
“Aku akan tetap menjadi istrimu, sekalipun kamu tidak mempercayaiku lagi, aku akan bertahan sekuat yang aku bisa,” jawab Mila dengan suara sesaknya, yang ia rasakan hanyalah rasa takut jika Arya pergi lagi, ia benar-benar tidak sanggup menahan penderitaan yang ia alami ketika Arya pergi.
“kamu pasti bisa bertahan, jika kamu ingin menjadi istri yang baik untukku, aku juga akan menjadi suami yang baik untukmu, seperti janjiku, selagi kamu menjaganya, aku akan tetap disisimu” ucap Arya, yang membuat Mila semakin menitikkan air mata, ia sadar, satu-satunya alasan Arya tidak menceraikannya hanya karena rahasia tentang Indra.
“sekarang aku mau melihat Tomy ke rumah sakit, aku akan pulang malam nanti” ucap Arya yang membuat Mila langsung bangkit dari kursinya karena perasaan takut Arya akan pergi itu masih ada.
“tunggu sebentar, aku ikut denganmu, aku akan siap-siap dulu” Mila kemudian segera masuk ke kamarnya untuk siap-siap tanpa mendengar jawaban Arya, karena Ia merasa Arya pasti akan melarangnya.
Arya melepas nafas panjang melihat Mila yang berjalan ke arah kamar, “apa aku berlebihan kak?” tanya Arya pada Vanessa yang masih asyik makan memperhatikan perdebatan sepasang suami istri itu.
“Ia mungkin akan merasa sakit karena kamu memaksanya untuk memutuskan hubungan mereka” jawab Vanessa.
“bang Irman menyuruhku menjaganya, Temanku juga memperingatkanku soal itu, bukankah lebih baik aku memaksanya seperti ini, karena dia bisa saja terperdaya oleh rayuan laki-laki itu, setidaknya itu yang bisa ku lakukan sekarang untuk melindunginya” jelas Arya tentang tujuannya.
Vanessa melepas nafas panjang mendengar itu semua, ia sama sekali tidak mengira jika Arya melakukan hal itu untuk melindungi Mila dari Arnes, ia sangat berharap Arya merindukan Mila selama ia pergi, sehingga Arya memaksa Mila untuk memutuskan Arnes dengan cara itu. 'ternyata benar, tidak semudah itu Arya menerima Mila, aku malah mengira dia melakukan itu karena cemburu'
Vanessa kemudian melihat ke arah Arya “kakak kira kamu melakukan itu karena cemburu jika Mila menghubungi laki-laki itu lagi?”
“selagi aku masih suaminya, aku pasti akan merasa dikhianati jika ia melakukan itu, tapi aku hanya bisa melarangnya, aku tidak bisa memaksanya seperti tadi, aku bukan orang yang suka merenggut kebebasan orang lain kak, apa lagi ini masalah perasaan yang tidak bisa di paksa, lagi pula aku sudah ingin melepasnya untuk laki-laki itu, tapi dia malah menolaknya, dan tidak ingin berpisah denganku” ucap Arya yang mengingat betapa sedihnya Mila tadi pagi ketika ia berkata tentang perceraian.
“kamu benar-benar tidak ingin lagi bersamanya,?” tanya Vanessa yang membuat Arya menarik nafas panjang untuk menjawabnya.
“mungkin aku tidak sama seperti kakak, yang bisa bertahan dengan segala pengkhianatan, tapi tidak denganku, orang yang aku kunjungi dengan Tomy hari itu sekarang terkubur di dalam tanah karena pengkhianatan, dan itu juga bisa terjadi padaku, Mila akan menguburku di dalam tanah dengan pengkhianatannya” ucap Arya lagi dengan penuh makna, yang terasa Vanessa sangat menusuk hatinya, ia tahu seperti apa perasaan yang memudar pada orang yang dicintainya karena pengkhianatan.
Arya merasa Mila seperti pisau di genggamannya, jika ia pegang terlalu erat, ia akan melukai diri sendirinya, dan jika ia melepaskan pisau itu, ia akan jatuh ke tangan musuhnya yang telah siap menikamnya.
‘ini tidak hanya tentang melindunginya dari laki-laki itu kak, tapi juga melindungi diriku sendiri, aku takut jika Mila sampai membocorkan tentang diriku di masa lalu jika terus berhubungan dengan laki-laki itu’ batin Arya.
__ADS_1
Vanessa teringat ketika Arya dan Tomy membawa 4 bunga di pagi sebelum acara lamaran Tomy. ia kemudian menatap dalam wajah Arya dan Arya pun juga menoleh pada Vanessa.
"perempuan memang sulit dipahami ya kak, dia mencintai orang lain, tapi dia juga tidak mau aku pergi dari sisinya, menurut kakak, sampai kapan aku bisa bertahan di sisinya dengan keadaan seperti ini?"
Vanessa melepas nafas panjang mendengar pertanyaan Arya, ia sendiri bahkan tidak paham dengan isi hati Mila.
*
Arya menyetir mobil Vanessa dengan menatap kosong ke arah jalan, ia meminjam mobil Vanessa karena hanya membawa satu helm di motornya. Sementara itu, Mila duduk di sampingnya sembari menatap lembut suaminya itu, ia ingin melihat Arya terus untuk menumbuhkan rasa cinta dihatinya. ‘ini saatnya untukku belajar mencintaimu Arya?’
“tadi kak Rita menelfonmu” ucap Mila memecahkan kesunyian diantara mereka.
“dia bicara apa?"
"dia menyuruhmu untuk menelfonnya lagi"
“apa kata-kataku tadi menyakitimu?” lanjut Arya yang bertanya datar pada Mila,
“kamu berhak mengatakan itu, aku sudah banyak salah kepadamu” jawab Mila yang berusaha tersenyum menahan getir.
“suami tidak berhak menyakiti perasaan istrinya, tapi aku telah melakukan itu tadi”
“kamu berhak untuk itu, aku bahkan dulu jauh lebih sering menyakitimu”
“Apa dengan alasan itu dosaku menyakitimu tadi akan diampuni?. balas dendam bukanlah cara yang diajarkan keluargaku Mil”
“jika kamu tidak ingin menyakitiku, berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkanku, dengan atau tanpa ada rahasia tentang Indra, jangan ada lagi kata-kata pisah, pergi, meninggalkan apa lagi cerai diantara kita” ucap Mila yang masih menatap Arya.
__ADS_1
Arya sejenak menoleh kepada istrinya dengan senyuman getir.
*
Ari keluar dari bandara dengan wajah frustasinya, ia menghabiskan 3 hari di Sulawesi untuk mencari Arya, namun hanya hasil kosong yang ia bawa pulang, ‘aku meninggalkan banyak pekerjaan di kantor, dan aku pulang tanpa menemukannya, anak itu, jika dia sudah pulang, aku akan memukulnya sampai puas, biar dia tahu betapa kacaunya keadaan karena perbuatannya ini’ batin Ari.
“bos, mobilnya akan segera datang” ucap laki-laki tegap yang telah menemani Ari selama 3 hari,
“kamu bawa mobilnya, kamu harus segera mengawasi Anjani dari Hardi corp, jangan sampai dia berpaling karena masalah Arya, ” ucap Ari singkat, ia tidak ingin kehilangan projek dari Hardi corp, karena hal itu akan sangat merugikan untuk perusahaannya di tengah kondisi perusahaan yang sedang turun. Kemudian Ari segera memanggil sebuah taksi yang tengah parkir di pelataran pintu masuk bandara.
“lalu anda bagaimana bos?, saya harus antar dulu sampai rumah” jawab laki-laki itu lagi.
“aku akan ke rumah sakit sebentar melihat Tomy, setelah itu aku baru pulang, aku ingin istitrahat sampai pagi” ujar Ari, ia segera masuk ke dalam taksi dan meninggalkan bandara itu.
Ari segera melangkah menuju ruangan Tomy, sebelum itu, ia sejenak singgah sebentar ke ruangan dokter Karina, namun beberapa kali ia ketuk pintu ruangan itu, dokter Karina sama sekali tidak membukanya, ‘apa dia sedang bekerja?’ batinnya.
Ari kemudian memutar badannya menuju ruangan Tomy, ‘udah capek kayak gini, Karina juga nggak ada, padahal aku udah rindu sekali melihat wajahnya’.
Ari melangkah gontai menuju ruangan Tomy, wajahnya benar-benar lelah setelah 3 hari berkeliling mencari Arya, ‘aku tidak akan mengampuni anak itu’ batin Ari lagi yang masih kesal.
Saat ia membuka pintu kamar Tomy, matanya membelalak kaget melihat orang yang tengah berdiri di samping ranjang Tomy,
“Arya,,,” ucapnya setengah berteriak karena marah.
Arya kemudian menoleh ke arah suara yang memanggilnya, dan ia tersenyum melihat kedatangan sahabatnya itu. Sedangkan Ari berjalan ke arah Arya dengan wajah marah. Ia tak peduli lagi dengan keadaan di dalam sana, dimana dokter Karina tengah memeriksa Tomy.
Semua orang melihat ke arah Ari dengan wajah tak bisa diartikan, mereka pias melihat betapa marahnya Ari saat itu, “lo darimana aja?” tanya Arya santai, ia tidak peduli dengan wajah kesalnya Ari.
__ADS_1
Ari tak menjawab pertanyaan Arya yang terkesan bercanda itu, ia langsung menarik kerah Arya dan menganggkat kepalan tangannya untuk segera meninju sahabatnya itu untuk melampiaskan perasaan marahnya.