Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Menguatkan Hati


__ADS_3

“jadi siapa Anjani itu?” tanya Tomy penuh selidik.


“sama seperti Mila, seseorang yang datang dari masa lalu” ucap Arya yang seketika membuat Mila dan Tomy melihatnya dengan tatapan tak percaya.


“dia,,,” ucap Mila yang seketika terhenti, ia seperti tak sanggup lagi bicara karena segala dugaan dihatinya.


“ayahku dan ayahnya bersahabat dekat, kami sudah bersahabat sejak kami kecil, hingga peristiwa itu memutuskan persahabatan kami, aku rasa Anjani mengenaliku, tetapi sepertinya dia tidak yakin jika aku adalah Indra, jadi dia masih menganggapku adalah Arya, dia menganggapku sebagai teman barunya, mungkin karena ikatan emosional kami dimasa kecil, jadi seperti yang kamu lihat kemarin Mil, dia mencariku saat ada masalah” jelas Arya dengan singkat pada Mila dan Tomy.


“jika dia tahu yang sebenarnya, dia pasti akan merebutmu dariku” ucap Mila dengan nada datarnya dengan mengalihkan pandangannya dari Arya.


“jangan berpikir seperti itu Mil, aku sudah katakan kemarin, genggaman tanganku dengan erat, maka tak akan ada yang mampu memisahkan kita, sekarang yang harus dipikirkan bagaimana agar Anjani tidak tahu masalah ini dulu, setidaknya sampai aku punya kekuatan yang bisa menjamin keselamatanku, apa lagi dia masih punya kontrak dengan perusahaanku, aku benar-benar tidak nyaman dengannya” jelas Arya pada Mila.


“lebih baik kamu tidak berinteraksi dulu dengan dia Arya, jika ada masalah biar Mila atau Rita yang ngehandle dia,” saran Tomy pada Arya.


“masalahnya, dia itu sering memaksa untuk bertemu denganku Tom, kemarin desainku untuk perusahaanya sudah dikirim, mungkin dia akan segera menghubungiku dalam waktu dekat” jelas Arya lagi.


Mila kemudian menatap wajah Arya yang tampak tenang, ‘aku tidak boleh seperti ini lagi, aku harus ingat nasehat bibi kemarin, ada Allah yang menjaga Arya untukku, aku harus percaya kalau Allah akan menjaga hati Arya untukku, ya aku harus percaya, aku harus sadar dengan kata Tomy kemarin, aku tidak boleh membuat Arya sulit hanya karena rasa cemburu tak jelasku ini’ batin Mila menguatkan dirinya sendiri dari segela dugaan dan rasa cemburu di harinya setelah mendengar siapa Anjani.


Pembicaraan itu seketika terhenti ketika mereka mendengar ada derap kaki dari dalam rumah menuju ke arah teras rumah itu. Abel datang dari dalam rumah dengan membawa 2 gelas teh hangat lagi, ia kemudian menaruh teh hangat itu di atas meja, “kamu udah ada teh hangat Tom?” tanya Abel melihat sudah ada segelas teh di hadapan Tomy.


“berikan saja teh itu pada Arya Bel, ayo kamu duduk disini” ucap Tomy pada Abel sembari menunjuk kursi yang kosong di dekatnya.


Abel kemudian menuruti perkataan Tomy.


“kak Vanessa mana?” tanya Arya pada Abel Abel.


“lagi bantu ibu di dapur” jawab Abel dengan singkat.


“kak Vanessa memang suka sekali di dapur, hobi memasaknya itu benar-benar nggak bisa ia tahan” jelas Mila sembari meminum teh yang dihidangkan Tomy untuknya.


“Apa lukamu sudah baikan Tom?, apa kita tidak perlu memberi tahu paman dan bibi soal lukamu itu?” tanya Arya pada Tomy untuk mengalihkan pembicaraan tentang Anjani.


“ini sudah lumayan Arya, lebih baik kita tidak membicarakan ini pada ayah dan ibu, aku tidak ingin membuat mereka khawatir” jelas Tomy pada Arya.


“dan juga, apa kalian tidak ada masalah lagi soal yang kemarin?” tanya Tomy penuh selidik pada Mila, walaupun ia sudah tahu respon Mila dari Arya, tapi ia tetap ingin tahu sendiri dari mulut Mila, apa lagi sikap Mila sudah mulai tenang daripada kemarin.

__ADS_1


“aku percaya pada Arya Tom, semuanya akan baik-baik saja, lagi pula abangku sudah tidak menelfonku lagi” jawab Mila.


“aku sudah memblokir nomornya di ponselmu Mil, lebih baik kamu tidak berhubungan dulu dengan dia, kondisi abangmu sepertinya lagi tidak baik, dia bisa saja bertindak diluar kendali kita” jelas Arya pada Mila.


“kamu memblokir nomor bang Irman Arya?” tanya Mila dengan mata kesal pada Arya.


“Arya benar Mil, jangan terlalu terpengaruh dengan apa yang terjadi di Jakarta” ucap Tomy mendukung Arya, walaupun ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“jika kamu ingin tahu apa yang terjadi dengan perusahaanmu, kamu bisa menelfon kakek atau ibu, jangan abangmu Mil,” jawab Arya.


“aku akan menelfon ibu atau kakek nanti, aku ingin tahu keadaan mereka” gumam Mila dengan pelan, ia lebih memilih menyerah dari pada harus marah karena Arya memblokir nomor abangnya di ponselnya.


“apa kalian mau bahas masalah ini terus, apa tidak bisa kita membahas masalah lain?,” ucap Abel dengan kesal mendengar percakapan itu.


*


Arbi turun dari mobilnya ketika berada tepat di depan gedung Hardi corp, Ia sejenak menarik nafas dalam karena itu adalah kali keduanya ia datang ke kantor yang cukup besar itu. Sebuah perusahaan yang jelas jauh berada di atas kelas perusahaannya.


‘Arya benar-benar luar biasa, ini belum sampai sebulan, tapi perusahaan ini sudah mau tanda tangan kontrak kedua untuk projek hotel mereka, sepertinya perusahaan ini benar-benar percaya diri mengembangkan bisnis perhotelan mereka, satu saja belum kelar, udah mau bangun yang baru lagi,’ batin Arbi sembari melangkah membawa beberapa dokumen untuk kesepakatan kontrak perusahaan 3A Sahabat dengan Hardi corp.


Arbi melangkah santai menuju meja sekretaris Hardi yang ada di depan ruangan Hardi, ia kemudian dengan ramah menyapa sekretaris Hardi, “pagi buk, apa tuan Hardinya ada?” tanya Arbi dengan sopan.


“Ada pak, ada yang bisa saya bantu?” jawab sekretaris itu dengan ramah.


“saya ingin membahas kontrak pembangunan hotel kedua perusahaan ini, apa saya boleh masuk ke dalam?”


“baik pak, tunggu sebentar, saya tanyakan dulu pada tuan Hardi”


Sekretaris itu kemudian masuk ke dalam, selang beberapa lama ia kemudian keluar dan melihat ke arah Arbi yang masih berdiri di dekat mejanya, “silahkan masuk pak, tuan Hardi ada di dalam” ucap sekretaris itu dengan mempersilahkan Arbi masuk dengan kode tangannya.


“terima kasih bu, saya izin masuk ya” ucap Arbi dengan santai dan kemudian ia masuk ke dalam ruangan Hardi.


Arbi dapat melihat Hardi tengah sibuk menyelesaikan beberapa dokumen di meja kerjanya, Arbi kemudian mendekat dan memberi hormat pada Hardi, “pagi tuan, senang rasanya saya bertemu dengan tuan lagi disini” sapa Arbi dengan ramah.


Hardi melirik ke arah Arbi dan sejenak menarik nafas dalam, “apa kita pernah bertemu sebelum ini ee,,,? siapa namamu?” tanya Hardi dengan santai.

__ADS_1


“Arbi tuan, saya yang datang kesini untuk projek hotel pertama tuan” jawab Arbi dengan sopan.


“hmmm ya, saya agak sulit untuk mengingat orang sekarang, usia saya sudah lumayan menguras memori saya,” ucap Hardi setengah bercanda dengan Arbi. “Silahkan duduk Arbi” ucap Hardi mempersilahkan Arbi duduk di depan meja kerjanya.


“terima kasih tuan” jawab Arbi dengan sopan dan kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan posisi Hardi bekerja. Ia kemudian membuka tas kerja yang ia bawa dan memberikan dokumen desain serta kontrak yang telah ia siapkan.


“jadi kamu mau bahas untuk hotel kedua ya, apa desainnya sudah disetujui oleh Anjani?, putriku itu sangat semangat sekali untuk bisnis hotelnya ini, rasanya baru kemarin kita tanda tangan kontrak pertama, tapi sekarang sudah akan tanda tangan kontrak kedua” ucap Hardi dengan santai.


“putri tuan?” tanya Arbi dengan heran.


“iya, ide bisnis hotel ini dari dia, aku tak masalah dengan harga kontrak kerja sama ini, yang penting sesuai keinginan putriku, aku setuju saja, dia cukup berbakat dalam bisnis perhotelan” ucap Hardi membanggakan putrinya itu. Arbi melirik dalam ke arah wajah Hardi dengan pandangan bingungnya.


“apa dia menyukai desain dari arsitekturmu?, aku kira dia akan mencari kontraktor lain untuk mencari referensi desain yang berbeda” ucap Hardi sembari membuka dokumen yang dibawa Arbi.


“saya juga kaget tuan, belum sampai sebulan kita tanda tangan kontrak, beberapa hari lalu tim arsitektur saya sudah mengirimkan detail pembangunan hotel kedua ini” jelas Arbi pada Hardi.


“Ini desainnya sangat bagus, pantas saja Anjani suka, sama uniknya dengan desain pertama yang punya ciri khas sendiri dari eksterior desainnya, ini bisa menjadi ikon tersendiri bagi hotel milik Hardi corp” ucap Hardi memperhatikan desain rancangan Arya.


Hardi kemudian mengambil ponselnya untuk menelfon seseorang,


“Halo sayang, ini desain kedua hotelmu sudah fix?, kalau sudah ayah akan finalisasi untuk tanda tangan kontraknya” ucap hardi dengan santai sembari memperhatikan desain hotel itu, sementara Arbi mencoba melihat wajah Hardi untuk menilai seperti apa sosok Hardi sebenarnya, hal yang juga ia lakukan saat pertemuan pertama mereka sebelumnya.


“Ohh, begitu, ya udah, kamu bicara langsung dengan perusahaan kontraktornya ya, ayah akan suruh dia keruanganmu” jawab Hardi sembari mematikan ponselnya.


“putriku masih ingin membahas beberapa detail desainnya, dia sangat perfeksionis sekali masalah ini, apa kamu tidak keberatan untuk berdiskusi dulu dengan putriku?” tanya Hardi dengan santai.


Arbi sejenak memikirkan sesuatu, ‘bukankah desainnya sudah di setujui sebelum sampai dokumennya kepadaku?, kenapa sekarang masih bahas masalah desain lagi?’ batin Arbi.


“siap tuan, saya akan senang untuk melakukan itu” jawab Arbi dengan lembut.


*


Arbi melangkahkan kakinya mengikuti sekretaris Hardi yang mendampinginya menuju ruang Anjani, saat ada di depan ruang Anjani, Sekretaris Hardi sejenak bericara dengan sekretaris Anjani yang membuat Arbi mengernyitkan dahinya,, ‘kenapa ribet begini sih?, aku akan memarahi Rita nanti, masa desain yang belum fix sama klien udah dilempar kepadaku’ gerutu Arbi.


“Silahkan masuk pak, nona Anjani sudah menunggu anda” ucap sekretaris Hardi pada Arbi, Arbi kemudian mengucapkan terimakasih, ia mengetuk pintu ruangan Anjani dan masuk ke dalam. Dan seketika saja pandangannya dan Anjani bertemu disana.

__ADS_1


__ADS_2