
Mila, Arya dan Vanessa menikmati waktu malam mereka di sebuah restoran Korea di salah satu town tower di Jakarta. Ini merupakan pengalaman baru bagi Arya, ia biasanya hanya makan di warteg di depan kontrakannya dulu, atau paling mewah makan di rumah makan Padang.
Mata Arya melihat menu makanan dengan mata kebingungan, lidahnya terasa kaku ketika mencoba membaca satu persatu nama menu makanan yang ada. “ini makanan semua Mil?"
“iya, ini makanan korea,” jawab Mila dengan memilih beberapa menu yang ingin ia coba.
“ini menunya halal Mil?”
“halal kok, kamu nggak lihat itu ada logo halal disana” ucap Mila sembari menunjuk logo Halal yang berwarna hitam berlatar cahaya putih.
Arya mengangguk pelan, ia tidak melihat logo itu ketika masuk tadi, padahal logo itu tepat berada di depan pintu masuk. Sejak ia masuk, matanya dengan teliti menilai kondisi interior restoran tersebut, dengan kegiatan seperti itu, biasanya dia bisa mendapat ide baru untuk rancangan -rancangannya yang akan ia buat.
“kamu suka korea juga ya?” gumam Arya sembari melihat gambar makanan di menunya. Mulut Arya terlalu sulit membaca bahasa korea yang asing baginya, ia akhirnya memilih makanan berdasarkan gambar yang menurutnya menarik.
“juga?, apa kamu suka korea juga?” tanya Mila dengan rasa penasarannya.
“alamnya sih aku suka,” jawab Arya yang membuat Mila memanyunkan bibirnya.
“kalau alam kan kamu suka semua” rutu Mila mendengar jawaban Arya.
“ibuku juga suka korea Mil, dulu ibu sering masak makanan korea ala dia sendiri”
Vanessa memperhatikan wajah Arya dengan tersenyum setelah mendengar jawaban Arya itu. Ia seperti mendapatkan ilham dari ucapan Arya, “kenapa kita nggak coba kayak gitu juga Mil?”
“coba kayak gitu gimana kak?"
"iya, coba masak ala korea juga” lanjut Vanessa. Mila sejenak berpikir panjang dengan memainkan bola matanya, dan kemudian ia mengangguk dengan antusias. " sepertinya menarik kak" gumam Mila.
Mereka kemudian memesan beberapa menu makanan sebagai santapan makan malam mereka hari itu.
Setelah memesan makanan, Arya mengeluarkan 3 tiket ke Vietnam yang diberikan Arbi kepadanya. Ia kemudian memperlihatkan itu kepada Mila dan Vanessa. “ini apa Arya?” gumam Mila sembari mengambil dan melihat salah satu tiket itu.
__ADS_1
“Ho Chi Min?” gumamnya lagi. Vanessa pun ikut melihat salah satu tiket itu.
“kamu ingatkan Mil, kalau Arbi pernah bilang ada projek di Vietnam” ucap Arya yang dijawab Mila dengan anggukkan pelan.
“ini tiketnya lusa ya?” ucap Vanessa.
“iya kak, aku disana cuma 2 hari, untuk presentasi desainku sama nanti diskusi jika ada keinginan klien disana untuk merubah rancanganku” jawab Arya dengan datar.
Mila sejenak menarik nafas kasar dan melepasnya, “perasaan baru kemarin ini Arbi bilang soal projek itu, sekarang udah presentasi aja kesana, cepat kali Arya”
“aku kerjanya kan juga cepat Mil, mungkin mereka tertarik dengan desainku, jadi langsung minta dipresentasikan kesana” jelas Arya.
“ini tiga ya?, kamu juga ingin kami ikut?” tanya Vanessa dengan pelan.
“aku nggak maksa kak, yang penting Mila harus ikut denganku, aku nggak tenang kalau harus jauh dari Mila, lagian ini nggak bakalan lama kok” jawab Arya dengan tenang.
“kalau 2 hari kan sebentar Arya, kakak rasa Mila tetap disini aja sama kakak, kasihan nanti Mila kecapek an di dalam pesawat” tawar Vanessa pada permintaan Arya.
Arya menarik nafas kasar, ‘benar juga kata kak Vanessa, Mila bisa kecapek an nanti di dalam pesawat, tapikan rencana ini sekalian untuk mengalihkan Mila dari kasus bang Irman, kalau aku tinggal nanti malah terjadi yang nggak-nggak lagi’ batin Arya mulai bimbang dengan keadaan.
Mila sebenarnya juga ingin menemani Arya kesana, namun kehamilannya seakan melarang hal tersebut. Apa lagi tubuhnya masih terasa lemas, ia tidak ingin kandungannya akan bermasalah nanti jika memaksa pergi.
“nanti ku bicarakan lagi dengan Arbi ya Mil, kamu kan tahu sendiri seperti apa ambisiusnya Arbi untuk semua projek kami” ucap Arya dengan lemah, padahal ia sudah mencari tempat -tempat indah di Vietnam melaui ponselnya untuk liburan sebentar bersama Mila.
“maaf ya Arya” gumam Mila dengan nada bersalahnya.
“nggak apa-apa Mil, malaikat kecil kita yang utama daripada yang lain” jawab Arya.
Mila melepas nafas kecewa, karena suaminya harus berkorban untuk tidak melihat keindahan Negara lain karena dirinya.
Selang beberapa saat, makanan mereka akhirnya datang, beberapa makanan korea mulai dari yangnyeom chicken, cheese buldak, jajangmyeon hingga jjampong sudah tersaji di meja mereka. Mereka mulai memakanannya dengan lahap, walau pun rasa makanan masih sedikit aneh di mulut Arya, namun ia tetap menikmatinya.
__ADS_1
Sembari menikmati makanannya, mata Mila bergerilya melihat pengunjung lain yang seperti mencuri pandang melihat Arya. Potongam rambut pendek malah menampilkan wajah berseri Arya yang selama ini tersembunyi di balik rambut panjangnya. Namun Mila dapat bernafas lega karena Arya sama sekali tidak peduli dengan semua itu.
Setelah selesai makan, mereka segera kembali ke apartemen, Arya tidak ingin istrinya terlalu lama berada di luar terkena angin malam. Ia juga tidak lagi menghabiskan waktu malam di balkon memandang laut utara Jakarta seperti biasa.
Arya tidak ingin Mila keluar ke balkon untuk menemaninya disana, apalagi apartemen mereka berada di lantai 15 apartemen tower tersebut, angin malam akan terasa dingin disana.
Sementara Vanessa di kamarnya tengah membuka map coklat yang diberikan Arya kepadanya, ia duduk di meja hiasnya sembari membuka amplop tersebut. Baru sebagian surat itu ia tarik dari dalam map coklat, jantung sudah berdetak dengan cepat.
Format penulisan surat itu sama dengan surat yang tadi diberikan Ari kepadanya. ‘Ya Tuhan, apa isi surat ini?, apa sama isinya dengan surat tadi’.
Vanessa menarik nafas dengan dalam dan kemudian ia melepaskannya, ia kemudian menarik keluar surat tersebut. Matanya membulat, untuk sesaat kemudian matanya berkaca-kaca dan air matanya menetes tanpa bisa ia tahan, Ia segera mengatupkan kedua tangannya di depan mulutnya, menahan suara tangisnya agar tidak keluar.
‘bang, apa dosaku bang?, apa salahku kepadamu?, kenapa kamu sejahat ini sama aku?, kamu membuat diriku seperti perempuan hina tak berguna, merasa seperti perempuan yang tak sempurna yang tak bisa memberimu anak, aku merindukanmu setiap malam, merindukan cintamu dan sentuhanmu, tapi kenapa kamu berbuat setega ini kepadaku'
Air mata Vanessa menetes tanpa henti, bersamaan dengan hatinya yang terasa hancur dan sakit, dadanya benar-benar terasa sesak. Ia tidak pernah menyangka suaminya akan memperlakukannya seperti itu, menjadikan dirinya hanya sebagai pajangan berstatus istri. Pikiran Vanessa berkalut sedih, ia tak harus berbuat apa lagi.
Sementara itu Ari sedang menikmati sebatang rokok sembari menyusun jadwal survey projeknya di lapangan. Ia menghitung waktunya dengan teliti, masalah Adinata group dengan target penyelesaian projek -projek kliennya ia susun sedemikian rupa. Ari juga mempertimbangkan jadwal kerja Arbi dan juga pernikahan Tomy.
Ari sejenak menarik nafas kasar. Di sela kesibukannya itu, tiba -tiba saja bayangan dokter Karina terlintas dipikirannya. Takkan mudah baginya melupakan gadis itu, terlalu banyak impian dan harapan yang ia susun untuk dokter Karina. 'aku belum memiliki alasan untuk bisa bersamanya, apakah perasaan ini saja sudah cukup untuk menjadi alasannya?, aku akan menjadiblaki -laki egois jika memaksa perasaanku sendiri tanpa memikirkan perasaan Karina'
Ari mengusap kasar wajahnya, ia segera mengalihkan pemikirannya dari dokter Karina. Ari kemudian teringat rencana Arbi untuk Arya.
'semoga aja rencana Arbi mempertemukan Arya dan orang-orang Adinata group di Vietnam berjalan lancar’
.
.
.
.
__ADS_1
.
Satu lagi aku up sore ya🙏😉