
Mila menatap panjang ke arah lautan biru, matanya benar-benar dimanjakan oleh pemandangan yang biasanya hanya ia lihat di layar ponselnya saja.
“kamu menyukainya?, dari turun mobil tadi kamu sudah langsung duduk disini” ucap Arya yang sedikit mengagetkan Mila. Arya kemudian duduk disisi Mila sembari memberikan Mila sebotol air.
Mila segera menyandarkan kepalanya di lengan Arya dan menerima botol air yang diberikan Arya, “terima kasih Arya, aku benar-benar senang melihat pemandangan ini” ucap Mila dengan pelan sembari menikmati suara deburan ombak yang diselingi sahutan burung.
“kamu seperti tidak pernah aja melihat pantai seperti ini Mil” ucap Arya dengan pelan sembari merangkul bahu Mila.
“pantai Jakarta tidak seindah ini Arya, lagi pula dari dulu aku nggak pernah jalan- jalan kayak gini, hidupku terlalu mono aja di rumah” ucap Mila dengan pelan, ia membalas rangkulan Arya dengan memeluk pinggang Arya dari belakang.
“benarkah?, apa kamu nggak pernah melihat keindahan alam seperti ini, kamu benar-benar menyia-nyiakan banyak waktumu”
“kamu pikir siapa yang akan membawaku jalan -jalan seperti ini, kakek dulu sibuk dengan perusahaan, abangku sibuk dengan teman -temannya, ibu dan ayah, rumah tangga mereka juga nggak jelas, hidupku benar-benar tak menarik dari dulu” ucap Mila dengan pelan menahan semua kesedihan mengingat seperti apa keluarganya.
“bukankah dulu kamu idola sekolah dan selalu ganti pacar tiap bulan, kamu juga suka keluyurankan, masa sih kamu nggak pernah jalan -jalan seperti ini sama sekali?” ucap Arya dengan santai.
“iihh, pasti Abel kan yang cerita sama kamu, mulut anak itu benar-benar membuatku kesal sekarang” ucap Mila dengan menguatkan pelukkannya di pinggang Arya, hal itu semakin membuat tubuh mereka semakin menempel.
“dan sekarang idola sekolah itu menjadi istriku, padahal dulu waktu aku sekolah tidak ada cewek yang mau melirikku” ucap Arya dengan pelan.
"bohong kamu, mana mungkin nggak ada cewek yang melirikmu, pasti banyak cewek yang penasaran dengan sosok Arya ramadana ini kan" ucap Mila dengan sedikit nada kesalnya. Arya sejenak tersenyum tipis mendengar kalimat Mila.
“Arya” gumam Mila dengan pelan.
“apa Mil?,” jawab Arya dengan singkat.
“tadi aku cerita sama Abel di kamar soal jilbabku, aku jadi teringat seseorang sekarang” ucap Mila dengan nada pelannya.
"siapa?”
"teman kuliahku dulu, teman yang dulu selalu memaksaku memakai jilbab seperti sekarang, dia udah menikah, setelah dia menikah dia ikut suaminya dan sekarang mereka di Kalimantan, udah lama aku nggak ketemu dia,” ucap Mila mengingat kembali wajah teman kuliahnya itu.
__ADS_1
“pake Jilbab kok dipaksa Mil, harusnya niatnya ibadah dong,” jawab Arya dengan santai.
“iih aku tahu, tapi sekarang aku sudah memperbaiki niatku kok, aku bicara soal temanku Arya bukan masalah jilbabku” ucap Mila yang kali ini bernada kesal.
“kalau kamu mau, nanti jika ada waktu luang kita bisa ke Kalimantan, buat lihat alam disana sama silaturahim ke temanmu itu, tapi sekarang aku lebih ingin kamu banyak belajar sama bibi Mil, kita mungkin seminggu disana, kamu pasti bisa belajar banyak hal dari bibi” ucap Arya kepada Mila.
“kamu ingat waktu kita bertemu dulu Mil?” tanya Arya kepada Mila.
“Kapan?, waktu kamu sore-sore datang ke kamar kakek yang membuat hidupku hancur itu” ucap Mila dengan nada candaannya yang membuat Arya sedikit tertawa tipis.
“bukan, waktu kamu menjadi princess kecilku, waktu itu aku bilang aku akan pergi jauhkan”
“hmmmm, aku ingat kok, mana mungkin aku lupa hari itu, kamu saat itu benar-benar pergi jauh selama 22 tahun dari hidupku, bahkan aku sudah kehilangan harapan menunggumu” ucap Mila yang sekarang menatap wajah Arya dengan tetap menempelkan kepalanya di lengan Arya.
“waktu itu aku akan pergi ke korea Mil, ayah mengajak aku dan ibu liburan, tapi takdir membawaku pergi darimu selama itu” ucap Arya dengan nada pelannya, ia kemudian mengalihkan tangannya dari bahu Mila ke kepala Mila, ia kemudian mengusap kepala istrinya itu dengan lembut.
“ayahku mengajak ibuku ke korea, karena ibuku suka dengan segala hal tentang korea, kalau kamu suka Negara apa Mil?, mungkin nanti kita bisa kesana” ucap Arya lagi.
“tapi aku lebih suka Turki Mil, Hagia sopia benar-benar membuatku ingin ke Negara itu” ucap Arya mencoba menawar keinginan Mila.
“apa kamu punya banyak uang?, kita pergi saja ke kedua Negara itu, itu pasti akan sangat menyenangkan" jawab Mila masih menatap dan mengusap pipi Arya.
“kayaknya tabunganku sudah habis karena perhiasan yang kamu pakai itu” ucap Arya dengan senyum candanya. Mila pun ikut tersenyum mendengar ucapan suaminya itu.
“berapa harganya Arya?, ini pasti mahal, aku sama kakak Syifa bahkan tidak bisa menebak harga perhiasan ini loh”.
“aku juga nggak tahu Mil, aku nggak pernah mengecek pengeluaranku” ucap Arya dengan santai.
“sepertinya kamu ketularan kaya ayahmu, sampai nggak peduli sama berapa pengeluaranmu sendiri”
“tapi sepertinya sekarang aku harus memikirkan itu, agar nanti aku bisa menikmati suasana romantis Paris bersamamu” ucap Arya dengan nada senangnya, Mila kemudian mengalihkan pandangannya ke laut biru.
__ADS_1
"semahal apa pun perhiasan itu, hatimu jauh lebih mahal dari itu semua Mil," ucap Arya dengan penuh makna. Mila menarik nafas dalam, ia mengerti makna dari ucapan suaminya itu.
"hatimu juga lebih mahal dari apapun Arya, aku bahkan harus memohom untuk mendapatkan hatimu" balas Mila atas kalimat Arya.
‘ya Tuhan, terimakasih untuk semua ini, aku mencintai suamiku ini, aku benar-benar menjadi diriku sendiri sekarang, tak ada beban sama sekali untuk menjadi orang berbeda seperti hubunganku sebelumnya’ batin Mila memejamkan matanya menikmati suasana tersebut.
“Arya, beberapa hari lalu kamu bilang aku jauh berbeda dari yang kamu kenal di awal pernikahan kita, tapi sekarang aku sadar, bukan aku sekarang yang berbeda, tapi aku yang dululah yang berbeda Arya, aku baru sadar saat bercerita dengan Abel tadi, seperti inilah diriku sebenarnya, aku sudah merasa hidup seperti diriku sendiri sekarang” ucap Mila penuh arti pada Arya.
Arya hanya tersenyum mendengar ucapan Mila, ia kemudian mengecup singkat kening Mila, “kamu tak perlu menjadi orang lain di depanku, cukup menjadi dirimu sendiri, hatiku selalu terbuka seperti apa pun dirimu” ucap Arya yang membuat perasaan Mila benar -benar tanpa beban seketika.
“enak ya, udah bisa peluk-peluk sekarang, bisa cium-cium” ledek Tomy yang sudah duduk di samping Arya,
“aku jadi iri sama kalian sekarang” sambung Abel yang duduk di samping Mila dan diikuti Vanessa yang duduk di samping Abel. Mila kemudian melepas pelukkannya pada pinggang Arya, ia kemudian memeluk Abel dengan erat.
“sabar Bel, bentar lagi kamu juga bakalan nikah kok” ucap Mila pada Abel.
“ihhh, kamu ini ngapain peluk-peluk, aku belum sepenuhnya memaafkanmu” ucap Abel yang berusaha melepaskan pelukkan Mila di tubuhnya, ucapan itu juga yang membuat mereka berempat tertawa lepas seketika.
“kok kalian pada ketawa sih, aku lagi serius tauu” kesal Abel seketika, namun Mila tidak melepaskan pelukkannya pada sahabatnya itu.
Tomy sejenak melihat ke wajah Arya, ia dapat merasakan kegusaran di wajah saudaranya itu. ‘apa aku harus bertindak lebih dulu untuk melindungi Arya?’ batinnya menimbang keadaan.
Arya kemudian berdiri, ia seketika menarik tangan Mila yang mulai melepas pelukkannya pada Abel. Mila seketika berteriak kaget karena suaminya itu menariknya ketepian pantai mengejar deburan ombak yang bergerak ke arah mereka. “Aryaaaa, jangan, nanti pakaianku basah” teriak Mila, teriakan itu yang juga membuat Tomy, Abel dan Vanessa juga ikut berdiri untuk bermain ombak seperti anak kecil.
Mereka berlima menghabiskan waktu untuk bersenang-senang di pantai itu, tertawa riang bersama menghabiskan waktu sore mereka di tepian pantai. Tawa mereka lepas memberikan kelegaan di dada mereka masing-masing.
Abel, Mila dan Vanessa berlarian bermain ombak di tengah kuningnya langit sore, sementara Arya sesekali mengusili Mila dengan menarik dan memeluk istrinya itu ke tengah deburan ombak yang membuat rok Mila dari lutut ke bawah menjadi basah karena air laut, kegiatan yang membuat Mila benar-benar dapat tertawa lepas dibalik cadarnya.
Sementara Tomy bermain ombak seraya menahan keinginannya untuk menyentuh Abel seperti Arya menyentuh Mila, ‘ahh, aku benar-benar iri pada mereka’ batin Tomy yang hampir sama dengan batin Abel, Tapi Abel tidak ambil pusing, ia sesekali juga menarik Mila untuk berjalan melawan deburan ombak bersama Vanessa.
Kelima orang itu menghabiskan waktu mereka hingga azan maghrib memanggil, setelah sholat dan makan, mereka kemudian melanjutkan mencari penginapan untuk beristirahat.
__ADS_1