
Arya masih sibuk dengan segala kerjaannya di meja hias Mila, pekerjaan yang membuat Mila kesal kepada Arya, pekerjaan itu seolah menjadi musuhnya sekarang, hingga suaminya itu mengabaikannya yang hanya bisa bermain ponsel di atas ranjang. “Apa pekerjaanmu masih banyak Arya? kamu benar-benar sudah menduakanku dengan pekerjaan itu” ucap Mila dengan nada kesalnya kepada Arya yang sama sekali tidak melihat kepadanya, padahal ia sudah menatap dalam wajah Arya dari pantulan cermin meja hias itu.
“lumayan Mil, aku harus segera menyelesaikannya, agar kita bisa menemui paman dan bibiku, dan Rita tidak terlalu berat kerjanya jika aku pergi nanti” jawab Arya yang masih asyik mendesain dikertas HVSnya.
“apa meja itu kecil untukmu bekerja?, kita bisa beli meja baru untukmu nanti, aku lihat kamu sering kesulitan bekerja disana” jawab Mila masih melihat Arya sembari menopang dagunya dengan kedua tangannya.
“nggak kok, jika kita menambah meja lagi di kamar ini, kamar ini akan menjadi sempit” jawab Arya dengan masih fokus pada kerjaannya.
“aku ingin bertanya banyak hal sama kamu, tapi kamu masih tetap saja sibuk setiap malam” ucap Mila dengan wajah cemberut.
“bertanya apa? jika aku bisa jawab, maka akan aku jawab”
“banyak, tentang Anjani, tentang kak Rita, tentang sahabatmu, tentang mertuaku, tentang perusahaanmu, tentang Adinata group, ten,,,,”
“Mil itu namanya kamu bukan bertanya, tapi menyuruhku bercerita” potong Arya yang kali ini membalas tatapan Mila di pantulan cermin itu. Mila kemudian tersenyum karena kali ini Arya sudah melihat kepadanya.
“Aku hanya ingin bercerita denganmu, aku bosan sekali melihatmu bekerja di rumah seperti ini, hampir tiap malam kamu selalu seperti ini” ucap Mila pada Arya.
“Aku kan sering pulang cepat dari kantor Mil, sebagai gantinya aku harus bekerja lebih banyak disini, lagi pula aku harus bisa membagi waktuku untukmu, untukmu Tomy juga” jelas Arya dengan kembali melanjutkan kerjanya.
“dan sekarang kamu benar-benar membuatku cemburu pada Tomy” jawab Mila yang kali ini bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah Arya.
"Mil, kamu jangan terlalu dekat dengan Anjani, aku lihat kalian akrab sekali tadi” ucap Arya yang menyadari Mila sudah berdiri disisinya.
“emang kenapa?” tanya Mila sembari menaruh dagunya di bahu Arya yang sedang bekerja. “apa aku harus menjelaskan siapa Anjani kepadamu?” ucap Arya balik bertanya.
“kalau kamu nggak mau menjelaskan, maka jangan larang aku untuk dekat dengannya” jawab Mila dengan santai disana ia dapat mendengar deru nafas Arya yang teratur di telinganya dengan posisi seperti itu.
__ADS_1
“Dia dijodohkan dengan laki-laki itu” jawab Arya singkat yang membuat Mila menelan salivanya seketika.
“bang Arnes maksudmu?” tanya Mila hati-hati, ia tidak ingin nama itu menyakiti hati suaminya lagi.
“bukankah Tomy sudah menjelaskannya kepadamu tentang masalah ini” jawab Arya masih dengan nada santai.
“oke, jangan bicarakan itu lagi, aku tidak mau hati suamiku tersakiti lagi oleh laki-laki itu,” jawab Mila sembari merangkul bahu Arya lainnya, sementara Dagunya masih bertumpu dibahu Arya yang lain. Mila sejenak melihat ke arah cermin dan melihat wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Arya yang masih fokus dengan pekerjaannya.
'apa itu berarti Anjani adalah jaminan bang Arnes untuk menjadi CEO?, apa itu berarti Anjani juga akan membahayakan posisi Arya jika ia tahu semuanya?' batin Mila sejenak memikirkan ucapan Arya.
“Arya,,, kata suami kak Rita, kamu sedikit berubah sejak kita menikah” ucap Mila yang mengalihkan pembicaraan mereka.
“aku rasa juga begitu, apa kamu lihat anak Rita dan bang Harun tadi, keponakanku itu lucukan, kamu inginnya kita punya anak laki atau perempuan dulu?” tanya Arya yang masih fokus dengan kerjanya. Mila kemudian melepaskan dagunya dari bahu Arya dan sekarang duduk di meja hiasnya yang tidak terlalu tinggi itu.
“kamu semangat sekali untuk segera menjadi ayah” ucap Mila dengan masih menatap wajah Arya yang sama sekali tidak bosan ia lihat.
“emang kamu pikir aku ingin punya anak dari siapa kalau bukan darimu, aku terserah rezeki yang diberikan untuk kita saja, mau itu laki atau perempuan, buatku tidak masalah” jawab Mila lagi dengan masih menatap Arya.
“Arya, kapan rencananya kita menemui paman dan bibimu, aku juga ingin belajar masak sama bibi untukmu”
“kata Karina, Tomy bakalan keluar rumah skait dalam waktu 2 hari ini, setelah kondisinya benar-benar pulih, kita langsung menemui bibi dan paman, dan aku juga ingin membawa Tomy ke rumah ini, dia nggak mungkin tidur di kontrakan sendiri”
“disini? di rumah ini?” tanya Mila dengan nada sedikit meninggi.
“iya,, kamar tamu kan kosong, dia bisa menetap sementara dulukan disini?” tanya Arya sembari menatap mata Mila.
“aku benar-benar akan cemburu pada iparku sendiri” ucap Mila dengan nada datarnya yang membuat Arya tersenyum seketika.
__ADS_1
“mungkin dengan Tomy disini, hubungan kamu dan Abel bisa membaik, dan rumah ini juga akan menjadi ramai dengan sikap polos Abel, setidaknya kak Vanessa tidak akan kesepian lagi disini, aku benar-benar kasihan melihat kehidupannya” ucap Arya lagi.
“aku nggak masalah, kamu bisa membicarakannya dulu dengan kak Vanessa, sekarang ceritakan perubahanmu dulu setelah kita menikah” jawab Mila.
"apa kamu lupa dengan sikapmu dulu kepadaku?" tanya Arya dengan santai yang membuat Mila menelan salivanya seketika.
*
Siang itu Arya masih bertarung dengan pekerjaannya, setelah berhari-hari terus bertarung dengan dokumen-dokumen klien setiap pagi, siang, dan malam, akhirnya tumpukan kerjanya sudah jauh berkurang.
Sejenak ia melihat foto ayah dan ibunya serta paman dan bibinya yang sudah dikembalikan Mila beberapa hari ini kepadanya. Ia masih menimbang-nimbang keinginannya untuk kembali ke perusahaan ayahnya, ia masih harus bersabar untuk memutuskan itu semua, karena ia ingin mendapat restu paman dan bibinya yang tentunya juga punya harapan tersendiri atas dirinya setelah membesarkannya. Dan tentu satu hal yang pasti, ia tidak ingin mengecewakan 2 orang yang sangat berjasa dalam hidupnya itu seperti masalah pernikahannya dengan Mila.
Di tengah lamunannya pada 2 foto itu, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dan Ari melangkah masuk dengan langkah gontai sembari menghisap rokoknya. Kedatangan Ari membuat Arya segera menyimpan foto 2 foto itu.
“lo kebiasaan ya Ri, kalau masuk nggak ketuk pintu dulu” ucap Arya dengan kesal.
“lo nggak usah bahas masalah seperti itu lagi, nggak akan ngaruh buat gue” jawab Ari dengan santai. Sementara Arya mengabaikan kalimat Ari itu dan kembali fokus dengan kerjanya.
“gue sebenarnya mau senang-senang dengan lo kesini, tapi sepertinya ada banyak hal yang ingin gue bicarakan dengan lo daripada sekedar bersenang-senang” ucap Ari sembari menghisap dalam rokoknya.
“sebelum lo mulai bicara lagi, lo matikan dulu rokok lo” ucap Arya dengan santai, dan Ari kemudian segera mematikan rokoknya masih dengan sikap santai.
“kasus Tomy gimana?, dia akan segera keluar dari rumah sakit, dan laki-laki itu masih bebas saja sampai sekarang”
“bukankah Abel juga sudah mengurusnya, tapi dia gagalkan, ayahnya juga nggak mendukung karena kekuasaan ayah laki-laki itu” ucap Arya dengan kembali fokus pada kerjaannya.
“lo mau biarkan masalah Tomy kayak gini aja, kalau gue mah ogah,” ucap Ari dengan kesal karena respon Arya seperti yang tidak ia harapkan.
__ADS_1
“gue lagi mikirin cara pembalasan yang jauh lebih besar dari sekedar memasukkannya ke penjara, lagi pula orang sepertinya masuk ke penjara hanya formalitas saja, sehari setelah itu ia sudah jalan-jalan di mall.