
Mila menelan salivanya seketika, kepalanya menggeleng tak terima dengan itu semua, ‘laki-laki ********, kenapa dia setega ini kepadaku dan suamiku?, apa dia benar-benar ingin menghancurkan rumah tanggaku, dia membuat suamiku menjadi lemah seperti ini’ batin Mila penuh rasa marah dan sakit hati.
“kamu percaya Arya, kamu kan tahu sendiri malam itu aku masih perawan ketika pertama kali kamu menyentuhku, aku tidak pernah memperlihatkan tubuhku pada orang lain selain kamu, suamiku sendiri” ucap Mila penuh kekhawatiran, pantas saja suaminya seperti itu, jika Arya percaya dengan kata-kata Arnes, maka kepercayaan Arya kepadanya akan sulit untuk kembali ditumbuhkan.
“nggak Mil, aku tahu dia berbohong, dia bahkan menceritakan tubuh perempuan lain kepadaku, seolah itu adalah tubuhmu yang ia lihat, aku juga sadar malam itu aku yang mengambil keperawanmu” jelas Arya dengan mencoba sedikit tersenyum agar Mila tidak merasa kotor di depannya karena cerita bohong itu.
“tubuh perempuan lain?”
“iya, aku sudah tahu seperti apa setiap jengkal tubuhmu, ceritanya itu sama sekali tidak ada satupun yang sama dengan tubuhmu” jelas Arya yang membuat Mila menelan salivanya.
Tanpa sadar wajahnya terasa memerah merona, 'bagaimana mungkin Arya bisa hafal setiap jenkal tubuhku' batinnya menahan rasa malu yanh tiba -tiba muncul di hatinya.
Arya kemudian menepuk pelan pahanya di hadapan Mila, Mila kemudian mengernyitkan dahinya melihat tingkah Arya.
“aku mau kamu duduk disini sekarang” ucap Arya sembari menepuk lagi pahanya.
“Arya, kamu yakin, nanti dilihat kak Vanessa” ucap Mila dengan wajah memerah dibalik cadarnya.
Arya menarik nafas kasar, ia harus sadar di apartemen itu mereka tinggal bertiga bersama Vanessa, mereka tentu tidak bisa tampak mesrah berlebihan di hadapan Vanessa yang menjalani pernikahan yang cukup menyakitkan.
“katakan kepadaku Mil, apa masih ada dia dihatimu dan dipikiranmu?” tanya Arya penuh selidik.
Mila menyentuh dadanya, “dia tidak ada disini Arya, hanya kamu yang ada disini sekarang, hanya kamu” ucap Mila dengan penuh kesungguhannya pada Arya.
Lalu menunjuk ke arah kepalanya, “tapi dia masih ada disini, dia menfitnahku dihadapan suamiku, dia membuat suamiku tidak percaya kepadaku, dia membuat suamiku merasa tidak percaya diri untuk ada disisiku, dia membebani pikiranku karena dia mengancam bahtera rumah tanggaku” ucap Mila dengan nada sedihnya.
Arya menarik nafas kasar, dia lah yang terlalu lemah dengan itu semua, dan akhirnya istrinya sendiri yang harus menanggung kesedihan. Sekalipun ia menyayangi istrinya itu, rasa cemburu dan sikap posesif selalu mengerayangi hatinya. Kepercayaan kepada Mila belum bisa seutuhnya ia berikan, hatinya berkalut sejak Arnes menemuinya, bayang -bayang pengkhinatan itu kembali terasa, seolah Mila akan meninggalkannya lagi.
“aku masih sama seperti dulu Mil, seperti yang kamu kenal, dari awal kita menikah, hanya kamu dihidupku, tidak ada yang lain, dari awal kita menikah aku ingin selalu menggenggam tanganmu dan tidak akan melepasnya, dari awal aku selalu seperti ini Mil, aku selalu lemah seperti ini” ucap Arya.
Mila meneteskan air matanya, dosa itu kembali menyeruak ke dalam hatinya, ia bangkit dari duduknya dan memeluk Arya dengan dalam, “aku mecintaimu Arya, maaf jika dari awal aku tidak menyadari betapa berharganya dirimu dalam hidupku”
__ADS_1
Mila sadar bahwa ancaman terbesar bagi rumah tangganya adalah Arnes, bukanlah Anjani, Rita atau dokter Karina yang selama ini ia cemburui. Cadarnya dan kesepakatan itu adalah komitmen hubungannya dengan Arnes, dan ia sadar bawah Arnes masih menginginkan dirinya, jika dia tidak bisa menjaga dirinya dan kepercayaan Arya, rumah tangganya lah yang menjadi ancaman.
Di belahan dunia lain, Arbi yang sedang menikmati makan siangnya, melepas nafas panjang melihat berita di ponselnya, “baru saja jadi incaran, ternyata sudah jadi punya orang lain” gumamnya dengan sinis melihat berita pertunangan Arnes dan Anjani yang bertebaran di berbagai aplikasi yang ada di ponselnya.
“kalau keluarga laki-laki itu hancur, apa dia bisa jadi milikku?, kalau begitu aku akan semangat membantu Arya kembali ke Adinata group” ucap Arbi lagi dengan sinis.
Arbi kemudian bangkit, ia harus bersiap menyambut kabar kemenangan 3A Sahabat dalam sayembara yang dilakukan oleh Bian corp.
Sementara itu, di hotel tempat pesta pertunangan Anjani dan Arnes, di sebuah ruangan khusus tempat keluarga mereka bersiap -siap sebelum acara pesta dimulai, Aliando dan Hardi tengah duduk berdua, keduanya berbicara dengan serius, “Acara ini sudah selesai, beritanya sudah tersebar, setelah ini pemilik saham akan percaya kepadaku, dan rencana kita berjalan dengan mulus” ucap Aliando.
“kamu harus pastikan ini berjalan sesuai rencana, dan ingat satu hal, sekalipun Rahman di rumah sakit, masih ada anjing penjaga Gibran yang lain” ucap Hardi memperingati Aliando.
“aku sudah selidiki, Haris orangnya, bahkan dia sudah membayar orang untuk menjaganya”
“maksudmu?”
“aku menyuruh orang di luar pengawal perusahaan untuk mengawasi Haris, orang suruhanku itu beradu fisik dengan orang suruhan Haris, sudah jelas Haris adalah orang yang berada di pihak Gibran hingga baku pukul itu terjadi, aku akan siapkan kuburan untuknya, agar dia tidak berisik di rapat pemegang saham nanti” sinis Aliando terlihat jelas dari raut wajah dan sorot matanya yang tajam.
“orang suruhanku tengah menyelidikinya, kita perlu tahu siapa saja rekan dia dalam masalah ini hingga bisa mendorong rapat pemegang saham itu, tapi dia juga cukup cerdik, aku belum dapat info apa-apa, karena dia membayar orang untuk melindungi dirinya, aku juga tidak mau repot-repot, jadi aku rasa aku harus menghabisi dia dan masalah selesai” ucap Aliando.
“seharusnya Rahman sudah mati, tapi ternyata dia masih bisa hidup di rumah sakit, aku tidak ingin Haris seperti itu, dia lebih baik menemui ajalnya seperti Gibran” lanjut Aliando.
Hardi melihat datar kepada Aliando, ucapan Aliando seolah membenarkan dugaannya selama ini ‘apa Aliando yang membunuh Gibran?’ batinnya.
*
Anjani berjalan gontai menuju kamarnya, setelah acara, ia lebih memilih pulang untuk langsung menuju kamarnya, tangisnya langsung pecah ketika berada di kamar itu, sementara ibunya menatap sedih keadaan putrinya.
Anjani segera melepas cincin yang dipakaikan Arnes di tangannya, ia melempar cincin itu ke sembarang arah dengan penuh emosional.
“Anjani, jangan seperti ini” ucap nyonya Nadya yang khawatir melihat kondisi Anjani.
__ADS_1
Anjani bukanlah perempuan pebisnis sejati yang bisa bersikap datar dan dingin untuk menghadapi keadaan seperti itu, ia hanyalah perempuan biasa yang mudah tersiksa dengan perasaan. Hatinya sama sekali tidak ikhlas dengan pertunangan itu.
“keluar bu” lirih Anjani.
“sayang, kamu jangan seperi ini”
“keluar bu, keluaarrr” teriak Anjani dengan emosional.
“naaak”
“keluar bu, Anjani ingin sendiri, keluarrr” histerisnya.
Nyonya Nadya ikut menangis melihat kondisi putrinya, hatinya terasa tersayat oleh keadaan itu.
“keluarrrr bu, Anjani mohon, keluaaaar” lirih Anjani dengan suara serak yang seakan habis dari pita suaranya.
Nyonya Nadya mengalah, ia keluar dari kamar Anjani yang tampak rapuh disana. Anjani menatap nanar ke sekeliling kamarnya, sandiwara di panggung pertunangan telah usai, sekarang kenyataan dihatinya telah keluar, mata Arnes yang menatapnyapenuh hasrat membuat dadanya terasa sesak.
'kenapa harus laki-laki seperti itu?, kenapa tidak laki-laki lain yang jauh lebih baik dari dia’
Anjani mengusap kasar rambutnya karrna rasa sesak, ia berteriak sekeras mungkin untuk melepas seluruh perasaannya.
Sementara Arnes sudah ada di kamar hotel yang ia sewa di hotel yang sama dengan lokasi pertunangannya dengan Anjani, matanya tampak tenang melihat langit-langit hotel itu.
'setelah ini aku akan menikah dengan Anjani, dan menjadi CEO, dan setelah itu aku harus merebut Mila dari laki -laki itu, Mila benar -benar membuatku gila' batinnya.
'kalau Irman bisa membawa Mila untukku dan aku bisa mendapatkan perawannya, dia pasti akan tunduk kepadaku, dia pasti mau walau hanya menjadi simpananku saja, seharusnya perempuan seperti Mila tidak terlalu sulit untuk didapatkan, kalau saja perjodohan itu tidak ada, mungkin sekarang Mila masih denganku' batinnya.
Arnes memukul keras kasurnya, 'sial, seharusnya waktu itu aku paksa Mila menolaknya, atau aku paksa mengambil keperawanannya, pasti Mila masih denganku, kenapa gadis itu membebaniku seperti ini, apa aku terlalu terobsesi sama tubuhnya itu' batin Arnes lagi, ia kemudian duduk di tepi ranjang dan menarik nafas kasar.
'laki-laki itu pasti sudah termakan dengan kata -kataku sekarang, apa sekarang mereka bertengkar hebat, apa sekarang Mila sudah membuang laki -laki itu, ini sudah mau 6 bulan mereka menikah, seharusnya laki -laki itu sudah bercerai dengan Mila, kalau tidak, nanti laki-laki itu yang mendahuluiku mendapatkan Mila' batin Arnes lagi.
__ADS_1