Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Bencilah Kepadaku


__ADS_3

Arya berjalan pelan menuju pintu apartemennya, pikiran masih bekerja keras untuk merancang pola kalimat yang akan ia sampaikan nanti kepada Mila.


Ia masih dapat bersikap tenang, hatinya juga terasa tidak berkalut takut, namun hanya kekhawatirannya saja yang berlebihan. Ia khawatir Mila tidak siap menerima semua kenyataan itu, ia khawatir kondisi Mila akan semakin lemah dengan kandungannya yang masih muda.


Arya melihat ruang tamu apartemennya yang sepi, disana ia melihat sepasang sepatu laki -laki yang dapat ia kenali, ia kemudian berjalan ke ruang tengah, tidak ada siapa -siapa disana, namun ia mendengar suara laki-laki ada di ruang makan yang bergabung dengan dapur. Arya menelan salivanya, Ia memejamkan matanya, ia tahu betul siapa laki-laki pemilik suara tersebut.


Arya kemudian melangkah pelan ke meja makan, laki-laki itu duduk membelakanginya, sementara Vanessa dan Mila ada di depannya yang berhadapan langsung dengan posisi Arya. Mata Mila tampak basah, tubuh gadis itu terlihat kaku, kesedihan mendalam jelas tersirat dari mata Mila yang tampak nanar melihat kedatangannya.


Arya kemudian segera mendekat ke arah Mila, ia mendekap erat istrinya dan memeluknya dengan erat, “apa yang lo bicarakan sama Mila Ri?” ucap Arya dengan dingin kepada Ari.


“gue mengatakan apa yang ingin lo katakan, Arbi sudah menelfon gue tadi, posisi gue tadi ada di dekat sini, jadi gue lebih dulu sampai disini daripada lo"


Arya masih memeluk erat tubuh Mila, istrinya itu masih terlihat kaku, hanya dadanya yang terasa kemang kempis dengan teratur. Mila tengah berusaha mengatur pernafasannya, agar hatinya terasa lega dan ia bisa dapat bersikap tenang, tangan kanannya bergerak pelan mengelus perutnya, berharap janinnya tak ikut merasakan rasa sedihnya.


“kenapa lo cerita sama Mila?, gue yang harusnya cerita sama dia, dia istri gue” jawab Arya dengan nadanya yang tenang.


Tangannya masih memeluk istrinya dengan erat, bibirnya berkali-kali mencium kepala Mila. Berharap bisa memberi ketenangan kepada Mila. Sementara Vanessa masih mengusap bahu Mila disisinya, menguatkan Mila yang tampak berusaha tabah dengan keadaan.


Bagi Mila Irman tetaplah seorang abang yang ia sayangi, satu-satunya teman ketika Mila menghabiskan waktunya dimasa kecil. Sekalipun abangnya itu dulu sering mengabaikannya, namun Ia tetap menghormati dan menyayangi Irman.


“gue nggak mau Mila benci sama lo, ini keputusan gue, gue yang harusnya dibenci Mila, bukan lo Arya,” jawab Ari dengan datar.


Jika Arya yang cerita kepada Mila, Arya pasti akan membela apa yang sedang Ari lakukan, hal itu yang dikhawatirkan Ari akan membuat Mila marah kepada Arya. Akhirnya ia lebih memilih menemui Mila dan menceritakan semuanya lebih dulu dari pada Arya, memastikan Mila tidak menyalahkan Arya yang tidak membela Irman dihadapannya. Agar Mila hanya membencinya bukan Arya.


Ari mengusap kasar wajahnya ia melihat datar ke arah Arya yang masih mendekap Mila dengan erat. ‘syukurlah aku mengatakannya dengan cara yang benar, jadi emosi Mila dapat stabil mendengar semuanya’

__ADS_1


“Jangan pernah halangi rencana gue Arya, ipar lo itu bisa dijadikan alat oleh musuh lo, alat untuk menghabisi lo dan anak lo, alat untuk menghabisi darah Adinata, mereka bisa menawari laki-laki itu dengan banyak hal, apa lagi dia udah dendam dengan lo karena masalah sebelum ini, dia benar-benar akan bernafsu menghabisi lo Arya” ucap Ari yang sejenak terhenti.


“Mil, aku tahu ini sulit, tapi aku harap kamu bisa bijak atas ini semua, semua akan berjalan sesuai rencanaku, agar tidak banyak orang-orang yang akan dikorbankan lagi dalam masalah ini Mil” ucap Ari, ia kemudian bangkit dan segera berdiri.


“jadwal ke Vietnam kalian akan tetap sesuai jadwal, untuk Mila, gue akan konsultasi dulu sama Karina, jika memungkinkan, Mila lebih baik juga ikut” Ari kemudian berbalik badan dan meninggalkan apartemen Arya tanpa mendengar jawaban Mila dan Arya.


Sementara Arya masih mendekap erat Mila dalam pelukkannya, “Mil” gumam Arya dengan pelan.


“badanku lemas Arya, aku mau ke kamar” gumam Mila dengan pelan.


Arya menarik nafas panjang, ia sejenak melihat ke arah Vanessa dan Vanessa mengangguk pelan. Arya kemudian menggendong Mila ke kamar dan membaringkan Mila di ranjang.


“kamu perlu sesuatu Mil, apa kamu mau minum atau mungkin makanan?” tanya Arya yang khawatir melihat Mila, ia membantu membuka cadar istrinya. Mila menggeleng pelan, ia tidak ingin meminum atau memakan apa pun saat itu.


“kamu mau balik ke kantor lagi Arya?” tanya Mila dengan pelan. Arya diam tak menjawab, ia mengecup dalam kening Mila dengan segenap rasa dihatinya.


Mila memejamkan matanya, kata-kata Ari tadi masih menggema di telinganya, kedekatan Arnes dan Irman akan menjadi ancaman nyata bagi nyawa suaminya dan juga bagi malaikat kecilnya yang masih belum bernyawa di rahimnya. ‘ya Tuhan, apa benar bang Irman bisa melakukan hal seburuk itu’ batinnya.


Mila membuka matanya dan menatap lekat wajah Arya yang masih ada di dekat wajahnya, hembusan nafas Arya masih jelas ia rasakan “Arya, temani aku ya hari ini, aku nggak ingin jauh darimu” gumam Mila pada Arya.


Batinnya masih bimbang, dari cara Ari bicara, ia dapat merasakan ketulusan persahabatan Ari untuk Arya. Segala dugaan Ari bukanlah hal yang muncul begitu saja, pasti banyak hal yang dipikirkan Ari hingga dugaan seperti itu muncul. ‘aku tidak benar-benar berniat untuk memenjarakannya Mil, aku hanya ingin melindungi sahabatku dari situasi ini’ gumam Ari padanya tadi.


'jika kamu ingin membenci, bencilah aku Mil, jangan Arya, jangan sakiti dia lagi Mil, dia sangat menyayangimu dan juga calon anak kalian, ini semua murni keputusanku, Arya tidak tahu apa -apa sama sekali' jelas Ari kepada Mila yang menyiratkan ketulusan hati Ari untuk Arya.


Arya masih mendekap Mila, ia menenggelamkan kepalanya di sebelah kanan leher Mila dan ia memeluk istrinya itu dari samping. “aku akan menemanimu hari ini Mil, pekerjaanku bisa dikirim Rita kesini nanti” jawab Arya dengan pelan.

__ADS_1


Mila memutar ke kepalanya ke arah Arya, wajah Arya begitu dekat dengan wajahnya. Mereka sama-sama dapat merasakan hembusan nafas masing-masing. “apa bang Irman akan membunuh mu Arya?” tanya Mila dengan pelan.


“itu baru kekhawatiran Ari dan yang lain Mil, mereka khawatir bang Irman bisa jadi alat Arnes untuk melawanku, yang mereka khawatirkan lagi adalah kamu, mereka khawatir abangmu akan membahayakanmu dan malaikat kecil kita Mil. Karena dia abangmu, orang suruhan Ari juga tidak berhak menghalangi dia untuk bertemu denganmu” ucap Arya yang sejenak terhenti.


“kamu jangan khawatirkan aku Mil, aku sudah siap dengan segala resiko yang harus kuhadapi” gumam Arya sembari memejamkan matanya.


“tapi aku nggak siap Arya, aku nggak mau kehilangan kamu dan anak kita,” ucapnya Mila dengan mata berkaca-kaca, rasa emosional mengacak-ngacak perasaannya yang masih sensitif. "kalian berdua adalah hidupku, aku tidak mau kehilangan kalian" ucap Mila dengan dadanya yang mulai terasa sesak.


Arya mengangkat kepalanya, ia mencium mata Mila yang mulai basah, ”jangan menangis Mil, kasihan malaikat kecil kita, nanti dia ikut sedih jika bundanya menangis” ucap Arya mencoba menenangkan kesedihan istrinya.


Mila hanya diam, ia tidak tahu harus bicara apa lagi, ia masih berusaha mengatur nafasnya, agar dadanya tidak terasa sesak dan emosinya dapat kembali stabil.


Setelah beberapa saat, Mila terlelap karena rasa lelahnya. Arya melepas nafas panjang, ketika mendengar deru nafas Mila yang mulai teratur. Sedari tadi Mila mencoba mengendalikan perasaannya yang sensitif untuk mencoba ikhlas dengan rencana Ari.


Arya kemudian bangkit, ia mengeluarkan ponselnya. ia kemudian mengirimkan pesan kepada Rita untuk membawakan semua dokumen di meja kerja dan juga laptopnya ke apartemennya. Ia harus segera menyiapkan semua keperluannya selama di Vietnam.


Sembari menemani istirahat Mila, ia akan disibukkan dengan mempersiapkan bahan presentasinya di Ho chi minh.


Sementara di kamar sebelah, Vanessa sedang mempersiapkan beberapa surat untuk mengajukan perceraian yang telah ia putuskan.


Berat rasanya dengan keputusan itu, baginya bu Saniah, kakek, dan Mila adalah keluarganya, namun ia juga tak sanggup dengan perlakuan suaminya. Bahkan suaminya sama sekali tidak memperlakukannya layaknya seorang istri.


‘aku nggak tahu maksudmu memberikan hasil tes palsu itu bang, tapi apa yang kamu lakukan, sungguh menyakitkanku, aku ikhlas menerima semua keadaanmu, tapi kamu malah memperlakukanku seperti ini’ batinnya penuh emosional.


Ia bahkan tidak peduli lagi apa yang akan dilakukan Ari kepada Irman, baginya Mila adalah prioritasnya saat ini. Memastikan hubungan Mila dan Arya baik-baik saja, dan Mila melahirkan dengan selama.

__ADS_1


Serta fokus mengembangkan bisnis restoran yang akan ia kembangkan bersama Tomy dan Abel, jalan yang mungkin bisa membantunya untuk menata kehidupan baru yang lebih baik.


__ADS_2