
Arya segera turun dari mobilnya, ia bergegas menuju lift di basemant apartemennya. Saat lift terbuka, ia melihat Ari dan dokter Karina disana. Arya melepas nafas kasar, ia memandang penuh selidik kepada dokter Karina, “gimana istriku Karina?” tanyanya dengan panik.
“dia aman kok, nggak usah panik” jawab Ari.
“Mila nggak apa-apa Arya” jawab dokter Karina, “kandungannya juga baik-baik saja, kalau kamu tidak sibuk hari ini, lebih baik kamu menemaninya saja agar dia tidak banyak pikiran saat kamu diluar”
Arya melepas nafas panjang, ia kemudian segera masuk ke dalam lift diikuti Chris, namun Ari memencet tombol agar pintu lift itu tidak tertutup dulu.
“lo menyuruh pengawal Adinata menjaga Mila Arya?”
“iya Ri, lo jangan khawatir, mereka orang yang selama ini menjaga keluarga tante Rena dan paman Haris” jawab Arya, “orang-orang lo juga nggak banyak kan, apa lagi mereka juga harus menjaga perusahaan kita”
Ari melepas nafas panjang, “sorry Arya, keadaan nggak memungkin gue untuk mengirim orang lebih banyak untuk menjaga Mila”
“nggak apa-apa Ri, ngomong-ngomong hubungan kalian udah baikan?” tanya Arya melihat ke arah Ari dan dokter Karina secara bergantian.
Namun mereka berdua hanya diam, Ari melepas tombol yang ia pencet dan kemudian pintu lift tertutup.
“Ayo Karina, kamu harus segera balik ke rumah sakit” gumam Ari dengan datar.
Dokter Karina diam dan menuruti, ada perasaan yang hilang saat ia dan Ari tidak lagi memiliki ikatan itu. ‘tak seharusnya aku berpacaran dulu sama dia, sekarang aku merasakan akibatnya’ dokter Karina menyesali perasaannya sendiri.
Arya segera menuju pintu apartemennya, disana ia melihat pengawal Adinata group sedang berdiri berjaga, ia segera mendekat. Pengawal Adinata group yang berjumlah 10 orang itu memberi hormat kepadanya. Arya masuk ke dalam, saat ia melepas sepatu, ia melihat ada high heels perempuan disana.
Arya menatap heran sepatu itu, ‘apa Abel?’ pikirnya, Arya kemudian menggeleng, selama ia mengenal Abel, gadis itu selalu memakai sepatu kets, Sementara Mila dan Vanessa tidak membawa high heels sama sekali saat mereka pindah kesana.
Arya bergegas masuk ke kamarnya dengan mengucapkan salam. Matanya melihat heran ke arah Anjani yang tengah memeluk Mila. “Anjani” gumamnya.
Anjani melihat santai ke arah Arya dan melepaskan pelukkannya pada Mila, “kamu ini, jelas-jelas sahabatku lagi hamil, kamu malah tidak menjaganya dengan baik” ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
'ini anak kenapa?’ batin Arya.
“aku ada rapat dewan direksi tadi” jawab Arya dengan singkat, ia kemudian segera duduk di lantai dengan posisi di samping Mila. Tangannya segera meraih tangan Mila dan menggenggamnya
“apa rapatmu itu lebih penting dari Mila?” lanjut Anjani memarahi Arya.
Arya melepas nafas kasar, walaupun itu masalah pekerjaan dan perusahaan, tetap saja ia memiliki tanggung jawab untuk itu.
“aku nggak mau berdebat Anjani” gumam Arya, ia mengelus pipi Mila yang tampak masih pucat.
“aku nggak apa-apa Arya, jangan khawatir seperti itu” ucap Mila membalas tatapan suaminya yang tampak begitu khawatir.
Arya ingin sekali mengecup kening istrinya, namun kehadiran Anjani membuatnya menahan itu.
Ia kemudian melihat ke arah Anjani, “apa kamu marah kepadaku Anjani?”
“kamu tidak menjaga sahabatku dengan baik, bagaimana mungkin aku tidak marah?”
“bukan itu, tapi atas konferensi pers kemarin” ucap Arya dengan datar.
Anjani menarik nafas panjang, “aku sudah menceritakannya kepada Mila, biar Mila yang jelasin semuanya ke kamu” jawab Anjani dengan datar.
“maaf kalau aku mengecewakanmu”
“nggak Arya, aku juga paham posisimu, kamu pasti selalu khawatir saat ada di dekatku” jawab Anjani.
Anjani melihat tangan Arya yang masih memegang tangan Mila, “sepertinya kalian memerlukan waktu berdua,” Anjani kemudian turun dari ranjang, “aku harus pamit dulu”
Mila dan Arya melihat ke arah Anjani yang berjalan ke arah meja hias, anak itu merapikan pakaiannya di cermin meja hias Mila.
“kenapa kalian berdua melihatku seperti itu?” ucap Anjani yang melihat Arya dan Mila memandangnya melalui pantulan cermin yang cukup besar.
Arya tersenyum, sikap Anjani masih sama dengan dulu. Selalu perhatian, tulus dan bicaranya selalu ketus.
“terima kasih banyak Anjani” gumam Mila.
Anjani menarik nafas kasar, “makasihnya ganti saja dengan desain hotel ketiga ku” ucapnya berbalik badan dan melihat ke arah Arya.
“aku udah kirim dokumen sesuai prosedurnya” lanjut Anjani saat melihat Arya hendak berbicara, Arya menarik nafas panjang.
“Satu lagi, jaga Mila baik-baik, atau aku tidak akan memaafkanmu” lanjut Anjani, ia kemudian pamit dan keluar dari kamar.
Saat pintu telah tertutup, Arya segera naik ke ranjang dan memeluk Mila, ia menghadiahi istrinya itu ciuman bertubi-tubi diwajahnya.
“astaga Arya,, kamu kenapa?” tanya Mila yang merasa risih dengan tingkah Arya.
“kamu nafsu ya” lanjut Mila dengan kesal.
“aku khawatir Mil” gumam Arya, “aku benar-benar takut tadi Mil, untung saja paman Haris kemarin mengirim pengawal Adinata group untuk menjagamu”
“aku nggak apa-apa Arya, jangan khawatirkan aku, aku nggak mau menjadi bebanmu”
Arya menggeleng, “kita sudah pernah membicarakan ini Mil, kamu bukan bebanku, kamu nafasku Mil, tanggung jawabku”
“hari ini aku akan menemanimu disini, biar Rita yang ngirim dokumen kerjaku nanti” lanjut Arya.
Mila melepas nafas panjang. Pekerjaan Arya akan semakin menumpuk jika harus kerja disana. Ia membalas pelukkan Arya untuk memberinya ketenangan.
*
__ADS_1
Ari melangkah gontai menuju ruangannya, perasaannya terasa tak menentu. Ia masih berharap banyak pada dokter Karina, tapi gadis itu seperti tidak berharap apa-apa kepadanya.
Sejak ia memutuskan hubungan mereka, gadis itu tampak biasa dan tidak terpengaruh sama sekali, berbeda dengannya yang sampai detik itu hanya bisa merasakan sakit.
Apalah dayanya, gadis yang cintai tak memiliki perasaan apa-apa untuknya. Melangkah maju pun ia takut, jika itu tidak akan memberikan kebahagian bagi gadis itu, bahkan ia tak sanggup membayangkan dokter Karina hidup dengannya dengan rasa terpaksa.
Gadis itu telah memberi lampu hijau baginya untuk maju, namun ia ragu, apakah cinta untuknya akan tumbuh dihati dokter Karina setelah menikah?.
Ari mengusap kasar rambutnya, 3 tahun berpacaran, cinta itu sama sekali tidak pernah tumbuh di hati dokter Karina. Apakah cinta gadis itu untuk laki-laki lain?, siapa orangnya? selama ini dokter Karina tidak pernah dekat dengan laki-laki lain.
Ari melewati para karyawan yang menyapa dengan wajah datar, ia tak menanggapi sapaan orang-orang yang memberi hormat kepadanya.
Saat ia masuk ke ruangannya, ia melihat Tomy tengah duduk disana, Ia kembali melepas nafas kasar.
“lo disini Tom?” tanyanya dengan lesu.
“gimana Mila?”
“aman, udah diperiksa sama Karina tadi” jawab Ari, ia kemudian duduk di sofa di samping Tomy. Kepalanya ia sandarkan ke sandaran sofa dan matanya ia pejamkan.
“lo kenapa Ri?” Tomy melihat heran wajah lesu Ari.
Ari diam tak menjawab, ia kemudian meminum minuman Tomy yang ada di meja sofanya. “gimana bagian lo?” tanyanya dengan singkat.
“gue, Abel, sama adek Abel udah ngasih keterangan di kantor polisi, mungkin sebentar lagi Arnes akan di periksa dan dipenjara” jawab Tomy dengan datar.
“lo yakin dia bisa dipenjara?”
“tergantung Ri, kemarin polisi menggunakan pasal pengeroyokan, tergantung pengadilan nanti apakah dia ditahan atau enggak,” jawab Tomy.
“kenapa lo nggak laporkan juga dengan kasus pelecehan, kan dia menganggu Abel saat itu”
“iya, tapi dia nggak sempat nyentuh Abel, kalau dia nyentuh, Abel, gue yang bunuh dia, nggak perlu pake pasal pelecehan segala” lanjut Tomy.
Ari melepas nafas panjang mendengar jawaban Tomy, “truss pemegang saham gimana?” tanya Ari lagi.
Tomy sejenak mengusap kasar rambutnya, ia melihat wajah Ari yang masih tampak lesu.
"sebagian ada yang dukung Arya, sebagian lagi ingin melihat situasi jelang rapat pemegang saham itu, waktunya masih 2 bulan lagi” lanjut Tomy.
“mereka pasti sedang menimbang untung rugi” gumam Ari, “mungkin juga mereka masih terpengaruh dengan pertunangan anak Aliando dengan Anjani, tadi Anjani bilang pertunangan itu sudah dibatalkan secara sepihak oleh ayahnya, kalau sudah disebar ke publik, pasti mereka akan mendukung Arya”
"jadi pertunangannya udah dibatalkan" ujar Tomy.
“iya, lo udah gunain dana yang dikasih Arya untuk membeli saham itu” tanya Ari lagi.
“Nanti aja lo gunain uang itu,” ucap Ari, “lagian ini untuk menggoyang posisi Aliando dari luar Adinata group aja, tante Rena dan om Haris menggoyang dari dalam, dengan keadaan seperti ini pemikirannya akan semakin kacau, dan tindakannya semakin gegabah, disaat yang tepat, baru kita terkam mereka” ucap Ari dengan datar.
Ari kemudian melihat ke arah Tomy, “Arbi gimana?” tanyanya.
*
Arbi tengah berjalan santai menuju meja resepsionis Hardi corp, Ia dengan tersenyum bertanya kepada resepsionis yang bertugas disana.
“maaf tuan, apa tuan sudah punya janji dengan tuan Hardi?” tanya resepsionis tersebut kepada Arbi.
“bilang sama tuan Hardi kalau asisten tuan Arya pemilik Adinata group ingin bertemu dengannya sekarang” ucap Arbi dengan santai, matanya memperhatikan seperti apa Lobi perusahaan itu.
Resepsionis itu terdiam, ia mencoba mencerna apa yang dikatakan Arbi, ‘asisten tuan Arya?, pemilik Adinata group?’ Ia kemudian segera menelfon sekretaris Hardi untuk memberi tahu kedatangan Arbi.
Arbi memperhatikan setiap orang yang ada disana, hingga matanya dan mata Anjani yang tengah berjalan menuju lift bertemu.
Arbi tersenyum kepada Anjani, namun gadis itu hanya cuek dan segera mengalihkan pandangan matanya ke arah pintu lift. Arbi menarik nafas kasar.
“silahkan masuk tuan, tuan Hardi menunggu anda di ruangannya, ruangan beliau di lantai,,,,”
“aku tahu” potong Arbi seketika, ia segera berjalan cepat mengejar Anjani agar bisa naik lift yang sama dengan gadis itu.
Sementara resepsionis itu hanya memandang heran melihat tingkah tamunya itu.
Saat pintu lift terbuka, Anjani langsung masuk, dan Arbi bergegas menyusul agar tidak ketinggalan. Mereka berada di lift itu bersama 4 orang lainnya.
Arbi berdiri di samping Anjani dengan sikap dingin, memberi sedikit kesan laki-laki berwibawa dan bijaksana disana.
“Kamu dari 3A Sahabat kan?” tanya Anjani dengan datar.
“iya, ternyata kamu masih ingat denganku” jawab Arbi juga dengan datar.
“tidak, aku tidak ingat, siapa namamu?” tanya Anjani.
Arbi menarik nafas kasar, padahal ia sudah memperkenal dirinya kepada Anjani di ruangan Anjani sendiri.
“Arbi” gumam Arbi dengan singkat.
“ooh, aku baru memasukkan permintaan desainku tadi pagi, kenapa sekarang kamu sudah disini?” tanya Anjani dengan heran.
“aku ingin bertemu ayahmu, ada urusan penting yang harus kami urus”
Anjani melirik Arbi dengan bingung, laki-laki itu masih berdiri tegap dengan wajah dingin.
__ADS_1
Ketika pintu lift terbuka, Anjani kemudian keluar, dan Arbi melepas nafas panjang seketika. “sepertinya ini awal yang kurang bagus” gumamnya dengan pelan.
Arbi melangkah santai ke arah ruangan Hardi, ponselnya berdering, ia membukanya, sang mantan masih juga mengejarnya, ‘ah, sial, gadis ini, udah diputusin masih aja ngebet minta balikan’ kesalnya.
Arbi kemudian mematikannya dan mensilentkan ponselnya. Ia segera meminta izin kepada sekretaris Hardi untuk masuk ke ruangan Hardi.
Hardi melihat datar melihat sosok Arbi yang masuk ke ruangannya dengan langkah santai.
"aku rasa kita pernah bertemu” ucap Hardi melihat wajah Arbi yang tidak asing lagi baginya.
“anda terlalu meremehkan perusahaan kami tuan, saya sudah 3 kali kesini menanda tangani projek hotel anda” ucap Arbi dengan datar.
Hardi melepas nafas panjang, “3A Sahabat ya, ada hubungan apa Arya dengan 3A Sahabat?” tanya Hardi.
“Dia arsitek yang mendesain semua hotel anda” jawab Arbi dengan singkat, Hardi mengernyitkan dahinya, ‘apa Anjani sudah bertemu dengan Indra?’ batinnya.
“apa aku perlu memperkenalkan diri lagi?” tanya Arbi.
“maaf, aku ini pelupa” jawab Hardi dengan singkat, ‘ha sial, anak sama bapak, sama aja’ rutu Arbi di batinnya.
“Arbi, jangan lupa lagi nama saya tuan, atau putri anda akan marah kepada anda” ucap Arbi dengan asal.
“maksudmu?” tanya Hardi yang bingung dengan kalimat Arbi,
Arbi tersenyum kepada Hardi, “nanti kita bahas itu di kesempatan lain, saya kesini untuk menawar saham anda untuk Arya” ucap Arbi to the point akan maksud kedatangannya.
Hardi tertawa sinis kepada sosok pemuda yang tampak berani itu, “apa Arya sedang mencari dukungan untuk menjadi CEO sekarang?”
“rapatnya kurang dari 2 bulan lagi, kami sedang me list siapa yang akan kami jadikan teman dan lawan, saham anda di Adinata group besar, memastikan anda lawan atau musuh cukup sangat penting” ucap Arbi yang mulai serius dengan nada bicaranya.
“apa kamu pikir Aliando bisa jatuh?, masih ada calon suami putriku yang akan menggantikannya, Arya belum tentu melenggang bebas menjadi CEO sekalipun ia anak Gibran dan Naina, pernikahan putriku dan Arnes akan mengalahkannya” ucap Hardi balik menyerang Arbi.
Arbi melihat datar ke arah Hardi, itu adalah kali keempat ia bertemu laki-laki itu. Ia sudah dapat mengenali seperti apa karakter Hardi dalam sebuah negosiasi.
“saya tidak yakin anda mau memiliki besan dan menantu yang akan menjadi narapidana” ucap Arbi dengan datar.
Hardi menelan salivanya, ia menatap datar ke arah Arbi, ‘apa anak ini tahu semuanya?’
"kasus penggelapan dana Aliando sedang diproses, anaknya juga sudah dilaporkan temanku ke polisi, apa anda masih ingin bekerja sama dengan mereka tuan?"
“saya tak mau berlama-lama tuan, ini sudah mau jam makan siang, dukung Arya atau semua kerja sama Adinata group dengan Hardi corp akan diputus” ucap Arbi penuh penekanan.
Hardi seketiak tertawa mendengarnya, “hei nak, kamu masih kecil, kamu pikir kerjasama 2 perusahaan bisa diputus hanya karena pemilihan CEO saja”
Arbi tersenyum licik, “anda benar tuan, tapi bukan itu poinnya” Arbi melipat tangannya di depan dada “ada banyak penyelewengan dana di dalam projek kalian, menurut anda, jika semua terungkap ke publik, apa yang akan terjadi dengan perusahaan ini”
"aku bisa melimpahkan penggelapan dana itu dengan karyawan anda sebagai tersangkanya, dan projek kalian dengan Adinata group akan ditinjau ulang semuanya oleh Arya"
Mata Hardi membulat kaget mendengarnya, “apa maksudmu?”
“anda terlalu percaya sama Aliando, beberapa projek kalian ada yang diselewengkan Aliando di lapangan, datanya sudah ada di tangan tante Rena,” Arbi tersenyum sinis.
"bukan hanya anda yang menjadi korbannya, tapi juga ada perusahaan lain, dan jelas mereka mendukung Arya untuk melindungi diri mereka”
Arbi melepas nafas panjang, Matanya melihat Hardi dengan santai, “kami sedang memilah yang mana lawan dan musuh, jika anda tidak ada dipihak kami, kami harus menyingkirkan anda, setidaknya membuat perusahaan anda berurusan dengan pengadilan untuk beberapa bulan sudah cukup membuat Arya naik menjadi CEO” Arbi tersenyum sinis.
"wah,, wah kami berani juga ya" ucap Hardi berusaha datar dengan keadaan.
“mungkin aku harus memperkenal dulu siapa aku tuan, namaku Muhammad Arbi Alamsyah, putra kedua dari Firman alamsyah dan Aini alamsyah”
Hardi menelan salivanya mendengar 2 nama itu, nama yang sudah banyak menangani kasus-kasus besar di Negara ini.
“jadi kamu anak pengacara besar itu?” gumam Hardi mengeram marah.
“semua kasus Aliando di Adinata group sudah dipegang ibu saya, kami hanya perlu bermain tarik ulur dengan pemegang saham seperti anda untuk menguntungkan posisi Arya” lanjut Arbi.
Hardi memejamkan matanya, nama Aini Alamsyah sudah sangat ia kenal dalam menyelesaikan berbagai kasus penggelapan uang para pengusaha. 'pantas saja anak ini bisa menekanku penuh percaya diri, jadi ibunya sudah tahu masalah penggelapan dana Aliando dengan detail'
“putuskan sekarang, atau nama perusahaan anda akan ikut diseret dalam kasus Aliando”
Hardi melepas nafas panjang, masalah di Adinata group membuat posisinya terasa semakin sulit, ia harus berhati-hati mengambil tindakan agar para pemegang saham tidak menilainya gegabah dalam mengambil keputusan. Apa lagi pertunangan Anjani dan Arnes baru sebulan dilaksanakan.
Setiap tindakan akan mempengaruhi dukungan para pemegang saham kepadanya dan keluarganya. Kemunculan Arya dengan kasus Aliando membuat langkahnya ikut terkena dampak. Hardi menarik nafas panjang, ia harus tenang menghadapi Arbi.
“kamu membuatku sulit, aku sudah membatalkan perjodohan putriku dengan anak Aliando, tapi ini masih ku rahasiakan agar pemegang saham tidak menilaiku pengusaha labil, dan sekarang kamu semakin menyulitkanku,”
Dari sekian banyak kerja samanya dengan Adinata group, ia tidak tahu projek mana yang bermasalah dan dimainkan oleh Aliando, membuatnya posisinya semakin bimbang, semua laporan yang ia terima dari projek mereka juga dinilai bersih tanpa ada kejanggalan.
“anda bisa memikirkannya dulu tuan, setelah ada keputusan, silahkan suruh putri anda menemui saya di 3A Sahabat, saya kasih waktu 2 hari ini, sebelum kasus Aliando dibawa Arya ke ranah hukum"
“ingat tuan, Anjani, bukan anda” Arbi memperjelas lagi kalimatnya. Ia kemudian berdiri, “sebentar lagi jam makan siang, anda harus beristirahat, saya pamit dulu”
'Anjani? kenapa harus Anjani' batin Hardi melihat kepergian Arbi.
Arbi kemudian berdiri dan meninggalkan Hardi, ia mengangkat kedua sisi bahu Jasnya, ‘apa aku sudah keren?’ batinnya dengan bangga.
‘astaga, aku mengancamnya, restunya pasti sulit ku dapatkan nanti’ batinnya lagi yang membuat rasa bangganya menghilang.
Sementara Hardi melihat Arbi dengan bingung, apa benar ada projeknya yang dimainkan Aliando. Ia harus memastikannya terlebih dahulu, agar ia dan perusahaan besarnya tidak menjadi bahan mainan anak muda seperti Arbi. Hardi segera menelfon sekretarisnya, meminta memeriksa semua laporan kerja samanya dengan Adinata group.
__ADS_1