Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Alat Bisnis Saja


__ADS_3

Vanessa menatap heran melihat wajah ceria Mila dan Arya yang jauh tampak ceria dari biasanya, ia sejenak mencoba berpikir panjang pada sikap sepasang suami istri itu.


“kenapa kakak menatap kami seperti itu?” tanya Arya sembari menyeruput tehnya yang setiap pagi selalu dibuatkan oleh Vanessa, sementara Mila langsung menatap pada Vanessa setelah mendengar ucapan Arya.


“apa terjadi sesuatu dengan kalian?, kenapa kalian tampak ceria seperti ini pagi ini?” tanya Vanessa dengan nada penasarannya.


“maksud kakak?” tanya Mila yang heran pada kakak iparnya itu.


“tunggu, apa kalian semalam sudah bekerja keras mewujudkan keinginan kakek?” tanya Vanessa yang membuat Mila dan Arya langsung pias seketika.


Melihat ekspresi Arya dan Mila yang berubah membuat Vanessa langsung tersenyum, “sepertinya kakak akan segera menggendong keponakan kakak” ucap Vanessa sembari mencubit pelan pipi Mila yang masih menatapnya dengan wajah pias.


Arya sejenak menatap wajah senang Vanessa itu, ia teringat kembali pada surat tentang status kemandulan Irman. ‘apa benar isi surat itu?, jika benar, berarti yang bermasalah bukan kak Vanessa, tapi laki-laki itu, jika iya, berarti laki-laki itu tidak bisa dimaafkan lagi, dia sama sekali tidak memberikan hak istrinya dan membuat istrinya hidup menderita seperti ini’ batin Arya yang tidak terima dengan dugaannya itu jika benar adanya.


"kakak bicara apa sih?" kesal Mila pada Vanessa.


"udah,,, nggak usah bohong, kakak juga pernah sebelumnya kok" jawab Vanessa yang membuat Mila mengeram marah menahan malu.


*


Siang yang cukup panas hari itu menerpa ibukota yang selalu macet setiap harinya. Rita sedang bersiap-siap menggunakan make up di meja kerjanya, karena ia ingin makan siang di luar bersama suaminya siang itu. Ketika ia sedang asyik merias wajahnya agar bertambah cantik lagi, tiba-tiba saja telfonnya berdering yang membuat wajahnya tak senang melihat nama di layar ponsel itu, ‘dia lagi’ batinnya dengan kesal.


“Halo, selamat siang, ada yang bisa saya bantu nona Anjani?” tanya Rita dengan nada seramah mungkin.


“mana Arya, aku ingin bicara dengannya,?” ucap Anjani dengan nadanya yang terdengar sesak.

__ADS_1


“Ada perlu apa nona?, nanti akan saya sampaikan pada pak Arya” jawab Rita yang membuat Anjani kesal seketika. “berikan saja ponselmu pada Arya, atau aku yang akan datang membuat keributan disana” ucapnya dengan penuh kekesalan. ‘ahh sial, perempuan ini’ kesal Rita, ia kemudian langsung bediri dan masuk ke ruang Arya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Arya langsung melihat Rita dengan kesal, ia sangat tidak suka jika ada yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu?” tanya Arya dengan nada kesal.


“tidak, ini ada telfon untukmu,” jawab Rita dengan ketus.


“siapa?” tanya Arya yang dijawab Rita dengan mengangkat kedua bahunya.


“halo, siapa?” tanya arya dengan ketus,.


“ini aku temanmu, aku menunggumu ditempat kita bertemu membahas desain pertama kemarin, ayo cepat kemari atau aku yang akan ke kantormu untuk buat keributan” ucap Anjani dengan suara serak dan paraunya yang membuat mata Arya membulat seketika. ‘Anjani kenapa?, kenapa suaranya seperti itu?’ batinnya yang khawatir dengan keadaan Anjani. “Anja,,” ucap Arya yang terhenti karena panggilan itu langsung diputus seketika. 'kok dimatikan?'


Arya sejenak melihat pada Rita dan lagi Rita mengangkat kedua bahunya. “kamu ada agenda siang ini?” tanya Arya dengan nada datar pada Rita, “aku sudah punya agenda khusus dengan suamiku jam makan siang ini, jadi jangan ganggu waktuku untuk keluargaku” jawab Rita dengan tegas pada Arya.


“kalau begitu mana kunci mobilmu?” tanya Arya lagi.


"Arya, aku ingin keluar dengan suamiku” ucap Rita kesal sembari mengikuti langkah Arya ke mejanya, Arya segera mengambil kunci mobil Rita dan berlalu pergi, “aku pinjam sebentar, kamu kan bisa makan siang di kantin” ucap Arya meninggalkan Rita.


Sementara itu suami Rita yang baru turun dari lantai 6 tempatnya bekerja sedang berjalan ke arah mereka dengan tersenyum sembari menggeleng -gelengkan kepalanya melihat tingkah Arya.


“Aku pinjam mobilmu dulu ya bang” ucap Arya sembari tersenyum pada Harun suaminya Rita.


“apa kamu mau mengganggu makan siang kami?” ucap Harun juga tersenyum pada Arya.


“aku memberikan kunci motorku pada istrimu, naik motor akan jauh lebih romantis sekarang” ucap Arya sembari meninggalkan Harun dan Harun hanya tertawa mendengar itu semua.

__ADS_1


Sekalipun posisinya hanya staf biasa, tapi Arya begitu sangat menghargai dirinya, bahkan sekalipun Rita adalah bawahan Arya, Arya masih tetap menghormatinya seperti abang Arya sendiri, hal yang terkadang membuatnya selalu menaruh hormat kepada laki-laki itu.


“masss,” ucap Rita berkeluh kesah pada suaminya.


“gimana?, adikku tadi membutuhkan mobil kita” ucap Harun tersenyum pada Rita.


“lalu gimana rencana kita?, aku benar- benar ingin makan di luar sekarang.” ucap Rita dengan manja pada suaminya.


“motor Arya ada kan?” tanya Harun dengan santai pada istrinya.


“kamu mau kita pergi dengan motor buntut itu, dia itu kaya, tapi dia sama sekali tidak tahu dengan barang mewah” kesal Rita.


“naik motor sepertinya jauh lebih romantis, kamu bisa memelukku sepuasmu nanti” ucap Harun yang membuat Rita tersenyum seketika.


“boleh, ayok berangkat”


*


Anjani menatap kosong makanan yang ia pesan dalam jumlah banyak, ia benar-benar tidak terima dengan sikap ayahnya yang hanya menjadikannya alat bisnis saja, ‘jika ayah tidak mempercayai kemampuanku memimpin perusahaan, kenapa dia tidak cari orang lain saja, kenapa harus menjodoh -jodohkan aku seperti ini’ batinnya menahan sedih.


Anjani benar-benar tidak tahu seperti apa melampiaskan perasaan sedih dan kecewanya. Jika di Amerika ia biasa melampiaskan rasa sedihnya dengan sedikit minum, tapi tidak di Negara ini, baginya mabuk di Negara ini bukanlah solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah. Ia hanya butuh teman bicara, untuk itu lah ia menelfon Arya, baginya Arya adalah sahabat barunya untuk menggantikan sosok Indra yang telah lama menghilang.


‘ayah, apa hidupku dan kebahagiaanku tidak berharga bagimu, kenapa kamu memilih laki-laki dengan mata pemangsa itu untukku, pertemuan pertama saja dia sudah berani menatapku dengan penuh nafsunya’ batin Anjani lagi.


“ini Arya dimana sih” kesalnya karena laki-laki itu belum datang juga. Ia sudah semalaman menangis di kamar, ia juga tidak fokus bekerja di kantor dari kemarin, dan sekarang ia ingin melampiaskan semua perasaannya itu pada Arya, namun laki-laki itu belum kunjung datang.

__ADS_1


Bahkan makanan yang ia pesan memenuhi meja itu sama sekali tidak disentuhnya, padahal sudah hampir setengah jam makanan itu terhidang disana. Selang beberapa saat kemudian pintu ruang khusus itu terbuka, dan seorang laki-laki langsung masuk kesana yang membuat wajah Anjani dapat sedikit tersenyum, “Arya, akhirnya kamu datang juga” gumamnya.


__ADS_2