Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Doa Kami


__ADS_3

Ruang pers di sayap kanan lantai satu gedung Adinata group sudah disiapkan sejak pagi. Semua orang sudah sibuk disana. Beberapa wartawan yang diundang juga sudah datang.


Mereka sedang mencari-cari tempat yang pas dengan sudut kamera mereka. Sementara beberapa karyawan Adinata group tampak ramai di dalam ruangan yang berkapasitas 50 orang itu.


Beberapa karyawan Adinata group ada yang saling berbisik, membicarakan tentang sosok tuan muda mereka yang sudah menyebar isunya sejak semalam.


Di beberapa sisi ruangan, banyak pengawal Adinata group yang berjaga, pintu masuk ruangan tersebut di jaga oleh beberapa satpam. Mereka tampak saling berbicara dengan para 2 pengawal yang juga berjaga di pintu tersebut.


Aliando dan Arnes yang baru datang di gedung tersebut, saat mereka memasuki lobi perusahaan seketika saja mereka dibuat bingung oleh kehadiran para wartawan yang cukup banyak.


Tak hanya wartawan lokal, tetapi juga terlihat wartawan media ternama dari luar negeri. Aliando berbisik kepada sekretarisnya yang mengikutinya bersama pengawal yang lain sejak dari rumah.


“kenapa banyak wartawan disini?” tanya Aliando.


“maaf tuan saya tidak tahu” jawab sekretaris tersebut, jawaban yang masih didengar oleh Arnes yang berada di samping sekretaris tersebut. Seketika saja Arnes dan sekretaris Aliando saling lirik.


“masa kamu nggak tahu” ucap Arnes.


“maaf tuan, saya tidak dapat info apa-apa”


Aliando segera berjalan cepat menuju meja resepsionis, dan 2 resepsionis disana langsung memberi hormat kepadanya.


"kenapa banyak wartawan disini?”


“maaf tuan, tuan Haris mempersiapkan konferensi pers untuk tuan muda” jawab salah satu resepsionis.


Mata Aliando membulat, ia terasa mendapat serangan dadakan sejak tadi malam. Aliando menatap tajam ke arah sekretarisnya, “maaf tuan, saya tidak tahu apa-apa” ucap sekretaris Aliando.


Wajah sekretaris itu memias, ia sadar bahwa ia adalah orang yang paling disalahkan oleh Aliando dengan keadaan seperti itu.


Aliando menarik nafas kasar, “bubarkan segera,” ucapnya kepada resepsionis, ia berlalu pergi ke arah lift.


”maaf tuan, kami tidak bisa” jawab resepsionis yang sama, Aliando menghentikan langkahnya, ia membalikkan badan menatap tajam kepada resepsionis tersebut.


“dewan komisaris meminta kami mengawasi konferensi pers ini sampai selesai tuan, dewan komisaris meminta kami melaporkan semua yang terjadi selama konferensi pers berlangsung”


“Ayah,, dewan komisaris juga terlibat disini” ucap Arnes yang seketika merasa terancam dengan posisi ayahnya. Ia memang sudah tahu kabar tentang Indra adinata yang telah mengambil kembali saham Gibran dan kepemilikan perusahaan.


Aliando melepas nafas kasar, ia terlalu terlena dengan kemenangannya saat rapat pemegang saham. Merasa musuhnya telah ciut dan akan mundur dengan teratur.


“siapa mereka?, kenapa gerak mereka tidak terlihat seperti ini” ucapnya dengan gusar.


Aliando melirik tajam ke arah sekretarisnya, “cari pengacara Gibran dan pengacara perusahaan, bawa mereka ke hadapanku, mereka melakukan ini semua tanpa sepengetahuanku” ucapnya dengan menahan rasa marah.


Aliando kemudian segera menuju lift menuju ruangannya. Saat pintu lift terbuka, Haris keluar dari sana, ia melihat santai ke arah Aliando yang ingin masuk ke dalam lift.


“maaf tuan, sebentar lagi tuan muda akan datang, seharusnya anda menuju ke ruang konferensi pers, bukan ke ruangan anda” ucap Haris dengan datar.


Aliando menarik nafas kasar, namun wajah masih tampak tenang, Ia mendekat ke arah Haris yang telah keluar dari dalam lift, “apa kau sadar siapa yang kau lawan?" bisiknya dengan dingin "kamu dan semua orang-orang yang ada di belakangmu akan ku habisi”


Haris hanya tersenyum sinis, ia tak mau menanggapi perang urat saraf itu.


“silahkan tuan" gumamnya dengan mengangkat tangannya untuk mempersilahkan Aliando berjalan lebih dulu menuju ruangan konferensi pers, "kursi anda sudah disiapkan, tuan muda pasti akan senang bertemu dengan anda, apalagi beliau sudah lama tidak bertemu dengan anda”

__ADS_1


Semua orang yang ada loby mendengar ucapan Haris yang suaranya sengaja ia keraskan, Aliando terdiam tak berkutik, ia mengalah, dan mengikuti arah tangan Haris untuk masuk ke ruangan konferensi pers di sebelah kanan lobi tersebut.


*


Mila memasangkan dasi untuk Arya, cadarnya belum ia pakai, sehingga Arya dapat menikmati wajah cantik istrinya yang tampak serius memasang dasinya.


“kamu sudah cukup ahli memasang dasiku Mil” gumam Arya.


“aku ingin seperti ini setiap hari Arya” ucap Mila dengan pelan.


Arya menatap dalam wajah istrinya, “udah” ucap Mila dengan semangat, dan seketika saja sebuah ciuman mendarat di kening Mila.


“terima kasih sayang” ucap Arya dengan singkat dan cepat.


“apa?, kamu manggil aku apa?”


“hhmmmm, apa, aku manggil apa?” ucap Arya memutar kembali kalimat Mila


“ihh Arya, kamu itu usil bangat sih” kesal Mila sembari mendorong pelan tubuh Arya.


Arya tersenyum dan memeluk tubuh Mila, “aku sayang sama kamu Mil,” ucap Arya, ia mengecup singkat bibir Mila, lalu menggandeng tangan Mila keluar kamar mereka.


Namun Mila dengan cepat melepas gandengan Arya, “aku belum make cadar Arya, tunggu bentar ya”.


Mila kemudian segera mengambil cadarnya, ‘benarkan Arya manggil aku sayang, aku sudah beberapa kali mendengarnya manggil sayang, tapi kenapa dia selalu mengelak sih’


Arya mendekat kepada Mila dan membantu Mila memakai cadarnya, Mila tersenyum karena tindakan manis suaminya.


“ayok” ucap Arya dengan kembali menggandeng tangan Mila keluar menuju ruang makan.


Mila menarik kursi untuk Arya, dan Arya segera duduk disana. Teh hangat untuk Arya sudah disiapkan oleh bu Annisa.


Sarapan mereka dihiasi obrolan ringan, hingga sebuah pertanyaan dari pak Susanto mengubah suasana mereka.


“kamu sudah siap untuk pagi ini Arya?”


Arya melihat pamannya, dan dia menarik nafas dalam, “ini udah waktunya paman”


Mila melihat wajah suaminya yang tampak tenang, ia hanya bisa percaya dan berdoa agar suami yang ia cintai selalu dalam lindungan Tuhan.


“paman dan bibi kapan pulang?,tanya Arya yang merasa khawatir, "aku takut jika paman dan bibi juga terlibat dalam masalah ini”


“lusa Arya, kami masih ingin disini dulu bersama Mila,” ucap bu Annisa mengelus lembut bahu Mila yang duduk disampingnya.


Arya menarik nafas dalam, ia segera menghabiskan minumannya untuk segera berangkat.


“aku pamit dulu ya paman, bibi, doakan semua nya lancar” ucap Arya, ia bangkit dan mencium tangan paman dan bibinya, berharap doa dan restu untuk melangkah maju.


Mila segera mengikuti langkah Arya dengan membawa tas kerja Arya menuju pintu apartemennya, ia meninggalkan sarapannya yang belum habis.


Seperti biasa, ia menemani Arya memasang sepatu sembari menatap wajah suaminya “kamu masih mengkhawatirkan ini semua Mil” gumam Arya.


Mila menggeleng pelan, “aku percaya sama kamu,” jawab Mila dengan singkat.

__ADS_1


“kok aku nggak yakin ya” jawab Arya.


Mila memanyunkan bibirnya, dan seketika saja Arya mengusap ubun-ubun Mila dengan lembut sembari tertawa tipis. “aku bercanda kok, jaga malaikat kecil kita baik-baik ya” ucap Arya.


Mila tersenyum, ia kemudian mencium tangan suaminya saat Arya sudah berdiri, dan Arya mengecup kening Mila dengan dalam. Mila memberikan tas kerja Arya yang diterima dengan tersenyum.


"terima kasih Mil, aku pergi dulu ya, assalamualaikum" ucap Arya mengambilnya lalu kemudian mengucap salam dan Mila menjawab salam tersebut sembari melambaikan tangannya.


Arya membuka pintu apartemennya, disana Chris dan Ortin sudah menunggu. Terlihat juga Andi dan Diaz yang sudah siap menjaga pintu apartemen itu.


Arya kemudian keluar dan Mila hanya bisa menelan salivanya melihat kehadiran orang-orang Ari telah menunggu suaminya di luar pintu. “semoga Allah jaga kita semua Arya” doa Mila dengan suara pelan setelah pintu tertutup.


“kalian sudah lama menungguku?” tanya Arya dengan suara pelan.


“kami selalu menjaga anda tuan” jawab Ortin dengan singkat.


Arya melihat ke arah Andi dan Diaz, “kalian jaganya jangan di depan pintu” ucap Arya, “nanti Mila dan yang lain merasa tak nyaman, posisikan saja diri kalian di tempat lain, tapi jangan terlalu jauh, kita tidak tahu apa rencana mereka”


“siap tuan” jawab Andi.


Arya mengangguk tanda percaya pada Andi dan Diaz. Ia kemudian segera berjalan menuju lift diiringi oleh Chris dan Ortin.


Sesampai di basemant, 3 mobil sudah menunggunya. Ia melihat ada beberapa oang disana, termasuk orang Ari dan juga orang Haris serta beberapa pengawal Adinata group yang dipercaya oleh Haris.


“kenapa sebanyak ini Ortin?” tanya Arya dengan singkat.


“ini sesuai arahan tuan Abdul tuan” jawab Ortin dengan singkat.


“mari tuan, tuan Haris sudah menunggu disana” lanjut Ortin.


Arya menarik nafas dalam, ia masuk ke mobilnya namun langsung di tahan oleh Chris. “saya yang akan membawa mobilnya tuan, tuan silahkan duduk di belakang”


Arya menarik nafas dalam, ia kemudian memberikan kunci mobilnya kepada Chris, dan Ortin membukakan pintu belakang untuk Arya. Namun Arya mengurungkan niatnya untuk masuk saat melihat sebuah mobil biru masuk ke dalam basemant tersebut. Mobil itu tepat berhenti di samping mobil Arya.


Rita dan Harun keluar dan mereka dengan serentak tersenyum kepada Arya. “kamu terlambat” ucap Arya dengan singkat.


Rita tersenyum, “apanya yang terlambat, kalian bahkan belum berangkat” ucapnya dengan jutek.


Rita kemudian melambaikan tangannya ke arah Harun dengan tersenyum manis.


“sebenarnya aku tak suka mengatakan ini” ucap Harun, “tapi mau gimana lagi, ini termasuk ke dalam masalah pekerjaan, tolong jaga istriku baik-baik, atau jangan anggap lagi aku ini abangmu”


Arya tersenyum tipis, “aku lebih dulu kenal dia darimu bang, aku sudah menjaganya jauh sebelum kamu menikahinya"


“ya aku tahu” jawab Harun, “tapi sekarang dia istriku, tanggung jawabku dunia akhirat, kalau bukan masalah kerjaan, aku takkan biarkan kamu membawanya”


Rita tersenyum tipis melihat ke akraban atasannya dengan suaminya, “udah, jangan berdebat nggak jelas gini, nanti kita terlambat" ucap Rita,


"kami pamit dulu ya mas,” lanjut Rita dengan tersenyum kepada Harun.


“sip ok, semoga sukses Arya, doaku menyertai kalian” jawab Harun,


“sampai jumpa siang nanti ya mas,, assalamuaikum” ucap Rita, dan setelah Harun menjawabnya Rita segera masuk ke dalam mobil diikuti oleh Arya.

__ADS_1


Chris dan Ortin masuk ke dalam mobil yang sama, 3 mobil hitam itu segera melaju menuju Adinata group, menghadiri acara konferensi pers yang akan mengubah wajah perusahaan besar tersebut.


Harun menarik nafas panjang melihat 3 mobil itu menghilang dari pandangannya, ia pun masuk ke dalam mobilnya dan segera menuju perusahaan yang sangat ia cintai, 3A Sahabat.


__ADS_2