
Vanessa segera bergegas menuju rumah sakit ketika Arya mengabari Mila pingsan di kantor. Ia mengendarai mobil dengan cepat menuju rumah sakit. Perasaannya seketika cemas saat Arya mengabarinya, apa lagi ia melihat Mila yang memang lemas beberapa hari belakangan. ‘Ya Tuhan, Mila kenapa? kemarin aku tawari obat dia nggak mau, sekarang tubuhnya malah semakin lemah’
Vanessa dengan cepat menuju rumah sakit dengan melihat alamat dan nomor ruangan yang dikirim Arya melalui ponsel Mila.
Sementara dokter Karina yang baru keluar dari ruangan Mila melihat datar ke arah Ari dan Tomy, “kalian nggak masuk?”
Ari dan Tomy sama-sama diam tak menjawab, Tomy melirik ke arah Ari dengan wajah penasarannya. 'jadi benar Ari dan Karina,,,,'
“Tom” gumam dokter Karina yang membuyarkan dugaan Tomy.
“Arya melarang kami masuk Karina, istrinya lagi tidak memakai cadar” jelas Tomy.
Dokter Karina menarik nafas kasar dan melepasnya, “oh gitu, truss ngapain kalian masih disini?” tanya dokter Karina dengan melihat ke arah Tomy, gadis itu seperti mengabaikan kehadiran Ari.
“Mila gimana?, kenapa dia tiba-tiba pingsan seperti tadi?” tanya Tomy dengan cemas.
“pengaruh kehamilannya, sepertinya dia terlalu banyak pikiran, karena perasaannya yang sensitif, jadi tenaga terkuras habis oleh emosionalnya,”
“hamil?” gumam Ari dan Tomy serentak tak percaya.
“kamu yakin Karina?” ucap Ari yang akhirnya mulai bersuara.
“iya, kalian berdua, sama Abel dan Arbi juga, jangan bicara hal-hal yang sensitif dulu sama dia, jangan menambah beban pikirannya, nanti emosionalnya menguras habis tenaganya lagi, setidaknya sampai janinnya sudah kokoh di dalam Rahim” jelas dokter Karina.
Ari dan Tomy seketika menelan saliva mereka, “aku ke ruangan dulu, aku mau buat surat ke dokter kandungan agar kehamilan Mila bisa diperiksa lebih lanjut” ucap dokter Karina yang kemudian berlalu pergi.
“kalau gue tahu, nggak bakalan gue ngomong kayak itu tadi pada Mila” gumam Ari yang merasa bersalah atas kejadian di ruangan Arya.
“aku juga Ri, tapi bagaimana pun peringatan tentang keluarga Mila dari om Haris dan pak Abdul yang kamu bilang juga tidak bisa kita anggap enteng, ini demi keselamatan kita semua” ucap Tomy mengusap kasar wajahnya.
“om Haris bahkan nyuruh gue misahin mereka, Om Haris dan yang lain benar-benar hati-hati dalam bertindak, semua orang yang berkhianat akan mereka buang dari sisi mereka” lanjut Tomy dengan kembali duduk di kursi yang ada di depan ruangan itu.
__ADS_1
“wajarlah Tom, apa lagi ini taruhannya nyawa mereka dan juga keluarga mereka, kesalahan sedikit saja, keluarga mereka bisa hancur”
“tapi aku lihat Mila sangat cinta sama Arya, dia juga menjaga rahasia ini dengan baik, jadi keluarganya sama sekali tidak tahu masalah Arya” jelas Tomy yang sejenak mulai berpikir tenang dengan keadaan.
“biar aja Arya yang bicara sama orang-orang Adinata itu Tom, ini masalah rumah tangganya, biar dia yang membela keluarga istrinya di depan mereka, jika Arya memilih tetap bersama Mila, kita harus siap menjaganya” ucap Ari dengan datar.
“gue tinggal dulu ya Tom, gue harus mastiin siapa keluarga Mila yang berkhianat itu, agar kita bisa menjauhkan Mila dan Arya dari dia, lo jaga disini dulu sampai Arya nemuin lo” ucap Ari yang kemudian berdiri.
“keluarga Mila berkhianat?, apa maksud kalian?” tanya Vanessa yang tidak sengaja mendengar ucapan terakhir Ari.
Ari dan Tomy seketika melihat ke arah Vanessa, wajah mereka memias tak menyangka perempuan itu mendengar apa yang Ari ucapkan.
Vanessa melihat tajam pada Ari dan Tomy, “Tom, jawab, berkhianat apa yang kalian katakan?” tanya Vanessa dengan tajam pada Tomy.
‘apa kak Vanessa tidak tahu juga masalah ini?, ya Tuhan, Mila benar-benar menjaga rahasia ini dengan baik, kenapa aku sampai terbawa emosi dari paman Haris tadi?’ batin Tomy yang semakin merasa bersalah.
“biar gue yang urus Tom” Ari menarik nafas kasar, ia menarik tangan Vanessa dengan lembut, untuk sejenak menjauh dari Tomy.
“kamu mendengar semuanya?” tanya Ari dengan pelan pada Vanessa ia menatap dalam wajah gadis itu untuk memastikan kejujuran jawaban Vanessa.
“apa yang dikhianati keluarga Mila?”
“kamu tidak tahu masalah ini, masalah antara Arya dan Adinata group” tanya Ari.
“Arya, Adinata group?” tanya Vanessa kebingungan.
“jadi Mila benar-benar menjaga rahasia ini” ucap Ari melepas nafas kasar.
Ari sadar itu adalah masalah bisnis di Adinata, namun ia juga punya sikap protektif yang besar untuk melindungi semua teman -temannya. Apalagi masalah tersebut juga akan mempertaruhkan perusahaan dan semua karyawan yang bergantung hidup dari perusahaan 3A Sahabat juga akan menjadi korban. Hal itu bisa saja terjadi jika Aliando tahu Arya ada di 3A Sahabat.
“Rahasia apa?” gumam Vanessa pada Ari.
__ADS_1
“nanti aku jelaskan, yang penting sekarang jangan bertanya apapun kepada Arya dan Mila, posisi Arya pasti sulit sekarang, dan juga Mila juga tengah hamil" jelas Ari.
“Mila hamil?” tanya Vanessa yang semakin kebingungan.
“iya, dia nggak boleh terlalu kelelahan dan banyak pikiran, jaga Mila baik -baik, jangan sampai kesehatannya memburuk dan mempengaruhi kehamilannya, alihkan saja pikirannya pada hal-hal baik, nanti aku jelaskan semuanya, sekarang aku harus mengurus masalah lain dulu” ucap Ari yang kemudian meninggalkan Vanessa.
"Ari tunggu" ucap Vanessa.
"turuti saja kata-kataku, nanti aku jelaskan" jawab Ari meninggalkan Vanessa yang masih berdiri kebingungan.
Vanessa kemudian menarik nafas panjang dan segera masuk ke ruangan Mila tanpa memperdulikan Tomy.
Ketika ia membuka pintu, ia melihat Arya tengah memeluk Mila. Vanessa mendekat dengan pelan tanpa suara, saat berada di dekat ranjang Mila, ia tersenyum melihat Mila yang tampak bahagia, “kak” gumam Mila melihat kedatangan Vanessa.
Sementara Arya langsung melepas pelukkannya pada Mila agar Vanessa dapat lebih dekat dengan Mila.
Mila segera meraih tangan Vanessa “maaflan aku tadi ya kak, aku hanya terbawa emosi saja tadi siang” gumam Mila dengan pelan.
Vanessa menggeleng, “nggak dek, itu wajar kok bagi ibu hamil” gumam Vanessa.
“kakak udah tahu aku hamil?”
“iya, tadi ada Ari dan Tomy di depan, Ari yang kasih tahu kakak”
Mila mengarahkan tangan Vanessa ke perutnya, Ia tersenyum melihat Vanessa, “kakak senang sekali melihatmu sebahagia ini Mil, selamat ya buat kehamilan mu” ucap Vanessa kepada Mila.
“kakek pasti senang juga kak” gumam Mila yang membuat Arya menelan salivanya.
Arya menarik nafas kasar, matanya sejenak terpejam. Bayang -bayang Aliando di malam menyakitkan itu terbayang di pikirannya.
‘apa keluarga Rakarsa akan sama seperti orang itu?, apa kakek ada di pihak orang itu?, tapi itu tidak mungkin, atau siapa yang datang ke rapat itu, apa ibu?, tapi bukankah ibu selama ini selalu mengatakan hal baik tentang ayah, lalu siapa? paman Mila?, bibi Mila?, atau,,,,” batin Arya yang berpikir keras akhirnya menduga seseorang,
__ADS_1
'bang Irman, dia kan dekat sama Arnes’. Arya menarik nafas kasar, ia harus segera menyelesaikan masalah itu agar tidak membebani Mila dan mengancam posisinya.