Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Lakukan Yang Terbaik


__ADS_3

Arya baru saja menyelesaikan pekerjaannya di teras, ia kemudian masuk ke dalam rumah untuk beristirahat sejenak, dan ketika ia melewati ruang tengah, ia sejenak mendekat ke pintu kamar Mila, dari sana ia dapat mendengar Mila tengah berbicara dengan nada gemetar. ’astaga, apa ini bang Irman lagi’ batin Arya, Ia segera menaruh laptop dan dokumen kerjanya di atas lemari kecil yang ada di ruangan itu.


Arya kemudian mengetuk pintu kamar itu 2 kali, dan terdengarlah suara Abel menyuruhnya untuk masuk.


Arya kemudian membuka pintu, ia dapat melihat tubuh Mila yang membelakanginya, dari punggung Mila yang tampak bergetar, ia dapat mengetahui istrinya itu sedang menahan tangis.


Hati Arya seakan tersayat melihat keadaan itu, ia kemudian melihat ke arah Abel, “bisa tinggalkan kami berdua Bel” ucap Arya dengan pelan pada Abel.


Abel menarik melepas nafas kasar, ia kemudian berdiri dan menatap tajam pada Arya, “kenapa kalian selalu ribet kayak gini?, nggak capek apa ada masalah terus” gerutu Abel pada Arya, ia kemudian pergi keluar kamar.


‘emang siapa yang ingin punya masalah?’ kesal Arya di batinnya, Arya kemudian mengunci pintu kamar dan mendekat pada Mila yang masih membelakanginya Arya kemudian memeluk Mila dari belakang dan mencium pelipis kanan Mila.


“apa bang Irman lagi?” tanya Arya dengan pelan. Mila kemudian mengangguk pelan dengan berusaha menahan isak tangisnya.


“apa yang dia katakan?” tanya Arya lagi, dan Mila menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu.


'bagaimana mungkin aku mengatakan pada Arya kalau bang Irman ingin menjualku adiknya sendiri hanya untuk menyelamatkan perusahaan, bang Irman jelas -jelas berbohong padaku, Tomy sudah mengatakan bahwa aku tidak akan pernah bisa mendapat status istri di keluarga bang Arnes, lalu apa yang bisa ia lakukan untuk memastikan status istriku jika aku bersama bang Arnes, dasar laki-laki ********, dia, bang Arnes dan ayah, sama saja semua, tidak pernah bisa menghargai kehormatan wanita’ batin Mila menahan rasa sakit hatinya.


Arya kemudian membuka cadar Mila, ia menarik tubuh Mila dan membimbingnya untuk berbaring di kasur dengan posisi berhadap -hadapan dengannya, Ia menatap dalam manik mata Mila yang basah dengan mengelus pipi putih istrinya itu, sementara Mila menatap lekat wajah suaminya dengan perasaan tak menentu di hatinya.


“apa yang ingin kamu lakukan sekarang?” tanya Arya pada Mila,


“aku,,, aku tidak tahu harus apa sekarang, aku tidak ingin keluargaku hancur, dan kakek, aku takut kesehatan kakek akan menurun lagi Arya” jawab Mila dengan pelan.

__ADS_1


“jangan berpikir untuk kembali sekarang, kalau kita kembali sekarang, keadaan akan jauh lebih sulit lagi, aku tidak mau jika sampai harus memukul abangmu atau laki-laki itu jika mereka berani menyentuh sedikit saja dari pakaianmu” ucap Arya dengan nada datarnya.


“Arya, aku nggak mau kamu sampai berantem begitu” ucap Mila dengan nada tak sukanya.


“oleh karena itu kamu jangan berpikir untuk kembali ke Jakarta sekarang, jangan khawatirkan kakek dan ibu, mereka pasti sudah tahu lama bahwa keadaan perusahaan keluargamu akan seperti ini, ini kesalahan abangmu, dia yang harus membayarnya, bukan kamu, kehormatanmu adalah kehormatanku juga Mil, jadi jangan berpikir untuk membantah kata -kataku, karena aku melakukan ini juga untuk menjagamu, aku akan membantumu menyelesaikan semua masalahmu, sekarang percaya sama aku, ikuti jalan yang aku pilih, inshaAllah semua akan baik-baik saja” ucap Arya pada Mila.


Mendengar ucapan Arya, Mila teringat pada ucapan bu Annisa tadi pagi yang hampir sama dengan ucapan Arya, bahwa kehormatan seorang istri juga merupakan kehormatan suaminya, dan nasehat itu terus berputar di kepalanya, hingga kalimat, ‘kami tidak punya kekuatan apa-apa untuk melindungi mereka disana, kami hanya punya Allah nak, melalui doa dan keyakinan kami kepada Allah, kami yakin, Allah akan melindungi mereka untuk kami’ kalimat itu terngiang di telinga Mila.


’aku harus percaya pada Arya, semua akan baik -baik saja, benar kata bibi, aku punya Allah yang akan menjaga ibu dan kakek disana’ batin Mila.


Mila kemudian mendekat pada Arya dan menyembunyikan kepalanya di dada Arya, dan Arya seketika memeluk istrinya.


‘syukurlah Mila sedikit lebih tenang’ batin Arya.


Setelah suasana mereka hening cukup lama, Arya kemudian bangkit dari ranjangnya setelah Mila terlelap tidur karena rasa lelah setelah tenaganya terkuras habis oleh perasaan emosionalnya.


Saat ia membuka pintu kamar, Abel, Vanessa dan bibinya yang duduk di ruang tengah itu melotot tajam kepadanya, ‘astaga, ini ada apa lagi?’


“kamu ini kegatalan sekali ya, ini masih siang, tapi kamu sudah mengerjai istrimu” ucap bu Annisa yang sedang duduk mengolah bahan masakan di ruang tengah bersama Vanessa dan Abel.


“apa sih bi, emang aku melakuin apa coba,”


“kamu di kamar bersama istrimu lalu mengunci pintu kamar sehingga mereka berdua tidak bisa masuk, apa kamu tidak bisa menahannya selama disini?” ucap bu Annisa mengusili putra angkatnya itu.

__ADS_1


‘astaga, yang benar saja, bibi benar-benar membuatku malu sekarang’ batin Arya dengan wajah datarnya.


“bi, Vanessa ke kamar bentar ya bi” ucap Vanessa pada bu Annisa, Vannesa kemudian bangkit untuk masuk ke kamar, ia menatap ke arah Arya yang masih berdiri di dekat pintu kamar itu.


“apa semua baik-baik saja?” tanya Vanessa pada Arya dengan pelan agar tidak terdengar bu Annisa.


“kakak kemana saja?, Mila benar-benar butuh kakak sekarang” ucap Arya nada yang sama pelannya dengan Vanessa.


“kakak pergi sama bibi ke pasar tadi, diantar sama Tomy dengan mobil paman, dan kamu sama Mila tadi kemana?” tanya Vanessa kepada Arya.


“membersihkan pikirannya, respon Mila jauh lebih tenang dari yang aku duga kak, tapi tetap saja aku khawatir jika abangnya itu terus mengganggunya, jadi aku blokir tadi nomornya di ponsel Mila, dan jika dia menghubungi kakak, lebih baik kakak tidak mengangkatnya” jelas Arya pada Vanessa.


“syukurlah kalau Mila tidak terlalu terbawa emosi, lakukan saja yang menurutmu terbaik dek” ucap Vanessa berlalu pergi ke dalam kamar.


Arya kemudian mendekat pada bibinya dan kemudian berbaring disana.


“mana istrimu, dia mau belajar masak juga kan?” tanya bu Annisa pada Arya.


“lagi tidur bi, dia kelihatannya capek sekali” jawab Arya dengan santai.


“makanya kamu jangan megerjainya siang -siang kayak gini,” ucap bu Annisa lagi.


“ahh bibi, kami tidak ngapa-ngapain kok” gerutu Arya dengan kesal.

__ADS_1


“Apa kamu tidak bisa berbaring di kamar saja Arya, kenapa harus berbaring disitu?, merusak mataku saja” ucap Abel dengan polos kepada Arya.


Arya kemudian bangkit dan menatap Abel dengan mendengus kesal. Ia kemudian mengambil laptop dan dokumen kerjanya, lalu berjalan ke kamar belakang untuk tidur disana.


__ADS_2