
“Apa kamu selalu seperti ini pada semua perempuan Arya?, kamu benar-benar akan membuat semua perempuan penasaran seperti apa dirimu sebenarnya, jika kamu bersikap seperti ini pada mereka” ucap Mila yang sekarang memasang wajah serius pada Arya.
“memang seberapa penasaran kamu sama diriku, bukankah kamu sudah tahu seperti apa aku sebenarnya” ucap Arya lagi pada Mila.
“bahkan sampai detik ini aku tidak tahu seperti apa cara berpikirmu Arya, apa kamu benar-benar tidak pernah mengenal perempuan sebelum ini, kenapa kamu tidak pernah peka sedikit saja atas apa yang aku inginkan dari dirimu?” ucap Mila lagi.
Arya sejenak menatap ke arah Mila, pertanyaan Mila benar-benar membuat dirinya bingung, ‘apa yang salah dengan cara berpikirku,? , dan aku tidak peka sama keinginan Mila, apa aku sebodoh itu untuk memahami istriku sendiri?’ batinnya.
“Mil, jangan begitu Mil, kalian ini baru belajar untuk saling mengenal dan memahami, jangan menuntut Arya seperti itu, apa lagi dia tidak pernah dekat dengan perempuan sebelum ini?” jawab Vanessa yang seperti memahami seperti apa kebingungan Arya.
“Apa kamu ingin mendengar kalimat aku sayang padamu Mil?” ucap Arya dengan nada santainya untuk menahan rasa gugup ketika mengucapkan itu, dadanya berdetak hebat, tangannya terasa panas dingin seketika, bahkan tangan kanannya terasa gemetar memegang stir mobil itu, kalimat yang hanya ia ucapkan untuk ayah, ibu, paman dan bibinya, sekarang terlontar pada Mila, perempuan yang telah menjadi istrinya lebih kurang selama 5 bulan.
Mila seketika melihat ke arah Arya, ia seperti tak percaya mendengar itu semua, ia memandang wajah Arya dengan mata berkaca-kaca, “kamu ingin aku mengatakan aku sayang padamu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi,” ucap Arya lagi yang membuat Mila tersenyum atas itu semua. “Arya,” gumam Mila pelan.
“Aku rasa saat aku mengatakan aku ingin menjadi seorang ayah dan menginginkan anak darimu, itu sudah mewakilkan semuanya Mil, saat aku mengatakan aku akan menggenggam tanganmu dengan erat apa pun yang terjadi nanti, aku rasa kamu sudah paham semuanya” jelas Arya lagi.
Mila menelan salivanya seketika, ia bahkan tidak berpikir sejauh itu atas kalimat yang pernah disampaikan Arya kepadanya. ‘apa pikiranku sesingkat itu hingga tidak memahami makna kata-kata Arya kepadaku?’ batin Mila.
“Arya,, perempuan tidak menginginkan kalimat kiasan seperti itu, Mila butuh pengakuanmu, kalimat langsungmu, siapa pun perempuannya, pasti ingin mendengarkan kalimat itu untuk meyakinkan hati mereka” jelas Vanessa pada Arya.
__ADS_1
Arya sejenak menelan salivanya, ia kemudian memegang tangan Mila dan menggenggam erat tangan itu. “aku akan belajar mengatakan itu lebih sering kepadamu, aku hanya tidak pernah mengatakan hal itu pada orang lain selain orang tuaku, kamu bisa merasakan gemetar tanganku Mil?, kamu pasti tahukan bahwa ini adalah hal yang pertama bagiku”. lanjut Arya lagi. Walaupun ia sudah seutuhnya memiliki Mila, tetap saja ia merasa gugup mengakui perasaannya itu pada Mila.
Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata kiri Mila, ia dapat merasakan gemetar tangan Arya di genggamannya, gemetar yang sama saat malam Arya akan menyentuhnya. Satu hal lagi hari itu ia temukan dari diri Arya, ia adalah orang pertama yang mendapat kalimat sayang dari Arya, hanya dia, tidak orang lain selain dia kecuali orang tua Arya. “hatimu benar-benar suci Arya, seperti yang pernah kamu katakan di bukit hari itu, aku adalah orang yang paling beruntung mendapatkan kesucian hatimu, aku saja yang terlalu egois untuk mendapatkan segala-galanya darimu secepat ini” ucap Mila dengan suara gemetar menahan bahagia, laki-laki yang ada di depannya sekarang, yang telah menjadi suaminya, selalu saja melakukan hal-hal yang tidak terduga seperti itu.
Arya menarik tangan Mila dan menciumnya dengan dalam, “aku sayang sama kamu Mil, aku tidak akan meninggalkanmu lagi, kamu akan tetap menjadi princess ku sampai kapan pun” ucap Arya melawan rasa gugupnya, dan lagi setitik air mata turun di cadar Mila mendengar itu semua.
Arya masih menggenggam erat tangan Mila dan menaruh tangan gadis itu di pipinya, 'aku bukannya tidak peka padamu Mil, aku terlalu takut untuk terbuka kepadamu, aku sadar, Tuhan telah mengembalikan rasa yang hilang itu kepadaku untukmu' batin Arya lagi.
"aku sama Arya, aku juga sayang padamu, kamu adalah pangeranku, tidak ada yang lain lagi selain dirimu dihatiku, kamu lebih dari segala-galanya yang ada di hidupku" ucap Mila penuh kesungguhan pada Arya.
'hanya kamu dihatiku Arya, tidak ada lagi nama Arnes di hati ini, aku sudah siap memberikan seumur hidupku menjadi istri terbaik bagimu' batin Mila tersenyum menatap Arya yang masih fokus menatap jalanan.
“kalian benar-benar mengabaikan kakak disini” ucap Vanessa membuang muka ke arah gedung-gedung tinggi di tepi jalan. Sementara Arya dan Mila hanya bisa saling berbalas senyuman mendengar itu semua. ‘andai saja aku mendapatkan suami seperti Arya, aku tidak akan memperlakukannya seperti Mila dulu, ya Tuhan, aku hanya berharap akan mendapatkan kebahagiaanku nanti, ntah seperti apa nasibku setelah ini, aku bahkan tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan seperti ini’ batin Vanessa meratapi dirinya sendiri.
Sore yang terang menerangi hari itu, pak Sarman menatap panjang langit yang mulai menguning, rasa bosannya di ranjang itu sudah mulai memuncak. Namun apa daya, tubuhnya menolak semua keinginannya untuk segera meninggalkan rumah sakit itu.
Bu Saniah saat itu baru saja selesai membereskan beberapa barang di lemari kecil untuk dibawa pulang dan dibersihkan. Di tengah kesibukan 2 orang itu, tiba-tiba saja suara pintu kamar itu diketuk dan seorang laki-laki masuk kedalam.
Pak Sarman sejenak menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang, untuk kemudian ia kembali melihat ke arah langit yang menguning menyambut waktu senja.
__ADS_1
"masih peduli kamu untuk melihatku kesini” ucap pak Sarman dengan nada dinginya. Bu Saniah menatap panjang ke arah wajah Irman yang terakhir kali ia lihat ketika hari pernikahan Mila dan Arya.
“ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengan kakek untuk menyelamatkan perusahaan keluarga kita" ucap Irman dengan nada datar pada pak Sarman, ia kemudian mendekat dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
“aku sudah tidak peduli lagi dengan perusahaan itu, kesalahan terbesarku adalah memberikan perusahaan itu kepadamu” jawab pak Sarman masih bernada dingin kepada Irman.
“perusahaan benar-benar sekarat sekarang kek, aku mendapatkan penawaran menarik untuk menyelamatkannya” ucap Irman yang mencoba menggoda kakeknya itu.
Bu Saniah menatap dalam wajah Irman untuk mencari tahu kejujuran di wajah anaknya itu. “penawaran apa maksudmu Irman?” tanya bu Saniah dengan nada suara yang terdengar penasaran.
“aku dengar Adinata group akan melakukan rapat pemegang saham, aku butuh saham dari kakek untuk mendapat dana serta proyek dari Adinata group”
.
.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih masih setia dengan kisah Mila dan Arya,, jangan lupa like, komen dan votenya ya,, komenan teman-teman selalu aku tunggu😉😉