
Arya masih sedang asyik menyelesaikan pekerjaannya, sementara Vanessa dan Mila duduk di sofa sembari melihat-lihat berbagai on-line shop, kegiatan itu mampu mengusir sedih mereka karena rasa bersalah kepada Rita setelah mendengar penjelasan Arya.
Kegiatan yang sering mereka lakukan di kala waktu kosong mereka itu juga sering membuat mereka cepat bosan. Mila sejenak melirik ke arah Arya yang sedang fokus dengan dokumen di mejanya, ia berpikir sejenak tentang apa yang bisa ia lakukan pada suaminya itu untuk menarik perhatian Arya, dan juga ia ingin mencari cara untuk mengetahui seperti apa isi hati Arya kepadanya.
Mila kemudian berdiri dan berjalan ke arah meja Arya, ia memperhatikan wajah Arya yang selalu fokus dengan apa yang ia kerjakan. “Arya, apa kertas itu lebih menarik dariku?” tanya Mila dengan nada kesalnya sembari berdiri di samping kursi kerja Arya.
“Aku sudah kenal lama dengan kertas ini dari pada dirimu, dan mereka masih tetap menarik dari dulu sampai sekarang” jawab Arya yang seketika membuat Mila bergedik kesal mendengarnya. “Apa aku harus membakarnya agar kamu lebih memilihku daripada mereka” Ucap Mila yang jelas terdengar kesal di telinga Arya.
“apa istriku sekarang juga cemburu sama kertas kerjaku ini?” tanya Arya yang sekarang menatap Mila dengan tatapan kesalnya juga. “aku akan cemburu pada apa yang membuat suamiku tidak mau memperhatikanku”.
“Apa kita harus melakukannya dulu seperti semalam?, agar kamu tidak mengganggu kerjaku lagi?” tanya Arya yang langsung membuat Mila pias seketika.
Mila membulatkan matanya menunjukkan kemarahannya pada Arya. “kenapa kamu bicara seperti itu?, disini ada kak Vanessa,” jawabnya dengan pelan menahan marah agar tidak terdengar Vanessa. Arya sejenak melihat ke arah Vanessa dan ia melihat Vanessa yang masih fokus dengan ponselnya.
“kak Vanessa tidak mendengarnya” jawab Arya dengan santai, “aku mendengar semuanya” jawab Vanessa tak kalah santai yang membuat Arya dan Mila langsung menelan saliva mereka seketika.
Arya melepas nafas panjang, ia kemudian menatap ke arah Mila dan kemudian bangkit dari kursi kerjanya. Ia kemudian mengecup singkat kening Mila yang terus melihat ke arahnya. “Sekarang kamu mau apa?, bukankah kamu bilang kamu penyemangatku bekerja, tapi sekarang kamu malah menggangguku” ucap Arya menatap dalam manik mata Mila.
__ADS_1
“apa kamu nggak suka kalau aku datang kesini?, apa kehadiranku hanya pengganggu bagimu” ucap Mila dengan nada yang terdengar kecewa, nada yang membuat Arya mengusap kasar rambutnya yang sedikit panjang. ‘astaga,, gimani sih caranya menghadapi perempuan?, dari kemarin aku salah terus menghadapi Mila’ batinnya dengan kesal.
“bukan aku nggak suka Mil, aku senang kok kalau kamu datang seperti ini, tapi,,,”
“ok,, kalau begitu aku akan datang kesini tiap hari agar kamu selalu senang” potong Mila pada kalimat Arya yang belum selesai, kalimat yang membuat Arya kesulitan menelan salivanya ketika mendengarnya.
“Mil,,” ucap Arya lagi yang kembali dipotong oleh Mila. “tapi aku nggak suka kalau kamu mengabaikanku karena pekerjaanmu itu, apa lagi tidak memperdulikanku seperti tadi”. “tapi aku kerja Mil”,,, “apa kamu mau menduakanku dengan pekerjaanmu itu?”, ucap Mila lagi yang semakin membuat Arya pusing menjawabnya.
“kak, bantu aku dong” ucap Arya yang kali ini melihat ke arah Vanessa.
Arya kembali duduk di kursi kerjanya, dan melanjutkan kerjanya, sementara Mila menatap itu semua dengan wajah kembali bertambah kesal. Pembicaraannya dengan Vanessa di lift membuatnya ingin Arya mengakui perasaan laki-laki itu padanya, tapi ia juga kebingungan untuk memancing Arya mengatakan hal itu, bahkan ia sudah seperti orang bodoh mengaku cemburu pada pekerjaan Arya untuk memancing laki-laki itu mengatakan sayang kepadanya.
“Arya, kamu bilang semalam ingin menjadi ayah, apa kamu benar-benar ingin punya anak dariku?” tanya Mila dengan penuh selidik, ia ingin mencoba mencari cara lain agar Arya mau mengatakan kalimat sayang kepadanya.
“menurutmu aku ingin punya anak dari siapa lagi, kalau bukan dari istriku sendiri” jawab Arya dengan santai, ia mencoba menahan rasa kesalnya atas tingkah Mila itu kepadanya.
“apa itu berarti kamu tidak akan meninggalkanku lagi?, jika kita sudah punya anak, tentu kita sudah harus fokus dengan keluarga kita” ucap Mila yang semakin menekankan maksud kalimatnya.
__ADS_1
“kamu lupa ya, waktu itu kamu bilang kepadaku agar tidak ada lagi kata-kata pisah diantara kita, kenapa kamu selalu melanggar kata-katamu sendiri kayak gini sih?” ucap Arya menahan kesalnya yang terasa semakin memuncak. Mila melepas nafas panjang, ia menyerah untuk itu dan kemudian berjalan ke arah dinding kaca ruangan Arya yang memperlihatkan pemandangan gedung pencakar langit ibu kota.
Sementara Vanessa masih mendengarkan dengan fokus pembicaraan Arya dan Mila dengan terus bermain ponselnya. Arya bangkit dari kursinya dan berjalan ke rah Mila, ada rasa bersalah di dalam hatinya atas sikapnya tadi pada Mila, ‘apa yang sebenarnya diinginkan Mila?, kenapa aku tidak paham begini?, apa aku benar-benar bodoh untuk masalah yang satu ini?’ batinnya kebingungan.
Arya merangkul bahu Mila dan ikut menatap ke Arah indahnya gedung-gedung tinggi itu. Mila kemudian mendekatkan tubuhnya pada Arya dan bersandar pada Arya. “aku ingin selalu di dekatmu Arya, aku sudah memberikan semuanya untukmu, hatiku dan hidupku sudah kuberikan untukmu, aku tidak ingin kamu pergi lagi dariku” ucap Mila dengan pelan, Arya menghirup nafas panjang mendengarnya, ia mengusap bahu Mila dengan lembut.
“bukankah aku sudah bilang akan selalu menggenggam tanganmu dengan erat Mil, buat apa lagi kita mempermasalahkan masalah ini” ucap Arya yang masih kebingungan dengan tingkah Mila.
“kamu benar Arya, aku saja yang berlebihan tadi kepadamu, maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman” ucap Mila yang benar-benar putus asa dengan tujuannya tadi.
“kamu jangan begitu, aku sama sekali tidak ingin mengabaikanmu, pekerjaanku memang lagi banyak Mil, apa lagi kita akan berkunjung ke rumah orang tuaku dan Tomy, aku harus mempersiapkan semuanya agar Rita tidak keteteran lagi seperti aku pergi 3 minggu kemarin”, jawab Arya lagi, Mila kemudian memeluk Arya, “maaf Arya, aku sepertinya belum bisa memahamimu dengan baik”
“apa kalian pikir kalian hanya berdua disini?, kalian benar-benar ngacangin kakak dari tadi” ucap Vanessa dengan kesal yang tengah berdiri di belakang mereka, Arya dan Mila serentak melepaskan pelukkan mereka dan berbalik badan melihat ke arah Vanessa, mereka kemudian tersenyum pias melihat Vanessa yang tengah melipat tangan di dadanya dan menatap sinis ke arah mereka.
“apa kalian mau makan siang sekarang?, kalian mau makan di luar atau di kantin kantor ini?” tanya Arya mengalihkan suasana mereka.
Vanessa melepas nafas panjang menatap ke arah Arya dan kemudian ia tersenyum, “kakak senang melihat kalian seperti ini, jangan sampai ada masalah seperti kemarin-kemarin lagi ya” ucap Vanessa yang membuat Arya dan Mila memandangnya dengan tatapan bingung. Sementara Vanessa melihat pelukkan Arya dan Mila tadi seperti pertanda baik bagi pernikahan adik iparnya itu.
__ADS_1