
FB
“nona biasa masak ini ya buat tuan Gibran” tanya bu Tya pada Naina.
“iya Tya, suamiku suka sekali sambal balado kayak gini, aku sampai harus belajar masak sambal balado ini dengan temanku dari Padang untuk dia” jawab Naina sembari menghidangkan makanan di meja makannya.
2 Orang laki-laki dewasa kemudian berjalan ke arah ruang makan kediaman Adinata itu.
“wah wah, sambal balado lagi nih” ucap Gibran yang kemudian duduk di kursi makannya.
“iya, sekalian agar Tya dan Arjun bisa mencicipi masakan kesukaanmu bang” ucap Naina tersenyum kepada Gibran.
“ayo Arjun, Tya, duduk sekalian kita makan bersama disini” ucap Gibran mempersilahkan duduk sekretaris Arjun dan istrinya di meja makan mereka.
Mata Naina kemudian tertuju pada sesosok anak perempuan yang berdiri canggung di dekat sekretaris Arjun. “ini Rita ya, cepat sekali besarnya, pasti sudah Sekolah sekarang” ucap Naina melihat Rita yang memegang erat kemeja sekretaris Arjun.
“iya nona, ini Rita, dia baru kelas 2 sekarang” jawab Arjun dengan sopan.
“ayo sayang, salam dulu sama tuan Gibran dan nona Rita” ucap sekretaris Arjun melepas tangan Rita dari kemejanya dan membimbing Rita untuk bersalaman dengan Gibran dan Naina.
“dia ini mirip denganmu Tya” ucap Gibran mengelus lembut rambut Rita setelah Rita mencium tangannya.
“iya mirip sekali” ucap Naina juga setelah Rita mencium tangannya, Rita kemudian mengendong tubuh Rita untuk duduk di pangkuannya.
“aduh nona, jangan seperti itu, nanti Rita nyusahin nona lagi” ucap bu Tya yang khawatir Rita akan bersikap nakal di pangkuan nonanya.
“ibu, kenapa ibu memeluk anak itu?” ucap Indra yang berlari kencang dari taman rumahnya.
Saat ia masuk ke dalam rumah, ia melihat Rita mencium tangan ibunya dan kemudian ibunya memeluk Rita untuk di pangku.
Seketika perasaan tidak senang muncul dihati Indra karena ada anak lain yang mencuri pangkuan ibunya dari dirinya.
“Indraa, kamu nggak boleh gitu, ayo kenalan sama kakakmu” ucap Gibran memperingati sikap Indra.
“nggak,, aku nggak mau” jawab Indra merajuk yang membuat semua orang tertawa melihat sikap bocah yang masih ingusan itu.
__ADS_1
“mata tuan muda mirip sekali dengan nona Naina, wajahnya mirip dengan wajah tuan Gibran,” ucap bu Tya tersenyum pada Indra.
“mirip ya, banyak juga yang bilang begitu, dia mewarisi ketampananku dan mata lembut Naina" jawab Gibran dengan sedikit tersenyum.
Gibran kemudian membimbing tangan Indra untuk bersalaman dengan Rita di pangkuan Naina.
“Rita” ucap Rita dengan singkat menyambut tangan Indra yang dipaksa ayahnya untuk bersalaman dengan Rita,
“indra” jawab Indra dengan singkat.
FB off
*
Arya menarik nafas pelan, “apa paman masih ingat denganku?” tanya Arya dengan nada tenang, kalimat yang membuat Rita seketika melihat ke arah Arya dengan wajah bingungnya, ‘ingat?, apa Arya dan ayah pernah bertemu sebelum ini’ batinnya.
“kamu,,” ucap sekretaris Arjun dengan nada gemetarnya.
Arya kemudian mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan sekretaris Arrjun.
Mata sekretaris Arjun meneteskan air mata, ia tidak mungkin salah mengenali tuan mudanya, mata Arya jelas serupa dengan sorot mata nonanya yang telah lama meninggal. “tuan muda” gumam sekretaris Arjun tidak percaya, apa yang ada di depan matanya seperti sebuah keajaiban.
'ya Tuhan, tuan mudaku benar masih hidup, apa ini jawaban atas segala doa dan perjuangan kami selama ini, tuan muda sendiri yang datang kepadaku, aku tidak akan pernah salah mengenali wajah dam mata ini' batinnya dengan setetes air mata yang menetes dari mata kirinya.
22 tahun semua elemen di Adinata group mencari keberadaam Indra, namun sosok Indra tidak pernah ia temukan, dan detik itu orang yang ia cari 22 tahun itu tepat berada di hadapannya. Ingin sekali rasanya ia memeluk tuan mudanya itu, melepaskan rasa rindunya pada Gibran dan Naina. Namun ia masih ingat betul, tuan mudanya adalah orang yang paling tidak suka jika disentuh oleh orang lain.
Sementara Rita tersentak kaget atas itu semua, nafasnya terasa tercekat, dadanya terasa sesak, matanya berkaca-kaca antara rasa marah dan bingungnya.
Rita segera menarik jas kerja Arya yang membuat tubuh Arya sedikit berputar ke arahnya, Ia menatap tajam mata Arya yang tampak tenang menghadapi itu semua. “Arya, kamu bilang apa?” ucap Rita dengan nada tak percaya.
“kamu tidak ingat sama sekali denganku?, aku Indra” ucap Arya membalas lembut sorot tajam mata Rita.
“bohonggg, anak itu sudah lama mati, dia sudah lama mati, karena anak itu ayahku begini, karena Gibran ayahku seperti ini, karena mereka keluarga ku hancur, kamu bohongkan, kamu Arya, bukan Indra” ucap Rita penuh emosinal menarik salah satu sisi kemeja Arya.
Sekretaris Arjun seketika bangkit dan menarik tangan Rita yang memegang kemeja Arya.
__ADS_1
“jangan bersikap tidak sopan pada tuan muda Rita, jaga sikapmu pada tuan muda kita” ucap sekretaris Arjun dengan nada datarnya.
“tapi ayah, dia bukan Indra, dia Arya,, jangan sebut lagi nama orang yang membuat keluarga kita hancur seperti ini” ucap Rita yang mulai meneteskan air mata karena perasaan emosionalnya, ia sama sekali tidak bisa menerima pengakuan Arya itu.
“maaf Rita, aku tidak tahu apa yang terjadi, jangan salahkan ayahku atas apa yang menimpa keluargamu” ucap Arya dengan pelan dan wajahnya yang masih tampak tenang, sorot matanya masih terlihat sayu dan lembut, karena lelah sepanjang hari sebelumnya belum pulih, apa lagi ia hanya tidur tidak sampai 3 jam di malam itu.
“jangan bilang begitu Arya, aku tak ingin kamu menjadi anak itu, anak itu yang membuat kami hancur, Gibran yang membuat kami hancur” ucap Rita berusaha melepas tangan ayahnya yang menahan tubuhnya agar tidak menyentuh Arya.
“lepaskan Rita paman, dia berhak marah kepadaku” ucap Arya dengan nada datar, ia mengalihkan pandangannya dari Rita dan Sekretaris Arjun.
Sekretaris Arjun kemudian perlahan melepas tangan Rita dan kembali ke tempat duduknya, ia bingung harus berbuat apa saat itu, ia tidak mungkin berkata keras mengingatkan tingkah Rita di depan tuan mudanya.
Rita kemudian menarik kedua kerah jas Arya dengan kedua tangannya. “kamu bohong, kamu Arya, Indra sudah mati, dia sudah mati,” ucap Rita penuh emosional.
“maaf Rita, aku tidak bermaksud berbohong kepadamu, aku Indra, ayahku Gibran adinata, Tomy dan keluarganya hanya keluarga angkatku” jelas Arya dengan pelan.
“bohongg” ucap Rita yang tidak terima dengan keadaan tangia kecewanya tidak mampu ia tahan, Ia melepas pegangannya di jas Arya dan kemudian bangkit untuk hendak pergi, ia sama sekali tidak terima kenyataan itu, pengakuan Arya benar-benar menyakitkan baginya, Ia sama dengan ibunya, menganggap kesetiaan ayahnya kepada Gibran adalah penyebab kehancuran keluarganya, andai saja ayahnya tidak teguh berdiri pada keluarga Adinata, maka kehidupan menyakitkan itu takkan pernah ia alami.
Baru beberapa langkah Rita berjalan, ia mendengar suara Arya memanggilnya “maaf Rita, duduklah kembali, aku ingin menjelaskan semuanya” ucap Arya dengan datar, ia kemudian mengusap kasar rambutnya yang tidak terlalu panjang.
“apa kamu pikir aku mau peduli dengan kebohonganmu yang menyakitkan itu” ucap Rita dengan rasa emosionalnya.
“jika kamu merasa aku penting di hidupmu, maka duduklah kembali” ucap Arya dengan tenang, menahan gejolak perasaannya, ia sama sekali tidak bisa memprediksi sikap Rita itu sebelumnya.
Sementara Rita kembali memutar tubuhnya menghadap Arya yang tengah memunggunginya dan ayahnya yang menatapnya penuh harap. kalimat Arya tersebut kembali memutar kata- katanya dulu, saat itu ia ingin menjelaskan tentang keluarganya pada Arya, dan mengatakan hal serupa pada Arya, dan Arya mendengar penjelasannya tanpa ada rasa benci atas kasus ayahnya yang cukup berat itu.
Rita mengalah, ia kembali duduk di sebelah Arya dan menatap kosong ke meja yang membatasi posisi duduk mereka dengan sekretaris Arjun. Wajah Rita masih tampak pias tak percaya dengan apa yang di ucapkan Arya.
“Rita, bersikap sopanlah pada tuan muda, jangan seperti ini, tuan Gibran dan tuan muda sudah menyelamatkan hidup kita” ucap Sekretaris Arjun kembali mengingatkan Rita.
“nggak apa -apa paman, jika Rita ingin marah kepadaku, aku juga tidak masalah” jelas Arya yang membela sikap Rita di depan sekretaris Arjun.
“jadi tuan, kemana saja tuan muda selama ini, kami semua mencari tuan, kami takut Aliando akan menemukan tuan lebih dulu daripada kami, laki-laki itu pasti akan langsung membunuh tuan jika tahu keberadaan tuan” ucap sekretaris Arjun yang sudah biasa bersikap tenang untuk segala situasi, termasuk keadaan emosional putirnya itu.
Sementera Rita menelan salivanya mendengar Aliando akan membunuh Arya, “membunuh?” ucap Rita spontan karena kaget dengan ucapan ayahnya.
__ADS_1