
Arnes berjalan menuju ruang kerja ayahnya yang terletak disamping ruangan keluarga, saat ia hendak masuk, ia mendengar percakapan ayahnya dengan sekretaris ayahnya itu.
Arnes memejamkan mata, memasang telinganya baik-baik untuk mendengar apa yang dibicarakan di dalam.
“dokter itu dijaga oleh orang-orang atas perintah tuan Arya tuan, bahkan orang-orang itu sekarang memakai pin Adinata group, Rahman juga dijaga keluarganya setiap saat, kita tidak bisa mendekati mereka” ucap Sekretaris Aliando yang membuat laki-laki itu melepas nafas penuh rasa marah.
“aku nggak mau hancur seperti ini, aku memperjuangkan ini semua selama 22 tahun, dan anak itu kembali merusak semuanya” ucap Aliando menahan emosi.
Arnes menarik nafas kasar, ia mendorong pintu itu dan segera masuk, “ayah tidak punya rencana apa-apa atas masalah ini” ucapnya dengan nada sedikit meninggi.
“kamu,, jangan buat pikiran ayah tambah pusing karena kelakuan kamu yang seperti ini” ucap Aliando menatap tajam kepada anaknya.
Arnes tak menanggapi ucapan ayahnya, ia melirik tajam kepada sekretaris Aliando, “ini semua karena keteledoran kamu” ucapnya.
Sekretaris Aliando menunduk, ia tak berani berkata apa-apa pun.
"kondisi lagi tidak bagus Arnes, jangan buat masalah lagi” ucap Aliando dengan tegas.
“kenapa ayah tidak bunuh saja si Arya itu, ayah hanya perlu mengirim orang untuk itu”
“jangan gegabah Arnes, Arya di jaga oleh orang-orang yang cukup kuat” ucap Aliando melepas nafas kasar, “kita harus tahu dulu siapa otak mereka, jika dalang itu masih ada, Arya mati pun tidak akan mengubah apa apa, saham Gibran akan jatuh kepada keluarga istrinya”
"keluarga istrinya?" Arnes tersenyum sinis, “itu bagus yah, aku akan menikahi Mila, dengan begitu saham itu akan jadi milik kita,
"istrinya Arya itu pacarku, kami sudah berpacaran lama, kami bahkan berpacaran ketika mereka sudah menikah, kalau bukan karena rencana ayah untuk menikahkan ku dengan Anjani, aku mungkin sudah menikah dengannya dari dulu”
“jadi istrinya perempuan seperti itu, berpacaran di belakang suaminya sendiri” ucap Aliando dengan sinis. “jika kamu bisa mendapatkan istrinya itu, ayah akan siapkan rencana khusus untuk membunuh Arya, membunuhnya harus dengan bersih tanpa bau, agar pemegang saham tetap percaya sama kita”
Arnes sejenak berpikir, ia harus bisa bertemu dengan Mila, apa lagi hasratnya untuk menyentuh Mila sudah lama ia tahan.
“ayah hanya perlu membantuku untuk bertemu dengan Mila, aku bisa memintanya untuk membunuh Arya” ucap Arnes dengan sinis.
“kamu yakin istri Arya ada di pihakmu?” tanya Aliando mencari kepastian.
Arnes terdiam, Sejak pertemuannya dengan Arya pertama kali di teras rumah Mila, hubungannya dengan Mila sudah mulai merenggang. Bahkan gadis itu menolak bertemu dengannya, belum lagi ada orang yang menjaga Mila dengan ketat. Membuatnya tidak bisa bertemu dengan Mila sama sekali.
“ayah tidak bisa menemukan cara yang tepat untuk menghadapi ini, aku dan Mila selama ini sangat mesrah, aku bisa membuatnya meninggalkan Arya
"bukan hal sulit untukku membuat Mila memilihku, aku hanya perlu waktu lebih banyak bersamanya, aku sudah hafal bagaimana cara membujuknya dengan baik”
Aliando melepas nafas panjang, permainan memanfaatkan perempuan tidak bisa dengan keras, melainkan melalui proses yang pelan, sampai menguasai hati perempuan itu dan setelahnya si perempuan bisa ia manfaatkan menuruti keinginannya.
__ADS_1
"Hardi belum mengambil keputusan apa pun tentang pertunanganmu dengan Anjani, jika kamu bisa mengajak pacarmu itu bekerja sama membunuh Arya, ayah akan batalkan pertunangan mu dengan Anjani, mereka tak berguna sama sekali sekarang
“Istri Arya bagianmu, sekarang ayah harus membereskan masalah Rena terlebih dahulu, kalau nggak semua uang kita bisa disita oleh perusahaan” ucap Aliando.
ia kemudian melihat ke arah sekretarisnya. “kamu selidiki siapa orang-orang yang ada di belakang Arya, mereka pasti sedang mentargetkan ulang tahun Adinata untuk menyedot perhatian pemegang saham, dan rapat pemegang saham tahunan untuk menjatuhkanku” ucap Aliando
*
Mila tengah bermain bersama Sarah dan 2 anak Sarah, Riska dan Ilham di ruang tengah. Sementaa Arya, Vanessa sama Ardian tengah duduk di ruang tamu, Ardian memberikan map yang tadi dititipkan Arya kepadanya.
“Irman sudah menanda tanganinya, aku harap kamu bisa hidup lebih baik lagi ke depan” ucapnya. “maaf jika keluarga Rakarsa memberikan pengalaman buruk dalam hidupmu”
“kakak sudah yakin dengan ini semua?” tanya Arya menatap lekat wajah ipar istrinya itu.
“sudah Arya, tapi kakak akan tetap menemani Mila sampai ia lahiran, lagian bisnis kakak sama Abel dan Tomy baru dimulai setelah masalahmu di Adinata group selesai” ucap Vanessa.
“kakak mau aku yang cerita kepada Mila, atau kakak sendiri?” tanya Arya lagi.
“biar kakak saja” gumam Vanessa.
“maaf selama ini kami bersikap tidak baik denganmu, bagi kami kakek adalah segala-galanya, aku menikah dengan istriku juga atas persetujuan kakek, bukan semata karena keinginanku saja” ucap Ardian dengan nada pelan kepada Vanessa.
“nggak apa-apa Ardian, aku ngerti kok, selama aku mengenal kakek, aku tahu seperti apa kakek orangnya, aku juga sudah bicara dengan kakek dan ibu, mereka mendukung keputusanku ini” ucap Vanessa.
“kamu mengkhawatirkan Mila Arya?” tanya Vanessa.
“iya kak" jawab Arya, "aku ke kamar dulu ya kak, ada beberapa desain yang harus ku selesaikan”
Arya kemudian berdiri dan meninggalkan Vanessa bersama Ardian.
“terima kasih Ardian, kamu sudah mau membantuku, aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya lagi” ucap Vanessa dengan dingin.
Ia juga bangkit untuk menuju ke kamarnya. Sementara Ardian melepas nafas kasar. Jika saja Ia tahu seperti apa kelakuan sepupunya itu, ia tidak akan bersikap sekasar itu kepada Vanessa.
Dilain tempat, Arbi tengah memegang beberapa dokumen yang dikirimkan Rita, ia memberikan dokumen itu kepada ibunya yang sedang duduk bersamanya di ruang tengah rumah mereka.
Ibu Arbi melihat dokumen itu dengan tersenyum tipis, menyelidiki kasus perusahaan sebesar Adinata group selalu memberikan tantangan dan sensasi tersendiri baginya.
“ibu akan coba menyelidikinya dulu” ucap ibu Arbi sembari membaca beberapa dokumen yang diberikan Arbi dengan sekilas.
"apa Arya belum cerita apa yang terjadi sama keluarganya?” tanya ibu Arbi penuh selidik.
__ADS_1
Arbi menggeleng, “dia masih trauma bu”
“sepertinya dia melihat langsung orang tuanya ditembak, itu pasti benar-benar membekas diingatan anak seusianya saat itu”
“jika Arya mau bersaksi, apa pembunuh itu bisa dihukum bu?”
“tidak, ini sudah 22 tahun, kasusnya sudah daluwarsa, nggak bisa dipidanakan lagi” jawab ibu Arbi yang masih melihat dokumen yang telah disiap Rena untuknya.
Arbi melepas nafas kasar, “kalau bisa kasus penggelapan dana ini cepat terungkap bu, agar laki-laki itu cepat disingkirkan, dia benar-benar berbahaya” jelas Arbi menatap lekat wajah ibunya.
“nggak semua pengacara bisa menyelidiki kasus penggelapan dengan cara seperti ini, butuh ketelitian untuk mencari tahu berapa dana yang digelapkan dan kemana alirannya, ayahmu yang pengacara hebat pun tidak begitu ahli untuk kasus seperti ini” jelas ibu Arbi, ia kemudian berdiri dan tersenyum tipis kepada anaknya.
"tapi ibu bisa menyelesaikannya dengan cepat kok"
Arbi ikut tersenyum melihat senyum ibunya, ia kemudian mengeluarkan kertas dari saku celananya, ia memberikan kertas itu kepada ibunya.
“aku pernah lihat ibu mengurus kasus yang menyinggung mereka, mungkin ibu bisa ngasih aku kasus mereka untuk menekan mereka agar mendukung Arya"
Ibu Arbi kemudian mengambil kertas yang berisi list pemegang saham yang bermasalah, ia melihatnya sejenak kertas itu,
"Arya berani bayar ibu berapa untuk membantunya?” tanya ibu Arbi dengan santai.
Arbi menggaruk kepalanya yang tak gatal, pantas saja ibunya bisa meraih pendapatan besar, untuk membantunya saja masih saja memikirkan bayaran.
“menyelediki ini butuh waktu dan konsentrasi Bi, jangan kamu pikir ini gratis, masa pemilik Adinata group tak bisa membayar ibu mahal” lanjut ibu Arbi yang melihat wajah tak suka dari anaknya.
“Arya mengasihku dana besar untuk membeli saham di beberapa perusahaan yang punya saham di Adinata group
"kalau ibu mau, setelah membeli sahamnya, aku akan memberikannya kepada ibu” tawar Arbi kepada ibunya.
“Arya ngasihmu uang untuk beli saham?, sebegitu percayanya dia sama kamu?”
“persahabatan kami tidak bisa ibu ukur dengan uang bu, tapi nyawa, kami hampir berjuang hidup dan mati saat hilang seminggu di gunung dulu, taruhan persahabatan kami nyawa bu” ucap Abi dengan kesal kepada ibunya.
“tapi kamu beda sama mereka bertiga, mereka sampai sekarang masih mendaki,,,
"nah kamu, udah takut duluan, akhirnya sampai sekarang nggak mendaki lagi, pakai alasan inilah, itulah, kamu pikir ibu nggak tahu” ibu Arbi mencoba menggodai anaknya.
Arbi mendengus kesal, “udah ah bu, ibu malah memojokkanku, aku ke kamar dulu” ucap Arbi yang kemudian segera naik ke kamarnya dilantai 2.
‘Mereka benar-benar udah dewasa, bahkan Arya benar-benar mengejutkan Adinata group, mulai dari kasus tuan Gibran dan sekarang penggelapan dana, perusahaan itu benar-benar menyimpan banyak rahasia’ batin ibu Ari melihat setumpuk dokumen yang ia pegang.
__ADS_1
Keempat putranya itu tumbuh cepat diluar prediksinya.