Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Sikap Aneh


__ADS_3

Arya baru saja turun dari lantai 4 untuk segera pulang, ketika sampai di loby ia bertemu dengan Arbi dan Rika, sejak ia kembali, ia belum sekalipun bertemu dengan Arbi. Sebagai teman, Arya sudah paham betul dengan perbuatan Arbi itu, temannya sedang ingin menjaga jarak dengannya untuk mengendalikan emosinya yang kadang sulit terkendali, apa lagi selama ia pergi perusahaan menjadi kacau. Untuk sejenak pertemuan mereka terasa begitu dingin, namun kehadiran Rika pacarnya Arbi membuat suasana dingin mereka sedikit cair.


Ketika mereka berpapasan Arya lebih memilih membuka ponselnya sementara Arbi hanya membuang mukanya, namun Rika menyapa Arya ketika bertemu.


“hai Arya,” sapa Rika yang dijawab Arya dengan senyumannya.


“kamu jarang sekali aku lihat belakangan ini” ujar Rika sembari menahan tangan Arbi yang terus berjalan hingga laki-laki itu berhenti.


“aku lagi banyak kegiatan di luar Rika, jadi kita akan sangat jarang sekali bertemu disini” jawab Arya dengan ramah, sementara Arbi menatap sinis pada Arya.


“benarkah, sepertinya kita akan kesulitan untuk makan siang berempat seperti dulu bersama Ari” ucap Rika dengan nada akrabnya pada Arya.


“Sepertinya begitu, apalagi Arbi lumayan sibuk sekarang hingga dia tidak sempat lagi untuk ke ruanganku, padahal dulu dia dan Ari sering menganggu kerjaku” ucap Arya lagi yang ingin menyindir Arbi atas sikapnya yang dinilai kekanak-kanakan bagi Arya.


Arya sadar bahwa Arbi adalah orang yang memiliki ambisi besar untuk memajukan perusahaan, namun ia menyayangkan Arbi jika hanya berfokus pada target, klien, dan kontrak sehingga meninggalkan esensi persahabatan mereka dalam mendirikan perusahaan itu.


“apa kalian sedang ada masalah?” tanya Rika sembari bergantian melihat wajah 2 laki-laki itu. Arbi sejenak melihat ke arah Arya, ia teringat pada sosok Anjani yang ia lihat beberapa hari lalu mencari Arya.


‘ahh sial, kalau bukan sebagai senjata rahasiaku untuk menghancurkan cipta rakarsa, aku akan campakan perempuan murahan ini dan mengejar gadis itu’ batin Arbi.


Arbi kemudian melangkah pergi melepas tangan Rika yang sedari tadi menahannya.


“seperti yang kamu lihat Rika” jawab Arya tersenyum sembari meninggalkan Rika yang berdiri bingung seorang diri, ‘mereka yang ada masalah kenapa malah aku yang ditinggal'


*


Arya telah kembali ke rumah lebih awal sesuai janjinya pada Mila, agar mereka dapat menghabiskan banyak waktu ketika mengunjungi pak Sarman, ketika Arya membuka pintu kamarnya, ia mendapati Mila sedang memeriksa tugas siswanya dengan wajah murung.

__ADS_1


Mila seketika berdiri dan menjawab salam Arya, ia kemudian mendekat pada Arya dan mencium tangan suaminya itu. Arya kemudian menarik kepala Mila dan mengecup dalam kening Mila yang membuat mata Mila membulat seketika, Arya benar-benar berhasil membuat perasaannya naik turun dari kemarin, tingkah Arya yang sering mengejutkannya itu benar-benar membuat perasaannya dibuat tak karuan.


“apa ada masalah Mil?, kamu tampak murung sekarang” ucap Mila sembari menatap dalam mata Mila,


Mila tersenyum getir menjawab pertanyaan Arya sembari menggelengkan kepalanya, “apa kamu masih memikirkan masalah tadi pagi?” tanya Arya lagi pada Mila dengan masih menatap dalam mata istrinya itu. Mila kembali menggeleng dan tersenyum getir menjawab pertanyaan Arya, dan ia melepaskan tangan Arya dari wajahnya dan kemudian memeluk suaminya itu.


“Aku hanya sedang ingin berbuat mesum seperti ini kepadamu” ucap Mila dalam pelukkan Arya yang membuat laki-laki itu sekarang menjadi bingung.


Jika kemarin Mila membuatnya bingung karena berhias ketika ia pulang, sekarang ia bingung karena istrinya itu tampak lesu ketika ia pulang.


“Arya kamu sudah janjikan akan terus menggenggam tanganku apapun yang terjadi” ucap Mila menahan rasa takut akan masalah cadar itu.


“iya Mil, kamu juga sudah janjikan akan terus menggenggam tanganku apapun yang terjadi” balas Arya atas ucapan Mila sembari mengingat lagi Cipta rakarsa yang akan segera hancur di tangan Ari.


“aku janji Arya, kita harus selalu bersama seperti ini ya, apapun yang terjadi nanti” ucap Mila menenangkan pikirannya. “iya Mil, sekarang kamu bisa lepaskan aku, aku ingin mengganti bajuku dulu dan istirahat sebentar sebelum ke rumah sakit melihat kakek, dan kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu” ucap Arya pada Mila.


*


Haris baru saja bangkit dari kursinya dan menuju pintu untuk keluar, baru saja ia membuka pintu, seorang laki-laki langsung masuk dan menarik tangannya untuk kembali ke dalam ruangannya itu.


“Ada apa Rahman?, kenapa kamu tiba-tiba menarik tanganku?” tanya Haris yang heran dengan sikap Rahman.


“aku tidak punya banyak waktu Haris, sepertinya ada pengawalku yang berkhianat pada kita, aku harus mempercepat kepergianku ke luar negeri untuk menemui para pemegang saham di luar negeri” ucap Rahman dengan serius pada Haris.


“aku sudah tahu, salah satu mata-mata kita di rumah Aliando sudah mengatakannya kepadaku” jawab Haris kepada Rahman.


“aku akan berangkat ke Malaysia malam ini, dan selanjutnya ke ke asia timur, Amerika dan Eropa untuk meloby para pemegang saham itu, mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kita, aku tidak tahu apa yang tengah disiapkan Aliando untukku” ucap Rahman yang membuat Haris menelan salivanya seketika.

__ADS_1


“pengorbanan ini benar-benar menyakitkan Rahman, kita sudah kehilangan sekretaris Arjun, dan sekarang kamu,,,”


“itu bukan pembahasan kita Haris, kamu harus segera temui anak pak Sarman dan minta sampel anak itu, anak pak Sarman pasti tidak sembarang orang menduga anak itu adalah tuan muda” potong Rahman pada kalimat Haris.


“Baik Rahman, akan ku cari dia nanti sore, kita harus segera memastikan sampel itu, beberapa orang kita juga sudah mengirim beberapa sampel baru ke rumah sakit,” jawab Haris lagi.


“Tapi Rahman, Apa dokter Reny masih bisa kita percaya?, pak Budi mencurigai dokter itu” ucap Haris lagi pada Rahman.


“Dokter Reny adalah dokter pribadi keluarga tuan Gibran, dia tidak mungkin mengkhianati kita,” ucap Rahman pada Haris lagi.


Haris menarik nafas panjang mendengar ucapan Rahman kepadanya. ia menatap wajah sahabatnya itu, sahabat yang telah berpuluh-puluh tahun berjuang bersamanya di bawah bendera keluarga Adianata.


“Apa rencanamu sekarang Rahman?” tanya Haris pada Rahman lagi.


“Jika aku tertangkap, maka kamu yang selanjutnya, Aku tadi sudah bertemu Hardi, dan mendorong dia untuk benar-benar berada di pihak Aliando, pertunangan anaknya pasti akan dilakukan sebelum rapat pemegang saham, dan itu pasti akan mempengaruhi para pemegang saham yang berhasil aku loby, tapi itu juga baik agar kita tahu siapa yang masih setia dengan keluarga Adinata” ucap Rahman yang membuat Haris pias seketika.


“apa maksudmu membuat Hardi berada di pihak Aliando?”


“Dia belum serius dengan perjodohan ini, sepertinya ia masih menimbang langkah yang ia ambil, Hardi itu orang bermuka dua Haris, dia akan sangat berbahaya jika berada di sisi kita, bisa saja ia berpaling pada saat-saat genting, itu sangat membahayakan kita, lebih baik ia berada di pihak Aliando,”


“jika pertunangan terjadi sebelum rapat pemegang saham, itu berarti kita akan kalah nanti saat rapat pemegang saham” ucap Haris pada Rahman dengan nada kecewanya.


“bukankah ini hanya testing the water bagi kita, menang adalah keuntungan kita, dan kalah adalah jalan kita, yang pasti Aliando harus turun sebelum anak mereka menikah, posisi tawar anak Aliando adalah karena Aliando masih menjadi CEO ditambah saham dari Hardi, jika Aliando sudah turun, saham Hardi tidak akan terlalu mempengaruhi nilai tawar anak itu di bursa pemilihan CEO nanti, dan kita dapat mendorong pengalihan posisi CEO tanpa harus menjual saham tuan Gibran ke pasar modal,” jelas Rahman lagi dan Haris menarik nafas kasar mendengarnya.


“sekarang kamu harus tambah orang-orang mu untuk dapat menemukan tuan muda, ambil sampel sebanyak mungkin, dan satu lagi, pastikan sampel dari anak pak Sarman kamu dapatkan aku punya firasat lain pada anak pak Sarman itu” ucap Rahman yang kemudian meninggalkan Haris yang masih terdiam dengan apa yang ia dengar, mata- matanya berkca-kaca melihat kepergian Rahman.


‘Tuang Gibran, lihatlah pengorbanan kami ini untukmu, aku harus siap atas hal buruk yang akan terjadi pada Rahman nanti’ batinnya.

__ADS_1


__ADS_2