
Arya duduk berdua bersama Tomy di depan ruangan Mila, wajahnya tampak datar melihat kosong ke arah depan, pikirannya bekerja keras untuk menentukan langkah yang tepat.
"jadi gimana Arya?, posisi ini benar-benar sulit untukmu, aku tidak tahu pasti seperti apa keluarga Mila, tapi yang jelas ini benar-benar warning buat kita” ucap Tomy melihat wajah Arya yang datar.
“aku rasa ini ulah abang Mila Tom, selama ini ibu Mila selalu berkata baik tentang ayahku, kakek juga tidak mungkin datang ke rapat itu, keluarga Mila yang lain ada di Malaysia dan Sulawesi, jadi hanya dia kemungkinan yang memberikan suara di rapat itu” jelas Arya pada dugaannya.
“tetap saja ini warning Arya” jelas Tomy.
Arya kembali menarik nafas kasar disana, “jangan pikirkan masalah ini Tom, aku akan menjaga Mila, aku akan menyelesaikan masalah di keluargaku, kalian fokus saja pada rencana kita,”
“lalu apa rencanamu sekarang?”
“aku yakin keluarga Rakarsa ada dipihak ayahku Tom, aku harus berbicara dengan kakek atau ibu, dengan resiko mereka tahu siapa aku” gumam Arya.
Tomy akhirnya ikut melepas nafas kasar, ia mengusap wajahnya dua kali, “solusimu cukup bahaya Arya,”
“itu yang terbaik Tom, lagi pula paman dan bibi juga akan ke Jakarta untuk melihat pernikahanmu, mereka pasti ingin bertemu keluarga Mila, aku tidak ingin mereka kecewa karena tidak bisa bertemu dengan keluarga Mila" Arya mengusap kasar rambutnya.
"Mila juga pasti ingin bertemu dengan ibu dan kakeknya, kabar kehamilan ini pasti ingin segera ia kabari kepada mereka” lanjut Arya dengan nada datar.
“aku sudah bilang kemarin kalau perasaanmu akan menjadi kelemahanmu, aku hanya ingin kamu bersabar dulu sampai nanti saham itu jatuh ke tanganmu, dan kamu punya kekuatan besar untuk langsung melawan mereka, baru kamu jujur kepada mereka” harap Tomy pada Arya.
“Aku sayang sama Mila Tom, aku akan melakukan apa pun yang akan membuatnya bahagia, sekalipun itu membahayakan diriku”
“dan itu sama saja kamu mengabaikan kami sahabatmu Arya, kami juga berjuang untukmu, memikir keselamatanmu, dan jangan pikir aku dan yang lain tidak peduli dengan Mila. orang itu berkuasa Arya, dia bisa melakukan segala cara untuk menghabisi kita semua, termasuk Mila dan juga anakmu” ucap Tomy penuh penekanan.
“jangan berpikir aku dan Ari membenci Mila, kami hanya terbawa emosi karena keluarga istrimu sendiri berada di pihak orang yang ingin membunuhmu, jiak aku dan Ari tahu Mila hamil, kami juga tidak akan seperti tadi" jelas Tomy lagi.
Arya sejenak memejamkan matanya, ia sadar ke khawatiran temannya, tapi dengan keadaan seperti itu, ia juga sulit memposisikan dirinya diantara Mila dan sahabatnya.
“kapan paman dan bibi kesini Tom?” tanya Arya.
__ADS_1
“6 hari lagi Arya, 2 hari setelahnya aku menikah, di apartemen ada ruang kosongkan, aku harap ayah dan ibu bisa tinggal disana”
“tenang saja, nanti aku siapkan” jawab Arya.
‘aku harus selesaikan dulu masalahku dengan ibu, agar paman dan bibi bisa bertemu ibu dengan kondisi yang baik, dan juga, aku harus pastikan dugaanku dulu soal bang Irman, aku harus jujur sama ibu tentang jati diriku, jika ibu tahu dari orang lain, ini akan jauh lebih buruk lagi karena aku berbohong kemarin’ batin Arya.
*
Mila dan Vanessa masih saling bercanda antara satu dengan yang lain, Vanessa masih ingat pesan Ari agar tidak membuat Mila banyak beban pikiran, sehingga ia menghibur Mila agar pikiran Mila jauh lebih ringan.
Walaupun ia tidak tahu masalahnya, tapi ia juga enggan bertanya kepada Arya dan Mila. Apa yang dikatakan Ari tadi, ia turuti semua.
Selang beberapa saat, pintu ruangan Mila terbuka, Arya dan dokter Karina masuk dan segera mendekat ke arah Mila, “hai Mila, selamat ya buat kehamilanmu” sapa dokter Karina dengan ramah.
“terima kasih banyak dok,” jawab Mila dengan tersenyum.
“aku sudah kasih surat rujukan khusus untukmu periksa kandungan besok, jadi kamu nggak perlu khawatir akan lama untuk antrian, dan juga jaga kesehatanmu, jangan banyak pikiran, dan juga jaga asupan nutrisimu agar janinmu berkembang dengan baik” perintah dokter karina pada Mila.
“baik dok, aku akan melakukannya" jawab Mila dengan semangat.
Setelah menyelesaikan semua administrasi rumah sakit, Arya segera membawa Mila pulang ke apartemennya, sementara Tomy kembali ke kontrakan Arya yang selama ini ia tempati selama di Jakarta.
Di dalam perjalanan pulang, Arya menyempat singgah di sebuah mini market. “kamu mau beli apa Arya?” tanya Mila dengan heran karena Arya tidak biasanya singgah di mini market.
“aku mau beli sesuatu, kamu tunggu disini sebentar ya” jawab Arya sembari berlalu keluar dari mobil.
Arya melihat layar ponselnya sembari melihat beberapa susu ibu hamil di rak mini market itu. Ia mencari informasi susu mana yang palinh baik untuk ibu hamil. Semakin ia membaca artikel di ponselnya, ia malah semakin kebingungan untuk memilih. 'ah si, aku benar -benar nggak bakat milih gini' ritunya pada dirinya sendiri. Ia kemudian memutuskan membeli salah satu susu yang ada disana yang menurutnya paling bagus.
Arya kemudian mencari makanan yang cocok untuk ibu hamil muda. Seketika saja Arya kembali kebingungan ketika melihat banyaknya jenis makanan yang untuk ibu hamil, “ini beli semuanya, atau dipilih sih, kalau kayak gini aku harus ke pasar atau supermarket,” gumamnya.
Arya menarik nafas kasar, ia kembali ke mobil dengan membawa 3 kotak susu. Ketika masuk ke dalam mobil, Mila segera meraih kantong belanjaan Arya. “kamu beli ini Arya” gumam Mila melihat 3 kotak susu tersebut.
__ADS_1
“iya, biar bunda dan malaikat kecilnya sehat” ucap Arya sembari mengelus lembut perut Mila.
“ihh kamu, geli Arya” Mila mendorong tangan Arya dari perutnya yang terasa geli ketika Arya mengusapnya dengan posisi duduknya saat itu.
“ya udah, apa kamu beli sesuatu?, ingin makan sesuatu?, atau ngidam apa gitu?” tanya Arya dengan tersenyum.
“kamu jangan berlebihan gini Arya, kandunganku kan masih muda, belum sampai ngidam-ngidaman kayak gitu” jawab Mila dengan masih melihat susu yang dibeli Arya.
"emang orang baru hamil nggak ada ngidam gitu?"
"aku nggak tahu, inikan pengalaman pertamaki" ucap Mila dengan tersenyum, dua orang itu masih sama -sama awam soal kehamilan.
“ya udah, kalau kamu mau sesuatu langsung bilang kepadaku ya” ucap Arya sembari menghidupkan mobilnya, mereka kemudian segera pulang ke apartemen.
*
Rapat pemegang saham masih berlangsung hingga malam. Malam itu Rena ditunjuk sebagai dewan direksi baru menggantikan Rahman yang masih koma. Semua pemegang saham sepakat memilih Rena karena memang dia cukup dikenal oleh pemegang saham, terutama pemegang saham di luar negeri.
Keputusan itu disambut Aliando dengan santai, karena baginya pertarungan sudah berakhir, tidak ada lagi yang bisa mengusiknya, ia hanya perlu melangkah ke tahap selanjutnya untuk mempersiapkan pernikahan Anjani dan Arnes. Serta mempersiapkan Arnes sebagai penerusnya.
Sementara pemilihan Rena sebagai Rahman disambut senyum lebar orang-orang yang setia kepada Gibran. Pintu menjatuhkan Aliando sudah terbuka, sekarang bagaimana cara mereka bermain cantik hingga tujuan mereka tercapai.
‘proses pengalihan saham akan selesai seminggu lagi, dan setelah itu permainan bawah tanah ini akan selesai, pertarungan terbuka akan di mulai. Aliando, sebentar lagi kehancuranmu akan tiba, posisi CEO mu tidak akan mampu membantumu.’ batin pak Abdul.
Ketika pak Abdul pulang ke rumahnya, ia langsung disambut oleh kehadiran Ari di ruang tamunya, Baru saja ia membuka pintu, matanya membulat kaget melihat Ari tengah duduk berbincang santai dengan salah satu menantunya disana.
“ayah sudah pulang, ini ada tamu yang menunggu ayah” ucap menantu pak Abdul yang melihat kepulangan mertuanya.
“selamat malam pak, saya harap bapak tidak keberatan menerima saya selarut ini” ucap Ari dengan tersenyum tipis pada pak Abdul.
Pak Abdul menarik nafas kasar, ia kemudian masuk tanpa membuka sepatunya, “kamu ke dalamlah,” perintah pak Abdul pada menantunya, dan menantunya menurut untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
“kita baru bertemu sekali, tapi kamu sudah tahu rumahku, sepertinya orang -orangmu memamg hebat,,,," ucap pak Abdul dengan datar.
"apa mau mu?, kenapa harus tergesa-gesa begini bertemu denganku?”