Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Masker


__ADS_3

Ari tengah duduk santai di sebuah restoran, ia memainkan ponselnya sembari memperhatikan keadaan sekitar, memastikan tidak ada yang mencurigakan di sekitarnya, Ia sejenak menarik nafas panjang dan melepaskannya.


Seorang pria yang terlihat cukup berumur menghampiri Ari, pria tua itu kemudian berdiri di dekatnya dan menatapnya dengan datar.


"kamu Ari?” tanya laki-laki itu yang melihat ciri -ciri pakaian Ari yang ia baca dari pesan yang dikirim Ari.


Ari tersenyum tipis, “iya pak, duduklah” jawab Ari yang melihat ciri-ciri pria tua tersebut mirip dengan pak Abdul.


Pak Abdul kemudian duduk di depan Ari, ia menatap wajah Ari yang jauh lebih muda darinya dengan pandangan datarnya.


”apa anda sudah tahu maksud pertemuan ini?” tanya ari tanpa basa basi.


“aku suka caramu, kita memang tak perlu berbicara panjang lebar untuk ini" jawab pak Abdul yang sejenak terhenti, ia menarik nafas panjang dan kemudian melanjutkannya “tapi perlu ku jelaskan, kamu tidak boleh bertindak diluar sepengetahuan kami, karena kami yang paham seperti apa musuh yang kita hadapi” ucap pak Abdul.


Ari menarik nafas kasar, ia sadar tidak boleh egois dengan cara bermainnya sendiri, apa lagi ia masih buta dengan musuh yang ia hadapi.


“dengarkan aku, Haris bilang kamu punya orang -orang yang bekerja dengan bagus, jadi aku minta agar kamu menjaga dokter yang memeriksa sampel itu, hasil tes itu harus diregistrasi dulu agar bisa dianggap sah, bukan dianggap tes ilegal, saat dokter itu meregistrasi dan melegalkan hasil tes itu di RS Adinata, dokter itu pasti akan diincar oleh musuh" jelas pak Abdul yang sejenak terhenti.


"disaat yang bersamaan dengan hasil tes yang dilegalkan itu, aku akan memproses pengalihan seluruh aset pada tuan Indra termasuk saham bersama pengacara tuan Gibran, setelah proses semua selesai, keadaan akan menjadi lebih sulit, kalian akan melawan mereka dengan terbuka, tidak sembunyi -sembunyi seperti sekarang” lanjut pak Abdul.


“terbuka?, kami melawan mereka terbuka?” tanya Ari dengan bingung.


"iya, karena kalian adalah sahabatnya tuan muda, maka kalianlah kekuatan besar dalam pertarungan ini"


Pak Abdul kemudian menjelaskan kepada Ari step by step rencana yang telah ia siapkan untuk mengalahkan Aliando dan menaikan Arya menuju kursi CEO.


Ari tersenyum mendengar semua rencana pak Abdul, walaupun ia cukup enggan memainkan rencana orang lain, namun ia harus mengakui kalau pemikiran pak Abdul jauh lebih cerdik darinya.


‘orang tua memang lebih berpengalaman dan berwawasan luas untuk masalah seperti ini’ batin Ari.


*


Setelah kepulangan Abel dan Tomy seusai makan malam, Arya sejenak melepas lelah dengan melihat laut Jakarta, ia menghabiskan waktu disana hingga pukul 9 malam, setelah merasa puas dengan pemandangan itu, ia kemudian masuk ke dalam, di ruang tengah ia melihat Vanessa tengah menonton tv seorang diri.


“Mila mana kak?” tanya Arya yang mengira Mila bersama Vanessa.


“di kamar kali Arya, sejak Abel dan Tomy pulang, ia belum keluar sama sekali”


Arya menarik nafas dalam dan segera masuk ke dalam kamarnya, saat ia membuka pintu, ia melihat Mila tengah sibuk di depan cermin.


"lagi ngapain Mil?”


“aku mau maskeran, kulitku udah lama nggak perawatan”


“malam-malam gini?”


“iya, bentar kok, ini cuma buat wajah” ucap Mila tanpa melihat Arya, ia sedari tadi sibuk menyiapkan masker dari salah satu merek kosmetik ternama.


Arya kemudian membuka tas kerjanya, ia mengambil buku tabungannya dan memberikannya kepada Mila “kamu mau memegangnya?” tanya Arya dengan datar.


Mila sejenak menghentikan kegiatannya, “tabunganmu?” dan Arya menjawabnya dengan anggukan pelan sembari merunduk menyamakan tinggi dirinya dengan tinggi Mila yang duduk di depan cermin meja hias kecil di kamar mereka.


“kenapa aku?, bukannya selama ini kamu memegangnya sendiri?”


“selama ini Rita yang memegangnya, bukan aku” jelas Arya.


“kamu benar-benar percaya sama kak Rita ya, apa sekarang aku boleh cemburu kepadanya?”

__ADS_1


Arya menarik nafas kasar mendengar ucapan Mila, “aku juga percaya sama kamu, jadi aku berikan ini kepadamu,” ucap Arya dengan tersenyum untuk meyakinkan Mila.


“sepercaya apa kamu padaku Arya?”


“aku lebih percaya sama kamu daripada Rita, hanya saja atas apa yang terjadi, terkadang aku merasa was-was karena takut semuanya akan terjadi lagi” jawab Arya.


Mila kemudian menarik nafas panjangnya dan kemudian ia tersenyum kepada Arya, Ia kemudian menyentuh lembut pipi Arya dengan tangan kanannya, “Aku tahu sulit bagimu untuk percaya kepadaku Arya, aku mengerti kok, lagi pula jika aku di posisimu, mungkin aku tak kan percaya lagi sama orang yang mengkhianatiku, apa lagi sampai memaafkannya seperti apa yang kamu lakukan untukku, jadi kamu nggak perlu berbohong kepadaku jika kamu lebih percaya kepadaku dari pada kak Rita, aku akan selalu menunggumu sampai kamu benar -benar percaya kepadaku lagi” ucap Mila.


‘apa benar aku belum percaya kepada Mila, aku melakukan ini semua karena aku takut laki –laki itu akan melakukan hal buruk pada Mila, dan mempengaruhi Mila dengan bujuk rayunya seperti dulu’ batin Arya menilai hatinya sendiri.


“yang jelas aku akan tetap menggenggam tanganmu sampai kita ke surga Mil” ucap Arya memegang erat tangan Mila yang menyentuh pipinya, ia kemudian mencium tangan itu.


“Arya,, menurutmu apa yang akan dilakukan Anjani jika dia tahu siapa dirimu?, apa dia akan mengejarmu?” tanya Mila yang masih mengingat kesedihan Anjani tadi pagi.


“mungkin dia akan marah seperti tadi pagi, atau juga mungkin dia tidak akan memaafkanku, dan juga, kenapa kamu berpikir Anjani mengejarku, apa aku setampan itu untuk di perebutkan perempuan”


Mila tersenyum, ia mencium tangan Arya yang menggenggam tanganya, “kamu bahkan lebih pantas untuk diperebutkan, semua perempuan pasti menginginkan suami sepertimu, apa lagi kamu dan Anjani berteman dekat dulu”


“benarkah?, kalau aku diperebutkan perempuan, seharusnya aku tidak menikah diumur 28 kayak gini,”


“kamu menikah di umur 28 karena kamu bertemu dengan aku jodohmu baru diusia segini” ucap Mila dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Arya, deru nafas Arya terasa menerpa wajahnya.


“hmm, Arya,,, aku punya satu permintaan untukmu, dan aku ingin kamu menurutinya malam ini” lanjut Mila dengan mata penuh harap pada Arya.


“permintaan apa?”


“katakan dulu kalau kamu akan menurutinya”


“ha, harus gitu ya, bukannya aku harus tahu dulu apa permintaanmu, kalau aku tidak bisa menyanggupinya bagaimana?”


“ok, aku akan menurutinya, apa permintaanmu?” ucap Arya mengangguk pelan, Mila tersenyum dan menyimpan buku tabungan Arya di laci meja. “kamu tidak ingin melihat isi tabunganku dulu?”


“aku cuma memegangnya kan, bukan melihatnya atau memakainya,” jawab Mila dengan santai, “aku kesulitan mengatur keuanganku, jadi selama ini Rita yang megang, sekarang kamu yang megang, jadi kamu yang harus ngaturnya, kamu juga bisa memakainya jika kamu butuh”


“kenapa aku?, nafkah yang kamu berikan saja banyak berlebih” jawab Mila dengan santai, ia menatap dalam manik mata Arya yang selalu lembut di matanya.


“ya sudah, jangan dipikirkan lagi, sekarang apa permintaanmu tadi?” ucap Arya yang tidak mau berdebat masalah tabungan itu, ia sudah penasaran dengan permintaan Mila kepadanya.


Mila memegang dagu Arya dengan tangan kanannya, ia kemudian memutar kepala Arya ke arah cermin, mereka kemudian saling melihat di dalam pantulan cermin“wajahmu tampak gelap Arya, pasti karena kamu sering panas -panasan saat mendaki, apa lagi sebelum ini kamu juga naik motor setiap hari”


“lalu?” tanya Arya yang tidak paham dengan maksud pembicaraan Mila.


Mila tersenyum, ia mengambil masker yang telah ia siapkan tadi, “permintaanku, malam ini kamu harus maskeran, kita sama -sama maskeran malam ini”


Arya menelan salivanya, wajahnya berubah pias, “yang benar aja Mil, seumur -umur aku nggak pernah maskeran” tolak Arya pada Mila.


“tapi tadi kamu sudah janji mau menuruti permintaanku” ucap Mila dengan cemberut.


"ya tapi jangan maskeran juga kali Mil,"


"kamu nolak permintaanku ya" ucap Mila dengan memanyunkan bibirnya, pipinya membulat karena cemberut,


Arya menarik nafas panjang, ia pasrah, dan kemudian mengangguk pelan dengan lemah menepati janjinya tadi pada Mila.


Mila tertawa tipis melihat anggukan Arya di pantulan cermin.


"nahh, gitu dong,," Mila kemudian dengan tersenyum memakaikan masker ke wajah Arya, Ia dengan telaten memolesi wajah suaminya dengan masker yang ia siapkan.

__ADS_1


Wajahnya menunjukkan cinta dan kasih sayang yang tulus dari hatinya. ‘sedalam inikah perasaan ku kepada Arya?, kenapa aku begitu mudah jatuh hati kepadanya?, kenapa dulu aku begitu egois dengan diriku sendiri?, hingga menolak kehadirannya dihidupku, Arya, aku benar-benar mencintaimu, apa kamu tidak mencintaiku, kenapa kamu tidak pernah mengatakan kalau kamu juga cinta kepadaku’ batin Mila sembari tetap memoleskan maskeran ke wajah Arya.


“udah” ucap Mila setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Arya kemudian melirik ke kaca, melihat wajahnya yang sudah memutih karena maskeran yang dipasang Mila.


‘astaga, mimpi apa aku semalam, kenapa malam ini aku maskeran kayak gini’ batin Arya.


“sekarang gantian, kamu yang maskerin aku” ucap Mila melihat wajah Arya dengan tersenyum manja.


Arya memasang wajah datar melihat Mila yang membuat Mila semakin tersenyum tertawa tipis melihat suaminya itu. Ia kemudian membuka jilbabnya dan Arya pun segera memakaikan masker ke wajahnya.


Perlahan Arya memolesi wajah Mila, matanya benar -benar dibuat takjub oleh wajah cantik dan kulit istrinya yang putih sempurna, “kamu sudah seputih ini, masih aja tetap maskeran Mil,” ucap Arya mencoba menenangkan gejolak di hatinya.


“ini perawatan Arya, agar aku tetap cantik untukmu, agar kamu tidak ngelirik yang lain”


“ngelirik yang lain gimana Mil?, saat hubungan kita di ambang kehancuran aja aku tak pernah berpikir tentang perempuan lain,”


“masa sih?, aku lihat karyawanmu lumayan banyak yang menarik di kantor, diluar sana juga banyak perempuan cantik dan seksi, tubuh mereka juga indah dan menggoda, mana mungkin kamu tidak memikirkan perempuan lain disaat aku seperti itu kepadamu” ucap Mila dengan menikmati setiap sentuhan Arya di wajahnya.


“apa kamu meragukanku Mil?” tanya Arya dengan datar, Mila tersenyum tipis dengan mata terpejam, ia menikmati setiap sentuhan lembut tangan Arya di wajahnya.


“aku nggak meragukanmu, aku hanya bercanda kok, aku kan sudah tahu seperti apa suamiku, terkadang aku saja yang posesif berlebihan" jelas Mila.


Arya melepas nafas panjang, “saat itu aku tidak memikirkan perempuan lain Mil, aku hanya berharap akan mendapatkan bidadari surgaku, entah itu kamu atau tidak, aku hanya ingin memiliki hari tua seperti kakek dan nenek di Sulawesi” jawab Arya dengan masih memolesi wajah Mila dengan mata istrinya itu masih terpejam.


“udah?” tanya Arya yang merasa sudah memolesi wajah Mila dengan rata.


Mila kemudian membuka matanya dan melihat wajahnya kembali di cermin.


“hmmmm, udah, pandai sekali suamiku ini memaskeriku, bisa rata kayak gini” ucap Mila yang melihat setiap sudut wajahnya di kaca.


"iyalah, aku kan memaskerimu pake hati, nggak pake tangan"


"ihhh, gombal"


Arya tersenyum mendengar ucapan Mila itu, "aku nggak bisa gombal Mil"


"iya, iya,, aku tahu kalau kamu jujur, kamu memaskeriku pakai hatimu yang tulus"


Ucapan Mila membuat Arya tersenyum, ingin sekali ia mencium istrinya itu, tapi wajah istrinya terebih dahulu dimaskerinya dari pada diciumnya.


“Mil, setelah maskeran ini kita ibadah yuk?” bujuk Arya yang seketika membuat wajah Mila memerah di balik maskernya.


“astaga Arya, kamu memintanya polos sekali” kesal Mila.


“emang kenapa?, kan hanya kita berdua disini”


Mila melepas nafas panjang, ia masih merasa malu jika di minta sepolos itu, ‘Arya nggak ada mesra -mesranya, kalau udah mau, mintanya to the point aja kayak gini, rayu dulu kek, romantis -romantisan dulu kek, baru minta, kalau polos gini kan akunya yang gugup'


“kamu belum haidkan Mil?” tanya Arya yang melihat raut wajah Mila sedikit berbeda.


Mila sejenak berpikir, beberapa waktu lalu ia meminta Arya untuk membelikannya barang untuk persiapan haidnya, tapi sampai hari itu, tamu bulanannya masih belum juga datang. ‘apa aku sudah hamil ya?, atau aku yang salah hitung tanggalnya?, mana mungkin aku salah hitung' batinnya sembari mengusap perutnya.


“kalau kamu nggak mau, nggak apa -apa kok Mil, aku ngga maksa kok” jawab Arya sembari berdiri untuk pindah ke ranjang.


“bukan itu Arya, aku,,,,,” ucapan Mila kemudian terhenti.


‘ya Tuhan, masa aku bilang kalau aku mau itu kepadanya, ini memalukan sekali’

__ADS_1


__ADS_2