Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Menikah Karena Janji


__ADS_3

Setelah hampir 1 bulan kasus Aliando berjalan, ia akhirnya harus pasrah dengan keadaan. Penyidik menangkapnya di ruangan kerjanya di gedung Adinata group. 2 orang penyidik masuk, mereka dengan segera memborgol tangan Aliando yang pasrah dengan duduk diam di kursi kerjanya.


Aliando berjalan pelan mengikuti penyidik, wajahnya tertunduk, mencoba bersembunyi dari pandangan semua karyawan Adinata group


Di lobi, puluhan wartawan sudah menunggunya, polisi dan pengawal Adinata group membantu penyidik agar dapat membawa Aliando melewati para wartawan yang terus mendesak mendekati Aliando.


“apa benar tuan telah menggelapkan dana perusahaan tuan?”


“apa benar tuduhan kalau tuanlah yang membunuh tuan Gibran dan istrinya?”


“tolong beri satu jawaban saja tuan”


suara sahutan wartawan mengiringi langkah Aliando menuju mobil penyidik. Sementara karyawan Adinata group melihat kepergian Aliando dengan menarik nafas panjang.


22 tahun setelah kematian Gibran Adinata, akhirnya Adinata group kembali ke genggaman keluarga Adinata, Indra Adinata yang dikira semua orang sudah tiada, telah kembali dengan cara yang tidak mereka duga.


Sementara itu pak Sarman menatap berita penangkapan Aliando dengan wajah tenang, Ia mengangkat kepalanya. Seorang pecundang tetaplah pecundang, batinnya. Ia melihat pekarangan rumahnya yang sudah berbulan-bulan tidak ia lihat.


“kakek udah melihat beritanya?” tanya Mila dengan nada pelan.


“sudah seharusnya Arya mendapatkan apa yang seharusnya ia miliki sayang,” ucap pak Sarman, “jika kakek tahu dari awal siapa Arya, kakek yang akan menaikannya kembali ke kursi itu, itu adalah haknya, perjuangan ayahnya yang dimulai dari nol”


Masih jelas dalam ingatannya seperti apa dulu Gibran adinata membangun kerajaan bisnisnya, hingga Aliando merebutnya dengan cara yang sangat buruk.


“Arya sudah mengikhlaskan semuanya kek, kami akan meniti kehidupan kami yang lebih baik ke depan” ucap Mila yang menyandarkan kepalanya di kursi roda kakeknya.


“apa kamu marah karena Arya memenjarakan abangmu juga?”


“nggak kek, jika Arya ikhlas untuk semuanya, aku juga harus ikhlas, lagi pula bang Irman juga bisa banyak belajar dan berubah jadi lebih baik lagi untuk ke depan” jelas Mila.


Pak Sarman tersenyum, di usia tuanya, ia masih bisa melihat banyak hal. Namun ia hanya bisa berharap Mila dapat selalu bahagia bersama Arya, dan Irman dapat meniti hidup baru di Malaysia setelah keluar penjara nanti.


“jika Vanessa menikah nanti dengan orang lain, tetaplah anggap ia sebagai kakakmu Mil” ucap pak Sarman yang melihat Vanessa tengah membersihkan taman rumah mereka. “dosa keluarga kita terlalu banyak kepadanya, dia bahkan tidak diakui lagi oleh keluarganya karena ulah abangmu”


Mila menarik nafas dalam, Ia juga harus ikhlas jika Vanessa nanti menemukan pasangan yang bisa membuatnya bahagia. Perempuan yang tengah mereka pikirkan itu kini tengah berjalan ke arah mereka.


“sepertinya sudah saatnya kita masak Mil” ucap Vanessa.


“ini masih pagi kak, kakek juga masih berjemur” jawab Mila dengan pelan.

__ADS_1


Vanessa sejenak berpikir, ia sedang ingin mencoba menu baru, sejak tadi pagi ia terus memikirkan masalah itu.


“sekarang aja ya, kakak mau mencoba sesuatu soalnya” ucapnya dengan senyum memelas.


“hmmm, kakak duluan aja yang masak, aku masih mau nemanin kakek disini” jawab Mila.


Vanessa mengangguk pelan, “tapi kalau kamu lelah, kami harus istirahat ya” ucap Vanessa.


Vanessa kemudian mendekat ke arah pak Sarman dan Mila, ia memandang mata Mila dengan penuh selidik.


“kenapa kak?, apa ada masalah denganku?” tanya Mila dengan bingung.


Vanessa menggeleng, “kamu benar-benar jauh berubah Mil, bahkan kamu jauh lebih baik sekarang ketimbang saat menjadi guru dulu”


“ihh kakak, jadi menurut kakak dulu aku tidak bisa jadi teladan murid-muridku” ucap Mila dengan kesal.


Pak Sarman dan Vanessa tersenyum, mereka berdua sama-sama menyadari bagaimana perubahan Mila. Tidak manja lagi seperti dulu, udah bisa mengerjakan pekerjaan rumah, dan juga yang jelas, tidak keras kepala lagi dan mau mendengarkan ucapan orang lain.


Vanessa melepas nafas panjang, ia dulu bahkan sampai putus asa meminta Mila untuk menerima Arya.


Tapi gadis itu tetap saja keras kepala, dan pada akhirnya takdirlah yang memaksa mereka tetap bersama.


Arya turun dari mobilnya dan berjalan cepat ke arah 3 orang yang sedang asyik di pekarangan rumah itu.


“assalamualikum” Arya mencium tangan pak Sarman dan kemudian Mila mencium tangannya, “walaikumussalam abi” jawab Mila setelah Arya mencium keningnya.


“kok abi udah pulang?” tanya Mila.


“ini kan hari terakhir abi di kantor, besok abi udah harus ke Adinata group"


"abi harus ngurus perusahaan sampai rapat pemegang saham nanti, itu udah disepakati oleh dewan komisaris Mi” jelas Arya.


Mila mengangguk pelan, ia kemudian menatap ke arah kakeknya yang tersenyum memandang Arya.


“kek, Mila boleh mengatakan sesuatu nggak” ucapnya.


Pak Sarman dan Arya memandang aneh ke arah Mila, “apa sayang?” tanya pak Sarman dengan nada bingung.


“Mila mau mengucapkan terima kasih lagi sama kakek” ucap Mila, ia kemudian berdiri dan tersenyum kepada Arya. “terima kasih udah paksa orang ini untuk menikahi Mila saat itu” ucapnya lagi dengan memegang jas Arya.

__ADS_1


Arya melepas nafas panjang, “Umi senang ya kita menikah karena janji abi sama kakek” ucap Arya dengan nada ketus.


“hmmmm, iya, kalau nggak, mana mungkin abi mau sama perempuan kayak umi dulu”


Vanessa dan Pak Sarman tersenyum melihat mereka, panggilan abi umi yang mereka dengar dari Arya dan Mila, terasa menggelitik telinga mereka.


“wah,wah, kayaknya udah lupa siapa dulu yang nangis-nangis nggak mau nikah” ejek Arya.


Mila hanya bisa tersenyum mendengarnya, toh itu memang terjadi saat itu. “lupa ya, siapa dulu yang mau lari ke Semeru biar nggak jadi nikah?,” balas Mila.


Arya melepas nafas kesal, ia kalah lagi dari Mila. “lupa ya, dulu diumur 4 tahun udah mesum main cium-cium” balas Arya dengan mengedipkan matanya ke arah Mila.


Mila menelan salivanya, ia sejenak melirik ke arah pak Sarman dan Vanessa yang melihatnya penuh selidik. ‘astaga’ batinnya berusaha mencari alasan.


Arya tersenyum, princess kecilnya masih sama seperti dulu, selalu membuatnya gemas untuk segera mencubit pipinya. Arya menarik Mila dan memeluknya, “pangeranmu udah kembali, terima kasih selalu menungguku” ucap Arya.


“Bi, Umi pengen makan nasi goreng buatan abi lagi” gumam Mila dengan pelan.


“wah, boleh tuh, siang ini Arya aja yang masak” ucap Vanessa tersenyum sinis kepada Arya.


“kakek setuju, kakek belum pernah mencicipi masakan Arya” ucap pak Sarman, ia melihat ke arah Arya dengan mata tenang, “mereka pernah cerita kalau kamu juga jago masaknya Arya”


Arya melepas nafas panjang, “ok, koki Arya siap memasak untuk tuan dan nyonya-nyonya” ucap Arya dengan semangat.


Arya kemudian segera masuk ke dalam rumah. "Mila ke dalam dulu ya kek, buat bantu Arya". Mila kemudian mengikuti Arya untuk membantu suaminya itu di dapur.


Sementara itu Vanessa melihat Mila dan Arya dengan senyuman tipis, ia mungkin bisa mencoba menu barunya nanti sore. Vanessa kemudian melihat ke arah pak Sarman yang masih menikmati cahaya mentari pagi.


“kakek masih mau berjemur?” tanya Vanessa.


“iya sayang, bagaimana bisnis restoranmu?”


“konsepnya udah matang kek, Tomy lagi negosiasi sama yang megang tempat yang ingin kami pakai nanti” jawab Vanessa.


“kakek selalu mendoakan yang terbaik untukmu, kemana pun kamu pergi nanti, ingatlah kalau rakarsa adalah keluargamu”


Vanessa mengangguk, Rakarsa adalah rumah tempatnya kembali, dan sampai kapanpun itu takkan pernah berubah.


“aku akan menelfon ibu dulu kek, biar bisa makan siang bersama kita” gumam Vanessa.

__ADS_1


__ADS_2