
Di sebuah hotel mewah, di kota pusat pemerintahan Negara ini, sebuah acara tengah menjadi sorotan publik, berbagai wartawan dari berbagai media, baik media cetak maupun elektronik, baik tv maupun media on-line, hadir disana menyaksikan sebuah acara pertunangan berbalut kemewahan dan kemegahan.
Pertunangan Anjani dan Arnes menjadi sorotan banyak kalangan, terutama para pelaku bisnis di Negara ini, termasuk juga pebisnis besar di luar negeri yang menaruh saham mereka di Adinata group dan juga Hardi corp.
Anjani tampak cantik dengan gaun putihnya, gaun dengan belahan dada rendah itu menampilkan kulit putihnya yang indah, Wajah cantiknya dengan berbagai hiasan bunga yang disanggul di rambutnya, menampilkan sosok Anjani yang cantik yang membuat siapa pun laki -laki yang melihatnya akan jatuh hati kepadanya, ia berhias seperti seorang ratu malam itu.
Sementara Arnes tampil dengan gaya elegannya, jas hitam dengan kemeja putih serta dasi kupu -kupu berwarna merah, menampilkan kesan dingin dengan wajah putihnya yang terlihat tampan. Mereka tampil seperti pasangan impian bagi semua orang yang melihat mereka malam itu.
Pertunangan mereka dilaksanakan dalam balutan kemewahan dan kemegahan, kemegahan yang mungkin hanya ada sesekali di Negara ini. 2 perusahaan besar tengah merangkai persatuan mereka untuk masa depan.
Saham hardi corp dan Adinata group akan naik tajam untuk beberapa minggu ke depan. Dukungan pada Aliando juga akan semakin besar. Status Aliando sebagai calon besan Hardi akan menambah kepercayaan pemilik saham kepadanya.
Acara pertunangan tersebut disaksikan langsung oleh keluarga besar Arnes dan Anjani, acara itu juga disaksikan langaung oleh petinggi perusahaan Adinata group dan Hardi corp, terdapat beberapa wajah penuh kebencian di antara para petinggi Adinata group yang hadir.
Sementara Wajah bahagia jelas tersirat dari para petinggi Hardi corp, bagi mereka, pertunangan tersebut akan menambah kepercayaan publik dan khususnya pemilik saham di Hardi corp pada Anjani yang tengah disiapkan sebagai penerus Hardi.
Perasaan yang jauh berbeda dirasakan oleh Anjani yang berusaha tersenyum dibalik getirnya nasib hidup, juga perasaan penuh kekhawatiran Hardi jikalau semua yang mereka rencanakan tidak berjalan dengan semestinya, kepercayaan yang diharapkan didapatkan Anjani tidak akan pernah didapatkan sama sekali.
Mata Anjani berusaha bergerilya melihat para tamu, teman -teman sekolahnya dulu tampak berkumpul di salah satu meja, salah satu dari mereka ada yang melambaikan tangan mereka pada Anjani, dan Anjani membalas lambaian tangan itu.
__ADS_1
Matanya kembali mencari sosok seseorang, Ia juga mengundang Mila sahabatnya, namun wanita bercadar itu tak menampakan dirinya. Dan juga sosok Arya yang ia rasakan sebagai Indra, kehadiran wajah dan mata itu ia harapkan mampu memberikannya semangat di tengah beratnya beban perasaan yang ia rasakan, namun kedua orang itu tidak terlihat sama sekali. Sosok Vanessa yang baru ia kenal dan sikapnya yang juga bersahabat dengannya pun juga tidak terlihat malam itu.
‘kenapa kalian tidak datang?, apa kalian tidak pernah menganggapku sebagai sahabat kalian?, apa kalian sama sekali tidak ingin berteman denganku?, aku butuh kalian, kalian yang membuat ku kuat seperti ini, tolong datanglah, berikan aku kekuatan lagi seperti waktu di atas bukit, seperti kemarin saat aku di apartemen kalian’ batin kesedihannya yang tersembunyi dari senyum manis yang selalu ia perlihatkan pada banyak orang.
Ari yang datang untuk memenuhi undangan yang diberikan kepada perusahaan 3A Sahabat duduk di meja paling ujung, ia menatap wajah Anjani yang tampak tak tulus dengan senyumannya, ‘apa benar Anjani hanya alat mainan dalam pertunangan ini’ batinnya penuh pemikiran.
Sementara disisi lain ia melihat wajah Arnes yang tampak bahagia menggandeng tangan Anjani, tunangannya. Wajah laki-laki itu tampak senang tanpa beban, ada sebuah kelegaan yang tersirat dari wajah Arnes yang juga tersenyum kepada para tamu.
Disisi lain, Ari melihat wajah Aliando dan Hardi, ‘2 musuh terdeteksi’ batinnya tersenyum sinis.
‘aku harus berbangga jika 2 orang itu berhasil aku hancurkan’ batinnya lagi.
Sementara, di meja berbeda yang cukup jauh dari Ari, Ari melihat Irman dan Rika yang penuh senyuman pada Arnes dan Anjani, tatapan sinis Irman tersorot disana, jika Arnes berhasil naik menjadi CEO, itu akan sangat menguntungkan baginya, temannya itu bisa membantunya memberi bantuan dana dengan mudah atau memberinya modal untuk merintis perusahaan baru jika Ardian membawa Cipta rakarsa ke Malaysia.
*
Mila duduk di ruang tengah sembari melihat televisi didepannya, matanya tampak datar melihat pemberitaan televisi yang memberitakan pertunangan Anjani dan Arnes. sementara Vanessa yang duduk di sampingnya menarik nafas kasar melihat itu semua. “kakak ingin sekali datang untuk menemani Anjani, dia kelihatan sedikit tertekan menghadapi pertunangan ini” gumam Vanessa dengan pelan.
“Aku juga kak, tapi Arya melarangku untuk kesana,” ucap Mila.
__ADS_1
“apa kamu masih punya perasaan sama dia Mil?” tanya Vanessa penuh selidik.
“nggak kak, Arya sudah menggantikannya di hatiku, aku ingin kesana untuk Anjani, dan memperlihatkan kepada bang Arnes kalau aku memilih Arya bukan dia” jawab Mila. Ia kemudian berdiri dan beranjak menuju balkon, disana Arya tengah duduk melihat ke arah laut utara Jakarta.
Sementara Vanessa mengganti channel telivisinya, “kayaknya di rumah aku harus beli tv juga, sama direhab dikit, biar ada ruang keluarga seperti ini” gumam Anjani mengingat kediaman Rakarsa yang terasa selalu sepi baginya. Kesepian yang sedikit terobati sejak kehadiran Arya di rumah itu.
Mila membawakan segelas teh hangat menuju balkon, disana ia melihat Arya yang tengah menerawang jauh melihat lautan biru di tengah kegelapan. Mila kemudian menaruh teh hangat itu di atas sebuah meja kecil yang ada disana.
“pantas aja kamu memilih apartemen ini, pasti karena laut itukan” ucap Mila yang menyadarkan Arya dari lamunannya. Arya menarik nafas panjang dan melihat ke arah Mila yang menghampirinya.
“kamu udah lihat beritanya?” tanya Arya dengan datar. “udah, kamu kan nggak mau kesana, kalau tidak mungkin sekarang laki -laki itu akan sadar kalau aku memilihmu, yang dia tahu aku tidak berhubungan lagi dengan dia karena dipaksa oleh mu Arya, bukan karena dia tahu kalau aku sudah memilihmu untuk hidupku” jelas Mila.
Arya tersenyum tipis mendengar ucapan Mila. “apa kamu cemburu melihatnya bersama Anjani?” tanya Arya dengan datar. Dada Mila langsung terasa sesak, sakit sekali hatinya mendengar itu semua, suaminya masih belum percaya kepada dirinya.
“apa sebegitu buruknya aku di matamu Arya, sampai kamu tidak percaya sedikit pun kalau aku sudah memilihmu” ucap Mila dengan pelan, ia melihat ke arah laut, menyembunyikan matanya yang terasa mulai berkaca-kaca.
“dia bercerita betapa mesra dan romantisnya dia dulu kepadamu Mil, aku bahkan tidak bisa semesra dan romantis itu kepadamu, aku tidak pernah memberimu bunga, aku tidak pernah mengajakmu makan malam berdua dengan suasana romantis, dia bilang kalian dulu saling berbalas kata-kata cinta sedangkan aku,, aku bahkan tidak pernah mengatakan aku cinta kepadamu Mil, betapa buruknya aku sebagai suamimu, bahkan kamu merasakan itu saat bersamanya dulu, tapi bersamaku, tidak ada hal-hal seperti itu, yang ada hanya air matamu” ucap Arya yang teringat kembali dengan cerita Arnes, matanya menerawang jauh melihat lautan yang gelap.
“arya,,” gumam Mila dengan pelan.
__ADS_1
“aku tidak tahu bagaimana caranya memperlakukanmu sebagai perempuan Mil, memperlakukanmu seperti ratu seperti yang dia lakukan dulu, aku hanya orang bodoh yang tidak pernah mengenal perempuan Mil, aku tidak tahu seperti apa perasaanmu kepadaku yang sebenarnya” lanjut Arya lagi.
Air mata Mila menetes tak bisa ia bendung, sungguh ia tidak pernah mengharapkan hal yang lebih dari Arya, ia hanya ingin Arya percaya kepadanya, menyayanginya dan mencintainya dengan sepenuh hati.