Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Mila tengah asyik menonton video tutorial memasak di ponselnya, di depannya Vanessa tengah merancang menu-menu andalan yang akan ia siapkan untuk bisnis restorannya bersama Abel dan Tomy. Mereka bertiga masih mengodok restoran seperti apa yang akan mereka bangun nanti.


Ditengah kesibukkan mereka berdua, mereka tidak menyadari pintu apartemen mereka dibuka oleh seorang laki-laki. Laki-laki itu bergegas masuk ke dalam menuju ruang tengah, Mila dan Vanessa sontak kaget, mereka langsung berdiri melihat kedatangan laki-laki itu.


“kamu kok sudah pulang dek?” tanya Vanessa yang heran melihat Arya sudah pulang, padahal jam masih kurang dari angka sepuluh.


Mila diam terpaku melihat suaminya, dari mata Arya ia tahu, ada sesuatu yang berbeda.


Arya benar-benar telah merasa bebas dari beban masa lalunya, perasaannya benar-benar lega, rasa takut itu sudah hilang. Perasaan yang sama ia rasakan selama ini kepada Mila. Ia merasa takut kehilangan gadis itu, namun sekarang ia menyadari, rasa sayangnya lebih dari sekedar karena takut kehilangan.


Arya memejamkan matanya, saat perasaan akan masa lalu itu lepas. Beban takut dan rasa traumanya sudah hilang, ia akhirnya menyadari bahwa perasaanya kepada Mila lebih dari sekedar rasa sayang dan ingin memiliki. Entah apa namanya, ia pun tidak tahu.


Rasa yang ia rasakan sejak selesai berbicara dengan Aliando itu terasa merasuk ke hatinya. Mila seketika terlintas diingatannya saat itu. Ia seketika ingin pulang menemui Mila mengatakan perasaan itu. Namun saat membuka pintu apartemennya, Arya kebingungan seperti apa ia harus mengatakan perasaan yang ia rasakan.


Hingga ia menyadari, mungkin itulah yang dinamakan oleh semua orang dengan cinta.


Sebuah rasa yang tidak bisa ia jelaskan dengan kalimat apapun sehingga hanya bisa diungkapkan dengan sebuah kata bernama Cinta. Bahkan rasa itu jauh lebih besar dari yang sebelumnya ia rasakan.


Arya kemudian mendekat kepada Mila dan memeluk istrinya itu dengan erat. Mila menelan salivanya, rasa khawatir merasuk ke dalam hatinya, entah apa yang terjadi pada suaminya.


“Arya, ada apa?” tanya Mila dengan nada gemetar khawatir.


“aku mencintaimu Mil", gumam Arya yang seketika membuat mata Mila berkaca-kaca, "sungguh aku sangat mencintaimu”


Hati Mila terasa tersentak tak percaya, baru tadi pagi ia merasa kecewa dengan Arya yang tak membalas kata cintanya, dan sekarang suaminya pulang di jam yang tidak biasa untuk mengatakan kata itu.


Kata yang akhirnya ia dengar juga, setelah lama ia menanti, bahkan ia sampai meragukan ketulusan Arya kepadanya, apa hanya karena rahasia Indra dan ia tengah hamil anak Arya. Sebuah keraguan yang muncul saat Arya hanya mengatakan kata sayang bukan cinta. Karena baginya cinta berada di atas sebuah ungkapan sayang.


Walaupun Arya telah menunjukkan kasih sayang dan cintanya kepada Mila selama ini, namun sebuah pengakuan melalui kata-kata sangat berarti lebih bagi Mila. Karena terkadang sikap bisa memiliki maksud yang berbeda.

__ADS_1


Detik itu ia merasakan betapa kebahagiaan yang tak dapat ia gambarkan dengan kata apa pun. Hanya air mata yang mampu menggambarkan kebahagiannya hari itu.


“apa Arya,?, aku ingin mendengarnya lagi” gumam Mila dengan suara tercekat, setetes air mata menetes di pelupuk kiri matanya.


Bahagianya tak bisa ia bendung, pengakuan Arya membuat hatinya berdebar-debar dengan cepat. Terasa hatinya ditumbuhi bunga-bunga bermekaran indah.


“aku mencintaimu Mil” ucap Arya, “maaf aku baru bisa mengatakannya sekarang”


“aku juga sangat mencintaimu Arya, sangat dan teramat sangat mencintaimu,” ucap Mila mulai terisak.


“kenapa baru sekarang Arya?, kenapa baru sekarang?, aku telah lama menunggu ini” gumam Mila dengan air mata yang menetes.


Arya memejamkan matanya, mungkin itulah yang tidak ia sadari, dendam merasuki hatinya kepada Aliando selama ini, menumbuhkan rasa sakit, takut dan trauma selama 22 tahun hidupnya. Namun ia mengelak dengan mengatakan bahwa ia ikhlas, memaafkan dan tidak dendam.


Namun di sisi lain rasa takut itu terus membayanginya. Saat ia mengatakan kepada Aliando secara langsung, beban itu terasa luntur dari pundaknya, dendam itu menghilang seketika.


‘ayah, ibu, apa kalian sudah bahagia melihatku sekarang, aku sudah mengembalikan semua milik keluarga kita, dan juga nama baik ayah’ batin Arya.


“tapi tadi aku sudah menghadapi rasa takut dan traumaku itu, aku merasakan kamu adalah segalanya untukku Mil”


Mungkin benar adanya, ia takut kehilangan Mila karena tak ingin terluka lagi seperti kehilangan ayah dan ibunya. Saat rasa kehilangan di masa lalu sudah terobati, ia dapat merasakan perasaan yang lebih sama dengan Mila.


“kamu lebih dari apa pun Mil, lebih dari sekedar nafas ku,” gumam Arya.


Vanessa melepas nafas lega, mungkin tak ada lagi yang perlu ia takutkan untuk jujur kepada Mila jika perceraiannya dengan Irman sedang diproses.


Arya bahkan sudah lebih dari cukup bagi Mila, ia kemudian berjalan ke dapur, memberi waktu berdua untuk Arya dan Mila di ruang tengah.


Arya mendudukan Mila di sofa, matanya memandang sendu mata Mila. “bukannya kamu sibuk Arya?, kenapa tiba-tiba pulang seperti ini?”

__ADS_1


Arya menarik nafas kasar, ia baru ingat jika ada agenda dengan Bian corp di kantornya. Ia kemudian segera mengeluarkan ponselnya, notifikasi chat dan panggilan sudah menumpuk disana. Untung saja ia silentkan, sehingga tidak menganggu momennya bersama Mila.


Mila menatap heran ke arah wajah Arya, Arya menutup ponselnya, ia lihat jam digital di dekat tv, 09.57, 3 menit lagi tepat jam 10. Ia baru saja ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Mila, tapi ada kewajiban lain yang harus ia penuhi.


Jika kasus Aliando telah diproses dan ditangkap, mungkin ia benar-benar harus melepas 3A Sahabat, agar dia tidak disibukkan oleh masalah pekerjaan.


Ada Mila dan malaikat kecilnya yang harus ia beri perhatian dan kasih sayang.


“Aryaaaa” gumam Mila dengan kesal, “dari tadi kamu tidak menjawab pertanyaanku sama sekali”.


Arya kembali menarik nafas kasar, jika bukan karena ia harus menemani orang-orang dari Bian Corp, ia akan membawa Mila untuk menemani di kantor.


“Mil, nanti sore kita tunda dulu ya, sepertinya pekerjaanku cukup menumpuk sekarang” gumam Arya dengan pelan, matanya menatap mata Mila, memastikan istrinya itu tidak merasa kecewa.


Mila tersenyum, matanya di buat seceria mungkin. Walaupun ia kecewa, ia harus bersikap lebih dewasa. Pekerjaan Arya juga untuk dirinya, dan calon malaikat kecilnya nanti.


“nggak apa apa kok, kamu juga harus kerjakan,” gumam Mila dengan mengelus pipi Arya.


Arya tersenyum ia berusaha mengigit tangan kanan Mila di pipinya, “ihh Arya, jorok tahu” kesal Mila, namun ia berhasil menghindari gigitan Arya di tangannya.


Arya menggenggam kedua tangan Mila dan menciumnya.


"apa kamu akan segera balik ke kantor?" tanya Mila.


"sepertinya begitu, nanti kita akan bicara tentang banyak hal, kamu tunggu aku pulang"


Mila memegang leher Arya, matanya membalas tatapan mata Arya. "setiap kamu pergi, aku selalu menunggumu pulang" Arya tersenyum, mengecup bibir Mila dan mengelus perut istrinya,


"aku mencintaimi Mil, jika semuanya selesai aku akan langsung pulang"

__ADS_1


Arya kemudian bangkit dan segera pergi, ia sudah sangat terlambat ke kantor.


Sementara Mila masih duduk di ruang tengah, ia hanya bisa senyum-senyum sendiri, menerka apa yang terjadi dengan suaminya hari itu. "kenapa ia tiba-tiba pulang dan mengatakannya ya?"


__ADS_2