Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Apartemen


__ADS_3

Sore itu Arya dan Mila mengantarkan Ardian, Sarah dan kedua anak mereka ke bandara, selama perjalanan ke bandara.


Ardian dan Arya yang duduk di bangku depan hanya diam tak bersuara, Arya membawa mobil sedangkan Ardian sibuk dengan ponselnya untuk mengurus bisnis yang ia tinggalkan.


Hanya suara di bangku tengah yang membuat suasana di dalam mobil terasa cair, Mila dan Sarah saling mengobrol tentang banyak hal, ditambah lagi suara kedua anak Sarah yang meramaikan suasana mobil itu.


Suasana di bandara pun juga sama, Ardian dan Sarah pamit pada Arya dan Mila, Arya masih bersikap santai dan tak banyak bicara, Ia lebih menjaga sikap sopan dan ramahnya kepada Ardian dan Sarah dan kata-kata yang cukup untuk berbasa basi, ketika mereka meninggalkan bandara, barulah Mila melotot tajam pada Arya dengan perasaan tak senangnya, walaupun ia sibuk dengan sarah di bangku tengah, tapi ia tahu bahwa Arya tidak terlalu akrab dengan Ardian.


“ada masalah apa kamu sama bang Ardian Arya?, kenapa sikapmu tidak seramah biasanya?” tanya Mila pada Arya.


“aku masih ramah sama dia tadi kok Mil,” jawab Arya dengan singkat,


“tapi aku tahu kamu tadi itu beda Arya, biasanya kamu sama orang baru jauh lebih ramah” ucap Mila dengan kesal pada Arya.


Arya kemudian melihat sejenak wajah Mila yang menatap dalam ke arahnya. “Mil, aku tidak terima dengan sikap dia tadi malam, dia sama sekali tidak menghargai kak Vanessa”


“aku tahu Arya, tapi mau gimana lagi, kita tak kan bisa merubah apapun” ucap Mila dengan nada pelannya, ia mengalah untuk menyalahkan sikap Arya lagi. Mila kemudian menatap ke arah jalanan disisinya.


“kamu marah padaku Mil?” tanya Arya melihat sikap istrinya.


“nggak Arya, aku hanya kecewa dengan keluargaku sendiri” jawab Mila dengan singkat.


“sekarang kita pulang atau kemana dulu?” tanya Arya mengalihkan pembicaraan mereka, ia tidak ingin keadaan hati istrinya menjadi rusak karena masalah itu.


“Arya, aku takut ketemu bang Irman, dia pasti akan mencariku ke rumah, aku takut jika dia benar -benar melakukan itu kepadaku” gumam Mila dengan lemah. Pikirannya masih dibayang -bayangi rasa takut, jika abangnga itu benar -benar akan memberikannya pada Arnes.


“kamu mau kita cari tempat tinggal sementara dulu?, aku bisa cari apartemen untukmu, kita bisa pindah malam ini” tawar Arya pada Mila, karena sejatinya Arya juga mengkhawatirkan hal yang sama setelah diperingatkan oleh Ari di ruangannya tadi siang.


Irman bisa pulang kapan saja dan menarik istrinya itu pergi, orang suruhan Ari tentu tidak bisa berbuat banyak jika Mila dibawa oleh abang kandungnya sendiri, sekalipun mereka bertindak, masalah Arya dan Irman akan semakin menjadi rumit karenanya.


“malam ini?, secepat itu kamu beli apartemen?” tanya Mila dengan memandang heran pada Arya.

__ADS_1


Arya tersenyum mendengar tanggapan Mila “kamu nggak percaya sama aku, aku ini arsitektur lo Mil, aku punya banyak teman di bisnis property” ucap Arya dengan sedikit membanggakan dirinya.


“iya aku tahu, tapi bisa langsung pindah malam ini, apa semudah itu beli apartemen?” tanya Mila yang masih heran dengan Arya.


“nggak lah Mil, ada apartemen milik Arbi yang kosong, aku bisa pinjam dulu beberapa hari sebelum kita nemu apartemen yang cocok, dan juga aku mau kak Vanessa ikut kita Mil, aku nggak mau ninggalin dia, itu pasti membuatnya merasa tersisih nanti” jelas Arya pada Mila.


“aku setuju kok kalau kak Vanessa ikut, jadi aku ada guru untuk belajar masak, kata bibi aku masih harus banyak belajar lagi agar masakanku bisa enak” jawab Mila yang mulai bersemangat dan melupakan kerisauannya tadi.


“ngomong-ngomong, kenapa apartemen temanmu itu kosong Arya?” tanya Mila yang penasaran pada Arbi.


“Dia biasanya tidur di apartemen itu jika ada masalah dengan orang tuanya Mil, diantara kami, Arbi adalah yang paling ambisius Mil, dia ingin membuktikan sesuatu kepada orang tuanya, tapi orang tuanya tetap tidak mengakui apa yang telah ia raih selama ini” jelas Arya dengan singkat.


“benarkah, aku saja sudah kagum denganmu bisa memiliki perusahaan sebesar sekarang, kenapa orang tuanya Arbi itu tidak mengakui capaian anakanya?” tanya Mila yang semakin penasaran.


“udah, jangan penasaran sama laki-laki lain, nanti suamimu cemburu” ucap Arya dengan ketus.


“iihh, apaan sih, aku cuma ingin tahu tentang temanmu, apa itu salah?” ucap Mila dengan kesal.


“kita langsung pindah aja gimana?, nanti kalau bang Irman keburu pulang, malah masalah lagi, aku nggak mau sampai kamu dipukulin lagi sama bang Irman seperti malam itu” ucap Mila dengan melihat penuh ke arah wajah Arya.


“malam itu?, kamu lihat aku dipukul abangmu malam itu?” tanya Arya yang kali penasaran pada Mila.


“malam itu aku ingin menemuimu dan meminta maaf atas kesalahanku yang terbawa emosi waktu di ruanganmu Arya, tapi aku takut, kamu pasti benar-benar marah saat itu padaku, maaf Arya, aku tidak bisa lindungi kamu dari abangku, karena aku, kamu malah dipukulin sama bang Irman” jelas Mila dengan nada bersalahnya.


“udah lah Mil, jangan bahas lagi, jadi malam ini kita langsung pindah? kalau begitu kamu hubungi kak Vanessa, dan aku akan hubungi Arbi untuk izin dulu”


“nggak sekalian aja ke rumahnya untuk ambil kunci apartemennya Arya?” ucap Mila dengan polos.


“aku tahu pin apartemennya, jadi kita cuma perlu izin aja sama dia” jawab Arya dengan santai. ‘boleh juga nih, buat nguji seberapa marah Arbi sama aku’ batin Arya.


Sementara itu, di rumahnya, Arbi tengah duduk melepas lelah di ruang tamunya, ia menatap panjang ke arah foro ayahnya yang tepat di dinding di depan ia duduk saat itu, sosok laki-laki yang selalu membuat jiwa ambisinya selalu terangsang untuk mengejar segala kesuksesan yang bisa ia gapai, sosok yang membuat kata gagal di kamus hidupnya adalah sebuah kesalahan. “jika Bian copr ini menang, maka ini akan menjadi capaian besar untuk perusahaan, ini bisa jadi pintu untuk menarik perusahaan asing lain yang punya projek di Negara ini,” gumam Arbi dengan penuh ambisi.

__ADS_1


“Ari pake acara gagal lagi buat ngehancurin perusahaan itu, untung aja Rika masih ada, benar -benar berguna tuh perempuan, satu gagal, pintu lain terbuka, kotor tetap aja kotor” batin Arbi yang mengingat lagi cipta rakarsa. Ia kemudian berdiri untuk masuk ke kamarnya dan membersihkan diri.


Baru saja ia melangkahkan kakinya ke lantai 2, ponselnya tiba-tiba berdering, dan ia mengambil ponsel dari saku jasnya, “Arya” gumam Arbi. Dan segera saja dia mengangkat ponsel itu.


“tumben lo nelfon gue, ada masalah apa?” tanya Arbi dengan ketus.


“gue dan istri gue mau tinggal di apartemen lo untuk beberapa hari,” ucap Arya dengan santai dan langsung pada tujuannya, memang begitulah mereka selalu to the point pada maksud pembicaraan mereka.


“ya udah, tinggal aja, tapi kalau gue ada masalah sama nyokap dan bokap gue, lo jangan halangin gue untuk kesana”


“iya, gue cuma beberapa hari doang kok, gue mungkin udah nemu apartemen untuk gue sendiri sebelum lo pulang dari London” jawab Arya dengan santai


“lo cari apartemen?, nanti gue kirim kontak salah satu klien kita yang fokus di bisnis property, dia bisa bantu lo buat cari apartemen yang sesuai keinginan lo” jawab Arbi yang masih melangkah menuju kamarnya.


“wah, bagus itu, lo walaupun masih marah, tetap aja mau bantu gue”


“biasa aja kali, dari dulu kita emang kayak gini kan” ucap Arbi dengan sedikit tersenyum mendengar ucapan Arya.


“gue kira lo masih marah soal istri gue, sampai -sampai nggak mau ke ruangan gue lagi”


“kan sesuai kesepakatan kita, gue nggak bakalan ikut campur masalah rumah tangga lo, dan sebagai gantinya, lo jangan halangin gue habisin ipar lo” jelas Arbi dengan tersenyum sinis.


“gue udah nepatin janji gue kan, dan Ari yang gagal”


“dan satu lagi, jika sekali lagi lo menghilang lama karena ulah istri lo itu, gue nggak segan-segan buat hancurin dia,” ucap Arbi yang membuat Arya menelan salivanya.


Arya kemudian melihat ke arah Mila yang sedang men chat Vanessa, ‘dendam dendam, heran aku sama orang yang dendam, untung aku datang ke Adinata group bukan karena dendam’ batinnya


“masalah istri gue itu urusan gue, lo lakuin aja apa yang mau lo lakuin” ucap Arya sebelum menutup panggilan itu.


“apa ada masalah?” tanya Mila yang bingung karena Arya menyinggung dirinya.

__ADS_1


“sepertinya temanku benar-benar niat menghancurin abangmu Mil”


__ADS_2