Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Merasa Sayang


__ADS_3

Mila dan Vanessa sudah memasuki area perkantoran Gedung 3A Sahabat, setelah melewati satpam di depan gedung, dan seperti sebelumnya, mereka harus menghadapi 2 resepsionis perusahaan itu yang selalu duduk manis menyambut tiap tamu yang datang. Dan pertanyaan biasa itu muncul bagi setiap orang yang datang mencari Arya disana.


‘Maaf bu, apakah anda sudah memiliki janji untuk bertemu tuan Arya hari ini” tanya salah satu resepsionis pada Mila dan Vanessa.


“belum mbak, tapi kami ini keluarganya” jawab Vanessa.


Resepsionis itu sejenak berpikir memperhatikan Vanessa dan Mila, “maaf bu, tapi sekretaris tuan Arya tidak memberi kami kabar kedatangan kalian sama sekali, kami tidak bisa memberikan kalian izin masuk untuk menemui tuan Arya” jawab Resepsionis itu sembari memberi hormat dengan kepala.


“Aku ini istrinya, kenapa harus dihalangi seperti ini untuk bertemu dengan suamiku sendiri” kesal Mila mendengar ucapan resepsionis itu, itu adalah kali keduanya ia di tolak mentah-mentah oleh resepsionis di kantor itu.


Sementara resepsionis itu sejenak menatap mata Mila dan kemudian tertawa tipis, “kenapa kalian tertawa?” ucap Mila sembari menatap tajam 2 resepsionis itu.


“maaf bu, jika anda ingin mengelabui kami, sebaiknya anda mencari alasan yang lebih masuk akal, tuan Arya belum menikah, bagaimana mungkin anda menjadi istrinya” ucap salah satu resepsionis itu yang semakin membuat Mila bergedik marah. ‘dia sudah menikmati tubuhku, bagaimana bisa dia tidak mengakuiku sebagai istrinya di kantornya ini,’ batin Mila.


“maaf mbak, tapi adik saya ini tidak bohong, kami hanya ingin minta izin saja untuk masuk ke ruangan Arya, karena kami tidak tahu ruangannya di lantai berapa” ucap Vanessa yang berbicara kali ini, ia tidak ingin Mila bertambah emosi karena 2 resepsionis itu.


Mila dan Vanessa memang sudah pernah masuk ke ruangan Arya, namun mereka tidak tahu sama sekali ruangan itu ada di lantai berapa, karena saat mereka kesana, bukan merekalah yang memencet tombol lift itu dan saat itu pun mereka juga tidak ingat keluar di lantai berapa saat itu.

__ADS_1


“maaf bu, saya rasa kami tidak bisa memberi izin anda untuk masuk, adik anda ini sudah berbohong pada kami, lagi pula selama ini kami tidak pernah melihat tuan Arya membawa perempuan ke kantor ini” jawab resepsionis itu masih dengan nada sopan.


Arbi yang baru turun dari lift dapat melihat kejadian itu, ia sejenak melepas nafas panjang dan berjalan menghampiri Mila dan Vanessa. Disana ia melihat dalam ke arah mata Mila dan wajah Vanessa.


“ya udah Mil, lebih baik kamu telfon aja Arya dulu, biar dia yang kesini menjemput kita” ucap Vanessa sembari mengelus bahu Mila yang tampak emosi tidak terima dengan ucapan resepsionis itu.


“kalian mencari Arya?” tanya Arbi dengan nada pelan pada Mila dan Vanessa.


Mendengar suara Arbi, Mila dan Vanessa kemudian langsung melihatnya, sementara 2 resepsionis itu langsung memberi hormat pada Arbi.


“2 orang ini ingin mencari tuan Arya tuan, ibu Rita sama sekali tidak memberi kami kabar bahwa tuan Arya ada tamu hari ini, dan orang yang pakai cadar ini juga mengaku sebagi istri tuan Arya, jadi kami tidak mengizinkan mereka masuk” jelas salah satu resepsionis pada Arbi.


Arbi sejenak memperhatikan Mila dan Vanessa dan ia kembali teringat pada foto yang dibawa Ari saat di ruangan Arya.


“Arya ada di lantai 4, besok-besok kalau kalian datang kesini hubungi Rita dulu, agar kalian tidak di tahan di meja ini” ucap Arbi dengan dingin, ia kemudian melihat ke arah 2 resepsionis itu. “kalian juga, ingat 2 perempuan ini dan beri tahu teman kalian yang lain agar masalah seperti ini tidak terjadi lagi,” ucap Arbi dengan tegas pada 2 perempuan itu. “baik tuan” jawab mereka serentak.


“satu lagi, aku mau menemui beberapa klien di luar, jika ada tamu untukku, minta Ari dulu untuk menemui mereka” ucap Arbi lagi dan kemudian pergi ke arah pintu keluar.

__ADS_1


Sementara Mila dan Vanessa memperhatikan kepergian Arbi dengan tatapan heran mereka. ‘dia siapa?, apa dia juga pimpinan disini, tegas sekali gaya bicaranya’ batin Mila dan juga begitu dengan batin Vanessa.


“maaf nona, apa benar anda istri tuan Arya?” tanya salah satu resepsionis pada Mila.


“kalian pikir aku bohong, apa dia tidak memberi tahu orang di kantor ini bahwa dia sudah menikah denganku” ucap Mila yang kembali kesal pada 2 resepsionis itu.


“tapi nona, kami sudah bekerja lama disini, dan setahu kami tuan Arya memang belum menikah sama sekali, jika tuan Arya sudah menikah pasti dia akan mengundang semua orang di kantor ini untuk acara resepsinya, dia sangat ramah pada kami semua, mana mungkin tuan Arya tidak memberi tahu kami tentang hari bahagianya” jelas resepsinonis itu yang masih tak percaya dengan ucapan Mila.


Sementara Mila hanya bisa menelan salivanya mendengar itu semua, “udah Mil, ayo kita ke ruangan Arya, jangan perpanjang lagi masalah disini” ucap Vanessa sembari menarik tangan Mila untuk segera pergi dari meja resepsionis itu.


“kakak” kesal Mila karena ia masih ingin mendebat 2 perempuan di meja resepsionis itu. “udah Mil, masa kamu memperdebatkan masalah ini, apa yang mereka bicarakan tidak akan mengubah statusmu sebagai istri Arya” jawab Vanessa dan kemudian mereka masuk ke pintu lift yang terbuka.


“kak,, menurut kakak Arya sayang nggak sama aku” tanya Mila pada Vanessa ketika mereka sudah berada di dalam lift, ia bertanya hal tersebut karena memang hanya mereka berdua di dalam lift saat itu.


“kenapa kamu nanyanya sama kakak, tanya saja langsung pada orangnya”


“hhmmm, aku malu kak, nanti aku malah kayak orang yang ngemis-ngemis cinta lagi sama dia” jawab Mila dengan wajah cemberut.

__ADS_1


“emang dia nggak pernah bilang kalau dia sayang sama kamu” tanya Vanessa dengan santai sembari menatap nomor lantai di lift itu.


“dia pernah bilang kalau rasa sayangnya untukku sudah ia buang waktu ia di Sulawesi, aku tidak tahu apa sekarang ia benar-benar menerima ku dengan tulus atau tidak, padah aku udah merasa sayang sama dia” ucap Mila yang kali ini bernada lesu. ‘apa Arya masih disisiku hanya karena rahasia itu, padahal aku sekarang benar-benar sayang sama dia, matanya itu benar-benar membuatku tidak mau lepas dari pandangannya, Arya,, aku sudah memberikan diriku untukmu, apa sekarang kamu masih berpikir untuk meninggalkanku’ batin Mila menatap dalam pintu lift yang perlahan mulai terbuka.


__ADS_2