Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Aku Percaya Kamu


__ADS_3

Siangnya acara walimahan pernikahan Tomy berlangsung, kedua mempelai dengan ramah menyambut setiap tamu yang bersalaman dengan mereka. Ari, Arya dan Arbi duduk di bagian kiri. Mereka menjadi pengawal bagi pengantin laki -laki yang terus sibuk menyalami tamu. Setiap kebutuhan Tomy dengan sigap mereka bantu. Mulai dari minuman, makan, hingga Ari pun menawari rokoknya kepada Tomy.


Dari posisi mereka duduk, mereka dapat melihat setiap tamu yang datang. Di pojok kiri bagian depan, didekat alunan musik acara tersebut bersumber, sekelompok perempuan tengah duduk bersama. Ari dan Arbi melihat perempuan -perempuan itu sembari memilah satu persatu, mana tahu ada jodoh mereka disana.


Sementara Arya sibuk mengawasi istrinya, dari semalam istrinya itu sudah sibuk menemani Abel yang dibantu oleh Vanessa. Ia takut kondisi istrinya itu melemah dan menurun, namun saat diingatkan, Mila mengatakan kalau ia masih kuat untuk terus membantu Abel.


Mila tengah duduk di salah satu meja yang ada di gedung itu. Ia duduk bersama dengan sekolompok anak, disana ada 2 perempuan selain Mila dan 4 orang laki-laki. Keadaan yang membuat perasaan Arya was-was tak menentu. Seorang laki-laki di meja itu terus menatap ke arah Mila yang memakai cadar biru muda. Mata laki-laki itu terlihat sering mencuri pandang ke arah Mila.


Arya berkali-kali menarik nafas kasar menahan cemburunya, Mila sendiri juga tidak sadar jika diperhatikan laki-laki tersebut. “lo apa lihat Arya?, kok mata kayak gitu” ucap Arbi yang menyadari sikap Arya.


Ari kemudian melihat ke arah sorot mata Arya. Mila duduk disana dengan teman -temannya, dari awal walimahan dimulai, Mila tak hentinya menemani setiap teman sekolahnya dulu yang diundang oleh Abel. Mulai dari sekeda tegur sapa, sampai ikut duduk untuk sekedar mengulang cerita masa SMP dan SMA. Istri Arya itu terus tampak bersemangat bercerita dengan teman -temannya itu.


Awalnya Arya membiarkannya, karena Mila tampak senang bercerita dengan teman -temannya, namun hatinya terasa memanas saat ada laki -laki lain yang melirik istrinya itu.


“lo jangan terlalu posesif, ntar istri lo nggak nyaman,” ucap Ari dengan ketus saat menyadari Mila berkali -kali dilirik oleh laki -laki yang semeja dengannya.


“gini nih, kalau nggak pernah dekat sama cewek, lihat istri duduk sama cowok lain, udah cemburuan aja, mereka itu teman kali” ledek Arbi pada Arya.


Arya seketika mendengus kesal, ia kemudian berdiri. “Kalian urus aja tuh Rika sama Karina, belum keliatan batang hidung mereka dari tadi” ucap Arya sembari berlalu pergi.


Ari dan Arbi saling berpandangan, mereka tersenyum, melihat sikap Arya. “iya sih kita perlu cemburu jika pasangan kita dekat sama yang bukan mahromnya, tapi nggak kayak gini juga kali” gumam Ari yang melihat Arya mendekati Mila.


“lo aja mungkin belum lihat Karina dekat sama cowok lain, makanya bilang Arya kayak gitu, bukan mahrom ya bukan mahrom, nggak ada toleransi” sanggah Arbi, ia tadi hanya niat bercanda dengan Arya, tapi ia malah membuat Arya semakin panas.


“iya itu kan rame bro, emang apa salahnya?”


“lo nggak lihat tuh cowok liatin Mila dari tadi, wajarlah Arya cemburu gitu” bela Arbi lagi.


“gue sering lihat Karina dekat sama teman cowoknya sesama dokter, tapi gue paham itu masalah kerjaan, nggak kayak lo, cewek lo dinaikin orang lain, lo biarin begitu aja” lanjut Ari lagi yang ngeledek Arbi.


“Mau dia diapain cowok lain gue juga nggak peduli, lagian sampah kayak dia ngapain diurusin, lagian lo kan tahu Rika cuma alat gue untuk menghancurin Irman” ucap Arbi.


Arya mendekat ke arah Mila dan menyentuh bahu istrinya itu, seketika saja 6 orang di meja yang sama melihat ke arahnya. “Kamu nggak capek?” tanya Arya dengan sedikit membungkuk mendekatkan mulutnya ke telinga Mila.


Mila menarik nafas panjang. Tubuhnya memang terasa sedikit lelah. “tapi ini teman-temanku, aku nggak enak ninggalin mereka”

__ADS_1


“udah, tinggalin aja, kita istirahat dulu di apartemen, lagian nanti malam masih ada acara kan di rumah Abel,”


Mila menarik nafas kasar, ia harus menuruti kata Arya, jika tidak, dia lah yang menjadi masalah nanti jika sampai pingsan.


“aku pamit dulu ya guys” ucap Mila kepada semua temannya di meja itu.


“loh kok buru-buru Mil, baru juga kita duduk bareng kayak gini” ucap laki-laki yang sedari tadi melirik ke arah Mila, Jantung Arya berdetak cepat, laki-laki itu seakan memancing emosinya.


Mungkin bagi laki-laki itu melirik Mila seperti tadi bukanlah masalah. Tapi beda bagi Arya, ia selama ini selalu memalingkan pandangannya dari perempuan, pandangan laki-laki itu sama baginya dengan sebuah pelecehan, tidak menghormati seorang perempuan.


“maaf ya, aku harus balik dulu sama suamiku” gumam Mila dengan pelan kepada teman -temannya. "aku mau istirahat dulu, acaranya masih panjang sampai malam"


Seketika saja mata laki-laki itu melihat tajam ke arah Arya yang juga menatapnya. Ada pandangan ketidak sukaan dari mata laki-laki itu kepada Arya.


Setelah berpamitan, Arya langsung menarik tangan Mila untuk segera pergi dari gedung itu. “kamu suka sekali duduk sama cowok lain” gumam Arya dengan kesal. Mereka kini telah ada di dalam mobil untuk kembali ke apartemen.


“merekakan teman sekolahku dulu Arya, emang apa salahnya”


“mereka mantanmu ya, kamu kan tiap bulan dulu ganti pacar” ucap Arya masih dengan kesal.


Mila tersenyum, tingkah cemburuan Arya tampak lucu baginya. “duhh, cemburuan amat suamiku” gumamnya sembari mencubit pipi Arya yang tengah menyetir.


“hhmmm tadi ada 4,5,6, ada 6 mantanku tadi” ucap Mila dengan santai, entah mengapa ia begitu ingin menggodai suaminya itu. “namanya cinta monyet Arya, ngapain dicemburui,” ucap Mila sembari mengelus perutnya, malaikat kecil mereka seolah sudah puas melihat ekspresi ayahnya.


Arya melepas nafas kasar seketika, “aku ketemu cinta monyetku dulu bisa terjadi lebih dari sekedar duduk semeja sepertimu tadi” gumam Arya dengan datar.


“emang punya?,” ledek Mila lagi. Arya melepas nafas kasar lagi, cinta monyet?, ia saja sudah lupa dengan teman-temannya dulu, hanya ada beberapa yang ia ingat, tapi itu hanya wajah, kalau nama sudah lupa semuanya.


“teman-teman kuliah ku dulu belum datang tadi, mereka banyak yang lebih cantik dari mu Mil” balas Arya dengan asal.


Mila melirik tajam ke arah Arya, ia melempar tas yang ia bawa ke arah tubuh suaminya yang tengah fokus menyetir. “aduhh, apaan sih Mil”


“iya mereka lebih cantik dariku, dia lebih seksi dariku, lebih menggoda dariku, lebih apa lagi?” ucap Mila dengan kesal.


Arya menelan salivanya, ia menaruh tas Mila di dashboard, dan sejenak ia melihat ke arah Mila, wajah istrinya itu tampak bersedih melihat ke arah depan, tangan kiri Mila masih mengelus perutnya.

__ADS_1


‘apa tadi pengaruh kehamilan juga ya?, masa pengaruh kehamilan bikin cemburu kayak tadi, yang benar aja’ batin Arya sejenak berpikir.


“Maaf Mil, kamu tahukan aku cemburuan, aku nggak suka laki-laki itu melihat kamu seperti tadi, matanya itu benar-benar ingin aku cungkil tadi”


“truss, apa itu salahku?” ucap Mila dengan kesal.


“ya, seharusnya kamu tidak dekat-dekat dengan dia, setidaknya hindarin dia gitu, agar dia tidak melihatmu” jawab Arya dengan pelan, ia harus mengalah dari Mila.


“aku tidak tahu dia melihatku tadi, aku duduk itu karena temanku perempuan yang lain juha duduk disana, aku ini sedang hamil anakmu, apa kamu masih tidak percaya denganku”


‘ya Tuhan, Mila sensitif amat sih’ batin Arya dengan kesal.


“ini bukan tentang kamu Mil, kamu tahu nggak sih sama dayyus?”


“dayyus apa?”.


“laki-laki yang tidak cemburu jika ada laki-laki lain memperlakukan istrinya dengan keji, tempatnya di neraka lo Mil” Mila terdiam, ia melihat wajah Arya dengan dalam.


Arya menggerutu dengan nada pelan, “matanya itu penuh nafsu Mil, mana mungkin aku tidak cemburu karenanya, apa lagi dia menahanmu saat aku ajak pulang tadi”


Mila melepas nafas kasar, kali ini rasa sesal merasuki hatinya. “aku hanya ingin ngumpul dengan teman-temanku Arya, hanya itu, tidak ada maksud yang lain, apa lagi membuatmu cemburu, maaf tadi aku berbicara soal mantanku, aku tak bermaksud apa-apa”


“Mil, lain kali kalau kamu bertemu dengan mantanmu, sapa saja sekedarnya, jangan berlebihan, tadi aku lihat kamu cukup akrab bicara dengan beberapa cowok”


“kamu melihat semuanya Arya?”


“aku ngawasin kamu lo Mil, untung tadi acara walimahannya Tomy dan Abel, kalau diluar, pengawalmu yang akan bertindak duluan tadi” ucap Arya dengan datar.


“Arya,,, maaf ya, aku sedang berusaha mengambalikan kepercayaanmu kepadaku, tapi lagi-lagi aku melakukan kesalahan” gumam Mila dengan pelan.


Arya menarik nafas kasar, ia menepikan mobilnya. Arya kemudian melihat wajah Mila dengan dalam dan menggenggam tangan istrinya dan menciumnya dengan dalam.


“Mil, aku percaya sama kamu” ucap Arya. “kita sudah melewati banyak hal berat Mil, mulai dari masalahmu dan Arnes, masalah sahabatku dan abangmu, masalah aku dan ibu, kita melewati semuanya dengan saling mengenggam tangan dengan erat, semua itu takkan terjadi jika tidak ada kepercayaan diantara kita Mil”


“jadi jangan berpikir lagi kalau aku tidak percaya sama kamu, rasanya sakit saat kamu mengatakan itu, sekarang kita pulang dulu, istirahat, perasaanmu sedang sensitif sekarang, mungkin itu bawaan malaikat kecil kita”

__ADS_1


Mila mengangguk pelan, ‘mungkin benar perasaanku lagi sensitif, kenapa aku tiba-tiba tadi ingin mengusili Arya dengan mantanku, aahh , dasar bodoh’ rutu Mila pada dirinya sendiri.


Arya kembali melajukan mobilnya untuk segera menuju ke apartemennya.


__ADS_2