Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Sampel Arya


__ADS_3

Haris sudah duduk hampir 1 jam di depan ruangan pak Sarman, ia menunggu bu Saniah untuk keluar dari ruangan itu, ia tidak mungkin masuk ke dalam karena itu dapat membuat pak Sarman curiga kepadanya jika ia menarik bu Saniah dari ruangan itu untuk berbicara berdua dengannya. Untuk itu ia lebih memilih menunggu di kursi tunggu di depan ruangan itu. Dengan setelan kaos dan celana jeans serta topi hitam, ia hendak menyembunyikan status dirinya sebagai salah satu direksi perusahaan sebesar Adinata group agar tidak menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya.


Setelah hampir 1 jam, pintu ruangan pak Sarman terbuka dan bu Saniah keluar dari sana karena hendak mencari makanan keluar. Haris kemudian berdiri dan mendekat, dan sontak saja bu Saniah menatap kaget ke arah laki-laki itu.


“anda siapa?” tanya bu Saniah yang mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan melihat laki-laki itu mendekat kepadanya. “saya Haris, saya temannya Rahman” ucap Haris sembari mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan bu Saniah.


“Haris, Haris siapa?, lalu siapa itu Rahman?” tanya bu Saniah dengan nada bingungnya dan mengabaikan tangan Haris yang hendak bersalaman dengannya. 'apa dia salah satu laki-laki yang pernah tidur denganku dulu?' batin bu Saniah.


“bukankah kamu anaknya pak Sarman?”


“iya, tapi saya nggak kenal sama kamu” jawab bu Saniah yang berusaha mengelak dan kemudian melangkah pergi, ia takut jika laki-laki itu menggodanya dan membangkitkan syahwatnya yang sudah lama tidak tersalurkan, ia tidak ingin lagi jatuh ke lembah kotor itu.


“Rahman meminta sampel anak itu segera” ucap Haris yang membuat mata bu Saniah membulat kaget, ia kemudian memutar badannya dan melihat wajah Haris.


Haris kemudian melihat ke sekelilingnya, memastikan tidak ada orang yang akan mendengar pembicaraannya dengan bu Saniah.


Setelah memastikan itu semua, Haris kemudian mendekat pada bu Saniah . “Sampel anak itu?” tanya bu Saniah dengan bingung, ingatannya lalu terbayang pada Rahman yang memintanya untuk mengambil sampel Arya untuk dicocokkan dengan sampel Gibran.


“Rahman menunggu sampel itu, tapi nanti malam ia sudah harus berangkat keluar negeri untuk menemui para pemilik saham di luar negeri, jadi dia memintaku untuk menemuimu” ucap Haris dengan nada serius pada bu Saniah.


“apa aku bisa mempercayaimu?” tanya bu Saniah dengan penuh selidik pada Haris.


“kalau kamu percaya pada Rahman, seharusnya kamu juga percaya kepadaku, karena Rahman yang memintaku menemuimu” jawab Haris pada pertanyaan bu Saniah.

__ADS_1


“aku belum mendapatkan sampel anak itu, lagi pula ini baru sebatas kecurigaanku, aku juga belum bertanya langsung kepadanya, aku mencurigainya karena ia datang ke makam bang Gibran dan kak Naina saat hari peringatan kematian mereka, anak itu dan teman laki-lakinya membawa bunga untuk mereka” jelas bu Saniah pada Haris.


“jika anak itu bukan tuan muda, berarti dia adalah bagian dari keluarga tuan Gibran dan nona Naina yang belum dihabisi Aliando, itu sama nilainya dengan tuan muda, kita butuh pewaris tuan Gibran agar status perusahaan masih tetap berada di keluarga Adinata,” jelas Haris pada bu Saniah.


“sekarang kamu harus mendapatkan sampel 2 anak itu untuk kita uji dengan sampel tuan Gibran dan Nona Naina” jelas Haris lagi.


“2 anak itu?, aku saja belum menemukan cara untuk mendapatkan sampel anak itu, bagaimana aku bisa mendapatkan sampel temannya” ucap bu Saniah yang kaget dengan ucapan Haris.


“kalau begitu, katakan siapa orangnya kepadaku, biar aku yang mengambil sampelnya dengan caraku sendiri,” ujar Haris dengan tatapan seriusnya pada bu Saniah.


“itu,,, itu,, tidak bisa, dia sepertinya sengaja menyembunyikan identitasnya, ia bahkan tidak menggunakan nama Indra dan identitas sebagai putra bang Gibran, aku harus tahu dulu alasan anak itu kenapa dia menyembunyikan itu semua” jawab bu Saniah.


“jika benar anak itu adalah anak tuan Gibran, maka kami harus segera mengirim orang untuk menjaganya, apa kamu tidak tahu seperti apa Aliando mengejar anak itu, setiap anak yang dicurigainya ia bunuh lebih dulu sebelum mengecek sampel mereka, yang kami lawan ini bukan manusia lagi” ucap Haris penuh penekanan pada bu Saniah.


“bukankah ini lebih baik jika aku saja yang tahu tentang anak itu, jika aku mendapatkan sampelnya, akan kuberikan kepadamu,” jawab bu Saniah lagi.


“itu anakku”ucap bu Saniah pelan pada Haris, Haris kemudian sadar dan ia mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu namanya pada bu Saniah, “hubungi aku jika kamu sudah mendapatkan sampel anak itu” ucap Haris sembari meninggalkan bu Saniah.


Mila menatap tajam ke arah laki-laki itu ketika berpapasan dengannya, sementara laki-laki itu lebih memilih jalan menunduk dan menutup wajahnya dengan topi agar wajahnya tidak terlihat, karena bisa saja ada orang yang mengetahui siapa dirinya di rumah sakit itu sebagai salah satu direksi Adinata group.


Arya menatap heran ke arah Haris dan seketika Haris juga mengangkat kepalanya, dan tatapannya bertemu dengan Arya, nafas haris sejenak tercekat ke tenggorokan, 'mata itu' batin Haris tanpa menghentikan langkahnya, sejenak Arya menatap punggung Haris karena sekilas wajah Haris seperti pernah ia lihat sebelumnya. Untuk kemudian melanjutkan langkahnya ke arah Mila dan bu Saniah, sementara Haris berhenti di ujung lorong dengan memperhatikan punggung Arya.


Mila kemudian langsung merebut kartu nama Haris ditangan bu Saniah, dan dengan penuh emosi ia langsung merobek kartu nama itunia hingga sekecil mungkin.

__ADS_1


"apa-apaan kamu Mil?” tanya bu Saniah dengan nada marahnya, ia tidak menduga Mila aka melakukan tindakan seperti itu.


“ibu sudah pernah bilang tidak akan seperti ini lagi, lalu kenapa ibu masih menerima kartu nama laki-laki itu” jawab Mila penuh emosi, ia sudah biasa melihat ibunya itu jalan dengan berbagai macam laki-laki sejak ia masih SMA dan sering keluyuran dengan Abel.


“ini tidak seperti yang kamu pikirkan Mil, ibu sudah tidak seperti itu lagi” jawab bu Saniah.


“bu, kenapa ibu tidak bisa seperti kak Vanessa, kak Vanessa bahkan tidak bisa memiliki anak, tapi ia masih menjaga kehormatannya, walaupun bang Irman memperlakukannya seperti ayah memperlakukan ibu” ucap Mila terisak di depan ibunya.


Wajah bu Saniah langsung memias mendengar ucapan Mila karena takut 2 menantunya mendengar itu semua.


“kamu ini bicara apa Mil?, apa kamu ingin mempermalukan ibu di depan suami dan iparmu?” gumam bu Saniah sepelan mungkin agar tidak didengar oleh Vanessa dan Arya yang sudah mendekat ke arah mereka.


“ibuu”,,,, “diam,, laki-laki itu bukan mainan ibu, kamu jangan pikir yang macam-macam, dan ibu sudah tidak seperti itu lagi, ini sudah lama kita bicarakan, jangan ungkit lagi” ucap bu Saniah penuh ketegasan Mila.


Arya sejenak melihat punggung Mila yang membelakanginya, ia kemudian mencium tangan bu Saniah “kamu ingin menjenguk kakek bu” ucap Arya setelah mencium tangan bu Saniah, kemudian ia langsung mendekap Mila dan merangkul istrinya itu.


“kamu kenapa Mil?” tanya Arya dengan pelan setelah menyadari Mila tidak sesenang saat mereka berangkat tadi,


“nggak Arya, aku nggak apa-apa, ayo kita masuk” jawab Mila sembari menarik tangan Arya dan masuk ke dalam kamar pak Sarman.


Sementara Vanessa hanya menatap ibu mertuanya itu dengan tatapan heran.


“masukklah Vanessa, ibu mau membeli sesuatu dulu keluar” ucap bu Saniah dengan datar dan kemudian ia pergi dengan rasa kesal. Sementara Vanessa hanya bisa melepas nafas panjang atas itu semua dan masuk ke dalam kamar pak Sarman, ia sudah tahu seperti apa kelakuan kedua mertuanya karena Mila sudah terbuka atas semua masalah keluarga Rakarsa.

__ADS_1


Haris masih berdiri di ujung lorong melihat itu semua, 'apa itu anak yang dimaksudnya?, mata itu benar-benat mirip dengan mata nona Naina, dan wajahnya juga mirip dengan raut wajahnya tuan Gibran,' Batin Haris, ia kemudian melangkah pergi sembari mengeluarkan ponsel untuk menelfon seseorang.


Setelah beberapa saat, bu Saniah kembali lagi untuk mengumpulkan sobekan kartu nama Haris yang disobek oleh Mila, 'ahh, sial, gimana menyatukannya lagi jika sobekannya seperti ini' kesal bi Saniah karena ia kehilangan nomor kontak Haris di kartu nama itu.


__ADS_2