Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Extra Part 3


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Arya tidak melihat lagi Mila di dalam kamar. Ia hanya melihat baju tidurnya yang telah ada di ranjang. “memasak pakai baju tidur gini?, yang benar saja” gumam Arya.


Ia kemudian membuka lemari, mencari baju kaos untuk ia pakai. Setelahnya Arya sholat Isya lebih dahulu karena adzan sudah berkumandang saat ia di kamar mandi.


Setelahnya Arya segera keluar menuju dapur. Matanya tertuju kepada Mila yang sedang memegang gelas minum yang berisi setengah dengan tangan kanannya. Serta tangan kirinya mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Senyuman terkembang di wajah Mila melihat perutnya.


Arya kemudian mendekat, “umi mau makan malam ini?” tanya Arya.


Mila mengangkat kepalanya menatap Arya, wajahnya berubah kesal melihat baju yang ia pilih tidak di pakai Arya sama sekali.


“kenapa Abi nggak memakai baju yang umi pilih?” tanyanya.


“Abi kan mau masak Mi, masa masak pakai baju tidur” jawab Arya.


“emang apa salahnya bi, kan masaknya juga pakai celemek” ucap Mila.


Mata Mila berubah menjadi sedih, “Abi nggak suka ya dengan baju pilihan umi” ucapnya dengan lemah.


Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, masalah apa lagi ini?’ batinnya. Ia kemudian duduk dan meminum air Mila yang masih tersisa setengah hingga habis.


“nanti Abi pakai kalau udah mau tidur, sekarang umi mau makan apa? biar abi masak buat Umi”


Mila sejenak berpikir, ia teringat dengan makanan yang dulu pernah dimasak Arya di rumah pak Susanto dan Bu Annisa.


“hmmm, makanan yang abi masak dulu saat di kampung Bi”


Arya mengingat lagi apa yang ia masak dulu, ikan asin lado ijo sama ayam goreng cabe merah.


“Umi  mau yang mana? ikan asinnya atau ayam gorengnya?” tanya Arya.


“ikan asinnya bi,” jawab Mila, “huh, ngingatnya aja Umi sampai ngiler gini bi” lanjut Mila mengingat lagi masakan itu.


Arya mengernyitkan dahinya. Dimana ia cari ikan asin malam-malam seperti itu?.


“kalau ayam goreng gimana Mi, besok ikan asinnya, gimana?” tawar Arya kepada Mila


“ihhh, nggak mau bi, umi maunya ikan asinnya itu, lado ijonya itu lo bi”


Mata Arya melihat ke arah kulkas, ia kemudian berdiri dan membuka pintu kulkas, memastikan bahan yang ada terlebih dahulu. Namun ikan asin dan lado ijo tidak ada sama sekali disana.


“Abi keluar dulu ya Mi, cari ikan asin sama lado ijonya” gumam Arya sembari mengorek-ngorek isi kulkas 2 pintu di dapur itu.

__ADS_1


Mila kemudian berdiri, “umi ikut ya bi, Umi ambil cadar dulu di kamar” ucap Mila berjalan ke kamar.


“nggak usah Mi, abi aja yang keluar, umi tunggu aja disini”


“nggak, umi pengen nemenin Abi” ucap Mila dengan tegas ia tetap berjalan ke kamar mengambil cadarnya.


Suara tawa terdengar dari arah tangga, Vanessa turun  ke arah Arya yang kebingungan melihat Mila.


“kenapa kak?” tanya Arya yang bingung dengan tawa Vanessa.


“emang sulit ngehadapin orang hamil” gumam Vanessa.


Vanessa mengambil gelas dan mengisinya dengan air, ia kemudian meneguk air itu hingga habis.


“ada-ada aja maunya Mila kak, aku malah bingung jadinya” jawab Arya.


“namanya juga ngidam dek, wajarlah”


Arya melepas nafas kasar, wajahnya Arya tampak sedikit gusar. Itu semua terlihat jelas di mata Vanessa.


“kenapa dek? ada masalah?” tanya Vanessa,


Tangan Arya mengusap rambutnya dengan kasar, “kesehatan orang yang setia sama ayahku yang kecelakaan kemarin keadaannya semakin memburuk kak” jawab Arya.


“Siapa? kok kakak baru dengar” tanya Vanessa.


“namanya om Rahman kak, dia kecelakaan sebelum rapat pemegang saham pertama kemarin” ucap Arya, “dugaan kami semua kecelakaan itu adalah ulah Aliando, tapi sayangnya tidak ada bukti untuk itu semua”


“apa masalah ini belum selesai Arya?” tanya Vanessa.


Arya mengangkat kedua bahunya, “aku juga nggak tahu kak, aku hanya berjalan ke depan tanpa memikirkan apa yang pernah terjadi, terlalu menguras tenagaku untuk memikir itu semua”


“kalian lagi bicara apa?’ ucap Mila yang seketika mengagetkan Arya dan Vanessa yang tengah serius bicara.


Arya segera berdiri saat mendengar suara Mila, ia melihat Mila yang sudah memakai cadar pink senada dengan warna jilbabnya.


“umi udah siap, kalau gitu langsung berangkat aja ya” ucap Arya yang segera mengambil kunci mobil ke dalam kamar.


Kali ini Mila menatap Vanessa dengan penuh tanya, “kenapa?” tanya Vanessa melihat tatapan calon mantan adik iparnya.


“kakak tadi bicara apa sama abi?” tanya Mila dengan menyipitkan matanya.

__ADS_1


“apa pembicaraan kakak sama abimu itu harus kakak ceritakan juga?” tanya Vanessa mengusili sikap Mila.


“kakakk” ucap Mila dengan geram.


Vanessa tersenyum, ia berjalan ke arah Mila dan mengusap kepala dengan gemas.


“kamu ini jangan berlebihan gitu Mil, kan udah sering kakak ingatkan” ujar Vanessa dengan santai.


“gimana nggak berlebihan kak, kan sebentar lagi status kita bukan adik dan kakak ipar lagi” ucap Mila masih kesal dengan sikap Vanessa.


Vanessa kali ini memeluk Mila dengan erat dari samping, “apa itu berarti kamu tidak menginginkan kakak ada disini lagi Mil?” tanya Vanessa dengan sendu.


Mila menggeleng, ia tatap wajah Vanessa yang begitu dekat dengannya. “bukan begitu kak, kakak jangan salah paham” ucapnya dengan bingung.


‘aduhh, aku salah ngomong lagi’ batin Mila merutui dirinya sendiri.


Arya yang sudah keluar dari kamar melihat Vanessa memeluk Mila dari belakang, ia merasakan hal yang berbeda dari pelukan itu.


“Apa kalian ada masalah?” tanya Arya dengan pelan saat sudah berdiri disamping Mila.


Vanessa segera melepaskan pelukannya, dan sedikit menjauh dari Mila.


“nggak ada Arya” jawab Vanessa dengan cepat.


“ohh ya udah, ayo Mi, kita jalan” ucap Arya berjalan ke arah pintu, percuma juga ia ikut campur masalah perempuan, baginya itu terlalu rumit.


Mila berbisik sejenak ke arah Vanessa, “sampai kapan pun kakak adalah kakakku, rumah ini juga rumah kakak , jadi jangan hiraukan sikap kekanak-kanakanku kak”


"aku pergi dulu ya kak" ucap Mila, ia kemudian mengucapkan salam dan segera menyusul Arya yang berjalan ke luar.


Vanessa tersenyum melihat tingkah Mila, masih polos sama seperti dulu. Namun sekarang Mila jauh lebih dewasa dalam memutuskan sesuatu.


Langkah kaki Mila terhenti saat Arya tiba-tiba berbalik melihatnya ketika menuruni teras.


“kenapa bi?” tanya Mila,


“Umi nggak pakai jaket, ini udah malam, angin malam nggak bagus buat umi” ucap Arya. Ia segera kembali ke arah kamar dengan cepat,


mencari jaket tebal untuk istrinya.


Mila melepas panjang, cuaca ibukota terasa masih panas. Tapi Arya sudah masuk ke dalam untuk mengambil jaket untuknya.

__ADS_1


__ADS_2