Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Beban Terus Bertambah


__ADS_3

Ari melangkah gontai memasuki ruangan Arya, sementara Arya melepas nafas kesal melihat kedatangan sahabatnya itu.


'kerjaanku masih banyak, dia malah datang mengganggu’ batin Arya kesal.


Ari kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu, ia kemudian melirik ke arah Arya dengan tersenyum, “gue ingin menyelesaikan apa yang belum sempat gue selesaikan kemarin” ucap Ari dengan nada santainya tanpa beban.


“lo masih ingin memukul gue?” tanya Arya tak kalah santai.


“gue capek-capek 3 hari di Sulawesi mencari lo, tapi lo udah balik ke Jakarta, lo tahu nggak, semuanya menjadi kacau karena lo pergi 3 minggu, kontrak kita banyak yang pending, beberapa kontrak juga ada yang batal karena klien kurang puas dengan design yang kita tawarkan, Arbi bahkan sampai marah-marah di rapat pimpinan karena keuntungan kita menurun” ucap Ari yang mulai melepas kekesalannya pada Arya.


‘orang Ari benar-benar bekerja sempurna, mereka bahkan tahu aku ke Sulawesi, padahal aku sudah berusaha pergi tanpa memberi tahu siapa pun, aku juga meninggalkan ponselku agar mereka tidak bisa melacakku, tapi tetap saja mereka tahu kemana aku pergi’ batin Arya yang benar-benar memuji kinerja orang suruhan Ari.


“yang penting gue kan sudah kembali, sekarang kita fokus saja memperbaiki semuanya” ucap Arya dengan santai,


Ari melihat Arya dengan tatapan tajam, ”enak kali lo ngomong, kita disini kalang kabut karena lo pergi, Rita sudah pusing setengah mati menghandle semua kerjaan lo, Tim arsitektur lo juga bekerja lembur untuk memenuhi keinginan klien, dan sekarang lo Cuma bilang fokus memperbaiki semuanya, lo pikir ini perusahaan punya nenek moyang lo” ucap Ari mulai marah.


“truss gue harus ngomong apa?” tanya Arya yang masih santai menghadapi omongan Ari.


Ari melengus nafas kesal melihat Arya, sepertinya ia harus mengurungkan niatnya untuk memukul Arya, karena itu hanya kan membuatnya pekerjaan mereka akan menjadi tambah menumpuk.


“Bagaimana pertemuan lo dengan Anjani tadi?” tanya Ari yang mengalihkan pembicaraan mereka.


“Kenapa dia harus bertemu dengan gue?, apa lo nggak bisa menyelesaikan semuanya sendiri?, masalah kontrakan bagian lo sama Arbi” ucap Arya balik bertanya.


“Dia ingin bertemu dengan arsiteknya langsung, jika tidak, dia tidak mau tanda tangan kontraknya” jawab Ari datar karena ia berusaha menenangkan rasa marahnya.


“Dia cantik kan?, gue yakin, dia pasti lebih cantik dari istri lo yang bercadar itu” lanjut Ari yang mulai bercanda dengan Arya, ia merasa itu akan jauh lebih baik ketimbang membahas masalah Arya yang hilang selama 3 minggu.


“benarkah?, gue tidak terlalu memperhatikan wajahnya tadi” jawab Arya masih dengan nada santainya.


“masa sih, siapa pun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh hati padanya, gue yakin, lo pasti puas melihat wajah cantiknya tadi” ucap Ari sembari melihat Arya dengan tersenyum.


“buat apa gue melihat wajahnya, gue sudah punya wajah cantik yang bisa gue lihat sampai puas tiap malam di rumah” jawab Arya yang kembali meraih satu dokumen untuk segera ia kerjakan.


“lebih baik Anjani dari pada istri lo itu, Anjani itu lulusan Amerika, pernah kerja juga di Amerika, dan dia baru pulang beberapa waktu lalu dari Amerika, selain itu dia juga pewaris Hardi corp, perusahaan yang sudah cukup besar sekarang, sedangkan istri lo kerjanya hanya berkhianat pada suaminya sendiri” ucap Ari yang membuat Arya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

__ADS_1


Arya sama sekali tidak senang dengan tuduhan Ari pada Mila, walaupun sejatinya itu memang benar adanya. Namun ia lebih memilih diam, 'sepertinya Ari masih sakit hati sama Mila' batinnya.


“sepertinya akan ada cinta segi empat disini” lanjut Ari yang menatap Arya dengan tatapan santainya.


“maksud lo?”


“Anjani dijodohkan dengan pewaris Adinata group, pacar istri lo, lo akan terlibat pada hubungan cinta yang rumit ini, gue saranin lo untuk lepas saja istri lo itu, biarin dia pergi sama pacar brengseknya dan lo kejar Anjani, mana tahu lo beruntung jadi mantu di Hardi corp” ucap Ari tersenyum sinis, entah mengapa ia sangat menginginkan hubungan Arya dan Mila segera selesai, apa lagi ia sudah dapat laporan pertemuan Mila dan Arnes siang itu.


Arya langsung pias mendengarnya, ‘astaga, Anjani dan om Hardi ternyata berada di pihak musuhku, dan aku sekarang telah punya hubungan kerja dengannya’ batin Arya yang mulai merasa takut dengan posisinya sekarang.


“lo tahu dari mana?” tanya Arya yang masih berusaha dengan mada santainya.


“gue sudah mengirim orang untuk mengikuti Anjani untuk memastikan kontrak itu tidak batal, tapi gue malah mendapatkan informasi ini” ucap Ari tersenyum dengan kerja orang suruhannya.


Nafas Arya tercekat, dadanya terasa sesak, batinnya terasa sakit ketika mendengar sahabatnya itu telah berada di pihak musuhnya, “batalkan kontraknya Ri” ucap Arya singkat yang membuat Ari menatap tajam pada mata Arya,


“apa maksud lo?, ini kontrak besar, ini bisa membuat perusahaan kita naik ke level berikutnya” ucap Ari dengan nada tak sukanya pada apa yang diucapkan Arya.


Arya memejamkan matanya, ia begitu takut untuk terikat dengan orang-orang dari Adinata group, trauma akan apa yang pernah terjadi menimbulkan rasa takut berlebihan dihatinya jika sudah berhubungan dengan Adinata group.


Mendengar pertemuan dengan Hardi corp saja sudah membuatnya takut setengah mati, apa lagi sekarang ia harus mendapati kenyataan orang yang bekerja sama dengan perusahaannya sudah menjalin ikatan dengan musuhnya itu. Rasa takut itu semakin menjadi-jadi di hatinya.


Ari menatap kesal melihat Arya yang masih diam. “masalah kontrak itu bagian gue, sekarang lo urus saja istri lo yang masih selingkuh itu” ucap Ari lagi yang kali ini semakin menambah bebam pikiran Arya.


“apa maksud lo istri gue masih selingkuh?”


“baru saja pacar istri lo itu menemui istri lo di sekolahnya tempat mengajar, orang suruhan gue bekerja dengan baik untuk melindungi diri lo Arya” jawab Ari dengan santai, ‘lo memang seharusnya udahan dengan dia Arya’ batin Ari,


Sementara Arya mendengar itu semua dengan wajah datar, ‘astaga, aku sudah tahu ini semua akan terjadi, tapi tetap saja rasanya menyakitkan’ Batin Arya yang berusaha mengendalikan perasaannya.


“sepertinya laki-laki itu cukup agresif mengejar istri gue” ucap Arya singkat yang membuat Ari memandangnya dengan wajah heran. “maksud lo?”


“gue memblokir nomor dia di ponsel istri gue, jadi hanya akan ada 2 kemungkinan, istri gue yang datang menemuinya untuk menjelaskan semua itu, atau dia yang datang ke istri gue untuk minta penjelasan, dan sekarang dia yang datang pada istri gue”


“waw, apa itu jebakan untuk menguji perasaan istri lo itu?” jawab Ari yang mulai kagum dengan Arya, walaupun ia sudah lama mengenal Arya, tetap saja ia tidak bisa memahami sahabatnya itu sepenuhnya, Arya selalu bisa membuatnya terkagum-kagum atas tindakan yang terkadang sulit dipercayanya.

__ADS_1


“bisa jadi, tapi yang jelas gue harus menjaga istri gue dari laki-laki itu, seperti yang lo katakan sebelumnya”


“walaupun laki-laki itu yang datang pada istri lo, tetap saja itu tidak membuktikan bahwa istri lo itu sudah sadar akan kesalahannya”


“gue tahu Ri, tapi setidaknya itu sudah membuktikan bahwa istri gue masih menghargai posisi gue sebagai suaminya, Jika dia memilih laki-laki itu, pasti dia yang datang duluan menemui laki-laki itu karena merasa bersalah kalau nomor laki-laki itu sudah terblokir di ponselnya, Dia pasti takut kalau laki-laki itu salah paham”


“Arya, perempuan itu tidak mudah di pahami, perasaannya tidak sama dengan logika di pikiran lo, jadi jangan gampang percaya sama perempuan yang jelas-jelas tidak menghargai diri lo”


'apa sih yang dipikirkan Arya, kalau aku jadinya, udah aku cerain hari itu juga, ini Arya malah balikan lagi sama istrinya itu, apa sih yang ia harapkan dari perempuan macam itu' batin Ari kesal pada sahabatnya itu.


Arya melepas nafas panjang mendengar ucapan Ari, karena kata-kata Ari itu membangkitkan rasa sakit dihatinya.


“udah lah Ri, gue nggak mau bahas masalah itu, apa lo tahu apa yang mereka bicarakan?”


“nggak, orang suruhan gue menjaganya dari jarak jauh, mereka nggak bakalan bisa dengar percakapan istri lo dan laki-laki itu dengan jelas”


“Bilang sama orang suruhan lo itu, jangan biarkan lagi laki-laki itu berbicara dengan istri gue, lo tahu sendirikan seperti apa mulut laki-laki menangkap mangsa mereka” ucap Arya dengan nada serius pada Ari.


“lo nyindir gue?”


“gue tahu itukan dari diri lo, Mulut lo kan cukup handal memperdayai perempuan” ucap Arya polos sembari mengingat betapa seringnya Ari gonta-ganti pacar dulu semasa mereka kuliah, ia bahkan takjub dengan Ari karena laki-laki itu begitu mudahnya membuat perempuan takluk hanya dengan modal kata-kata mautnya.


“Tapi ada juga perempuan yang sulit di taklukan, Karina aja sampai sekarang belum bisa gue dapatkan hatinya, padahal gue sudah pacaran lama denga dia” ucap Ari dengan lemah, ia begitu mencintai gadis itu, tapi ia tidak merasakan ada cinta serupa dari Karina untuknya.


“Cara taklukan Karina itu dengan ijab Kabul, bukan modal mulut doang”


“lo tahu darimana?”


“buktikan aja kalau nggak percaya” jawab Arya sembari bangkit dari kursinya, ia kemudian mengambil tas kerjanya untuk segera pulang. Walaupun pekerjaannya masih banyak, namun Mila terasa lebih menarik untuk segera ia temui saat ini, ia ingin melihat seperti apa reaksi Mila nanti jika bertemu dengannya setelah bertemu dengan Arnes.


“Lo mau kemana?, ini masih jam kerja” tanya Ari yang mulai merasa Arya akan meninggalkan pekerjaannya yang masih menumpuk.


“pulang, gue mau main-main dulu sama istri gue,”


“astaga Arya, pekerjaan lo masih menumpuk itu” ucap Ari sembari menunjuk tumpukan dokumen di meja Arya dengan matanya.

__ADS_1


“gue udah nggak mood bekerja gara-gara ucapan lo tentang istri gue tadi” jawab Arya santai sembari keluar dari ruangannya, sedangkan Ari menatap kesal pada Arya yang sudah pergi.


Begitu pun dengan Rita yang juga kesal melihat Arya pulang dengan cepat siang itu, ‘pekerjaan masih banyak, dia sudah pulang jam segini’ batin Rita yang melihat Arya dengan geram dari kursi kerjanya.


__ADS_2