Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Pindah Sementara


__ADS_3

“apa ada masalah?” tanya Mila yang bingung karena Arya menyinggung dirinya.


“sepertinya temanku benar-benar niat menghancurin abangmu Mil” ucap Arya dengan datar. Mila sejenak memikirkan sesuatu atas perkataan Arya.


Mila kemudian menatap panjang ke arah Arya “jika abangku benar-benar menyerahkanku pada bang Arnes, apa yang akan kamu lakuin Arya?” tanya Mila dengan datar.


“apa menurutmu aku bisa membunuh orang Mil?” tanya balik Arya dengan dingin pada Mila.


“Arya” gumam Mila tapi percaya dengan ucapan Arya. Sama sekali tidak ada di pikirannya jika Arya bisa melakukan hal seperti itu.


“Jika itu menyakitimu, aku siap membunuh orang itu Mil, tapi jika kamu menginginkan laki-laki itu, aku juga siap tersakiti untuk ikhlas melepasmu” ucap Arya masih dengan dingin.


Mila tersenyum mendengar ucapan Arya, baginya hati Arya benar -benar tulus dan ptuih bersih seperti kapas. “seluas itukah hatimu untuk siap tersakiti lagi olehku Arya?, aku bahkan tidak akan pernah memaafkan diriku lagi jika itu terjadi”


“akukan sudah bilang Mil, maafku selalu terbuka untuk siapa pun, dendam bukan jalan keluargaku, seperti apa pun aku tersakiti, maaf ku selalu ada” jelas Arya dengan pelan.


“Kalau begitu maafkan abangku dan laki-laki itu, jangan simpan dendam pada mereka, dan temanmu, biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan, aku juga ingin sepertimu, maafku akan selalu ada untuk mereka, walaupun itu sulit, tapi akan berusaha untuk itu, jika cara temanmu bisa mengubah abangku menjadi lebih baik, aku ikhlas untuk itu” ucap Mila mencoba menegarkan hatinya.


“apa menurutmu kita perlu ikut program kehamilan Arya?, aku benar-benar ingin cepat hamil, agar kamu nggak ngelirik perempuan lain lagi”


“kamu khawatir sekali aku akan tertarik sama perempuan lain Mil”


“iyalah, apa lagi Anjani? dia tadi chat aku, dia ingin bertemu denganmu”


“Anjani?,” tanya Arya karena kebingungan.


“dia bilang tanggal pertunangannya sudah ditetapkan, dan juga dia mau bahas desain hotelnya denganmu, buat aku gerah aja dia, ngebet bangat mau ketemu sama kamu” ucap Mila dengan kesal.


*


Malam itu akhirnya Mila, Arya dan Vanessa segera pindah ke apartemen milik Arbi, apartemen yang cukup mewah, dan lumayan luas dengan 2 kamar di dalamnya. Satu ruang tamu, satu ruang makan yang menyatu dengan dapur, dengan luas yang cukup besar.


Arya tengah membaca beberapa dokumen di meja makan, sementara Mila dan Vanessa sedang asyik memasak di dapur yang tidak terlalu besar, “apartemen temanmu ini lumayan besar dan mewah Arya, tapi sayang, pasti apartemen ini sering kosong” ucap Mila yang sedang mengiris wortel.

__ADS_1


“nggak juga Mil, dulu waktu kuliah kami sering kesini” jawab Arya dengan singkat.


“kuliah, mahasiswa punya apartemen semewah ini?” ucap Mila tak percaya.


“ayahnya salah satu pengacara ternama Mil, apartemen seperti ini hanya secuil bagi mereka” jawab Arya yang membuat Mila sejenak menghentikan pekerjaannya.


“pengacara ya” gumamnya pelan.


“iya, ambisi ayahnya kepadanya cukup besar agar sama seperti ayahnya, tapi Arbi punya cara pandang berbeda, dia merasa tidak punya bakat jadi pengacara, jadinya dia memilih jalan yang sekarang, tapi ayahnya tidak pernah mengakui capaiannya,” jelas Arya.


“Mil, besok kamu dan kak Vanessa ke kantorku ya, kalian bisa seharian di kantorku besok” ucap Arya dengan pelan.


“kamu kangen ya sama aku, sampai ngajak aku seharian ikut denganmu” goda Mila pada Arya.


“iya, kamu siap-siap saja nanti malam” balas Arya yang seketika membuat wajah Mila pias seketika, sementara Vanessa yang berdiri di samping Mila hanya tersenyum mendengarnya.


“ihh kamuu, nggak lihat ada kak Vanessa apa” kesal Mila seketika.


“kamu aja yang berdua sama Mila besok Arya, kakak disini aja,” ucap Vanessa memisahkan perdebatan suami istri itu.


“ya udah kalau kakak nggak mau, tapi kakak jangan mono aja disini, pergi jalan-jalan, belanja atau apa kek, yang penting menghibur diri kakak” ucap Arya pada Vanessa.


*


Pagi itu, di dalam ruangannya, Aliando menatap nanar ke sebuah kertas yang baru saja di berikan oleh sekretarisnya, sebuah undangan dari dewan komisaris untuk menghadiri rapat pemegang saham group Adinata.


Aliando mengusap kasar wajahnya melihat undangan itu, ‘dewan komisaris itu bergerak cepat, apa mereka mengejar waktu pertunangan Anjani, tapi itu juga tidak mungkin, pertunangan Anjani 3 hari lagi, apa mereka punya maksud lain untuk ini semua’ batin Aliando.


Aliando kemudian melihat ke arah sekretarisnya, “apa selain Rahman masih ada orang lain lagi?” tanya Aliando dengan dingin.


“sesuai perintah tuan, beberapa orang telah kami awasi, aku mencurigai Haris tuan, dia beberapa hari ini selalu menemani keluarga Rahman di rumah sakit” jawab Sekretaris Aliando itu.


“Haris, apa dia juga orang yang menjadi musuhku sekarang?, pasti ada orang lain yang menggerakkan mereka, Haris bukan orang yang cukup pandai mengatur strategi seperti ini, yang lain bagaimana?” tanya Aliando lagi.

__ADS_1


“saya belum menemukan yang lain tuan, apalagi banyak orang kepercayaan tuan Gibran yang sudah kita pindahkan ke anak perusahaan, jadi saat ini hanya Haris yang mencurigakan” jelas sekretaris itu lagi.


“Sampel yang masuk kemarin bagaimana?, apa hasilnya ada yang positif?”. tanya Aliando mengubah topik pembicaraan mereka.


“masih nihil tuan, tuan muda masih belum ditemukan” jawab sekretaris itu dengan pelan.


“mereka pasti juga sedang mencari anak itu, seharusnya anak Gibran itu mati malam itu, sekarang keberadaannya malah tidak jelas, apa dia masih hidup atau sudah mati, jika dia masih hidup, ini akan berbahaya bagi kita” pikir Aliando.


“aku harus memastikan Arnes naik ke posisi CEO, sekarang adalah waktu yang tepat menjalankan ini semua, jika menunda waktu lagi, nanti malah terlambat dan aku kehilangan posisiku karena usiaku, dan Arnes bakalan kesulitan menjadi CEO” lanjut Aliando lagi.


“lalu sekarang apa rencana tuan?” tanya Seketaris itu dengan hati-hati.


“siapkan acara pertunangan Arnes semewah mungkin, undang semua media, pastikan pertunangan ini menjadi pemberitaan utama, ini pasti akan menekan para pemegang saham, dan juga awasi terus Haris, dengan siapa ia berinteraksi, laporkan semuanya tanpa ada yang lolos sedikit pun”


Sementara itu di sebuah perusahaan lain, Arya dan Mila sudah memasuki lobi perusahaan 3A Sahabat, semua orang yang melihat sepasang suami istri itu bergandengan tangan langsung memberi hormat dan menyapa mereka, ‘kalau seperti ini baru pangeran dan princess namanya’ batin Mila ketika semua orang memberi hormat kepada mereka berdua.


Saat berada di dalam lift berdua, Mila tak sungkan untuk memeluk tangan Arya yang ia gandeng tadi, “kamu sepertinya sangat senang dengan sikap mereka tadi” ucap Arya sembari mencium singkat kepala Mila yang dibaluti jilbab hitam yang lebar.


“aku benar-benar merasa jadi princess mu sekarang” jawab Mila dengan singkat.


“princess naik motor” ucap Arya setengah tersenyum.


“kita beli mobil aja gimana, tabunganmu cukupkan Arya?, kalau kamu kepanasan terus tiap pagi, wajahmu itu bisa gelap karena cahaya matahari sama debu jalanan” ucap Mila melihat wajah suaminya.


“boleh, kalau kamu mau, nanti kita bisa lihat -lihat mobil, atau nanti aku dan Rita bisa mencarikan mobil untuk kita” jawab Arya.


“nggak usah, kita aja yang cari, kamu nggak boleh jalan berduaan sama dia, aku nggak suka” ucap Mila dengan sedikit kesal.


“dia kan sekretarisku, kamu nggak boleh cemburu gitu, lagi pula dia sudah menikah dan punya anak,”


ucap Arya yang kemudian berjalan keluar dari lift karena pintu lift sudah terbuka.


Mereka kemudian segera berjalan menuju ruangan Arya, tempat dimana Ari dan Arbi sudah menunggu mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2