Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Ketika Hati Belum Bisa Mencintai


__ADS_3

Dokter Karina menatap nanar sebuah foto yang ada di layar ponselnya, foto yang menampilkan seorang sosok laki-laki yang telah lama tersembunyi di dalam hatinya, ia begitu sempurna menyembunyikan perasaan itu hingga tidak ada siapa pun yang mengetahuinya, kecuali orang yang ada di foto tersebut, itu pun masih diragukan oleh dokter Karina sendiri.


Foto tersebut menampilkan sosok Arya yang sedang berdiri menatap sesuatu, laki-laki itu memakai jas biru dengan kemeja putih dan dasi berwarna merah Marun, foto yang ia ambil secara diam-diam ketika perusahaan 3A Sahabat merayakan sebuah proyek besar 3 tahun lalu.


‘Aku telah menjaga kesucian cinta ini, tetapi kenapa balasan yang ku terima begitu menyakitkan’ batin dokter Karina yang menahan sesak di dadanya.


Cukup lama dokter Karina menatap foto tersebut, hingga akhirnya kegiatan itu terhenti setelah pintu ruangannya terdengar diketuk dan seorang laki-laki masuk setelah ia persilahkan.


“Hai, Karina” sapa laki-laki itu tersenyum pada dokter Karina, Menyadari siapa yang datang, dokter Karina merapikan bajunya dan mengusap matanya, ia tidak ingin tampak sedih di depan laki-laki itu.


“Ari,, kamu kok datangnya jam segini?, biasanya kan sore” dokter Karina berbicara dengan nada ramahnya kepada Ari.


“lagi kangen nih” goda Ari pada dokter Karina,


“apaan sih kamu, gombal mulu kerjanya, aku lagi sibuk nih, aku mau memeriksa beberapa pasien lagi” dokter Karina lalu membereskan barang-barang di mejanya untuk kemudian bersiap pergi melanjutkan kerjanya yang tertunda tadi. Ia takut kondisi perasaannya yang tidak menentu saat itu akan membuat Ari tidak nyaman dengannya.


“aku mau lihat Tomy, sekalian ngapelin kamu” goda Ari lagi yang membuat dokter Karina melihatnya dengan tatapan kesal, ia sangat tidak suka jika Ari menggodanya seperti itu.


“udah ya gombalnya,” ucap dokter Karina dengan serius kepada Ari.


“Karina, menurutmu aku harus membawa masalah Tomy ini ke jalur hukum lagi?” tanya Ari yang mulai serius dengan kalimatnya.


Dokter Karina kemudian menatap Ari dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh siapa pun.

__ADS_1


“bukankah Abel sudah membawa kasus ini ke polisi, tapi tidak di proses sama sekali, kenapa sekarang kamu ingin mencobanya lagi?”


Ari melepas nafas kasar mendengar ucapan dokter Karina. “Adinata group itu benar-benar berkuasa, mana mungkin laporan Abel akan di proses sama polisi, mereka pasti akan bekerja duluan agar pewaris Adinata itu selamat dari tuntutan hukum,, tapi aku ingin mencobanya lagi, mungkin dengan sedikit uang, polisi mau memprosesnya,” Ari mencoba menjelaskan apa yang telah ia rencanakan.


“aku nggak suka yang seperti itu Ri” jawab dokter Karina,


“kalau nggak seperi itu, masalah Tomy akan hilang begitu saja, aku tidak ikhlas sahabatku ditikam dengan pisau dan pelakunya tidak diproses sama sekali” lanjut Ari mengutarakan isi hatinya pada dokter karina,


“tapi aku tidak suka dengan sogok menyogok kayak gitu”


“kamu mirip sekali sama Arya, maunya jalan yang lurus-lurus aja, padahal bagi pebisnis kayak kami ini, jalan yang lurus itu sama saja menghancurkan usaha sendiri” ucap Ari melepas nafas panjang.


Hati Dokter Karina tersentak dengan ucapan Ari, hatinya kembali terasa pilu ketika harus mengingat bahwa Arya telah menikah dengan orang lain.


“kamu mau melihat Tomy kan, aku mau memeriksa beberapa pasien lagi,” ucap dokter Karina yang ingin mengakhiri pertemuan mereka, ‘mengapa aku seperti ini, aku mengharapkan orang yang tidak pernah mengharapkanku, padahal ada Ari yang tulus mencintaiku’ batin dokter Karina, ia begitu sangat menyesali dirinya sendiri, ia masih belum bisa mencintai Ari yang begitu sangat mencintainya.


“setelah ini aku harus ke luar kota, ada beberapa pekerjaan yang harus segera aku selesaikan, jadi nanti sore kamu gantian ya sama Abel buat nemenin Tomy, biar Abel bisa pulang sebentar nanti” ucap Ari, ia juga sudah siap untuk keluar dari ruangan dokter Karina, sama halnya dengan dokter Karina yang sedang bersiap untuk kembali bekerja.


“luar kota?, kok mendadak?, biasanya kamu ngasih kabar ke aku beberapa hari sebelum kamu pergi” tanya dokter Karina dengan penuh selidik sembari menatap panjang ke arah Ari,


“namanya juga pekerjaan, kadang juga mendadak kayak gini kan? apa lagi setelah Arya menghilang, banyak pekerjaan yang keteteran jadinya” jelas Ari dengan santai,


“kamu akan pergi ke daerah mana?”

__ADS_1


“Sulawesi, aku juga tidak tahu tempat pastinya, semuanya sudah diurus asistenku, dan aku hanya perlu siap-siap ke bandara sekarang, tapi aku mau menjenguk Tomy dulu” Ari sudah mulai melangkah ke arah luar ruangan dokter Karina yang diikuti dokter Karina di belakangnya,


“kamu tidak perlu memintaku untuk jaga Tomy, aku sudah pasti akan melakukannya, dia sahabatku juga” ucap dokter Karina, dan mereka berdua kemudian keluar dari ruangan itu.


“aku tahu, aku hanya ingin memastikan kamu akan menjaganya, jangan nakal selama aku pergi ya, jaga hatimu untukku” ucap Ari sembari tersenyum genit pada dokter Karina, ia kemudian melangkah pergi ke arah ruangan Tomy. Dokter Karina menatap punggung Ari dengan perasaan bersalah, ‘aku bahkan belum bisa memberikan hatiku untukmu’


Ari berjalan santai menuju ruangan Tomy, saat ia telah berada di dekat ruangn Tomy, ia melihat seorang perempuan bercadar baru saja keluar dari ruangan itu, Ari segera mempercepat langkahnya dan saat Mila hendak berjalan, Ari sudah terlebih dahulu berdiri menghentikan langkahMial yang membuat Mila kaget dengan kedatangan Ari.


‘astaga, kenapa aku harus bertemu dia disini?’ batin Mila yang kaget melihat Ari, jantungnya terasa berdetak cepat, ia masih ingat seperti apa perdebatannya dengan laki-laki di depannya itu ketika berada di ruangan kerja Arya dan juga ia masih ingat ketika Ari mengusirnya di depan Rita dan Anjani.


“kenapa kamu disini?” tanya Ari dengan sinis pada Mila, Ari menatap Mila dengan tatapan membunuhnya. Tubuh Mila terasa gemetar mendengar suara Ari, apa lagi saat ia melihat wajah Ari, tatapan Ari seolah-olah sudah siap untuk menerkamnya.


“a,,aku menjenguk Tomy” ucap Mila sedikit gugup, ia kemudian menarik nafas panjang untuk menguatkan dirinya.


“untuk apa kamu menjenguk Tomy?, apa kamu ingin memastikan Tomy sudah mati?” tanya Ari yang membuat Mila kaget mendengarnya,


“apa yang kamu katakan?, aku tidak mungkin menginginkan kematian iparku sendiri” jawab Mila yang mulai tidak senang dengan ucapan Ari, ia seperti tidak menyangka, bagaimana mungkin orang di depannya itu berpikir seburuk itu kepadanya.


“apa kamu tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu kalau orang bayaran pacarmu itu yang menikam punggung Tomy” ujar Ari dengan nada dingin penuh penekanannya, matanya masih menatap Mila dengan tatapan membunuhnya yang penuh amarah.


Nafas Mila terasa tercekat di tenggorokannya, sampai detik itupun ia belum bisa percaya bahwa Arnes akan seperti itu, ia tidak dapat percaya sama sekali dengan semua tuduhan orang kepada Arnes.


“aku,,, aku tidak pernah menginginkan hal seperti itu, aku juga tidak tahu ada masalah apa antara Abel, Tomy dan bang Arnes, aku tidak tahu sama sekali” jawab Mila yang membela dirinya dari tuduhan Ari.

__ADS_1


“jangan pernah kesini lagi” ucap Ari singkat dengan tajam pada Mila, ia kemudian menarik gagang pintu untuk segera masuk ke dalam ruang rawat Tomy. Ucapan Ari itu seperti menusuk hati Mila dengan dalam.


“Dimana Arya?” ucap Mila sebelum Ari membuka pintu ruangan Tomy,


__ADS_2