
Abel mengeluarkan semua isi kopernya dan menaruhnya di atas ranjangnya yang sudah rapi. Mila dan Vanessa hanya bisa di buat melongo sembari menelan saliva mereka melihat barang-barang yang Abel keluarkan dari kopernya itu. Mila kemudian mendekat dan duduk di sisi ranjang Abel, “kamu bawa barang sebanyak ini Bel?, buat apa?” tanyanya dengan heran.
“buat keperluanku lah Mil, emang buat apa lagi?” ucap Abel tanpa pikir panjang, ia kemudian mulai memilah-milah barang yang akan Ia bawa.
“aku belum memaafkanmu Mil, walaupun Tomy dan Arya sudah memberimu maaf, tapi aku belum sama sekali” ucap Abel yang memperhatikan Mila ikut membantunya, sementara Vanessa duduk di kursi meja hias Abel sembari memperhatikan kegiatan 2 gadis itu.
“iya, aku ngerti kok, kamu sudah banyak pengalaman di khianati seperti apa yang aku lakukan pada Arya, jadi aku tahu semarah apa kamu sama aku, tapi kamu jangan bahas masalah ini lagi di depan Arya Bel, aku dan Arya sudah membuka lembaran baru di dalam rumah tangga kami” jawab Mila sembari memisahkan beberapa barang yang ia rasa masih dapat dibeli di kampung Arya.
"kalau kamu tahu itu menyakitkan, kenapa kamu melakukannya pada Arya?" tanya Abel dengan polos.
"udahlah Bel, jangan dibahas lagi" jawab Mila dengan kesal.
“apa bedanya Arya dengan pacarmu itu, kenapa kamu lebih milih Arya sekarang?” tanya Abel dengan polos, sementara Mila hanya bisa menelan salivanya mendengar itu semua, ia sejenak menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Abel.
“dia tulus Bel, baik, dan bagiku dia sempurna, aku merasa menjadi seperti diriku yang sebenarnya di depan Arya, sedangkan di depan bang Arnes aku merasa dipaksa menjadi orang yang dewasa karena sikapnya yang sering mengutarakan kata-kata manis kepadaku, memaksaku untuk mengucapkan kata-kata manis juga untuknya, dia sama sekali tidak suka dengan sikap polosku yang sama seperti polosnya kamu Bel. Tapi dengan Arya, aku merasa menjadi diriku sendiri sekarang, seperti kamu mengenalku dulu, seperti itulah aku sekarang, aku serasa bebas dari sebuah penjara Bel, Arya sama sekali tak menuntut apapun dariku” jawab Mila dengan sedikit mengeluarkan nafas lega menceritakan itu semua.
“Arya benar-benar mirip sama Tomy, Tomy sama sekali tidak mempermasalahkan semua sikap bodohku” ujar Abel dengan santai.
“kita beruntung Bel mendapatkan laki-laki seperti mereka” ucap Mila yang membuat hati Vanessa terasa tertusuk mengingat hidup yang ia lalui, ia sejenak mencoba menarik nafas panjang menenangkan perasaannya.
__ADS_1
“aku tahu Mil, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan Tomy di dalam hidupku, sekarang bisa kamu ceritakan seperti apa kisah jilbab dan cadarmu itu” ucap Abel pada Mila.
Mila seketika menelan salivanya mendengar pertanyaan Abel, ia sejenak tertunduk dan kemudian melepas nafas kasar. “dulu waktu kuliah aku punya teman yang berasal dari pesantren Bel, sama seperti kita dulu, aku bosan di rumah dan akhirnya aku ikut apa pun kegiatannya, dari semua teman kuliahku hanya dia yang sama sepertimu, mau mendengar semua ceritaku tanpa mengeluh atau merasa kesal, aku akhirnya ikut-ikutan aja memakai jilbab ini seperti dia, karena capek dinasehati terus sama dia, tapi setelah itu aku merasa nyaman dengan ini semua, sama dengan cadar ini, sekarang aku merasa malu jika harus membuka auratku lagi,” jelas Mila pada Abel.
Abel dan Vanessa serentak menarik nafas panjang mendengar penjelasan Mila, “pantas aja kamu begitu sama laki-laki mesum yang jadi pacarmu itu, kamu nggak sadar ya dengan nilai jilbabmu itu” ucap Abel dengan santai ia kemudian menarik kopernya yang telah terisi penuh dengan barang.
“Aku dulu terlalu larut dengan cerita temanku itu Bel, ia menginginkan calon suami yang sempurna, bisa jadi imamnya saat sholat malam, dapat bersikap romantis padanya, mendengar semua keluh kesahnya, pandai mengaji, gagah, tampan, dan ya begitulah, suami impian para ukhti-ukhti seperti dia, akhirnya aku juga sama seperti dia menginginkan suami seperti itu, dan saat aku mengenal bang Arnes, ia hadir seperti suami impian itu Bel” ucap Mila dengan memperhatikan wajah Abel.
Abel sejenak menarik nafas panjang mendengar uraian Mila ia kemudian menatap sendu sahabatnya itu, “sepertinya kita sama Mil, walaupun kita beda jalan setelah tamat SMA, tapi kisah cinta kita sepertinya sama, aku hanya dipermainkan oleh para laki-laki itu, untung saja aku masih waras nggak mau memberikan diriku pada mereka saat itu” ucap Abel yang sekarang duduk di samping Mila, ia kemudian memeluk sahabatnya itu yang mulai terbawa perasaan.
“cinta itu memang buta ya Bel, aku bahkan selalu berpikir baik tentang dia, sekalipun orang terdekatku mengatakan dia orang yang buruk, sekalipun dia pernah memintaku untuk hal yang buruk itu, aku tetap saja mempercayai sebagai suami impianku, aku udah terlalu nyaman saat itu Bel, sehingga kehadiran Arya seperti benalu dalam hubunganku dan dia, untung saja Tomy menyadarkanku saat itu, dan akhirnya aku menyadari, bahwa Arya jauh lebih baik dari dia” jawab Mila yang meresapi pelukkan Abel di tubuhnya.
Begitulah mereka menghabiskan waktu bersama ketika masa sekolah mereka, Abel selalu bisa memahami Mila yang hidup dalam keluarga yang retak pondasinya. Namun terkadang sikap polosnya membuatnya sering salah sangka pada sahabatnya itu.
“aku tidak tahu salahku dimana Bel, aku belajar dari temanku, aku sholat seperti dia sholat Bel, aku ikut bersamanya kesana kemari mendengar ceramah selama aku kuliah, tapi dia bisa menjaga dirinya sampai menikah, sedangkan aku malah terjebak dengan perasaanku sendiri pada laki-laki itu, aku merasa munafik dengan pakaianku ini Bel, tapi aku terlalu malu untuk membuka auratku seperti dulu” ucap Mila yang sekarang mulai merasa sesak di dadanya.
“udah Mil, jangan sedih-sedihan lagi, ayo bantu aku lagi” ucap Abel dengan menarik satu koper lagi untuk diisinya, Mila seketika menelan salivanya. “Bel, nggak satu koper aja kamu bawa, barang yang tadi sudah cukup untuk kamu bawa” ucap Mila menahan tangan Abel yang sedang memasukkan barang lagi ke koper itu. “masa sih?” ucap Abel yang ragu dengan ucapan Mila.
Vanessa kemudian berdiri dan mendekat ke arah Abel dan Mila, keputusannya untuk tidak ikut dalam pembicaraan 2 gadis itu adalah keputusan yang tepat, karena ia dapat menilai hubungan 2 gadis itu sudah mulai membaik lagi karena pembicaraan singkat itu. “iya Bel, udah, ayo bereskan lagi barangmu ini ke lemarimu, agar kita bisa segera berangkat” ucap Vanessa.
__ADS_1
*
Buggghhhhh,
Sebuah pukulan mendarat di perut orang suruhan Haris ketika melaporkan hasil kerjaannya kepada pengawal Adinata yang menjadi pimpinannya.
“bisa-bisanya kamu memberitahukan pada orang lain tentang tujuan kita” ucap laki-laki yang memakai pin pengawal Adinata group itu
“maaf bos, mereka mengawal istri target kita, mereka sepertinya orang terlatih, saya sama sekali tidak menyadari kehadian mereka” ucap laki-laki yang mengambil sampel darah Arya.
“siapa mereka?"
“mereka berasal dari perusahaan tempat target kita bekerja bos” ucap laki-laki itu yang kemudian berdiri dengan tegap disisi pengawal itu.
Pengawal itu sejenak memejamkan matanya, ia sejenak berpikir tentang apa yang akan ia lakukan, “jika ini bocor ke orang lain, target kita itu bisa dalam bahaya, tuan Haris saja tidak tahu siapa yang mengincar tuan muda sekarang, mungkin lebih baik kamu mengawasi target kita itu sampai hasil tes DNA itu keluar, pastikan tidak ada orang yang menyentuhnya” ucap pengawal itu berjalan berlalu pergi dari laki-laki itu.
‘ahhh sial, gara-gara 2 orang itu, malah aku yang kena pukul sekarang’ gerutu laki-laki itu melihat pengawal yang menjadi bosnya itu pergi meninggalkannya.
Sementara pengawal itu berjalan tegap membawa rasa bimbangnya, “pasti tuan Haris akan marah dengan hasil kerja seperti ini” gumamnya dengan gusar.
__ADS_1