
“kami sebagai orang tua, hanya ingin melihat anak-anak yang kami besarkan mendapatkan istri yang baik dan tahu dengan ajaran agama, kami hanya ingin melihat kebahagiaan kalian di umur kami yang sudah menua ini nak” ucap bu Annisa melanjutkan perkataan suaminya.
“bu, kami bahagia kok bu, Arya sudah mendapatkan istri yang baik, aku melihat sendiri seperti apa keceriaannya belakangan ini, dan juga Abel, dia anak baik kok bu, aku yakin, aku akan bahagia bersamanya” ucap Tomy yang ingin meyakinkan kedua orang tuanya.
“apa kamu sudah menceritakan semuanya pada istrimu Arya?, kamu harus terbuka apapun pada istrimu, agar tidak ada kesalah pahaman diantara kalian nanti, apa lagi masalahmu ini cukup berat” ucap pak Susanto pada Arya.
“sudah paman, dia sudah tahu semuanya, tapi aku belum bisa cerita kejadian malam itu paman, aku,,,: ucapan Arya terhenti, seketika ingatannya teringat pada ibunya yang meninggal di dalam pelukkannya, gerakan mulut ibunya yang menyuruh ia lari malam itu seperti menyayat hatinya. seketika mata Arya berkaca-kaca. Bu Annisa yang tahu keadaan Arya segera mendekat pada Arya dan memeluk putra angkatnya itu, sementara Tomy mengusap punggung Arya untuk menenangkannya.
“kamu juga tidak perlu menceritakan semuanya Arya, ceritakan saja semampumu, kenangan menyakitkan itu tak perlu kamu ceritakan pada orang lain” ucap pak Susanto lagi.
“Aku ingin meminta izin sama paman dan bibi untuk mengembalikan lagi nama baik ayahku” ucap Arya dengan nada gemetar.
“nak, aku pernah mengatakan kepadamu, jangan bawa dendam apa pun, jika kamu ingin melakukannya, lakukanlah, asal satu itu, jangan bawa dendam nak, Allah tak suka manusia pendendam, aku tidak ingin anak yang aku besarkan hidup dengan lingkaran dosa karena dendam itu, kembalilah kesana untuk merebut hakmu, bukan karena dendamu atas peristiwa di masa lalu,” ucap pak Susanto dengan nadanya yang masih datar.
Arya menatap dalam wajah pamannya itu, ia sudah mendapatkan izin yang ingin ia dengar dari orang yang telah menyelamatkan hidupnya dan membesarkannya penuh kasih sayang tanpa sedikit pun membedakannya dengan Tomy walaupun statusnya yang hanya anak angkat.
“paman, apa pun yang terjadi nanti, paman dan bibi akan selalu menjadi orang tuaku, aku tidak tahu seperti apa akhir diriku nanti, yang pasti, saat aku bertemu ayah dan ibuku, aku akan ceritakan pada mereka nanti bahwa paman dan bibi telah menolong dan menyelamatkanku, aku berhutang besar pada paman dan bibi” ucap Arya dengan kesungguhannya.
“tidak nak, kamu tidak berhutang sama kami, kamu adalah anak kami, kami memberikan semuanya kepadamu karena kasih sayang dan rasa cinta kami kepadamu, tidak ada orang tua yang merasa memberi hutang kepada anaknya atas apa yang mereka berikan kepada anak mereka, jangan jadikan kasih sayang kami ini sebagai hutangmu nak, kami tidak ridho, demi Allah kami tidak ridho” ucap bu Annisa yang masih memeluk Arya.
Mata Arya berkaca-kaca mendengar ucapan ibu angkatnya itu, ‘paman, bibi, kalian begitu tulus kepadaku, sampai aku mati pun, aku tidak akan bisa membalas kebaikan kalian’ batin Arya menahan perasaan haru mendengar ucapan bibinya.
__ADS_1
“Aku punya pesan untuk kalian, ingatlah pesan ini seumur hidup kalian berdua, jadilah suami yang jauh lebih baik dariku, jadilah sosok ayah yang jauh lebih baik dariku, jika kalian mampu untuk itu, aku akan sangat bahagia, karena keberhasilan kalian adalah keberhasilanku dan juga istriku dalam mendidik kalian selama ini” ucap pak Susanto yang membuat jiwa Arya dan Tomy tersentak seketika.
Sebuah tanggung jawab besar seakan berada di pundak mereka. Mereka sama-sama tahu seperti apa sosok pak Susanto sebagai seorang suami dan juga sebagai ayah yang nyaris sempurna di mata mereka.
*
Arya dan Tomy telah keluar dari kamar ayah dan ibu mereka, sejenak mereka melihat ke arah pintu kamar yang tertutup di seberang pintu kamar orang tua mereka, “apa mereka benar-benar sudah tidur?” gumam Tomy dengan pelan, ia kemudian berjalan menuju kamar mereka di belakang. Arya sejenak menarik nafas panjang dan kemudian juga berjalan mengikuti Tomy.
Ketika mereka masuk ke ruang makan yang tidak terlalu besar itu, Tomy dan Arya melihat Mila yang duduk menggunakan cadar merah di salah satu kursi meja makan mereka. Tomy sejenak melihat mata Mila yang melihat ke arah Arya, “sepertinya ada yang mencarimu, kalau begitu aku tidur duluan” ucap Tomy dengan pelan, dan kemudian ia masuk ke dalam pintu kamar yang ada di dekat meja makan itu.
Arya kemudian mendekat pada Mila dan berdiri disisi istrinya itu. “kamu kok disini?, kenapa belum tidur?” tanya Arya pada istrinya itu dengan lembut.
“kamu dari mana?, kok baru datang, aku udah lama nungguin kamu dari tadi” ucap Mila dengan nada yang terdengar sangat lelah.
“Arya, kalian darimana?, kamu nggak bertemu dengan perempuan lain kan?” tanya Mila dengan penuh khawatir. Pikiran jika Arya ada perempuan lain masih melayang-layang di pikirannya.
“kamu ini dari tadi kok bicara gitu mulu, aku dari kamar bibi dan paman, ada beberapa hal yang harus kami kubicarakan tadi dengan paman dan bibi” ucap Arya yang tidak suka dengan ucapan Mila.
“aku takut” gumam Mila dengan pelan.
“takut?, takut apa?”
__ADS_1
“aku takut kamu punya perempuan lain,” ucap Mila menatap lekat wajah suaminya.
“kok kamu mikir itu lagi sih Mil, aku kan udah bilang nggak ada yang lain selain kamu, jangan pikir begitu lagi”
“tapi kamu sendiri yang membuat aku takut kayak gini” jawab Mila tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Arya.
Arya kemudian meraih tengkuk Mila, dan mencium bibir istrinya itu dengan dalam. “kamu pernah bilang kalau kamu lebih yakin kepadaku daripada ciuman ini kan” ucap Arya mengusap lembut pipi Mila, Mila kemudian mengangguk pelan, ia memeluk Arya dan menyembunyikan kepalanya di dada suaminya itu.
“Arya, maaf, aku sudah banyak membuatmu menanggung susah dan kesulitan selama ini, kamu pasti banyak menghadapi kesulitan di hadalan keluargamu, sahabatmu, dan jug akak Rita” ucap Mila dengan nada bersalahnya di pelukkan Arya.
“semua sudah berlalu Mil, yang ada sekarang adalah aku sayang sama kamu Mil, aku sangat sayang sama kamu, aku tidak akan mengkhianatimu Mil, apapun yang terjadi nanti, jangan pernah tinggalin aku, aku mohon untuk itu” ucap Arya mengeratkan pelukkannya pada Mila.
“Aku janji, aku akan selalu ada untukmu dan menggenggam tanganmu, aku juga sangat menyayangimu Arya” ucap Mila semakin menyembunyikan kepalanya di pelukkan Arya.
Sejenak suasana mereka terasa hening, hingga Arya menyadari bahwa istrinya itu telah tertidur memeluknya karena rasa lelah.
Arya sejenak menarik nafas dalam, Ia mengecup dengan dalam kening Mila, dan kemudian mengendong Mila ke kamar di dekat ruang tengah, dengan 2 ketukan, pintu kamar itu terbuka, dan Vanessa melihat Arya yang tengah menggendong adik iparnya.
“Mila tidur dimana tadi Arya?” tanya Vanessa yang kebingungan, karena ia sendiri belum tidur karena menunggu adik iparnya itu.
“di Sofa kak, tadi kami bicara, dan dia malah tertidur, sepertinya dia kelelahan” ucap Arya yang membaring Mila di atas ranjang, Ia sejenak melihat ke arah Abel yang sudah tertidur.
__ADS_1
“mungkin kamu lebih baik jujur ke Mila Arya, kakak rasa temanmu tidak rela kamu bersama Mila” ucap Vanessa yang kembali teringat wajah Ari. Arya sejenak melepas nafas panjang.