Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Perbedaan Antara Kita


__ADS_3

“kamu benar-benar ingin aku pergikan, kamu tidak benar-benar tulus kepadaku, seperti aku tulus kepadamu, kamu tidak benar-benar cinta sama aku seperti aku cinta kepadamu, sekarang aku sadar, aku hanya gadis bodoh yang terperdaya oleh semua kata-katamu yang tampak tulus itu” ucap Abel dengan marah.


Abel kemudian pergi dengan rasa sakit dihatinya, Tomy pergi meninggalkannya dengan cara yang menyakitkan, dan Tomy melepaskan pelukkan pada dirinya karena merasa bersalah memeluknya, ia merasa tidak ada rasa sayang sedikitpun dari Tomy untuknya.


‘dia hanya main-main denganku, dia hanya main-main mau menikah denganku, dia sama saja seperti mereka, mempermainkan diriku yang tulus kepada mereka’ batin Abel sedih meratapi sikap Tomy, bahkan mata Tomy hanya tampak datar ketika ia lihat tadi, seolah tidak ada rasa untuknya dari mata itu.


Tomy melepas nafas panjang melihat punggung Abel yang berlalu keluar dari pintu kamarnya, Ia sejenak memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya, ia kemudian duduk di ranjangnya dan menenangkan perasaannya. “Aku tidak mengerti cara menghadapi perempuan” gumamnya pelan yang membuat dokter Karina melihatnya dengan wajah simpati.


“perempuan itu sulit dimengerti Tom, aku bahkan belum bisa mengerti Mila sampai sekarang” ucap Arya yang berjalan ke arah sofa dan kemudian duduk disana. Ucapan Arya terasa menelisik hati dokter Karina, sakit itu tiba-tiba ia rasakan, sakit karena perasaannya terasa tidak akan pernah terbalaskan.


“Perasaan perempuan tidak akan pernah bisa kalian mengerti, kalian tidak akan pernah tahu seperti apa perempuan mencintai seorang laki-laki, seperti apa perempuan mengorbankan dirinya untuk laki-laki yang ia cintai, kalian tidak akan tahu seperti perasaan perempuan yang kecewa karena disakiti, seperti apa perasaan perempuan sesungguhnya, tidak akan pernah bisa kalian mengerti, sedikitpun tidak akan dimengerti oleh laki-laki seperti kalian” ucap dokter Karina penuh makna, ia kemudian segera memasangkan lagi semua alat-alat kesehatan Tomy yang sudah dilepas Tomy sebelum pergi tadi. Ia juga memeriksa keadaan Tomy memastikan kondisi laki-laki itu masih stabil setelah menghilang hampir 4 jam dari rumah sakit itu.


Tomy dan Arya sejenak melihat ke arah dokter Karina yang sedang bekerja, “Karina, menurutmu aku harus seperti apa menyikapi Abel, aku sama sekali tidak punya pengalaman soal yang satu ini” gumam Tomy bertanya pelan pada dokter Karina.

__ADS_1


“bersikaplah seperti apa adanya dirimu Tom, aku tahu Abel tulus kepadamu, aku juga tahu seperi apa dirimu, tidak ada yang salah diantara kalian, hanya karena perbedaan kalian yang membuat semua ini terjadi, Abel tidak benar-benar paham seperti apa dirimu sebenarnya, karena ia besar bukan di lingkungan sepertimu, dia perempuan yang haus dengan sentuhan laki-laki Tom, dan maaf Tom jika aku harus mengatakan ini, selama kamu tidak sadarkan diri, aku sering melihat Abel mengenggam erat dan mencium tanganmu dengan tulus, aku pernah melihat ia mencium keningmu dengan penuh perasaan, aku sering melihatnya menyentuh wajahmu, dan mungkin ada hal lain yang tidak ku lihat atas apa yang dia lakukan pada dirimu, aku tahu ia melakukan semuanya karena ia sangat mencintai kamu, dan disisi lain, kamu juga tidak benar-benar tahu seperti apa harus bersikap pada perempuan, karena kamu selalu menjaga dirimu dari perbuatan dilarang agama itu, menurutku laki-laki sepertimu terlalu sempurna untuk perempuan seperti Abel, juga seperti diriku untuk seorang laki-laki, laki-laki itu terlalu sempurna untukku yang masih banyak dosa ini” ucap dokter Karina penuh makna, yang membuat rasa bersalah langsung menggantung di hati Arya. Raut wajah Arya pun berubah sendu mendengarnya.


Tomy melirik Dokter Karina dengan wajah piasnya mendengar ucapan dokter Karina. Ia sudah tahu seperti apa hati perempuan di depannya itu, Sekarang perempuan itu dengan bias mengatakan tentang perasaannya pada Arya secara.


Dokter Karina kemudian segera pamit pergi dan meninggalkan ruangan Tomy, Arya menatap kepergian dokter Karina dengan meringis dengan perasaan bersalah. Setelah pintu ruangan Tomy tertutup, Arya langsung melirik Tomy, “benarkan, perempuan itu sulit dimengerti” ucap Arya mencoba menenangkan dirinya dengan berbicara menggunakan nada kesalnya.


“lebih baik kamu bicara baik-baik dengan Karina Arya, jangan biarkan dia menyimpan perasaan kepadamu, nanti bisa jadi bumerang buat hubungan kamu dengan Ari” jawab Tomy melepas nafas panjang kembali.


“dia nggak pernah bilang perasaannya sama aku Tom, gimana aku bilang kepadanya agar dia tidak menyukai ku, emang kamu pikir aku segila itu apa” ucap Arya dengan nada kesalnya mendengar saran Tomy.


“aku bingung sama Abel Arya, aku benar-benar tidak paham apa yang ia inginkan, aku ingin menjaga diriku, tapi dia meminta lebih dari itu, ia merasa aku tidak benar-benar tulus kepadanya karena aku tidak melakukan apa yang inginkan,” ucap Tomy mengingat seperti apa sikap Abel ketika setiap kali mereka bertemu, bahkan Abel hampir setiap jam menghubunginya baik itu telfonan atau chattingan selama ia bekerja di Bandung, bahkan hampir setiap malam Ia dan Abel bervideo call, sesuatu yang membuat Tomy selalu merasa risih karena ia tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu dengan perempuan mana pun. Apa lagi ia juga selalu hati-hati karena takut berbuat dosa.


“udahlah Tom, jangan dipikirkan lagi, biar Abel menenangkan dirinya dulu, lagi pula masalah ini tidak akan selesai oleh kita yang sama-sama tidak mengerti perempuan ini” ucap Arya yang terhenti karena oleh suara dering ponselnya dan Arya segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, ia dapat melihat nama Rita di layar ponselnya itu.

__ADS_1


“ada apa Rita?”


“nona Anjani di ruangmu Arya, dia menunggumu disana” ucap Rita datar di seberang telfon Arya,


“Anjani?, emang ada apa?, apa masih ada masalah lagi dengan desainnya?, kan seharusnya hari ini tanda tangan kontraknya” tanya Arya yang mulai merasa khawatir, rasa takut itu tiba-tiba menyeruak ke dalam hatinya, bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya di masa lalu selalu membuatnya dirasuki rasa takut, apa lagi Anjani saat ini berada di pihak musuh yang ingin menghabisinya.


“aku nggak tahu, tapi tampaknya dia lagi marah sama kamu” jawab Rita,


“Marah sama aku,? kenapa?” tanya Arya yang bingung.


“aku nggak tahu Arya, ayo cepat kesini, nanti dia buat masalah di kantor kita”


“iya,,iya,,aku kesana sekarang” jawab Arya segera menutup telfonnya, ia kemudian melirik ke arah Tomy.

__ADS_1


“benarkan, perempuan itu sulit dimengerti” gumam Arya pelan sembari memikirkan apa keinginan Anjani datang keruangannya. Sementara Tomy melihatnya dengan wajah bingung.


__ADS_2