di dalam mobil Vanessa untuk pergi ke rumah sakit, Vanessa yang duduk sendirian di kursi belakang menatap panjang ke gedung- gedung di tepi jalan sembari memegang sebuah rantang, saat itu ia dapat merasakan perasaan lega karena hubungan Mila dan Arya terlihat sudah mulai membaik.
“kakak senang melihat kalian seperti ini” ujar Vanessa tanpa mengalihkan pandangannya dari gedung-gedung itu.
Mila kemudian melihat ke arah Arya yang sedang menyetir mobil setelah mendengar ucapan Vanessa. “kak, suamiku ini selalu menuduh aku mesum kepadanya, padahal tadi dia mesum duluan kepadaku” ucap Mila dengan nada kesal menatap mata Arya yang sedang fokus menyetir.
“benarkah?, bukankah kamu yang dari dulu selalu duluan mesum kepadaku” jawab Arya tanpa memandang istrinya itu. Vanessa kemudian mengalihkan pandangannya pada Mila.
__ADS_1
“nggak kok, kamu lupa tadi ngelakuin apa sama aku” ucap Mila membuang muka dari Arya.
“benarkah, apa kamu menginginkan yang lebih dari itu, kalau begitu aku bakalan tidur di rumah nanti malam, Tomy bisa tidur sendiri di rumah sakit” ucap Arya dengan nadanya yang sedikit licik.
Sementara Mila langsung menelan salivanya mendengar itu, hatinya menginginkan sentuhan yang lebih dari Arya, ia ingin menjadi istri Arya seutuhnya, ia ingin memiliki Arya seutuhnya sebagai suaminya, tapi entah mengapa ia begitu takut menghadapi hal-hal seperti itu.
“Tomy bakalan kesepian jika kamu tidur di rumah nanti malam” ucap Mila mencoba mengelak dari ucapan Arya.
“benarkah, kalau aku tidur di rumah sakit, istriku yang bakalan kesepian nanti” ucap Arya masih berusaha menggoda Mila, entah mengapa hal itu seperti membawa kesenangan tersendiri bagi dirinya.
“aku sudah biasa tidur sendiri kok” balas Mila masih berusaha mengelak, awalnya ia ingin membalas tuduhan mesum Arya kepadanya di depan Vanessa, tapi malah ia yang terpojok sekarang.
“Tomy juga biasa tidur sendiri, kamu nggak lagi menolak suamimu kan?” ucap Arya yang membuat Mila kesulitan menelan salivanya, ia kemudian menatap panjang ke arah Arya.
"Aryaaaa” ucapnya berteriak mencoba lari dari posisinya yang terpojok itu.
“kalian ini kenapa bahas masalah gituan di depan kakak sih” ucap Vanessa yang menghentikan perdebatan Arya dan Mila, mereka kembali tersadar bahwa ada Vanessa di dalam mobil itu. suami istri itu sama-sama menelan salivanya karena malu percakapan mereka itu didengar oleh Vanessa.
“kakak masak apa buat Tomy?” tanya Arya pada Vanessa untuk mengalihkan pembicaraan mereka, sementara Mila menatap kosong ke arah jalanan, percakapannya dengan Arya tadi seolah menjadi beban baginya, ia teringat akan keinginan kakeknya yang ingin menggendong anaknya dan Arya, dan juga percakapannya dengan Syifa bahwa ia harus memberitahu dulu rekan kerjanya di sekolah bahwa ia sudah menikah, agar tidak ada fitnah jika nanti ia benar-benar hamil.
“seperti katamu tadi, makanan kesukaan Tomy, ayam kecap” jawab Vanessa pelan.
"kakak nggak bawa makanan untuk kakek juga?” tanya Arya penasaran, karena seingatnya Mila mengatakan ingin mengunjungi kakeknya nanti setelah melihat Tomy.
“nggak dek, kita besok aja ke menjenguk kakek, sekalian dengan kamu, kakek pasti juga ingin bertemu denganmu” jawab Vanessa.
__ADS_1
Arya sejenak melihat ke arah Mila, istrinya yang memakai cadar cream itu masih memandang jalanan dengan tatapan kosong, sejenak pemikiran Arya teringat pada perusahaan keluarga Mila, rasa takut tiba-tiba ada dihatinya, hasil sayembara Bian corp akan segera keluar, hasil yang akan menjadi akhir bagi perusahaan itu, hasil yang akan menjadi badai pertama bagi hubungannya dengan Mila setelah Mila memilihnya. ‘Mil, semoga hatimu benar-benar sudah memilihku, jika tidak, masalah ini akan berat bagiku untuk menghadapimu’