Menjemput Masa Lalu

Menjemput Masa Lalu
Masih Seumur Jagung


__ADS_3

“Arya” gumam Mila yang tidak suka dengan pandangan Arya itu.


“kenapa Anjani ada disini?” tanya Arya pada Mila.


“apa ada masalah jika aku bertemu sahabatku sendiri?” tanya Anjani dengan ketus, ia tidak suka dengan sikap Arya yang ia rasa tidak menginginkan kehadirannya disana.


“Anjani besok mau tunangan, dia mau menenangkan diri dulu disini,” jelas Mila dengan singkat.


Anjani melihat Arya dengan wajah kesalnya, sementara Arya menarik nafas kasar melihat wajah Anjani, ia kemudian mengabaikan itu semua. Ia duduk di meja makan sembari meminum segelas air.


Vanessa kemudian ikut duduk di meja makan yang ikuti Mila yang duduk di samping Arya, sementara Anjani masih berdiri di dekat meja dapur dengan pandangan yang masih kesal pada Arya. Laki-laki itu seolah tidak mau bersahabat dengannya sejak awal mereka bertemu, padahal ia sudah mencoba bersikap sebaik mungkin pada Arya.


“kamu kok sudah pulang jam segini Arya?, biasanya kan sore” ucap Mila sembari menyandarkan kepalanya di lengan Arya, ia ingin menunjukkan kepada Anjani bahwa Arya adalah miliknya.


Anjani hanya santai melihat sikap Mila itu, ia mencuci tangannya yang masih kotor karena adonan kue yang ia buat, untuk kemudian ia segera duduk di meja makan di kursi yang berhadapan dengan posisi Arya.


“aku kan kemarin sudah bilang mau lihat-lihat mobil sama apartemen baru kita Mil, jadinya aku pulang cepat sekarang, dan tadi kenapa kamu tidak mengantar bekal seperti biasa?” tanya Arya yang kembali mengisi gelasnya dengan air.


“kamu kan lihat sendiri ada Anjani disini,”


“kamu juga nggak bilang dia datang, seharusnya kamu memberi tahuku siapa saja yang datang kesini dan juga siapa saja yang bertemu denganmu” ucap Arya dengan datar.


Mila menelan salivanya seketika, ‘kenapa harus sampai segitunya, apa Arya belum percaya kepadaku?, apa ini karena bang Arnes kemarin?’ batin Mila yang terasa ditelisik oleh sesuatu.


Sementara Vanessa dan Anjani hanya bersikap datar melihat sepasang suami istri itu.


“kamu masak apa Mil, aku belum makan siang tadi” ucap Arya dengan mengusap kasar wajahnya.


“aku masak ikan goreng tadi, kamu mau?, aku ambilkan ya” ucap Mila yang segera bangkit dari duduknya, ia kemudian segera menyiapkan makanan untuk Arya.


Sementara Vanessa hanya memperhatikan itu semua tanpa ingin banyak bicara, baginya hubungan Arya dan Mila sudah berkembang pesat, setiap masalah yang terjadi di rumah tangga adik iparnya itu tidak ingin ia singgung sedikitpun. Baginya Arya cukup tenang menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan, begitu pun juga Mila, adik iparnya itu terlihat sudah jauh berubah dari sikap keras kepalanya dulu.


“kamu marah padaku Arya, apa aku punya masalah denganmu?” tanya Anjani dengan nada kesal. Mila yang sedang mengambil makanan untuk Arya segera menoleh pada Arya dan Anjani yang saling berhadapan.


Setelah ia tahu siapa Anjani sebenarnya, malah membuatnya semakin tidak nyaman jika Arya ada di dekat Anjani.

__ADS_1


“tidak, bagaimana desain yang kemarin, apa ada masalah?” tanya Arya dengan santai tanpa melihat Anjani, Arya masih melihat gelas kosong yang tadi ia pakai.


“jika ada, apa kamu mau mengubahnya?”


“kamu udah tahu jawabanku kan?”


“kalau begitu samakan saja desain interior lobinya dengan desain hotel sebelumnya, itu saja yang ingin aku ubah, biar jadi ciri khas hotelku nanti, kalau yang lain aku oke kok”.


Anjani sebenarnya ingin berbicara banyak hal dengan Arya, termasuk masalah desain hotelnya, namun melihat sikap datar Arya, malah membuatnya menjadi tidak nyaman. Ia lebih memilih mengalah, 'biar sajalah desain hotel itu, sudah sangat bagus, lagi pula aku hanya ingin bicara dengan Arya dengan alasan hotel itu, tapi sikapnya malah tidak mengenakan kayak gini'


Mila mendekat kepada Arya dengan menyajikan makanan di depan suaminya itu, "di habisin ya, aku yang masak sendiri tadi" ucap Mila yang dijawab Arya dengan anggukkan dan senyuman, "masakan kamu pasti aku habisin kok"


Mila tersenyum melihat Arya, ia kemudian kembali duduk di samping Arya sembari memegang tangan Arya, ia melakukan itu untuk mempertegas posisinya di depan Anjani. Sementara Anjani melepas nafas kasar melihat tingkah Mila.


'dia itu kenapa sih?, kayak aku mau merebut suaminya saja,' kesalnya yang semakin bertambah.


“kamu bisa urus nanti dengan timku, dan kita bisa tanda tangan kontraknya segera” ucap Arya.


"kalian udah makan, aku malah nggak enak kalau makan sendiri kayak gini" lanjut Arya yang merasa tak nyaman jika harus makan sendiri di tengah 3 perempuan itu.


"kami udah makan, kamu nikmati aja makan siangmu, santai saja sama kami" jawab Anjani.


“kami lagi belajar membuat kue dengan kak Vanessa, itu adonan masih belum jadi karena kamu udah datang duluan” jawab Anjani dengan datar.


“kakak bisa bikin kue juga kak?” tanya Arya pada Vanessa.


“bisalah, dari dulu hobi kakak memang masak, termasuk membuat kue juga kakak pelajari” jawab Vanessa dengan tersenyum pada Arya.


"kalau masalah memasak, kak Vanessa jagonya, nggak usah ditanya lagi Arya" gumam Mila.


“kalau begitu kakak bisa buka bisnis kue nanti"


"nggak Arya, kakak masih merancang bisnis restoran sama Abel dan Tomy, kemarin kita udah bikin planning bisnisnya, bisnis kue nanti aja dipikirin" jelas Vanessa yang di jawab Arya dengan anggukan.


"nah kamu Anjani, kamu kan besok mau tunangan, bukannya siap-siap, malah belajar buat kue” ucap Arya sembari menikmati makanannya, sementara 3 perempuan di dekatnya itu melihat Arya dengan seksama.

__ADS_1


“semuanya sudah disiapkan oleh keluarga laki -laki itu, aku kan sudah bilang ini karena bisnis, keluarga laki-laki itu sengaja memanfaatkanku dan ayahku untuk kepentingan mereka” jawab Anjani dengan nada kesalnya.


Arya dan Mila menarik nafas kasar bersamaan, mereka sama-sama prihatin dengan takdir yang harus dijalani oleh Anjani, namun sekarang Anjani tampak jauh lebih kuat menghadapi itu semua daripada pertemuan mereka sebelumnya.


“kalau begitu kalian lanjut saja bikin kuenya, jangan melihatku makan seperti ini, nafsu makanku bisa hilang nanti” ucap Arya dengan pelan yang membuat Anjani dan Vanessa tertawa tipis seketika.


Setelah selesai makan, Arya kemudian kembali ke kamar, dan Mila mengikuti langkah Arya dengan meninggalkan Anjani dan Vanessa yang masih sibuk dengan adonan mereka.


Arya mengusap kasar rambutnya dan kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sementara Mila sudah duduk di sisi ranjang menatap setiap gerakan suaminya.


“kamu lelah Arya?” tanya Mila dengan singkat.


“kamu selesaikan dulu kuemu Mil, biar nanti bisa kucicipi, dan nanti setelahnya kita berangkat, aku mau istirahat dulu sebentar” ucap Arya yang menatap lembut manik mata Mila.


Mila mengangguk pelan dengan tersenyum pada Arya, ia kemudian menarik nafas panjang sebelum berbicara.


“Anjani mengundang kita untuk datang besok ke acara pertunangannya” ucap Mila dengan datar.


“kita nggak akan datang Mil”


“Anjani sudah menganggapku sebagai sahabatnya Arya, dia pasti akan kecewa jika kita tidak datang”


Arya mengusap perlahan keningnya, ia kemudian menarik dagu Mila untuk menatap dalam ke arah matanya. Mata mereka bertemu dan saling melihat dengan dalam bola mata mereka masing -masing.


“ada dia disana, kamu ingin melihatnya?” suara Arya terdengar datar pada Mila.


Mila menggeleng, “aku ingin menunjukkan kepadanya kalau aku memilihmu, jika itu membuatmu percaya kepadaku, aku akan melakukannya”.


“jangan lakukan apa -apa Mil, jangan pancing rasa cemburunya, orang seperti dia bisa berbuat nekat kepadamu, lagi pula jika kita kesana, akan banyak orang yang mungkin akan mengenalku nanti”


Mila melepaskan tangan Arya dari dagunya ia mengalihkan pandangannya ke arah lain kamar mereka.


“tapi sampai sekarang kamu tidak percayakan sama aku, kamu bahkan sampai seperti tadi menyuruhku untuk mengatakan semua orang yang aku temui kepadamu” ucapnya dengan lemah.


Arya menarik nafas dalam, ia sejenak memejamkan matanya, rasa cemburu itu masih bergantung indah di dadanya, kata-kata Arnes menghabiskan waktu bersama Mila benar -benar membakar perasaannya, belum lagi cerita kemesraan mereka di masa lalu, seakan membuat hatinya berdenyut panas menahan rasa cemburu, ia benar-benar benci dengan kata -kata itu, kata -kata yang jauh lebih membakar rasa marahnya ketimbang cerita erotis laki-laki itu yang menggelabuinya pernah menyentuh Mila.

__ADS_1


“aku nggak mau kamu menyembunyikan apa pun dariku Mil, termasuk tentang dia, katakan kepadaku apa saja yang terjadi pada kamu selama aku nggak ada disisimu Mil, aku nggak mau egois Mil, tapi seperti yang aku katakan kemarin, jangan sampai akal bodohku termakan oleh kata -kata kotor dan fitnah orang lain terhadapmu” jelas Arya menarik kepala Mila ke dadanya.


Mila tertunduk diam, dia sadar bahwa dia masihlah perempuan lemah yang masih mudah terperdaya oleh keadaan. ‘aku seharusnya sadar, ini masih terlalu dini bagiku dan Arya, pernikahan kami baru seumur jagung, dan kami sudah ditimpa badai masalah sebesar ini, aku harus lebih sabar lagi menghadapi semua masalah ini, mungkin butuh waktu yang sedikit lebih lama agar Arya benar -benar percaya kepadaku, jika dia menjaga perasaanku dengan bersikap seperti tadi pada Anjani, seharusnya aku juga menjaga perasaannya yang mungkin masih terpengaruh bang Arnes kemarin’ batinnya.


__ADS_2