
Arbi mengetuk pintu ruangan Anjani dan masuk ke dalam. Dan seketika saja pandangannya dan Anjani bertemu disana. ‘mimpi apa aku semalam hingga bisa bertemu gadis ini sekarang’ batin Arbi melihat wajah Anjani disana,
“selamat pagi, senang rasanya bisa bertemu anda lagi” ucap Arbi dengan sikap santai berjalan ke arah meja kerja Anjani.
“Apa kita pernah bertemu sebelum ini?” tanya Anjani penuh selidik pada Arbi.
“apa kamu lupa siapa yang memberi tahumu di lantai berapa ruangan Arya berada?” ucap Arbi balik bertanya. Anjani sejenak menatap lekat wajah Arbi.
“jadi kamu orangnya, baiklah, silahkan duduk” ucap Anjani dengan sikap santainya.
Arbi kemudian duduk di depan Anjani dan memberikan dokumen desainnya pada Anjani.
“Dokumen ini sudah ada di tanganku, seharusnya tidak ada lagi masalah perbaikan desain atau semacamnya, tapi kenapa tiba-tiba kamu meminta perbaikan di saat akan tanda tangan kontrak seperti ini?, seharusnya jika ada masalah kamu bisa proses saat rancangan desain itu dikirim kepadamu” ucap Arbi menatap dalam wajah Anjani yang sedang memperhatikan dokumen itu.
“aku juga melakukan hal ini kepada Ari, disaat akan tanda kontrak aku ingin bertemu dengan Arya, dan Ari sama sekali tidak ada masalah untuk itu” jawab Anjani dengan santai.
“aku juga tidak masalah, aku rasa seharusnya kamu bersikap professional, jika memang ada masalah seharusnya kamu kirim lagi desain yang kami kirim ke perusahaanmu ke kami lagi, agar kami perbaiki, bukan menyetujui desainnya duluan kemudian baru minta perubahan seperti ini” jawab Arbi juga dengan santai.
“bilang sama rita untuk mengatur pertemuanku dengan Arya untuk membahas desain ini, aku ingin bicara langsung dengan arsiteknya” ucap Anjani mengembalikan lagi dokumen itu pada Arbi tanpa peduli pada apa yang dikatakan Arbi, sikap yang membuat Arbi kesal seketika.
“apa sekarang pimpinan perusahaan besar sedang mempermainkan pimpinan perusahaan sekelas perusahaanku?, apa kalian selalu seperti ini?, tidak menghargai apa yang kami kerjakan” ucap Arbi dengan nada sinisnya, karena seharusnya yang mengurus hal seperti itu adalah staffnya, bukan dirinya.
“maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, aku rasa kamu adalah kontraktornya disini, dan sebagai klienmu, kamu seharusnya menghargaiku” ucap Anjani dengan santai menatap tajam pada Arbi.
“aku rasa kamu benar, tapi sepertinya Arya tidak bisa bertemu denganmu dalam minggu ini, jadi gimana jika kita selesaikan ini berdua saja” tawar Arbi pada Anjani.
Anjani menatap sinis pada Arbi, “ini urusanku dengan Arya, jangan ikut campur”.
Arbi tersenyum melihat respon Anjani, “jadi gimana, apa kamu mau menunggu hingga minggu depan?” tanya Arbi dengan santai.
Anjani sejenak menarik nafas panjang, ia melihat ke arah Arbi dengan penuh selidik dan berfikir keras. “aku akan selesaikan ini segera dengan Arya, nanti kamu bisa bertemu ayahku untuk penandatanganan kontraknya” jawab Anjani dengan santai.
__ADS_1
“ok, mungkin itu lebih baik, kalau begitu aku pamit dulu Anjani” ucap Arbi menutup pertemuan mereka. Anjani kembali melanjutkan kerjanya tanpa memperhatikan Arbi yang keluar dari ruangannya, sementara Arbi hanya tersenyum sinis pergi dari ruangan Anjani. ‘lumayan menantang’ batinnya.
*
“Arya, sekarang kita mau kemana?” tanya Mila kepada Arya. Arya tiba-tiba saja mengajaknya untuk pergi jalan -jalan dan bahkan mereka juga membawa pakaian ganti untuk hari itu.
“aku ingin membawamu ke suatu tempat Mil, aku ingin menghabiskan hari ini berdua denganmu” ucap Arya dengan santai, “berdua denganku?, apa itu alasanmu tidak mengajak Abel, kak Vanessa dan Tomy?” tanya Mila penuh selidik.
“mereka besok akan jalan-jalan juga bertiga, lagi pula aku juga nggak tega sama mereka, kita tampak mesra setiap saat akan membuat mereka iri Mil, apa lagi Tomy, aku takut dia benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak mneyentuh Abel nanti” ucap Arya dengan santai menjalankan mobilnya.
“emang Tomy semesum kamu ya?, dia masih sehat kali, mana mungkin dia mau menyentuh Abel sebelum menikah” jawab Mila juga dengan santai.
Arya sejenak melihat ke arah Mila, ia masih menyimpan kekhawatiran pada istrinya itu, ‘apa Mila benar-benar sudah melupakan masalah perusahaannya’ batin Arya.
“Mil, aku mau bertanya sesuatu sama kamu?” ucap Arya dengan hati-hati, “tanya apa?, biasanya kamu nggak pernah bertanya seperti ini kepadaku”
“apa kamu masih memikirkan masalah perusahaanmu?” tanya Arya dengan datar.
“jangan berpikiran buruk sama Anjani Mil, aku tidak apa-apa dengannya” ucap Arya dengan datar.
“tapi tidak dengan dia sama kamu, aku tidak tahu apa niatnya sebenarnya” ucap Mila yang membuat Arya melepas nafas panjang, Arya hanya diam untuk beberapa saat hingga suasana mereka terasa hening.
“apa kamu sudah menelfon kakek?,” tanya Arya mengalihkan pembicaraan mereka.
“aku akan menelfon kakek nanti malam, aku ingin menghabiskan hari ini dulu bersamamu,” ucap Mila dengan pelan.
“Mil, apa kamu menyesal atas apa yang telah kakek putuskan untuk pernikahan kita ini Mil?” tanya Arya pada Mila dengan hati-hati.
“menyesal?” tanya Mila dengan bingung.
“atas pernikahan kita ini, apa kamu menyesal?” tanya Arya lagi.
__ADS_1
“mungkin benar awalnya aku menolak ini semua, tapi sampai titik ini aku tahu bahwa aku harus mensyukuri hari itu, hari yang telah banyak mengubah hidupku, jika saja hari itu tidak ada, mungkin sampai sekarang aku akan tetap menjadi wanita bodoh yang menjadi mainan laki-laki itu” ucap Mila dengan nada sendunya.
Mila kemudian menatap dalam ke arah wajah suaminya, wajah yang tampak teduh setiap kali ia melihatnya, “terima kasih sudah hadir di hidupku Arya, kamu membawa cahaya terang ke dalam hidupku, kamu menyelamatkanku dari kebodohan dan gelapnya hidupku, aku belajar banyak darimu dan bibi, aku selalu berpikir aku sudah benar dengan apa yang aku pikirkan, aku gunakan dan aku lakukan, tapi baru sekarang aku tahu makna dari pakaian yang selama ini aku pakai ini, cadar yang sudah 5 bulan ini ku gunakan, aku merasa jauh lebih baik sekarang daripada aku yang dulu” jelas Mila pada Arya.
“apa hatimu sudah seutuhnya untukku Mil?,” ucap Arya dengan memperhatikan jalanan.
“apa kamu masih meragukanku Arya?”
“aku hanya ingin mendengar kata sayang darimu” ucap Arya dengan santai.
“aku tidak hanya sayang padamu, tapi lebih dari itu” ucap Mila dengan penuh kesungguhan.
“maksudmu?”
“aku mencintaimu, aku sungguh sangat mencintaimu Arya, jadilah pangeranku dulu, sekarang dan nanti, aku ingin kamu menjadi pangeran surgaku, sekarang dan selamanya hanya untukku” ucap Mila penuh kesungguhan pada Arya. Arya sejenak memandang Mila dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.
Arya seketika menghentikan mobilnya di jalan yang cukup sepi itu, Mila sejenak terkaget dengan itu, ia melihat ke arah Arya dengan pandangan bingungnya, “ada apa Arya”.
Arya seketika menarik tubuh Mila dan memeluknya dengan dalam, “Arya kenapa?” tanya Mila dengan kebingungan. “terima kasih Mil, kamu adalah orang pertama yang mengatakan itu untukku” ucap Arya dengan perasaan harunya.
Mila pun ikut merasakan haru, dia selalu menjadi yang pertama bagi Arya, dia wanita pertama di hidup Arya, dia adalah perempuan pertama di hati Arya, dan bahkan dia juga orang pertama yang mengatakan cinta untuk Arya.
‘sungguh, aku menyesali diriku yang dulu, aku menyesali apa yang aku lewati, andai saja waktu ku dapat kuulang, aku tak akan pernah memberikan hatiku pada yang orang lain, aku ingin seperti Arya, memberikan kesucian hatiku untuknya, seperti dia memberikan kesucian hatinya untukku, maaf Arya, aku tidak seperti apa yang kamu inginkan’ batin Mila bersamaan setitik air matanya yang menetes dari sudut mata kanannya.
.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa like, komen dam votenya ya😉😉