
Arya mendarat di Ho chi min tepat pukul 13.43 waktu setempat. Saat keluar dari pintu terminal kedatangan, 2 orang yang diperintahkan Arbi sudah menunggu Arya disana.
Saat Arya melangkahkan kakinya menuju pelataran bandara, 2 orang tersebut langsung menghadap kepada Arya dengan memberi hormat. “kalian siapa?” tanya Arya dengan bahasa Indonesia, karena dari wajah 2 orang tersebut sangat jelas yang satu berwajah tegas khas orang batak dengan kulit putih dan satu lagi berkulit hitam dengan rambut ikal khas orang timur. Dan juga mereka memakai pin 3A Sahabat yang mirip digunakan oleh orang-orang Ari.
“Saya Chris tuan, dan ini rekan saya Ortin, kami akan menemani tuan selama disini sesuai perintah tuan Arbi” ucap laki-laki yang berkulit putih.
“apa Arbi juga punya orang-orangnya juga?” tanya Arya dengan datar.
“kami semua dibawah perintah tuan Ari tuan, tapi untuk kali ini, kami mengikuti perintah tuan Arbi untuk menemani tuan selama disini sesuai jadwal yang telah disusun” ucap Ortin kepada Arya.
Arya menarik nafas kasar, “jadi jadwalku selama disini sudah disusun oleh Arbi,” ucap Arya mengeluh kesal. Ia paling tidak suka jika kegiatannya diatur oleh orang lain.
“iya tuan, sore ini tuan akan mengunjungi lokasi projeknya, terminal barunya ada di sebelah sana tuan” ucap Ortin sembari menunjuk sisi bandara yang ada di sisi kiri Arya.
Lokasi terminal baru itu terlihat seperti lahan kosong yang ditutupi oleh beberapa pagar pembatas agar tidak terlihat dari luar.
“apa mereka sudah mulai pembersihan lahannya?” tanya Arya dengan masih melihat lokasi terminal baru itu.
“sebelumnya projek ini mereka berikan ke kontraktor lokal disini tuan, tapi beberapa waktu lalu kontraktor tersebut terkena kasus hukum, jadi mereka cari kontraktor dari luar, dan kabarnya mereka tertarik sama kita karena melihat desain tuan di website Bian corp” jelas Chris kepada Arya.
Arya mengangguk pelan, “nanti malam tuan akan bertemu orang-orang dari Indonesia, mereka ada 3 orang tuan, kami udah cek mereka, mereka bersih, tidak ada yang mengikuti mereka kesini, dan besok pagi tuan akan presentasi di depan klien kita untuk projek disini, setelah itu kita terbang ke Singapura untuk lanjut ke Jakarta, karena pesawat langsung ke Jakarta terbangnya pagi tuan,”
“Ya udah, sekarang tolong antar saya ke hotel, saya mau istirahat sebentar” ucap Arya dengan pelan, ia ingin meluruskan punggung di atas kasur sembari bervideo call dengan Mila, ia sudah rindu dengan istrinya itu sejak Arbi meninggalkannya di bandara tadi pagi.
Arya kemudian masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan untuknya, ia kemudian diantarkan ke hotel yang berjarak 40 menit dari bandara.
__ADS_1
Baru saja ia masuk kamar hotel, ia langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Mila. Arya menghidupkan ac kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang hotel setelah sebelumnya melepas jas yang ia pakai.
“Assalamualaikum suamiku” ucap Mila yang tersenyum di balik cadar merahnya.
Arya tersenyum melihat Mila dari benda persegi panjang yang ia pegang. “walaikumussalam, apa kamu sudah merindukanku?” ucap Arya membalas candaan istrinya.
Dan baru saja ia selesai bicara, wajah Anjani tiba-tiba saja muncul dari belakang istrinya. Pemandangan yang membuatnya melepas nafas kecewa. Padahal ia ingin bermanjaan dengan Mila, tapi wajah itu malah menganggunya.
“kenapa kamu di apartemenku Anjani?” tanya Arya dengan kesal. "emang kenapa?, apa kamu mau melarangku bertemu dengan Mila?” jawab Anjani dengan nada meninggi. Arya mengusap kasar rambutnya yang telah pendek.
“wah, kamu tambah tampan aja ya dengan rambut pendek itu” lanjut Anjani yang membuat Mila seketika menghadiahinya sebuah cubitan.
*
Setelah beristirahat sekitar 1 jam di kamar hotel, Arya segera menuju bandara untuk meninjau lokasi projeknya. Ia harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu agar dapat segera kembali ke Jakarta. Selama meninjau lokasi tersebut, ia ditemani oleh Ortin dan Chris bersama 5 orang dari pihak bandara tersebut.
“Ari kirim berapa orang kesini?” tanya Arya kepada Chris yang berjalan di sampingnya.
“7 tuan, 3 lagi sudah di sebar di beberapa titik di hotel ini, kami bisa pastikan tidak ada orang yang akan mengetahui siapa tuan sebenarnya, nanti kami juga akan mengawasi tuan dan nona Mila setelah Adinata group mengumumkan siapa tuan, bersama Andi dan Dias yang sudah menjaga nona Mila beberapa bulan ini” jelas Chris dengan suara yang tenang dan tegas.
“jadi nama mereka Andi dan Diaz, aku berhutang banyak kepada mereka” ucap Arya yang membuat Ortin dan Chris tersenyum mendengarnya. Padahal mereka digaji besar oleh Ari, tapi tetap saja tuan Arya nya itu merasa berhutang atas apa yang mereka kerjakan.
“apa menurutmu ini tidak berlebihan Chris?”
“selama kami bekerja di dunia seperti ini, ini adalah hal yang wajar tuan, 3 orang itu adalah penasehat tuan Gibran dulu, kita tidak tahu apakah mereka sudah diawasi oleh musuh tuan apa belum, berhati-hati dari awal seperti ini lebih baik, karena jika kita kecolongan dan membuat posisi kita bisa berbahaya tuan” jelas Chris kepada Arya.
__ADS_1
Arya menarik nafas kasar, “lalu kenapa pertemuannya di dalam kamarku, kenapa nggak di luar saja?”
“ Sebenarnya ada ruangan di lantai 1 hotel ini tuan, ruangannya tidak terlalu besar, tapi pihak hotel tidak mau mematikan cctv ruangan tersebut selama pertemuan kita berlangsung, jadi kami lebih memilih kamar tuan saja, kalau diluar kami juga takut tuan, nanti bisa saja orang yang melaporkan pertemuan kita ke Adinata group, bisnis Adinata disini cukup besar, jika 3 penasehat tuan Gibran bertemu anda diluar dan mereka dikenali oleh orang Adinata group disini, ini bisa menimbulkan kecurigaan mereka kepada tuan” jelas Chris lagi.
“waah, kalian benar-benar luar biasa dalam bekerja” puji Arya kepada Chris.
“ini karena pengalaman kami yang bekerja bertahun-tahun di belakang para pengusaha besar tuan, tapi kami senang bekerja untuk tuan Ari, anda dan tuan Ari memiliki karakter yang jauh lebih bisa menghargai semua yang kami kerjakan” ucap Chris dengan hormat kepada Arya.
“Jangan terlalu berlebihan Chris, aku masuk dulu ya" ucap Arya dengan memukul pelan bahu Chris, ia kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Disana pak Abdul, pak Ilham dan pak Budi sedang duduk membicarakan sesuatu. Saat Arya masuk, ketiga orang itu langsung berdiri dan memberi hormat kepada Arya. Mata pak Abdul berkaca-kaca, wajah Arya membawa ingatannya pada sosok Gibran Adinata. Sosok yang ia anggap sebagai anaknya sendiri.
Pak Abdul mendekat kepada Arya yang melihat tenang ke arah mereka. “apa kah saya boleh memeluk tuan?” ucap pak Abdul dengan wajah menunduk.
Arya menelan salivanya, penghormatan yang diberikan pak Abdul terlalu berlebihan baginya. “boleh pak” jawab Arya dengan pelan. Pak Abdul segera memeluk erat tuan mudanya. Ia ingin melepas rasa rindunya kepada Gibran pada sosok Indra yang saat ini ada didepannya.
Satu persatu penasehat Gibran tersebut memeluk Arya dengan hangat. Ketiga penasehat Gibran adinata itu melihat Arya dengan lekat. Wajah Gibran jelas ada di wajah Arya. Mata Naina jelas ada di mata Arya.
Sosok yang terakhir kali mereka lihat 22 tahun lalu sekarang kembali mereka lihat. Jika dulu Arya hanyalah seorang bocah kecil yang lucu dan punya ego tinggi, sekarang ia terlihat dewasa, wajahnya memancarkan raut ketulusan dan kehangatan. Sosok yang dulu selalu menolak dan marah jika mereka sentuh, sekarang dengan hangat menerima pelukkan mereka.
“duduklah pak, jangan bersikap berlebihan seperti ini kepadaku” ucap Arya yang merasa tak nyaman dengan segala penghormatan ketiga penasehat ayahnya itu.
“baik tuan” jawab pak Budi.
“Ari sudah menjelaskan semua rencana bapak kepadaku, aku juga siap mengikuti rencana itu, jadi apa yang akan kita bahas malam ini” ucap Arya memulai pembahasan panjang mereka.
__ADS_1
Pak Abdul menarik nafas panjang, ia mulai menjelaskan satu persatu rencananya kepada Arya. Diskusi mereka pun berlangsung hingga larut malam.