Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Mirip


__ADS_3

Mata pak Sarman menyorot tajam ke arah wajah Arya, rambut pendek Arya menampilkan seluruh wajahnya yang dulu sering tertutup oleh rambut panjangnya. Sekarang pak Sarman dapat dengan jelas kemiripan tersebut.


"Gibran, Naina, aku benar-benar merindukan kalian” gumam pak Sarman dengan berbisik.


Matanya berkaca-kaca, kerinduan pada Gibran kembali menyeruak di hatinya. Sejak ia mengenal Gibran, hubungan mereka begitu dekat. Kedekatan mereka bahkan membuat pak Sarman begitu dihormati oleh orang-orang di Adinata group dan juga para pemilik saham Adinata. Kehormatan yang dapat ia rasakan sampai saat dimana Irman menolak Rita dengan mentah-mentah.


‘kenapa anak ini begitu mirip dengan mereka berdua?, apa karena aku yang terlalu merindukan Gibran dan Naina?’.


Pak Sarman melepas nafas panjang dan membuang semua pemikiran itu. “kalian datang? aku sudah sangat merindukan kalian bertiga,” ucap pak Sarman dengan hati senang melihat kedatangan Arya, Mila dan Vanessa.


Mila segera berjalan cepat mencium tangan kakeknya, begitupun dengan Vanessa, mereka berdua sudah sangat merindukan pria tua yang sedang berbaring lemah itu.


"aku sangat merindukan kakek” gumam Mila dengan memeluk erat kakeknya. Pemandangan yang membuat Arya merasakan sesuatu menelusup ke dalam hatinya.


Sementara bu Saniah masih menatap datar ke arah Arya, ia masih bingung dengan posisinya. Arya memberi posisi sulit baginya.


Terakhir kali berbicara dengan Mila lewat telfon, ia tahu betul seperti apa perasaan putrinya itu kepada Arya. Ia sudah dapat mengerti seperti apa perasaan anaknya yang dulu menentang keras pernikahan itu, bahkan sampai pisah ranjang karena tidak ingin disentuh suaminya. Dan sekarang putrinya yang keras itu telah mengandung anaknya Arya. Tentu perasaan itu telah banyak mengalami tantangan hingga bisa menerima Arya seutuhnya.


“aku senang karena kamu membawa Mila kesini” ucap bu Saniah dengan dingin sembari mengalihkan pandangan ke arah Mila dan pak Sarman.


“bu,, ibu jangan marah lagi sama Arya” ucap Mila dengan memelas kepada ibunya. Ia menatap bu Saniah dan melepas pelukkannya kepada pak Sarman.


Sementara pak Sarman hanya bisa melepas nafas kasar dengan sikap putrinya itu, begitu juga dengan Arya, ‘apa aku salah bicara tadi pagi sama ibu?, biarlah, mungkin ini lebih baik, setidaknya Mila bisa bertemu lagi dengan kakeknya tanpa perlu mendengar cacian ibu’


Arya kemudian mendekat ke arah pak Sarman, dan merangkul bahu Mila yang masih memegang lengan kakeknya. Ia mengabaikan bu Saniah karena tahu bu Saniah tidak akan banyak bicara lagi karena ancamannya tadi pagi. “Apa kakek sudah ada kemajuan?, aku rasa akan sangat membosankan disini terus berbulan-bulan”


“untuk orang tua sepertiku ini sudah biasa Arya, tapi kalau untuk orang sepertimu, kamu bisa stress, nggak bisa mendaki dan jalan-jalan selama berbulan-bulan” ucap pak Sarman sembari tertawa.


Arya ikut tertawa tipis mendengar ucapan pak Sarman, “kami punya kabar baik untuk kakek, untuk itu kami datang kesini sekarang”.


“kabar baik?, kabar apa itu?” tanya pak Sarman dengan mata penasaran ke arah Mila dan Arya.


Arya kemudian mengeratkan rangkulannya di bahu Mila, dan Mila mengangguk pelan tanda paham dengan kode itu.

__ADS_1


“aku hamil kek” gumam Mila yang membuat senyuman pak Sarman melebar seketika.


“kamu hamil sayang?” tanya pak Sarman yang dijawab Mila dengan anggukan dan senyuman di balik cadarnya.


Pak Sarman tersenyum senang, ia kemudian memeluk erat Mila melepas rasa bahagianya, setidaknya harapan melihat cicitnya dari Mila akan terwujud. Walaupun dia sudah melihat cicitnya dari Ardian dan juga anak bibi Mila di Sulawesi, menunggu cicitnya dari Mila akan menjadi penyempurna hidupnya menghadap Tuhan nanti.


Arya melepas nafas panjang melihat pak Sarman memeluk erat Mila dengan perasaan bahagia, ‘kenapa kakek suka sekali memeluk istriku sih?’ batinnya sedikit kesal. Sementara Vanessa memandang wajah Arya dengan tersenyum tipis, ia dapat merasakan rasa cemburu di wajah itu.


Bu Saniah melepas nafas panjang melihat kebahagian Mila dan pak Sarman, ia sadar kalau ia harus mengalah sekarang. Membiarkan Arya dan sahabatnya menyingkirkan Irman agar senyum bahagia yang saat ini lihat tidak memudar karena egonya.


“kalian masih tinggal di apartemen sekarang?, kalau bisa bulan depan kalian sudah kembali ke rumah, dokter sudah memberikan izin kepada kakek untuk pulang bulan depan jika keadaan kakek terus membaik” ucap pak Sarman setelah melepas pelukkannya kepada Mila.


Mila dan Vanessa terlihat tampak bingung mendengar ucapan pak Sarman, sementara Arya melepas nafasnya dengan kasar. Ia masih teringat ucapan pak Adul ketika pertemuan mereka di Vietnam, ia harus mempertimbangkan banyak hal agar keadaan Mila tetap aman nantinya.


"insha Allah kek, kami juga tidak ingin lama-lama tinggal di apartemen,” ucap Arya dengan tersenyum kepada pak Sarman.


“kalau begini kakek bisa semangat untuk segera pulang” ucap pak Sarman dengan semangat.


Mila tersenyum, ia mencium dahi kakeknya dengan masih dibatasi cadarnya. “kakek cepat pulang ya, biar nanti kita bisa ngumpul lagi di rumah, pasti menyenangkan nanti kita mengurus malaikat kecil ini sama-sama” ucap Mila sembari mengelus perutnya.


'huh,,, sepertinya projek itu harus aku berikan kepada tim ku dulu’


Arya menatap panjang ke arah pak Sarman, Mila dan Vanessa yang masih saling berpegangan tangan melepas rindu. Pikiran Arya bekerja penuh selidik, ‘apa kakek belum tahu sama sekali soal aku?, atau ini hanya permainan saja’.


*


Pak Ilham menatap seorang perempuan paruh baya di depannya, perempuan itu tengah memilah beberapa dokumen untuk diberikan kepada pak Ilham. Perempuan paruh baya itu adalah bu Silvi, pengacara Gibran Adinata. Ia telah bekerja hampir 2 minggu untuk menyelesaikan dokumen-dokumen untuk Arya.


Disana ada surat pengakuan pak Susanto dan bu Annisa yang telah ditanda tangan diatas materai bahwa Arya adalah anak angkat mereka. Arya akan tetap menggunakan namanya yang sekarang, Arya Ramadana, sementara nama Indra adinata akan tetap menjadi nama kecilnya.


Surat pengangkatan Arya sebagai anak pak Susanto juga ada disana, mereka bergerak cepat untuk menemui paman dan bibi Arya tersebut dan memproses semua dokumen yang diperlukan.


“lusa sudah bisa disampaikan kepada publik, aku akan urus ini semua dengan pengacara perusahaan, besok saham tuan Gibran akan menjadi milik tuan muda” jelas bu Silvi pada pak Ilham.

__ADS_1


“tahan dulu Silvi, tuan Arya ingin semua dibuka setelah pernikahan saudara, mungkin dalam minggu depan baru kita selesaikan semuanya”


Bu Silvi menarik nafas kasar, ia melihat pak Ilham dengan penuh selidik, “bapak sudah yakin dengan ini semua? ini bisa membahayakan bapak juga”


“Aliando sudah kita jebak, kekuasaannya sudah tidak sebesar yang ia rasakan. Kamu alihkan saja kepemilikan perusahaan kepada tuan Arya, dan juga, apa kamu butuh ada orang yang menjagamu?”


“tidak usah pak, dia tidak akan bisa menyentuh saya, yang harus anda khawatirkan adalah diri anda sendiri” balas bu Silvi kepada pak Ilham.


“Rena sudah bekerja dengan baik, sekarang Aliando tengah disibukkan dengan masalah anggaran perusahaan yang banyak keganjilan” ucap Pak Ilham.


“apa itu berarti Rena juga dalam keadaan bahaya?


“anak itu baru diangkat menjadi direksi, Aliando tidak akan bisa menyentuh untuk sementara waktu, keluarga Rena juga sudah kami jaga, huhh, ini benar-benar melelahkan”.


Bu Silvi tersenyum tipis melihat pak Ilham, apa yang dilakukan oleh penasehat Gibran benar-benar ia kagumi. “aku tunggu kabar dari bapak, aku juga sudah menghubungi pengacara perusahaan, mereka juga siap membantu.


“apa tidak terlalu cepat kamu memberi tahu mereka?” gumam pal Ilham


“nggak pak, semuanya sudah saya ke handle, mereka bisa anda percaya” jelas bu Silvi, ia memberikan sebuah kertas kepada pak Ilham.


“Minta tuan muda untuk tanda tangani ini, setelah itu kita menunggu dokter Reny untuk melegalkan hasil tesnya dan dalam waktu satu hari, perusahaan dan saham itu akan menjadi milik tuan muda” ucap bu Silvi dengan tersenyum.


“kamu benar-benar luar biasa, pantas saja tuan Gibran sangat mempercayaimu” puji pak Ilham pada kinerja bu Silvi. Dan Bu Silvi membalas pujian itu dengan senyuman tipisnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hallo kak, singgah juga ya ke karya ku yang lain, judulnya Lembaran Cinta Suci,, itu karya pertamaku sebelum kisah Arya dan Mila ini, sempat ku hapus dulu, tapi sekarang aku up lagi,, jangan lupa like dan komennya ya disana


__ADS_2