
Meja kerja Arya dipenuhi dokumen yang harus ia siapkan untuk ke Vietnam. Arya tengah memilah beberapa dokumen yang akan dibawanya. Setelahnya ia disibukkan untuk mengerjakan bahan persentasinya nanti disana.
Mata Arya memperhatikan hasil karya rancangannya yang juga dipadu dengan berbagai ide dan masukkan dari timnya. Sebuah desain terminal bandara yang mengutamakan kesan mewah dan elegan. Dengan sedikit memoles kemewahan itu dengan nilai-nilai kebudayaan masyarakat Vietnam, ramcangannyan memiliki nilai keunikan tersendiri.
“ini sepertinya sudah lumayan bagus” gumam Arya.
Arya mengeluarkan 2 foto yang selalu ia bawa. Sejenak Arya memandang kedua foto orang tuanya, pikirannya menerawang ke Adinata group. Ia sudah berpikir panjang untuk memperkirakan apa yang akan terjadi. Terutama untuk mempertahankan Mila disisinya.
Ancaman dari manapun sudah ia pelajari kemungkinan terjadinya dari awal. Mulai dari Irman, bu Saniah, Arnes, Aliando sampai yang terbaru orang -orang kepercayaan ayahnya yang merasa dikhianati keluarga Rakarsa.
“ini memang berjalan pelan, tapi semuanya terukur dengan baik” gumam Arya menatap foto ayahnya.
“yah, takkan lama lagi dunia akan tahu semuanya, nama baikmu dan keluarga Adinata akan kembali dikenal harum oleh semua orang” gumamnya dengan pelan lagi.
Arya kemudian bangkit dari duduknya, laptopnya masih terbuka, dokumennya masih berserakan di meja, namun ia harus menemui Arbi lebih dulu. Jika memungkinkan, ia akan kirim salah satu anggota timnya ke Vietnam untuk menggantikan dirinya. Ia tidak ingin memaksa Mila pergi kesana, atau pun pergi seorang diri meninggalkan Mila bersama Vanessa. Pilihan baginya hanya dua, pergi bersama Mila atau tidak pergi sama sekali.
Arya menuju lift untuk turun ke lantai 3, tempat dimana ruangan Arbi berada. Saat Arya masuk ke ruangan sahabatnya itu, Arbi tengah sibuk menyiapkan beberapa dokumen yang akan ia bawa untuk menemui beberapa klien hari itu.
“tumben lo kesini” ucap Arbi dengan tenang melihat kedatangan Arya. Ia masih sibuk memasukkan beberapa dokumen ke tas kerjanya yang berwarna hitam.
“gue nggak bisa ke Vietnam Bi” ucap Arya dengan tenang.
__ADS_1
Arbi menyipitkan matanya ke arah Arya, ia tidak senang dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu “aku udah siapkan semuanya, lo tinggal berangkat" ucapnya dengan datar kepada Arya.
“Mila masih lemah Bi, nggak mungkin ia harus naik pesawat ke Vietnam, apa lagi tiket kemarin juga harus transit dulu di Kuala lumpur, aku takut tenaganya bakalan habis di pesawat” jelas Arya.
Arbi menarik nafas kasar, ia sama sekali tidak memikirkan masalah kesehatan Mila saat memutuskan rencana itu. “nanti ku minta Karina untuk menemani kalian, jadi lo nggak usah khawatir masalah kesehatan Mila” jawab Arbi dengan enteng.
Sementara Arya menarik nafas kasar, projek itu sangat penting bagi mereka. Mengirim salah satu anggota timnya untuk menggantikan dirinya sebenarnya juga tidak bijak. Namun disisi lain ia merasa tidak nyaman meninggalkan Mila, pikirannya bisa stress jika harus jauh dari istrinya yang tengah hamil muda dengan segala masalah yang ada.
“Lo dan Mila harus pergi Arya, gue udah siapkan pertemuan kalian dengan orang -orang kepercayaan ayah lo, gue sengaja milih Vietnam, agar lebih mudah mendeteksi dan melumpuhkan musuh yang mungkin mengikuti mereka, nanti pertemuan lo akan di jaga sama orang -orang Ari,” jelas Arbi pada rencananya.
Arya menatap Arbi dengan penuh selidik, lagi -lagi sahabatnya sudah menyiapkan rencana yang matang untuk dirinya, “gue tahu pikiran lo lagi fokus sama masalah Mila dan keluarganya, jadi biarkan kami yang atur semuanya, Ari bilang proses pemindahan saham ke tangan lo akan segera selesai, berita tentang lo akan disebar ke publik, lo lebih baik fokus sama Mila dulu, kasihan dia, masalah abangnya akan menekan mental dan pikirannya” jelas Arbi lagi pada Arya.
"tapi kondisi Mila masih lemah Bi, beberapa hari ini fisiknya benar-benar lemah, lo nggak bisa nyamain fisik perempuan hamil dengan fisik laki-laki kayak kita"
“Apa kita harus kayak gini Bi?, apa nggak ada cara lain selain mengorbankan abangnya Mila?” tanya Arya yang berharap cara lain yang mungkin jauh lebih baik bagi Mila.
Arbi menggeleng pelan. Jika bukan karena keadaan, ia juga tidak ingin mengambil keputusan itu. jika Mila tidak hamil, ia tidak akan ragu seperti Ari untuk memasukkan Irman ke penjara. Kesepakatan antara mereka bertiga masih ia pegang, sekalipun Arya dan Mila berpisah, ia sama sekali tidak khawatir. Baginya Arya terlalu baik untuk perempuan seperti Mila, dan takkan sulit bagi Arya mencari perempuan yang jauh lebih baik dari Mila.
Namun kondisinya sekarang berbeda, ia sama sekali tidak tega jika harus memisahkan seorang anak dari kedua orang tua kandungnya. Karena ia sudah merasakan sendiri hidup tanpa kasih sayang orang tua yang utuh. Apa lagi jika sampai anak tak berdosa itu meninggal di dalam rahim ibunya yang stress karena tekanan. Hal yang akan sangat ia sesali jika Arya sampai terpuruk hancur.
“jika lo ada cara lain, gue akan ikut dan cara ini kita batalkan,” gumam Arbi menyerah dengan Arya, ia memasang wajah dingin dan kembali fokus dengan dokumen kerjanya.
__ADS_1
‘aku akan belajar ikhlas untuk menerima, jika aku ikhlas, semuanya bisa menjadi ringan’ ucap Mila kemarin kepada Arya, namun Arya tidak begitu saja percaya dengan itu semua.
Seberapa lapang hati istrinya menerima semua perlakuan sahabatnya kepada Irman, seberapa ikhlas hati Mila melihat abangnya sendiri hancur oleh sahabat suaminya sendiri, oleh Ari dan Arbi. Yang ada dipikirannya hanya bayangan air mata Mila jika mendengar kabar itu.
"gue hanya nggak ingin Mila dan anak lo jadi korbannya nanti" gumam Arbi lagi yang melihat Arya hanya diam.
“Aku akan bicarakan ini dengan Mila Bi, jika dia tidak masalah, aku akan setuju dengan rencana kalian, telfon Ari, suruh dia menunggu telfonku sebelum membawa kasus bang Irman ke jalur hukum” ucap Arya dengan datar, ia kemudian berlalu pergi meninggalkan Arbi yang tampak gusar.
Permainan yang mereka hadapi memang akan menguras emosi dan perasaan. Bahkan mengorbankan darah dan nyawa. Arbi, Ari dan Tomy hanya ingin Irman tidak menjadi senjata Arnes dan Aliando untuk menghabisi Arya, termasuk juga untuk menghabisi anak Arya yang baru menjadi janin.
Anak berdarah Adinata itu dapat merebut kekuasaan keluarga Aliando di Adinata group dimasa yang akan datang. Membunuh anak itu ketika masih menjadi janin akan jauh lebih mudah daripada ketika anak itu sudah lahir ke dunia.
Akan sangat menyedihkan jika Arya dibunuh oleh iparnya sendiri dan anak malang yang tak berdosa di dalam rahim Mila dibunuh oleh paman anak itu sendiri, menjadi sebuah kisah kelam selanjutnya bagi darah terakhir Adinata yang hidup di dunia ini.
Hal itu telah dibayangkan oleh ketiga sahabat Arya, karena mereka tahu, memanfaatkan Irman yang menyimpan dendam kepada mereka, akan jauh lebih menguntungkan bagi Aliando daripada harus mengotori tangannya sendiri dengan darah.
Arya menyetir mobilnya dengan cepat. Wajah masih tenang menghadapi kondisi sulit. Ia sudah mendengar rencana yang disusun Pak Abdul dengan yang lainnya dari Ari.
Satu hal inti rencana tersebut. Memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Jika ia menunggu kondisi Mila membaik, momen itu bisa hilang.
'kabar pewaris Gibran adinata masih hidup harus disebar ke publik sebelum kabar pernikahan Arnes dan Anjani diumumkan, dengan begitu pernikahan Arnes dan Anjani tidak akan menarik banyak sorotan, tapi jika kabar pernikahan itu lebih dulu tersiar ke publik, kekuatan lo bisa berkurang, karena sorotan kepada lo udah disedot dulu sama berita mereka' jelas Ari kepada Arya.
__ADS_1
Arya mengusap kasar wajahnya, untuk mempengaruhi dukungan pemegang saham, sorotan publik akan sangat berpengaruh. Sesayang apa pun ia kepada Mila, ia tidak boleh egois dengan perasaan itu. Masih ada orang yang setia kepada ayahnya yang harus ia lindungi, begitu juga sahabatnya yang banyak berkorban untuknya. Jika mengorbankan Irman adalah jalan terbaik agar rencana mereka bisa lancar, maka itu sudah seharusnya ia lakukan.
Arya berjalan cepat ke apartemennya, saat ia melangkah ke ruang makan, ia melihat seorang laki-laki yang memunggunginya tengah berbicara dengan Mila dan Vanessa.