Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Hanya Sahabat


__ADS_3

Dokter Karina baru saja menyelesaikan jam tugasnya, sekarang ia sudah bersiap-siap untuk segera pulang ke rumahnya. Disaat ia tengah merapikan mejanya, pintu ruangannya diketuk, dan Ari masuk ke dalam ruangannya itu. “kamu Ri,” ucap dokter Karina dengan singkat.


“kamu lagi ngapain, sibuk amat kayaknya” ucap Ari yang kemudian duduk di kursi yang ada di depan meja dokter Karina. “ini aku mau siap-siap pulang” jawab dokter Karina masih dengan singkat.


“aku besok mau keluar daerah, mau cek beberapa projekku disana” ucap Ari dengan memperhatikan dokter Karina yang sekarang sudah duduk melihat ke arahnya.


“berapa hari?” tanya dokter Karina yang membuat Ari mendengus kesal seketika, karena jawaban dari pacarnya itu hanya dengan kalimat singkat kepadanya.


“mungkin seminggu, aku akan kembali sebelum Arya balik ke Jakarta” jawab Ari dengan nada sedatar mungkin.


“jadi kamu mau ngabari aku soal itu?” tanya dokter Karina dengan ketus.


“aku juga mau mengajakmu makan malam, itu pun kalau kamu nggak menolak lagi”


“kamu tahukan, aku pasti menolaknya, buat apa lagi kamu bertanya” ucap dokter Karina dengan santai.


“aku mau bicara serius denganmu nanti malam, apa tidak bisa kita makan malam kali ini saja Karina?” Ari bertanya dengan nada penuh harapnya pada dokter Karina,

__ADS_1


“bicarakan saja sekarang Ri, aku masih punya banyak waktu sebelum pulang” jawab dokter Karina masih dengan santai.


“aku sebenarnya sudah lama bersikap sabar denganmu Karina, kita pacaran, tapi aku merasa seperti tidak memiliki pacar, diajak jalan nggak mau, diajak pergi makan nggak mau, ini bukan pacaran namanya, katakan padaku, sampai kapan kamu mau seperti ini padaku, kalau kamu memang nggak mau denganku, katakan saja dari awal, nggak usah menerimaku lalu bersikap seperti ini” ucap Ari melepas rasa kesalnya.


dokter Karina sejenak melepas nafas panjang, ia memberanikan dirinya menatap mata Ari yang melihatnya dengan tatapan penuh harap. “kamu sudah bilang di depan Tomy dan Abel mau melamarku, kenapa sekarang kamu meragukanku?,”


“Bagaimana mungkin aku melamarmu jika kamu masih seperti ini Karina?, kita mau membangun rumah tangga, tapi sikapmu selama ini selalu seperti ini padaku, apa kamu pikir rumah tangga kita nanti akan baik-baik saja dengan sikapmu seperti ini?” ucap Ari yang tak paham dengan sikap dokter Karina.


“rumah tangga kita takkan baik-baik saja jika kamu menikahiku dengan perasaan ragumu itu” jawab dokter Karina.


“katakan, apa alasanmu selalu seperti ini padaku?, aku yakin, ini bukan hanya sekedar kamu ingin menjaga dirimu dari dosa sajakan”


“dan satu hal lagi Ri, aku tidak akan pernah menolak jika ada laki-laki lain yang datang untuk ta’aruf denganku dan melamarku, selagi dia baik dan kedua orang tuaku merestui, aku akan menerimanya, jadi jangan berharap dengan kata pacaran itu aku akan setia kepadamu, kesetiaanku hanya untuk laki-laki yang mengikatku dengan ikatan suci bukan hubungan dengan status yang tak jelas seperti pacaran ini” lanjut dokter Karina lagi.


Ari sejenak melepas nafas panjang, “aku akan melamarmu setelah Tomy dan Abel menikah, itu janjiku, aku mencintaimu Karina, aku harap kamu tidak akan mengecewakan perasaan tulusku” ucap Ari sembari berdiri meninggalkan dokter Karina.


'Aku percaya kepada Arya, cara menaklukkanmu adalah dengan menikahimu Karina, aku akan melakukan itu untuk mendapatkan hatimu' batin Ari yang berlalu pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Dokter Karina dengan perasaan tak menentu menatap dalam punggung Ari yang keluar dari ruangannya, ‘maaf Ri, aku yang salah, aku menerimamu dulu hanya untuk mengetahui perasaan Arya kepadaku, tapi aku janji Ri, jika kamu mau serius denganku, aku akan berikan seluruh hidupku kepadamu, Arya hanyalah sahabat, dan akan selalu menjadi sahabat kita’ batin dokter Karina.


*


Arya menatap dalam wajah paman dan bibinya, sementara Tomy duduk di sebelah Arya di kursi yang ada di kamar itu. Kedua orang tua Tomy duduk di atas ranjang menatap kedua putra mereka yang telah lama pergi merantau jauh ke Jakarta.


“Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan nak?, katakanlah sekarang, mereka bertiga sudah tidurkan,” ucap Pak Susanto, ayah dari kedua laki-laki itu.


“paman, aku ingin meminta izin sama paman untuk sesuatu” ucap Arya membuka suaranya.


“izin apa?, katakanlah nak” ucap pak Susanto memandang lekat wajah Arya.


“sebelumnya aku mau minta maaf paman, aku menikah tanpa memberi tahu paman terlebih dahulu" ucap Arya dengan nada bersalahnya.


"saat itu kakek Mila menelfonku dan meminta aku menikah dengan Mila, aku ingin menolaknya dan lari dari pernikahan itu, waktu itu aku sudah mengajak Tomy untuk mendaki ke Semeru agar tidak menikahinya, tapi aku tidak bisa mengingkari janjiku pada kakek Mila paman, pernikahan itu terjadi dan aku harus melalui rumah tanggaku dengan banyak masalah bersama Mila, aku tidak mengabari paman dan bibi setelah menikah karena aku nggak mau membuat paman dan bibi terbebani oleh masalahku, karena masalahku dan Mila sangat berat waktu itu paman” jelas Arya dengan kepala tertunduk di depan paman dan bibinya. Tomy melihat Arya dengan perasaan sakit di hatinya, ia sebenarnya belum sepenuhnya mampu memaafkan Mila, namun ia berusaha menutupi itu semua karena Arya juga tampak tegar menghadapi semuanya dan menerima Mila kembali.


“nak, aku dan bibimu tidak mempermasalahkan hal itu, kami hanya ingin kamu bahagia, dan memastikan orang yang akan menjadi istrimu adalah orang baik, begitu pun dengan Tomy, kami juga ingin datang untuk melamar gadis itu untuk Tomy, tapi Tuhan belum mengizinkan kami untuk itu, sekarang kami bersyukur sudah dapat bertemu dengan mereka, dan melihat mereka langsung seperti ini, dari pandangan kami, mereka sepertinya adalah orang baik nak, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian” ucap paman Arya dengan nada tenang.

__ADS_1


“kami sebagai orang tua, hanya ingin melihat anak-anak yang kami besarkan mendapatkan istri yang baik dan tahu dengan ajaran agama, kami hanya ingin melihat kebahagiaan kalian di umur kami yang sudah menua ini nak” ucap bu Annisa melanjutkan perkataan suaminya.


“bu, kami bahagia kok bu, Arya sudah mendapatkan istri yang baik, aku melihat sendiri seperti apa keceriaannya belakangan ini, dan juga Abel, dia anak baik kok bu, aku yakin, aku akan bahagia bersamanya” ucap Tomy yang ingin meyakinkan kedua orang tuanya.


__ADS_2