
Anjani menatap kesal ke arah ponselnya yang saat ini ia mainkan, ia sedang menscroll media sosialnya dengan perasaan kesal karena orang yang ditunggu tak kunjung juga datang, padahal jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 12.25.
“sudah 3 minggu aku menunggu kabar untuk pertemuan ini, dan sekarang dia belum datang juga, memang ya, berurusan dengan orang-orang di Negara ini tidak akan pernah tepat waktu, apa lagi bekerja sama dengan perusahaan yang baru besar seperti ini” gumam Anjani kesal dengan keadaan, sekretarisnya yang duduk di sebelahnya hanya menunduk takut dengan amarah Anjani yang kadang-kadang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Anjani kembali menscroll media sosialnya dengan cepat karena kesal,, “ahh sialan, kemana sih mereka?, aku masih banyak pekerjaan mereka malah main-main” kesal Anjani lagi yang membuat sekretarisnya merinding takut, karena bisa saja Anjani akan melampiaskan kemarahannya pada dirinya.
Selang beberapa saat pintu itu terbuka, dan Rita masuk sembari tersenyum pada Anjani. Anjani melengus kesal dan ia menatap tajam ke arah Rita yang baru datang, sementara Rita hanya bersikap santai menghadapi tatapan tajam Anjani dan segera duduk di depan sekretaris Anjani. Tak ada sedikit pun rasa takut di hati Rita menghadapi Anjani, karena Ia tahu Arya pasti akan membelanya jika Anjani berani memakinya saat itu.
Mata Anjani sekarang melotot tajam pada sosok yang telah membuatnya menunggu selama 3 minggu untuk kontrak tersebut. Namun tatapan tajam itu langsung berubah dengan tatapan tak percaya melihat wajah laki-laki yang bersama Rita itu, “Indra” gumamnya pelan.
“maaf, nona Anjani, anda tadi bilang apa?” tanya Rita pada Anjani, gumaman Anjani sedikit terdengar di telinganya, namun tidak begitu jelas.
‘astaga, mana mungkin dia Indra, aku terlalu memikirkan Indra karena perjodohan kemarin’ batin Anjani menenangkan dirinya.
Arya duduk di depan Anjani dengan sikap santainya. Ia kemudian melihat Anjani dengan tersenyum. “Selamat siang” ucap Arya dengan santai yang membuat Anjani menghirup nafas panjang untuk segera menjawab ucapan Arya.
“Apa kamu tidak sadar bahwa kamu sudah terlambat,?, apa kamu tidak bisa bersikap sopan dan meminta maaf atas keterlambatan kamu ini?” ucap Anjani dengan tegas pada Arya.
Arya kemudian tersenyum pada Anjani, “kamu yakin kami terlambat, kamu bisa cek sendiri jam di ponsel kamu” ucap Arya yang melirik jam digital di ruangan itu yang tepat berada di belakang Anjani duduk.
Anjani kemudian membuka ponselnya, dan jam di ponselnya tepat menunjukkan jam 12.30. Anjani kembali melengus nafas kesalnya.
“sekarang mari kita bahas tujuanmu untuk pertemuan ini” Arya kemudian mengambil dokumen yang ada di depan Rita, dan sekretaris Anjani memberikan dokumen serupa kepada Anjani. Anjani sejenak memeramkan matanya, ia kemudian melirik wajah Arya, dan ia dapat melihat ada Indra disana, Anjani kemudian mengalihkan pandangannya pada dokumen yang diberikan sekretarisnya untuk membuang pikirannya tentang Indra.
“Apa kita langsung membahas ini? apa kamu tidak bisa berbasa basi sedikit pun terlebih dahulu? kamu sudah membuat projekku ini tertunda 3 minggu” ucap Anjani dengan nada kesalnya.
__ADS_1
“waktuku cukup berharga untuk sekedar berbasa basi, dan lagi pula seharusnya kamu sudah mencari kontraktor lain jika merasa dirugikan oleh perusahaanku” jawab Arya dengan tegas, ia kemudian mulai membuka dokumen di depannya.
“seberapa berharga waktumu dari pada waktuku, kelas perusahaanmu saja masih jauh di bawah perusahaanku” jawab Anjani yang mulai sinis pada Arya.
Rita dan sekretaris Anjani melihat mereka berdua dengan tatapan pias, mereka seolah merasakan pertemuan tersebut akan berakhir dengan sedikit keributan antara Arya dan Anjani, dan yang lebih ditakutkan Rita adalah, kontrak yang telah lama ditunggu Arbi dan Ari akan batal dan perusahaan akan semakin kacau karena itu semua.
“Ketika kamu menungguku, itu membuktikan waktuku lebih berharga dari waktumu, dan aku tidak terlambat sedikitpun dari jadwal pertemuan ini,” ucap Arya dengan penuh penekanan yang semakin membuat Anjani kesal kepadanya.
“sekarang mari kita bahas apa yang ingin kamu bahas” lanjut Arya yang mulai melihat halaman per halaman desain hotel hasil rancangannya.
“Apa kamu tidak bisa menghormati klienmu? Apa kamu tidak tahu bagaimana cara bernegosiasi yang baik?” ucap Anjani sembari menyandarkan punggungnya dikursi dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia kemudian melirik tajam ke arah Arya, dan ia berhasil membuang Indra dari pikirannya ketika melihat Arya.
“Aku datang kesini untuk berdiskusi, bukan negosiasi, dan seharusnya kamu membahas ini bukan denganku, tapi dengan temanku Ari atau Arbi, karena masalah klien bagian mereka” jawab Arya yang mulai kesal dengan tingkah Anjani.
“Kenapa kamu sesombong ini?, aku bisa menghancurkan perusahaan kecilmu itu, apa kamu tidak sadar berhadapan dengan siapa?” Tatapan Arya dan Anjani bertemu, mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan kesal.
‘astaga Arya,, apa kamu tidak tahu sepenting apa kontrak ini untuk kita’ batin Rita yang kesal dengan Arya, ia kemudian segera merapikan dokumen yang tadi telah dibuka oleh Arya.
“baik, duduk” ucap Anjani memilih mengalah, dan Arya tersenyum menang mendengar itu semua. Ia kembali ke kursinya dan tersenyum sinis pada Anjani.
“ayo kita bahas” ucap Arya, ia kembali membuka dokumen yang telah di rapikan Rita sebelumnya.
“Buka halaman 23, aku tidak suka desain interior lobby hotelku seperti ini” ucap Anjani.
“kalau kamu tidak suka, kenapa kamu memilih desainku?” jawab Arya santai yang kembali membuat Anjani kesal kepadanya.
__ADS_1
“aku hanya ingin merubah beberapa bagian, apa salahnya dengan itu?” ucap Anjani.
“kalau kamu ingin merubahnya, kenapa tidak kamu saja yang merancang desain hotel itu?” lanjut Arya kembali menentang ucapan Anjani, wajah Rita dibuat pias oleh itu semua, ia mengusap dahinya dengan frustasi ‘Arya,, apa kamu memang tidak pandai bernegosiasi sama sekali,, bersikap baiklah pada klien kita ‘ batin Rita kesal dengan Arya.
“aku sudah 10 tahun di Amerika, aku sudah tahu betul seperti apa desain yang menarik untuk para turis asing, dan ini proyek pertamaku di Indonesia, aku hanya ingin kesempurnaan untuk proyek ku ini” ucap Anjani yang semakin emosi pada Arya.
Begitulah perdebatan mereka berlangsung hingga pertemuan itu berakhir setengah jam kemudian tanpa ada yang dirubah satu pun.
Arya tersenyum melihat Anjani setelah menutup dokumennya, sementara Anjani menutup dokumen yang ia pegang dengan wajah kesal, ia menunggu 3 minggu untuk mendiskusi rancangan itu, namun kenyataannya, tidak ada satu pun yang di rubah.
“Senang berbisnis dengan anda nona Anjani” puji Arya penuh sindiran pada Anjani.
‘sial,, aku menunda kontrak 3 minggu tanpa ada yang di rubah satu pun’ batin Anjani kesal mendengar ucapan Arya.
“Ayo Rita, kita kembali ke kantor” ucap Arya yang bangkit dari kursinya.
“tunggu, beri aku nomormu” ucap Anjani memberikan ponselnya pada Arya.
“untuk apa?, kamu sudah punya nomor sekretarisku kan?” jawab Arya yang melihat heran pada Anjani.
“kamu sepertinya arsitektur yang sangat berbakat, aku masih punya banyak proyek lagi untuk membangun bisnis perhotelan di Hardi corp, aku akan sangat membutuhkan bantuanmu nanti” ucap Anjani tersenyum pada Arya. Arya melihat Anjani dengan tatapan penuh selidik, ‘apa niatnya?, kenapa dia meminta nomorku?’.
“jika kamu ada perlu denganku, kamu bisa menelfon sekretarisku” Anjani tersenyum mendengar jawaban Arya, ia seperti sudah tahu jika Arya akan menolak permintaannya, namun Anjani tidak menyerah, ia kemudian memberikan ponselnya pada Rita, “tolong simpan nomor dia di ponselku” ucapnya.
Rita melihat Anjani dengan tatapan bingung, ‘kenapa dia meminta nomor Arya?’. Rita kemudian mengangkat tangannya untuk mengambil ponsel itu, ia sama sekali tidak bisa menolak karena takut Anjani akan membatalkan kontrak yang sangat berharga bagi 3A Sahabat itu, selain nilainya yang besar, bekerja untuk perusahaan sebesar Hardi corp dapat menaikkan citra perusahaan 3A Sahabat. Ditambah lagi keinginan Anjani untuk mengubah beberapa desain gagal karena kalah debat dengan Arya, rasa takut Anjani akan membatalkan kontrak itu seakan berputar di kepala Rita.
__ADS_1
Arya kemudian langsung merebut ponsel itu sebelum Rita sempat mengambilnya, ia kemudian mengetik nomor dan memperlihatkan pada Anjani namanya yang telah tersimpan di ponsel itu.
Anjani tersenyum manis melihat itu semua, ia merasa sedikit memenangkan hari itu setelah kalah total berdebat dengan Arya